
Oleh: Ahla Kembara, B.Sh., MA.
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ يَعۡدِلُونَ ؛ وَجَعَلَ لِلْوُصُوْلِ إِلَيْهِ سُبُلاً وَاضِحَةً وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ؛ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ عَلِيْمٌ بمَا يَعْمَلُوْنَ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَقْوَمُ الْخَلْقِ دِيْنًا وَأَهْدَاهُمْ سُبُلاً ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا مَا دَامَتِ الْأَيَّامُ اِلَى يَوْمٍ يُحْشَرُوْنَ؛ أمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ؛ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تعالى لاَ يَظلمُ مثقالَ حبةٍ عَلى عِبَادِه ، وَلَكِنْ كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ؛ فَمَا أَصَابَهمْ مِنَ المَصَائبِ وَالْبَلَايَا كَانَ ذلِكَ عَاقِبَةً مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ؛ فَلَوْ أَنَّهُمْ يَعْمَلُونَ مَا أَمَرَهُم تَبَارَكَ وَتَعَالى وَينْهَوْنَ عَنْ كُلِّ مَا نَهَى عَنْهُ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ وَهُمْ آمِنُوْنَ؛ قَالَ تَعَالى: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (الأعراف: 96)
Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا اتُّخِذَ الفَيْءُ دُوَلاً، وَالأَمَانَةُ مَغْنَمًا، وَالزَّكَاةُ مَغْرَمًا، وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الدِّينِ، وَأَطَاعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ، وَعَقَّ أُمَّهُ، وَأَدْنَى صَدِيقَهُ، وَأَقْصَى أَبَاهُ، وَظَهَرَتِ الأَصْوَاتُ فِي الْمَسَاجِدِ، وَسَادَ القَبِيلَةَ فَاسِقُهُمْ، وَكَانَ زَعِيمُ القَوْمِ أَرْذَلَهُمْ، وَأُكْرِمَ الرَّجُلُ مَخَافَةَ شَرِّهِ، وَظَهَرَتِ القَيْنَاتُ وَالمَعَازِفُ، وَشُرِبَتِ الخُمُورُ، وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَوَّلَهَا، فَلْيَرْتَقِبُوا عِنْدَ ذَلِكَ رِيحًا حَمْرَاءَ، وَزَلْزَلَةً وَخَسْفًا وَمَسْخًا وَقَذْفًا وَآيَاتٍ تَتَابَعَ كَنِظَامٍ بَالٍ قُطِعَ سِلْكُهُ فَتَتَابَعَ
Jika harta fai’ (harta rampasan/ harta kekayaan) hanya beredar pada orang-orang besar, amanat telah dirampas (tidak dijalankan), zakat tidak dibayarkan, belajar atau mengajar bukan karena menegakkan agama (Islam), suami terlalu tunduk kepada kehendak isterinya, orang durhaka kepada ibunya, merendahkan temannya, dan menjauhi (membenci) ayahnya, orang mengeraskan suaranya (berteriak-teriak) di masjid-masjid, masyarakat telah mengangkat orang fasik sebagai pemimpinnya, orang memuliakan orang lain karena takut kekejamannya, para penyanyi (biduan) dan musik telah menjadi kegemaran (masyarakat), minuman keras telah merajalela, dan umat-umat sekarang mengutuk para pendahulunya (salaful ummah). Jika sudah demikian, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa angin merah (yang sangat panas), tanah longsor, gempa bumi, penyakit yang merusak wajah manusia, hujan batu dan kerusakan-kerusakan alam yang terus menerus terjadi” (H.R. at-Tirmidzi, 2137)
Hadits ini dihukumi dha’if oleh para Ulamadari sisi sanadnya, tetapi tidak ada salahnya jika kita jadikan hadits ini sebagai pelajaran (‘ibrah) untuk kewaspadaan agar kita lebih berhati-hati dalam bertindak, sebagaimana yang dijelaskan dan dipesankan pula oleh para Ulama.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Jika kita mengamati kehidupan masyarakat sekarang ini tentu kita akan mendapati bahwa hampir semua bentuk penyimpangan dan pelanggaran yang dijelaskan dalam hadis tersebut tadi telah dilakukan oleh umat manusia.
