KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » MENYAMBUNG SILATURAHIM DAN MENUNDUKKAN EGO

    MENYAMBUNG SILATURAHIM DAN MENUNDUKKAN EGO

    BY 01 May 2026 Dilihat: 30 kali

    الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tampak dalam ibadah kita, dalam lisan kita, dalam akhlak kita, dan dalam cara kita memperlakukan keluarga serta sesama muslim.

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

    Di antara penyakit yang banyak merusak rumah tangga, keluarga, persahabatan, dan masyarakat adalah permusuhan yang berkepanjangan. Banyak saudara kandung tidak saling sapa. Banyak kerabat saling blokir. Banyak sahabat bermusuhan bertahun-tahun.

    Kadang sebabnya kecil: masalah harta, ucapan, warisan, bisnis, atau salah paham.

    Padahal agama ini datang untuk menyambung, bukan memutus. Agama ini datang untuk mendamaikan, bukan membiarkan dendam berakar.

    Dalam hadis sahih riwayat Sahih al-Bukhari disebutkan kisah agung antara Aisyah binti Abu Bakar dan keponakannya Abdullah bin az-Zubair.

    أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فِي بَيْعٍ أَوْ عَطَاءٍ أَعْطَتْهُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: وَاللهِ لَتَنْتَهِيَنَّ عَائِشَةُ أَوْ لَأَحْجُرَنَّ عَلَيْهَا. قَالَتْ: أَهُوَ قَالَ هٰذَا؟ قَالُوا: نَعَمْقَالَتْ: هُوَ لِلَّهِ عَلَيَّ نَذْرٌ أَنْ لَا أُكَلِّمَ ابْنَ الزُّبَيْرِ أَبَدًا. فَاسْتَشْفَعَ ابْنُ الزُّبَيْرِ إِلَيْهَا حِينَ طَالَتِ الْهِجْرَةُ، فَقَالَتْ: لَا وَاللهِ لَا أَشْفَعُ فِيهِ أَبَدًا، وَلَا أَتَحَنَّثُ إِلَى نَذْرِي. فَلَمَّا طَالَ ذٰلِكَ عَلَى ابْنِ الزُّبَيْرِ، كَلَّمَ الْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْأَسْوَدِ بْنِ عَبْدِ يَغُوثَ، وَقَالَ لَهُمَا: أَنْشُدُكُمَا اللهَ لَمَّا أَدْخَلْتُمَانِي عَلَى عَائِشَةَ، فَإِنَّهَا لَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَنْذُرَ قَطِيعَتِي. فَأَقْبَلَ بِهِ الْمِسْوَرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَتَّى اسْتَأْذَنَا عَلَى عَائِشَةَ، فَقَالَا: السَّلَامُ عَلَيْكِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَنَدْخُلُ؟ قَالَتْ عَائِشَةُ: ادْخُلُوا. قَالُوا: كُلُّنَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ، ادْخُلُوا كُلُّكُمْ، وَلَا تَعْلَمُ أَنَّ مَعَهُمَا ابْنَ الزُّبَيْرِ. فَلَمَّا دَخَلُوا، دَخَلَ ابْنُ الزُّبَيْرِ الْحِجَابَ، فَاعْتَنَقَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، وَطَفِقَ يُنَاشِدُهَا وَيَبْكِي، وَطَفِقَ الْمِسْوَرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ يُنَاشِدَانِهَا أَنْ تُكَلِّمَهُ وَتَقْبَلَ مِنْهُ، وَيَقُولَانِ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَمَّا قَدْ عَلِمْتِ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍفَلَمَّا أَكْثَرُوا عَلَيْهَا مِنَ التَّذْكِرَةِ وَالتَّحْرِيجِ، طَفِقَتْ تَذْكُرُهُمَا وَتَبْكِي، وَتَقُولُ: إِنِّي نَذَرْتُ، وَالنَّذْرُ شَدِيدٌ. فَلَمْ يَزَالَا بِهَا حَتَّى كَلَّمَتِ ابْنَ الزُّبَيْرِ، وَأَعْتَقَتْ فِي نَذْرِهَا أَرْبَعِينَ رَقَبَةً، َكَانَتْ تَذْكُرُ نَذْرَهَا بَعْدَ ذٰلِكَ فَتَبْكِي حَتَّى تَبُلَّ دُمُوعُهَا خِمَارَهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

    Dari Aisyah binti Abu Bakar رضي الله عنها, beliau menceritakan bahwa Abdullah bin az-Zubair رضي الله عنهما pernah berkata mengenai penjualan atau pemberian harta yang dilakukan Aisyah:

    “Demi Allah, Aisyah harus menghentikan itu, atau aku akan membatasi pengelolaannya.”

    Maka Aisyah berkata, “Apakah dia benar-benar mengatakan ini?” Mereka menjawab, “Ya.”

    Aisyah berkata, “Aku bernazar karena Allah untuk tidak berbicara dengan Ibnu az-Zubair selama-lamanya.”

    Lalu Ibnu az-Zubair meminta orang lain menjadi perantara kepada Aisyah ketika pemutusan hubungan itu berlangsung lama. Namun Aisyah berkata:

    “Tidak, demi Allah, aku tidak akan menerima perantaraannya selamanya, dan aku tidak akan melanggar nazarku.”

    Ketika hal itu terasa berat bagi Ibnu az-Zubair, ia meminta bantuan Al-Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin al-Aswad bin Abd Yaghuts, seraya berkata:

    “Aku mohon demi Allah kepada kalian berdua, bawalah aku masuk menemui Aisyah, karena tidak halal baginya bernazar memutus hubungan denganku.”

