
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْأِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,
Penting bagi kita untuk memahami dua prinsip pokok yang menjadi fondasi kehidupan seorang mukmin, yaitu adil dan amanah. Yang dimaksud adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan setiap orang haknya dengan penuh pengetahuan dan kehati-hatian, serta memutuskan perkara berdasarkan kebenaran dan bukti. Adapun amanah adalah menjaga setiap titipan, baik harta, jabatan, maupun informasi, agar tidak disalahgunakan, serta bersikap jujur dan hati-hati dalam menyampaikan berita. Dua hal inilah yang menjadi tolok ukur lurus atau tidaknya lisan dan sikap seseorang. Coba kita amati dunia hari ini, arus informasi mengalir bagai sungai deras, opini publik bertabrakan, berita terkadang benar, terkadang menyesatkan, kebaikan dan pencitraan beda tipis. Dalam kondisi bias dan tumpang tindih itu, sering kali kebenaran tersisih, dan amanah menjadi sesuatu yang mahal, keadilan menjadi sesuatu yang tidak mudah diraih, karena menegakkannya sering menimbulkan risiko.
Namun, Allah ﷻ telah memberikan perintah yang tegas kepada orang-orang beriman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu” (Q.S. an-Nisa’ ayat 135)
Keadilan tetap harus ditegakkan, meski menentang ego, kepentingan, dan gengsi pribadi, orang-orang terdekat, kroni, kelompok, ataupun opini publik. Menjadi adil dan amanah bukan jalan mudah, bahkan hari ini bisa dikatakan jalur sunyi dan jalan sulit, tapi itulah yang dicintai Allah ﷻ.
Jama’ah kaum Muslimin rahimakumullah,
Berlaku adil dan amanah harus kita lakukan di setiap aspek kehidupan, adil dan amanah dalam lisan, tulisan, tindakan, harta, dan jabatan. Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ memberikan pedoman jelas, di antaranya:
Adil dan amanah dalam berkomunikasi dan menggunakan media sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بالمرءِ كذِبًا أن يحدِّثَ بِكُلِّ ما سمِعَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan segala sesuatu yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5, Abu Dawud, no. 4992, no. Ibnu Hibban, no. 30)
Nabi ﷺ memberitahukan bahwa salah satu sebab seseorang jatuh ke dalam kedustaan adalah ketika ia berbicara dan menyampaikan setiap hal yang ia dengar tanpa seleksi dan tanpa verifikasi. Sebab manusia dalam kesehariannya bisa saja mendengar hal yang benar dan hal yang salah; maka jika ia menceritakan semua yang ia dengar, berarti ia pasti akan menyampaikan sebagian ucapan yang mengandung kebohongan karena ia telah mengabarkan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan meskipun ia tidak bermaksud berdusta.
Hakikat dusta adalah memberitakan sesuatu yang tidak sesuai dengan faktanya.
Hari ini, hadis ini sangat relevan untuk mengingatkan manusia modern agar cermat menyaring berita, opini publik, informasi orang sekitar, dan menyebarkan informasi yang kita bagikan. Adil dan amanah dalam bermedia sosial berarti kita tidak menelan mentah-mentah informasi, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak memutarbalikkan fakta demi kepentingan pribadi atau kroni.
Apalagi, di tengah kekacauan narasi publik hari ini, muncul pula satu kelompok dengan perilaku yang sangat berbahaya, orang-orang yang pekerjaan atau kesenangannya adalah meniupkan opini, membentuk persepsi, meninggikan dan mengultuskan tokoh-tokoh tertentu demi citra politik, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, bahkan kadang memelintir informasi demi kepentingan dan keuntungan tertentu. Inilah yang dalam bahasa modern disebut buzzer.
Maka harus kita terapkan pesan Allah ﷻ:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (Q.S. al Hujurat ayat 6)
Jamaah yang dimuliakan Allah, ketika Allah ﷻ memerintahkan tabayyun (periksa) kabar, bukan berarti kita harus jadi detektif, tapi ada empat langkah sederhana untuk mencermati info yang kita terima supaya tidak tertelan fitnah atau hoaks;
Pertama, cek sumbernya. Dalam Islam, kredibilitas sumber itu penting. Allah ﷻ berfirman:
إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Jika datang kepada kalian seorang fasik pembawa berita maka telitilah” (Q.S. al-Hujurāt ayat 6)
Kita lihat track record orang atau akun tersebut, apakah dikenal jujur? pernah hoax? dijadikan rujukan banyak orang saleh? apakah akun yang suka provokatif merusak?
Kalau sumbernya tidak jelas, jangan langsung percaya.
Kedua, periksa isi dan logika informasinya. Kadang informasi benar secara bentuk, tapi salah secara makna. Maka lihat apakah masuk akal? ada data pendukungnya? ada indikasi kuat? ada bukti? atau hanya potongan video yang bisa direkayasa? Karena kebohongan bisa tampak seperti kebenaran bagi sebagian orang. Oleh karena itu, jangan mudah tertipu tampilan luar.
