
Penulis Naskah: Lalu Khairil Azmi, B.A. (Alumnus LIPIA-IMSIU/ Mahasiswa Program S2 FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al-Qashash [28]: 68)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di antara bentuk pilihan Allah adalah Dia memilih tempat-tempat yang mulia dan waktu-waktu yang mulia sesuai dengan hikmah-Nya. Allah memilih tempat-tempat yang agung seperti tanah suci Makkah dan Madinah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, serta Masjid Al-Aqsha.
Demikian pula Allah memilih waktu-waktu yang memiliki keutamaan di antara rentang waktu sepanjang tahun. Di antaranya adalah bulan Ramadan, khususnya sepuluh malam terakhirnya. Selain itu, ada pula waktu istimewa lainnya yang Allah muliakan, yaitu bulan Dzulhijjah.
Bulan Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Dzulhijjah juga termasuk bulan-bulan haji yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ
“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah diketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Yakni bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
Di antara hari-hari pada bulan Dzulhijjah, terdapat waktu yang memiliki keistimewaan sangat agung, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Bahkan Allah bersumpah dengan hari-hari tersebut dalam firman-Nya:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “sepuluh malam” dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Kemuliaan hari-hari tersebut juga dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيهنَّ أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ العشرِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ إلَّا رجل خرج بنفسِه ومالِه فلم يرجِعْ من ذلك بشيءٍ
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari ini.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Bukhari)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan hari-hari yang sangat mulia, dengan pahala yang begitu besar. Akan tetapi sungguh disayangkan, banyak kaum muslimin yang melalaikannya.
Kita melihat saat datang sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, kaum muslimin memberikan perhatian yang sangat besar. Masjid-masjid ramai, ibadah semakin ditingkatkan, dan semangat semakin bertambah. Namun ketika datang sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, banyak manusia justru kurang memperhatikannya.
Padahal para ulama menjelaskan:
“Sepuluh siang terbaik sepanjang tahun adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sedangkan sepuluh malam terbaik sepanjang tahun adalah sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Karena itu, siapa saja yang Allah beri kesempatan untuk beribadah pada hari-hari tersebut, hendaknya ia bersungguh-sungguh memanfaatkannya dengan amal terbaik.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lalu amalan apa yang dapat dilakukan pada hari-hari mulia tersebut?
Bagi mereka yang Allah berikan kesempatan menunaikan ibadah haji, maka hendaklah bergembira. Sebab orang yang berangkat menuju tanah suci pada hari-hari Dzulhijjah telah mengumpulkan dua keutamaan sekaligus: keutamaan waktu dan keutamaan tempat. Keutamaan waktu karena berada pada bulan Dzulhijjah, dan keutamaan tempat karena berada di tanah suci Makkah.
Mereka melaksanakan ibadah-ibadah agung; pada tanggal 8 Dzulhijjah mereka bermalam di Mina, pada tanggal 9 mereka melaksanakan wukuf di Padang Arafah, kemudian malam harinya bermalam di Muzdalifah. Selanjutnya pada tanggal 10 Dzulhijjah mereka melaksanakan berbagai ibadah besar; thawaf, sa’i, tahallul, serta penyembelihan hadyu.
Sungguh beruntung para jamaah yang Allah berikan kesempatan menunaikan ibadah haji.
Perhatikan pula bagaimana Allah memuliakan hari Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah.
Allah berfirman:
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
Sebagian ulama menafsirkan kata al-watr (yang ganjil) sebagai isyarat kepada tanggal 9 Dzulhijjah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain hari Arafah.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain Allah berfirman kepada para malaikat:
انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي هَؤُلَاءِ جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا… أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ
“Lihatlah hamba-hamba-Ku itu, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.”… “Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.”
Demikianlah kemuliaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang melaksanakan wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Adapun bagi saudara-saudara kita yang tidak melaksanakan ibadah haji, jangan merasa kehilangan kesempatan meraih keutamaan Dzulhijjah. Sebab pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah masih sangat banyak amal ibadah yang dapat dilakukan.
Di antaranya: memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersabda:
فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّكْبِيرِ
“Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir.”
Maka pada hari-hari mulia itu, hendaknya lisan-lisan kita senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah. Ketika hilal Dzulhijjah telah tampak, hendaknya kita mulai memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
Para ulama menjelaskan bahwa ini termasuk sunnah yang pada zaman sekarang mulai banyak ditinggalkan. Betapa banyak manusia yang mengetahui datangnya sepuluh hari pertama Dzulhijjah, namun sedikit yang menghidupkannya dengan dzikir kepada Allah, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkannya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kemudian di antara ibadah yang juga sangat dianjurkan adalah berpuasa pada hari-hari Dzulhijjah.