إِذَا اتُّخِذَ الفَيْءُ دُوَلاً (Jika harta kekayaan hanya beredar pada orang-orang besar atau para pemangku kekuasaan). Tidakkah saat ini, kita telah menyaksikan bahwa sebagian besar kekayaan negara, kekayaan alam, dan kekayaan secara umum hanya dikuasai oleh orang-orang besar, para elit, dan para kapitalis. Akhirnya terjadi ketimpangan sosial. Sebagai contoh, hasil penelitian dari Oxfam, sebuah NGO (Non-Governmental Organization) Internasional berbasis di Inggris, tahun 2017, memaparkan temuannya bahwa ada 4 orang terkaya di Indonesia yang kekayaannya setara dengan 100 juta orang terbawah di Indonesia. Segelintir orang-orang terkaya dan 1 persen lapisan kaya lainnya di Indonesia, menguasai berbagai aset strategis, berupa tanah-tanah perkotaan maupun perkebunan, tambang dan hutan. Menurut salah seorang tokoh di Indonesia, ketimpangan ini akan terus berkembang karena model pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada jalan neo-liberal. Return to Capital yang dihasilkan dari perputaran uang mereka akan membuat mereka kaya berkali-kali lipat. Model pembangunan neo-liberal, yang menyerahkan sepenuhnya pada kompetisi pasar bebas, akan semakin mencekik kehidupan umat. Akhirnya, sebagaimana dilansir ADB Bank, tahun 2018, ada 22 juta orang Indonesia yang mengalami kesulitan makan. Mereka tentu saja mayoritasnya umat Islam.
وَالأَمَانَةُ مَغْنَمًا (Amanat telah dirampas (tidak dijalankan). Untuk menjadi pemimpin, orang harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit, masyarakat memilih pemimpin ataupun anggota dewan atau wakil rakyat tidak berdasarkan integritas dan kemampuan para calon pemimpin yang ada, tetapi siapa yang memberinya uang atau amplop. Muncullah calon pemimpin yang buruk akhaknya, sekadar obral janji, yang penting modalnya banyak, berani memberikan uang kampanye ke masyarakat. Setelah menjabat, tidak menjalankan amanat dengan baik, yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya dan meraih untung sebesar-besarnya dari jabatannya. Akhirnya terjadi kerusakan yang sistematis, pemimpinnya pragmatis, masyarakatnya juga sama, sama-sama pragmatis. Dan kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tergolong masih rendah. Berdasarkan riset International Institute for Management Development (IMD), Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 67 negara dalam hal daya saing SDM pada tahun 2024. Kualitas SDM Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الدِّينِ (Belajar atau mengajar tidak bertujuan untuk menegakkan Islam). Terkadang hanya bertujuan agar mendapatkan pekerjaan atau harta semata, ada yang belajar agama sekadar ingin meraih jabatan atau menjadi penasehat penguasa. Sehingga tidak berani tegas terhadap kemungkaran, berlindung di balik kalimat meraih maslahat dan mencegah madharat, yang bisa jadi maksud dari maslahat itu adalah maslahat untuk dirinya sendiri atau kelompoknya atau ormasnya saja. Tidak berani menyuarakan pentingnya penegakan hukum Allah dan penegakan syiar-syiar Allah, takut dianggap radikalis dan ekstrimis. Padahal siapakah yang ekstrim? Orang yang menentang perintah Allah atau orang yang ingin menegakkan perintah Allah?!