    Maka keduanya datang bersama Ibnu az-Zubair dan meminta izin masuk kepada Aisyah:

    “Assalamu‘alaiki warahmatullahi wabarakatuh, bolehkah kami masuk?”

    Aisyah menjawab, “Masuklah.”

    Mereka bertanya, “Kami semua?”

    Aisyah menjawab, “Ya, masuklah kalian semua,” sementara beliau tidak mengetahui bahwa Ibnu az-Zubair bersama mereka.

    Ketika mereka masuk, Ibnu az-Zubair segera masuk melewati tabir, lalu memeluk Aisyah sambil memohon dan menangis. Al-Miswar dan Abdurrahman juga terus membujuk beliau agar mau berbicara dengannya dan menerima permintaan maafnya. Mereka berkata:

    “Sesungguhnya Nabi ﷺ telah melarang saling memutus hubungan. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga malam.”

    Ketika mereka terus mengingatkan dan mendesaknya, Aisyah pun menangis dan berkata:

    “Aku telah bernazar, sedangkan nazar itu berat.”

    Keduanya terus membujuk hingga akhirnya Aisyah berbicara kembali dengan Ibnu az-Zubair. Sebagai kaffarah atas nazarnya, beliau memerdekakan empat puluh budak.

    Setelah itu, setiap kali beliau mengingat nazarnya, beliau menangis hingga air matanya membasahi kerudungnya. (H.R al-Bukhari)

    Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Dari riwayat tadi, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa Aisyah adalah orang yang sangat dermawan, sehingga kapan ada orang yang memberiya hadiah, beliau buru-buru memberikannya kepada orang yang lebih memerlukan. Bahkan sikapnya ini sempat membikin Abdullah bin Zubair bersumpah agar Bibinya, Aisyah berhenti dengan sikapnya yang terlihat terlalu dermawan.

    Sikap inilah yang kemudian membuat Aisyah tersinggung, sehingga beliau bernadzar untuk tidak mengajaknya berbicara untuk selama-lamanya. Abdullah bin Zubair pun menyesal. Namun Aisyah bersikukuh untuk tidak memaafkannya. Abdullah bin Zubair mencari cara untuk bisa Ishlah, dan akhirnya terjadilah ishlah. Aisyah menyesal, dan menebus nadzarnya dengan membebaskan 40 hamba sahaya.

    Ada pelajaran besar dari kisah ini.

    Pertama: Orang mulia pun bisa marah, tetapi mereka kembali kepada kebenaran. Aisyah adalah wanita terbaik umat ini. Istri Nabi ﷺ. Ulama besar. Namun beliau tetap manusia yang bisa tersinggung. Tetapi bedanya dengan kebanyakan manusia: ketika datang nasihat, beliau tunduk kepada syariat.

    Hari ini banyak orang jika dinasihati justru semakin keras. Jika diingatkan dalil justru makin marah. Ini tanda ego mengalahkan iman.

    Kedua: Orang besar berani meminta maaf.

    Ibnu az-Zubair adalah tokoh besar. Namun beliau mau datang, memohon, menangis, dan merendahkan diri demi menyambung hubungan.

    Sebagian orang berkata: “Kenapa saya duluan yang minta maaf?”
    Justru yang lebih mulia adalah yang memulai damai.

    Ketiga: Silaturahim lebih mahal daripada gengsi. Berapa banyak keluarga hancur karena kalimat: “Biar saja, saya tidak butuh dia.”

    Padahal kita butuh rahmat Allah. Dan rahmat Allah dekat dengan orang yang menyambung hubungan. Allah Ta’ala berfirman:

    وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

    Bertakwalah kepada Allah, dan jagalah hubungan kekeluargaan.”

    Keempat: Nazar dalam maksiat tidak boleh diteruskan. Jika seseorang bernazar memutus silaturahim, menyakiti orang, atau melakukan maksiat, maka nazar itu tidak boleh dilaksanakan. Yang wajib adalah bertobat dan menunaikan kaffarah bila diperlukan.

    Kelima: Hati yang hidup mudah menangis karena dosa. Aisyah menangis hingga basah kerudungnya.

    Bukan karena dunia. Bukan karena rugi harta. Tapi karena takut kepada Allah. Hari ini banyak mata menangis karena gagal bisnis, gagal jabatan, gagal cinta. Tapi sedikit yang menangis karena dosa.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Kalau hari ini ada saudara yang tidak kita sapa, hubungi. Kalau ada kerabat yang kita jauhi, datangi. Kalau ada sahabat yang pernah tersakiti, minta maaf.
    Kalau ada orang tua yang menunggu telepon kita, jangan tunda. Jangan menunggu kematian datang baru berkata: Andai dulu saya menyapa.”

    أقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ والمُسْلِمَاتِ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْم

    الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Sesungguhnya orang yang paling kuat bukan yang menang debat, tetapi yang mampu menahan marah. Orang yang paling tinggi bukan yang disanjung manusia, tetapi yang merendahkan diri demi kebenaran.

    Mari kita jadikan rumah-rumah kita penuh salam, penuh maaf, penuh silaturahim. Jangan wariskan permusuhan kepada anak-anak kita.

    Doakan keluarga kita, orang tua kita, anak-anak kita, dan kaum muslimin seluruhnya.

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ 

    اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، اوَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ سَكِينَةٍ وَإِيمَانٍ

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk MENYAMBUNG SILATURAHIM DAN MENUNDUKKAN EGO

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023