Ketiga, bandingkan dengan sumber lain yang lebih terpercaya. Ini inti dari tatsabbut (cek kevalidan). Cocokkan dengan berita resmi, lihat klarifikasi pihak terkait, lihat laporan media yang kredibel dan independen.
Keempat, tunda dulu kalau belum yakin. kalau ragu, berhenti, jangan share, komen, repost, dan forward. Nabi ﷺ bersabda:
دع ما يَريبكَ إلى ما لا يَريبُكَ ، فإنَّ الصِّدقَ طُمأنينةٌ وإنَّ الكذبَ رِيبةٌ
“Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Karena sesungguhnya kejujuran itu membawa ketenangan, dan kebohongan itu menimbulkan kegelisahan.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2518)
Ringkasnya: Tiga pertanyaan mudah sebelum menyebarkan informasi; Benarkah? Perlukah? Bermanfaatkah? Kalau salah satu tidak lolos, kita tahan dan jangan disebar.
Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,
Selanjutnya, menegakkan sikap adil dan amanah dalam tindakan dan kedudukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لا إيمانَ لمن لا أمانةَ له، ولا دينَ لمن لا عهدَ له
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad, no. 12567)
Amanah bukan hanya soal jabatan atau tanggung jawab formal. Amanah juga termasuk integritas pribadi. Ketika kita di posisi pengambil keputusan, sebagai pimpinan, pemangku otoritas, amanah berarti memprioritaskan hak rakyat, karyawan, pegawai, atau siapa pun yang bergantung pada keputusan kita, bukan sekadar mengikuti informasi parsial dari orang sekitar, bukan pula pencitraan dan politik manipulatif. Maka dalam Islam ada kaidah fikih siyasah:
تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
“Kebijakan seorang pemimpin atas rakyatnya harus bergantung pada kemaslahatan (mereka)”.

Setiap keputusan, tindakan, atau kebijakan pemimpin harus tunduk sepenuhnya kepada kemaslahatan umum, mengutamakan keselamatan mereka, terlebih ketika masyarakatnya ditimpa bencana yang mana ribuan korban jiwa melayang dan kehilangan tempat tinggal. Bukan malah memprioritaskan proyek pribadi, kroni, ataupun oligarki.
Menjadi pimpinan dan pejabat publik berarti memikul amanah dan konsekuensi untuk menepati hak-hak orang yang dipimpin, bagaimana pun caranya. Tugas mereka memang mencari solusi dan memecahkan masalah, membangun fasilitas publik, menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat, mewujudkan kemakmuran bagi rakyat, memastikan kondisi mereka aman dan selamat, bukan malah menuntut masyarakat di bawahnya untuk mencari solusi sekaligus memberikan beban tambahan kepada masyarakat yang sebenarnya bukan tugas pokok dan fungsinya. Menjadi pimpinan berarti siap untuk dikritik dan dituntut. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan siapapun itu yang saat ini memiliki kekuasaan, kewenangan untuk membuat kebijakan, mengambil keputusan, dan menindak setiap pelanggaran, tetapi malah menyalahgunakan kewenangan dan otoritasnya, maka masyarakat berhak menuntutnya, kalaupun lolos dari tuntutan dan hukuman di dunia, itu sementara, nanti kita selaku masyarakat akan menuntut mereka semua di mahkamah akhirat, di hadapan Allah Ta’ala.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Al-Qur’an juga mengajak kita untuk adil dan amanah terhadap diri sendiri dan kerabat. Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ
Ini menunjukkan, keadilan tidak boleh berhenti hanya pada orang lain atau publik. Bahkan terhadap diri sendiri, keluarga, dan kerabat, kita harus berlaku jujur, adil, dan amanah, meskipun terkadang sulit, tidak nyaman atau timbul konflik kecil. Tapi ini adalah perintah Allah ﷻ yang harus kita kerjakan.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah
Mahalnya amanah dan keadilan terlihat ketika kebenaran tidak populer, ketika opini publik bisa menyesatkan, ketika kepentingan politik menggeser fakta. Karena di era kekacauan narasi publik, amanah menuntut keberanian moral dan integritas, keadilan menuntut keteguhan menentang tekanan politik, narasi publik yang kacau adalah ujian nyata bagi setiap muslim. Maka, mari kita menjadi muslim yang istiqamah, penegak kebenaran, bukan penumpang opini, penjaga amanah, bukan penebar kebohongan, penebar ketenangan, bukan penyebab keresahan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ أَلَا فَإِنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَةِ رَسُوْلِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ؛ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا.وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوْا تَسۡلِيْمًا؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَرِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ فَلَسْطِيْنَ وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ رَحَمَاتِكَ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.عباد الله: إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر
Baca juga: Mencari Pemimpin yang Adil dan Pantas
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Menegakkan Amanah dan Keadilan di Tengah Kekacauan Narasi Publik