
Penulis: Khalid Saifurrahman, Lc., M.S.I. (Staff Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia)
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِأَنْوَاعِ النِّعَمِ، وَلَطَائِفِ الْإِحْسَانِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى سَائِرِ خَلْقِهِ بِالْعِلْمِ وَالْبَيَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْأَنَامِ، اَللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِينِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah kali ini marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, takwa yang sebenar benarnya, takwa yang abadi sepanjang hayat.
Islam adalah ajaran yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Diantara kesempurnaan itu Islam tidak hanya memperhatikan urusan akhirat, tetapi juga memperhatikan urusan dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.“ (QS. Al-Qashash: 77)
Islam tidak memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat sebab kehidupan dunia sejatinya adalah مزرعة الآخر ladangnya akhirat.
Seseorang tidak akan mendapatkan bekal akhirat kecuali dengan beramal di dunia ini.
Dunia adalah tempat menanam sedangkan akhirat adalah tempat memanennya. Maka kehidupan dunia itu juga merupakan hal yang penting.
Di antara urusan dunia itu adalah bekerja mencari nafkah.
Kata ‘amal memiliki makna yang sangat luar biasa, secara bahasa artinya kerja, bahkan ada yang menghitung kata amal di dalam Al-Qur’an maupun hadisnya itu lebih dari 600 kali disebutkan beserta turunannya, dan ini menunjukkan betapa pentingnya nilai kerja dalam pandangan Islam.

Oleh karena itu, cakupan amal sangatlah luas. Amal tidak hanya dipahami terbatas pada ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji saja, tetapi lebih jauh mencakup segala aktivitas kehidupan dunia yang kita jalani.
Bisa jadi pekerjaan halal yang kita jalani di mana tempat kita bekerja pun, apabila diniatkan ikhlas untuk Allah Ta’ala, untuk menjalankan perintahnya, yakni menjaga ‘izzah (kehormatan diri dan keluarga) dari mengemis, meminta-minta, mencukupi nafkah keluarga, menggunakan harta atau pemasukan kita untuk beribadah kepada Allah, menunaikan zakat, bersedekah, maka akan bernilai ibadah pula di sisi Allah Ta’ala.
Sebaliknya, amal yang secara lahiriah nampak sebagai amal akhirat, namun bila niatnya rusak, bisa menjadi sia-sia.
Sebagaimana ungkapan :
كَمْ مِنْ عَمَلٍ دُنْيَوِيٍّ نِيَّةٌ صَالِحَةٌ تُصَيِّرُهُ عَمَلًا أُخْرَوِيًّا، وَكَمْ مِنْ عَمَلٍ أُخْرَوِيٍّ تُفْسِدُهُ النِّيَّةُ فَيُصْبِحُ دُنْيَوِيًّا
“Betapa banyak pekerjaan duniawi yang, dengan niat yang baik, berubah menjadi amal akhirat; dan betapa banyak pekerjaan akhirat yang rusak karena niat, hingga menjadi sekadar urusan dunia.”
Ma’asyiral muslimin,
Imam Asy-Syaibani –rahimahullah– dalam kitab al-Kasb, yang disyarah oleh Imam Asy-Syarkhasi –rahimahullah–, menegaskan bahwa bekerja untuk mencari nafkah adalah sebuah kewajiban.
Seseorang tidak akan mampu menafkahi mereka kecuali dengan memperoleh harta melalui usaha dan kerja keras.
Setiap perkara yang menjadi sarana untuk menunaikan kewajiban, maka hukumnya pun menjadi wajib. Oleh karena itu, bekerja demi memenuhi kewajiban nafkah termasuk bagian dari kewajiban itu sendiri.
Suatu ketika ada seorang laki-laki yang lewat di hadapan Nabi, para sahabat melihat semangat dan tenaganya, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, andai dia gunakan tenaganya di jalan Allah.” Rasul pun menjawab: “Jika ia keluar untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu di jalan Allah…“

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya perkara mencari nafkah sampai disebut berjuang di jalan Allah (Fi Sabilillah).
Kemudian, disebutkan dalam sebagian riwayat; Rasulullah ﷺ pernah pula berjabat tangan dengan Sa’ad bin Mu’adz -radhiyallahu ‘anhu- dan mendapati tangannya kasar karena kerja keras. Ketika beliau bertanya tentang sebabnya, Sa’ad menjawab:
“Aku bekerja dengan cangkul dan kapak di kebun kurma ku untuk menafkahi keluargaku.”
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ mencium tangan Sa’ad dan bersabda:
“Tangan ini dicintai oleh Allah Ta’ala.”
Dari semua ini maka jelaslah bahwa bekerja — mencari nafkah dengan cara yang halal — adalah ibadah besar di sisi Allah. Ia tidak hanya membawa keberkahan untuk diri sendiri, tapi juga menjadi sebab diturunkannya rahmat dari Allah Ta’ala.
Ma’asyiral muslimin..
Beginilah Islam, Islam tidak mengajarkan orang itu hanya berpangku tangan, tanpa melakukan usaha apa-apa. Apalagi dengan alibi bertawakal kepada Allah. Bukan seperti itu konsep tawakal yang dimaksudkan dalam Islam. Konsep tawakal yang benar sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu-;
“Dialah orang yang menabur benih ke dalam tanah, kemudian bertawakal kepada Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.”
Artinya seseorang tetap dituntut untuk mencari sebab-sebab rezeki dulu baru setelah itu bertawakal kepada Allah.
لَا يَقْعُدَنَّ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ، وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، وَقَدْ عَلِمَ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً
“Janganlah salah seorang dari kalian duduk berpangku tangan (malas-malasan) dari mencari rezeki, lalu berdoa: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki‘, padahal ia tahu bahwa langit tidak menurunkan hujan emas maupun perak.”
Sehingga tidaklah sama, orang yang bekerja dengan tangan sendiri meskipun hidup dalam kekurangan dengan mereka yang hidup dengan bergantung kepada orang lain meskipun berkelapangan.
Bisa jadi pekerjaan rendah dimata manusia mulia di hadapan Allah, sebab setiap orang yang bekerja itu mulia, sebagaimana sabda Nabi:
لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
“Sekiranya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar lalu dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik baginya dari pada ia meminta-minta (mengemis harta) kepada orang lain, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (H.R. Bukhari, no. 1470)
Ma’asyiral muslimin..
Kemudian dalam bekerja, Islam juga mengajarkan nilai-nilai dan prinsip profesionalisme serta etos kerja. Dan ini merupakan bagian dari akhlaqul karimah (akhlak mulia) yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Al-Qur’an menyebut:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ
Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah yang kuat lagi amanah. (QS. al-Qaṣhaṣ: 26)
Baginda Rasulullah ﷺ menyatakan:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan atau amalan, ia menyempurnakannya. (HR. Thabrani, no. 897)
Inilah rumus kehidupan menurut ajaran Islam. Islam mendorong produktivitas, ketekunan, dan kesungguhan dalam setiap aspek kehidupan.
Mari kita jadikan pekerjaan kita sebagai ladang amal. Kita perbaiki niat, kita maksimalkan usaha, dan kita jadikan profesionalisme sebagai bagian dari ibadah.
Karena sesungguhnya, bekerja dengan baik bukan hanya akan dihargai oleh manusia, tapi juga dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

الْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ، وَأَصْحَابِهِ، وَإِخْوَانِهِ، وَخِلَّانِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَاقْتَفَى أَثَرَهُ، وَاهْتَدَى بِهديهُ، وَثَنَّى بِسُنَّتِهِ، إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ فيما أمر وانتهوا عما نهى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فقال في مُحكَم التنزيل: ﴿ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا ﴾ [الأحزاب: 56]
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَبِهِ كَانُوْا يَعْدِلُوْنَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَٱجْعَلِ ٱللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَٱتَّقَاكَ، وَٱتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ ٱلْعَالَمِينَ
اللَّهُمَّ ٱغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَٱسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَٱشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَأَعْطِنَا سُؤْلَنَا، وَٱسْتَجِبْ دُعَاءَنَا
اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ ٱلْمَهْمُومِينَ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ ٱلْمَكْرُوبِينَ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ، وَٱقْضِ ٱلدَّيْنَ عَنِ ٱلْمَدِينِينَ، وَوَسِّعْ أَرْزَاقَنَا يَا جَوَادُ يَا كَرِيمُ
عباد الله: إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر، أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ
*Naskah khutbah ini disampaikan di mimbar khutbah Jumat Masjid Al-Hidayah Villa Pejaten Mas, Pasar Minggu dan dicetak menjadi Buletin Jumat Al-Hidayah serta dibagikan kepada jamaah setelah usai sholat Jumat. (Soft File buletin bisa diunduh di halaman Pustaka Digital Ahla Institute )
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Islam Agama Produktif dan Bekerja