Ada sebagian orang yang sukses dalam bisnis atau karir tanpa terasa menjadikan ibu atau orang tuanya sebagai pembantunya. Para wanita karir tidak lagi mau tunduk pada suaminya dalam konteks ketaatan kepada perintah Allah, karena merasa sudah bisa menghasilkan uang sendiri, atau income nya lebih banyak dari suaminya. Seorang anak justru lebih taat dan dekat kepada teman-teman tongkrongannya dari pada taat dan dekat kepada ayahnya atau orang tuanya. Banyak masjid dijadikan tempat-tempat berteriak, berdendang, perayaan perkawinan yang di sana dilantunkan nyayian dengan lantang. Pemimpin atau pemangku jabatan di suatu negara atau wilayah justru adalah orang fasik dan orang-orang buruk. Suatu masyarakat akan memuliakan sesorang bukan karena kemuliannya, tetapi karena takut kejahatannya. Mafia dengan beragam variannya ditakuti dan disegani. Para biduan akan dijadikan idola. Minuman keras beredar dan diminum secara bebas dan dinormalisasikan. Masyarakat modern tidak lagi menghargai jerih payah, dan mengikuti nasehat baik para generasi terdahulu (salaful ummah), bahkan akan mencemooh mereka, dengan berbagai sebutan yang tidak pantas, dan menganggap sudah kuno dan konservatif.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Akibat dari perbuatan menyimpang di atas, maka berbagai bencana telah menimpa manusia, banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan lain-lain. Ada masanya kita mendengarkan bencana terjadi di mana-mana. Bumi sudah tidak nyaman untuk ditempati, tanah tidak bisa menghasilkan tanaman sesuai dengan harapan, cuaca tidak bisa diperkirakan, dan masih banyak lagi bencana alam lainnya. Terhadap bencana-bencana di atas orang sekuler atau orang yang tidak beriman beranggapan bahwa itu hanyalah gejala alam biasa, padahal itu merupakan siksa atau hukuman dari Allah Ta’ala akibat perbuatan-perbuatannya manusia sendiri. Orang beriman melihat suatu fenomena atau peristiwa itu secara holistik (lengkap dan menyeluruh). Allah telah menegaskan di dalam surat ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. ar-Rum (30): 41)
Kaum Muslimin rahimakumullah
Sebagai seorang muslim kita tidak diperbolehkan untuk ikut-ikutan dan melakukan perbuatan-perbuatan menyimpang seperti dalam penjelasan hadis tersebut tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan agar terhindar dari perbuatan menyimpang tersebut sekaligus mencegah dan memberantas keburukan tersebut tadi:
1. Mempelajari adab-adab Islam dan memperdalam ilmu-ilmu syar’i (ilmu agama) kepada ahlinya dan rujukan yang benar, serta mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat yang berorientasi kepada kebaikan atau kemaslahatan dan mengamalkannya. Karena dengan mempelajari adab, kita bisa dan dituntut untuk bertingkah laku dengan baik, dan dengan ilmu dan rujukan yang benar kita bisa membedakan mana yang benar dan salah, yang haq dan yang bathil, yang baik dan yang buruk, dengan ilmu, wawasan kita semakin luas, pemahaman dan pola piker kita semakin terbaangun dengan baik, agar tidak mudah dibodohi oleh orang yang berniat buruk atau akan memperalat kita. Dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat dan berorientasi kepada kebaikan, kita bisa memberikan manfaat yang lebih kepada diri sendiri dan orang lain. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (Q.S. az-Zumar (39): 9)
Imam Ibnu Sirrin berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan dari siapa engkau mengambil (ilmu) agama”
Ilmu juga tidak sebatas hanya untuk dihafal, tapi juga harus diamalkan. Perbuatan yang benar dan baik kita lakukan, perbuatan yang salah dan buruk, kita hindari dan tidak kita lakukan.
2. Meningkatkan kualitas keimanan dan bersungguh-sungguh dalam ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Q.S. Ali Imran (3): 102)
3. Menjaga diri dan keluarga kita agar tidak melakukan perbuatan menyimpang yang menyebabkan murka Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. at-Tahrim ayat 6)
4. Kaum Muslimin harus bersatu dalam kebenaran dan kebaikan.
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Q.S. Ali Imran (3): 103)
Lawan atau musuh yang dihadapi kaum Muslimin memiliki soliditas yang kuat di antara mereka, punya rancangan dan kemampuan untuk mengorganisir segala aspek untuk merubah tatanan sosial-masyarakat dan melepaskan umat Islam dari ajaran agamanya. Maka umat Islam juga harus bersatu, tinggalkan fanatisme golongan, loyalitas kita untuk Islam bukan untuk organisasi atau kelompok, umat Islam juga harus memiliki rancangan dan kemampuan organisir yang lebih baik dan tersistematis melebihi kemampuan lawan-lawannya yang ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Kaum Muslimin harus saling membantu dan bahu membahu dalam kebaikan dan ketakwaan, mencegah dan memberantas keburukan dan kejahatan.
5. Tidak putus asa dan pantang menyerah
Kaum Muslimin tidak boleh putus asa dan pantang menyerah dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Allah Ta’ala berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Q.S. Ali Imran (3): 146)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ ؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا؛ إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا؛ اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ؛ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ؛ اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا؛ اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ؛ اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَةِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ؛ اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا وَأَفْكَارَنَا وَأَحْسِنْ أَخْلاَقَنَا وَأَحْسِنْ بِالصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا ؛رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ؛ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ؛ رَبَّنَا ظَلَّمْنَا أَنْفُسَنَا فَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ؛ اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ؛ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ؛ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ؛ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ؛ فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْم يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ، أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ!
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Umat Islam dan Tantangan Zaman