Seseorang dapat berpuasa sejak tanggal 1 hingga tanggal 9 Dzulhijjah. Adapun bagi jamaah haji, tidak dianjurkan berpuasa pada hari Arafah karena mereka sedang melaksanakan wukuf dan membutuhkan kekuatan dalam beribadah.
Sedangkan bagi yang tidak berhaji, maka sangat dianjurkan berpuasa semampunya pada hari-hari tersebut, terlebih lagi pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan Puasa Arafah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi)
Seandainya seorang hamba tidak memiliki dosa, tentu Allah akan mengangkat derajatnya. Namun siapakah di antara kita yang tidak memiliki dosa?
Bayangkan, orang yang tidak berhaji hanya dengan berpuasa pada hari Arafah diberikan ampunan dosa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang hadir di Padang Arafah, mengangkat kedua tangannya, merendahkan diri, memohon ampun kepada Allah di tempat yang sangat mulia tersebut?
Jamaah rahimakumullah,
Di antara ibadah agung lainnya adalah berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, yaitu Yaumun Nahr.
Hari Nahr merupakan hari yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَفْضَلَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ
“Sesungguhnya hari yang paling utama di sisi Allah adalah Hari Nahr.” (HR. Abu Dawud)
Para ulama menjelaskan bahwa hari paling agung sepanjang tahun adalah Hari Nahr, sedangkan malam paling utama sepanjang tahun adalah malam Lailatul Qadr.
Pada hari tersebut, para jamaah haji melaksanakan banyak ibadah besar; thawaf ifadhah, sa’i haji, tahallul, penyembelihan hadyu, dan melempar jumrah Aqabah. Banyak amalan besar terkumpul pada hari itu.
Adapun kaum muslimin yang tidak berhaji, maka Allah tetap membuka pintu kebaikan yang sangat besar, yaitu ibadah kurban.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
“Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada Hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah hewan kurban.” (HR. Tirmidzi)
Karena itu, barang siapa yang Allah berikan kelapangan rezeki, hendaknya ia menyembelih hewan kurban sebagai ibadah kepada Allah dan sebagai syiar tauhid.
Sebab di tengah masyarakat terdapat orang-orang yang menyembelih bukan karena Allah; ada yang dipersembahkan untuk selain Allah, untuk keyakinan yang batil, untuk perkara syirik, dan berbagai bentuk kesesatan lainnya.
Sedangkan kita menyembelih hanya untuk Allah semata. Itulah bentuk penghambaan dan syukur yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1–2)
Para ulama menjelaskan bahwa di antara tanda syukur yang benar kepada Allah adalah memperbanyak ibadah kepada-Nya dan mempersembahkan sembelihan hanya untuk-Nya.
Maka barang siapa yang diberi kelapangan harta, hendaknya ia berkurban. Jika mampu sendiri maka silakan, dan jika belum mampu maka diperbolehkan bergabung tujuh orang dalam kurban sapi atau unta.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan hari-hari mulia tersebut dengan ibadah yang ikhlas karena Allah semata. Bukan untuk kebanggaan, bukan untuk mencari pujian, bukan untuk sekadar penampilan di hadapan manusia.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (QS. Al-Hajj [22]: 37)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari-hari mulia Dzulhijjah telah Allah bentangkan di hadapan kita. Pertanyaannya, sudahkah kita mempersiapkan amal terbaik untuk mengisinya?
Betapa banyak manusia yang menyesal ketika kesempatan telah berlalu. Hari-hari yang agung itu datang dan pergi, namun amalnya sedikit, dzikirnya sedikit, sedekahnya sedikit, ibadahnya sedikit, bahkan sebagian manusia melewatinya seperti hari-hari biasa tanpa ada perubahan sedikit pun.
Padahal hari-hari tersebut adalah musim kebaikan yang Allah bukakan bagi hamba-hamba-Nya. Orang yang cerdas bukan sekadar yang mengetahui keutamaannya, tetapi yang memanfaatkannya untuk memperbanyak amal saleh.
Karena itu marilah kita menghidupkan hari-hari Dzulhijjah dengan berbagai ibadah; memperbanyak dzikir, memperbanyak istighfar, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berpuasa, bersedekah, memperbaiki hubungan dengan keluarga, membantu sesama, serta menghidupkan syiar kurban bagi yang Allah beri kemampuan.
Jangan sampai kesempatan besar ini berlalu sementara hati kita tetap lalai.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
*Naskah khutbah ini disampaikan di mimbar khutbah Jumat Masjid Al-Hidayah Villa Pejaten Mas, Pasar Minggu dan dicetak menjadi Buletin Jumat Al-Hidayah serta dibagikan kepada jamaah setelah usai sholat Jumat. (e-buletin bisa diunduh di halaman Pustaka Digital Ahla Institute)
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH