
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، العَلِيْمُ العلَّامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، سَيٍّدُ الْأَنَامِ وَبَدْرُ التَّمَامِ؛ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ؛ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah hiruk-pikuk target pekerjaan dan arus informasi yang begitu deras, kita sering terjebak dalam fenomena banjir informasi namun terkadang kering ilmu. Jari dan mata kita memang sibuk di depan layar gadget, tapi terkadang terasa tak bermakna apapun kecuali hanya merasakan kelelahan mata dan rasa bosan. Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (H.R. at-Thabrani, no. 8567, Ibnu Majah, no. 224)
Saat Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, kewajiban ini bukanlah beban yang berat, melainkan sebuah panduan keselamatan. Para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang wajib ini disebut sebagai Fardhu ‘Ain, yaitu kurikulum dasar yang tidak boleh tidak diketahui oleh seorang Muslim demi tegaknya agama mereka (Ma la yasau al-muslima jahluhu).
Setiap Muslim wajib mengetahui apa saja rukun iman, rukun Islam, dan mempelajari ilmu dasarnya. Ia wajib memahami bahwa Allah memerintahkan tauhid (mengesakan Allah) dan mengharamkan syirik. Setiap muslim wajib mempelajari tata cara beribadah kepada Allah dengan benar. Ia juga harus tahu bagaimana prosedur shalat yang sah, bagaimana mengelola zakat jika memiliki harta, serta bagaimana cara berpuasa dan berhaji yang benar.
Adapun ilmu-ilmu di luar kebutuhan pokok tersebut, seperti pendalaman spesifik yang rumit, maka status hukumnya menjadi Fardhu Kifayah, yaitu kewajiban yang jika sudah ada sebagian orang yang melakukannya, maka gugur kewajiban bagi yang lain.
Agar tidak mengambang, mari kita bedah kurikulum wajib bagi seorang Muslim pembelajar dalam tiga pilar utama:
Pertama, Ilmu Tauhid sebagai Mental Foundation.
Ini adalah sistem operasi jiwa kita. Allah berfirman dalam surah Muhammad ayat 19:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa tidak ada tuhan selain Allah.”
Jika kita punya ilmu tauhid, kita akan bekerja dengan mental pemenang. Kita yakin bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Kita tidak akan menghalalkan segala cara demi promosi, tidak akan menjatuhkan kehormatan orang lain demi posisi, dan tidak akan stres berlebihan saat target belum tercapai. Kita tenang karena tahu, perusahaan hanyalah perantara, sementara sumber rezeki yang sejati adalah Allah ﷻ.
Kedua, Ilmu Fikih sebagai Standard Operating Procedure (SOP) Hidup dan Ibadah.
Sangat menyedihkan jika kita bisa menjalankan SOP perusahaan yang rumit, namun bacaan Al-Fatihah kita masih berantakan, atau kita tidak paham rukun-rukun shalat. Fikih Ibadah menjaga hubungan kita dengan Allah, sementara fikih muamalah menjaga kehalalan gaji kita.
Kita wajib tahu mana transaksi yang mengandung riba, mana transaksi yang dibolehkan dan mana yang tidak, mana cara kerja yang amanah, dan mana yang termasuk penipuan. Ilmu inilah yang menjaga agar makanan yang kita berikan untuk anak istri tidak menjadi api masalah dalam hidup kita, baik di dunia maupun akhirat.
Ketiga, Ilmu Akhlak atau Adab sebagai Quality Control Perilaku. Ilmu ini sebagai pengawas kualitas akhlak kita semua.
Islam bukan hanya soal jidat hitam, jenggot panjang, celana cingkrang, ataupun jilbab yang panjang sampai pinggang, tetapi ada yang lebih penting dari itu semua, yakni soal hati yang lapang.
Ilmu akhlak mengajarkan kita manajemen emosi, akhlak berinteraksi dengan sesama Muslim yang berbeda pemahaman dan sesama manusia yang berbeda keyakinan.
Bagaimana kita tetap tersenyum tulus saat melayani pelanggan yang sulit, bagaimana membuang rasa iri saat rekan kerja lebih sukses, dan bagaimana menjaga lisan dari membicarakan aib rekan di belakang ataupun menjaga obrolan kita dari jebakan fitnah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di tengah semangat menuntut ilmu yang kian hari, semakin terlihat dari berbagai lapisan masyarakat, kita juga harus berhati-hati.
Memang saat ini banyak sekali pilihan kajian. Ada fenomena orang yang baru “hijrah” tapi justru menjadi kaku, gampang menyalahkan, bahkan mudah menyesatkan saudara sesama Muslim hanya karena perbedaan cabang pemahaman (furu’iyah). Bisa jadi kita sendiri juga pernah atau bahkan sedang berada fase tersebut.
Namun, mari kita ketahui, Islam adalah agama yang moderat (wasathiyah) dan kita dituntut oleh Allah dan Rasul-Nya menjadi umat yang moderat. Allah ﷻ berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia…” (Q.S. al-Baqarah ayat 143)
Para mufassir menjelaskan bahwa Allah telah menjadikan kita sebagai umat terbaik, adil dan moderat di antara umat-umat lainnya, baik dalam hal akidah, ibadah maupun muamalah.
Moderasi (wasathiyah) adalah ciri khas Islam yang menjaga keseimbangan antara wahyu dan akal, serta antara tegas dalam prinsip dan luwes dalam perbedaan.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena bersikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. An-Nasa’I, no. 3057, Ibnu Majah, no. 3029).”
Hadis ini menjadi peringatan keras bagi para penuntut ilmu. Ulama menjelaskan bahwa ghuluw atau ekstrim sering kali muncul karena semangat yang tidak dibarengi dengan ilmu yang luas.
Ada orang yang baru belajar sering kali merasa pendapatnya paling benar dan “mewakili Tuhan,” sehingga gampang menghakimi orang lain. Bahkan tidak jarang mengikuti oknum ustadznya yang gemar melakukan tahdzir kepada ustadz-ustadz lain di luar kelompoknya.
Padahal, Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk bersikap pertengahan, memudahkan, dan memberikan kabar gembira (yassiru wala tu’assiru).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi, setelah kita memahami ilmu apa yang wajib dipelajari, maka adab dalam mengamalkannya adalah dengan semangat wasathiyah atau moderasi. Allah menyebut kita sebagai Ummatan Wasathan, umat pertengahan yang adil.
Mengapa ini penting? Karena banyak orang berilmu, ustadz, guru, atau bahkan orang yang baru hijrah belajar agama, namun kehilangan kebijaksanaan. Mereka mengira dirinya kuat dalam dalil, tapi sejatinya lemah dalam adab dan akhlak, bahkan lemah dalam memahami dalil itu sendiri.
Karena dalil Quran dan Hadis tidak hanya menuntut kita beramal sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga bertanya dan merujuk kepada ahlinya, para ulama. Al-Qur’an dan Hadis juga memerintahkan kita untuk berinteraksi kepada sesama Muslim dengan rahmah (kelembutan dan kasih sayang).
Jika kita melihat saudara kita berbeda cara shalatnya atau melakukan suatu amalan, selama masih dalam koridor mazhab yang sah, jangan gampang lisan ini mengucap dan melesatkan vonis ‘sesat’ atau ‘bid’ah‘ kepada orang lain. Itulah sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang dilarang Nabi ﷺ.
Ingatlah, ilmu yang benar seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin merasa suci. Menjadi moderat berarti kita berdiri di atas ilmu yang kokoh, namun tetap memeluk saudara kita dengan kasih sayang.
Boleh kita memiliki satu pandangan, pilihan, ataupun prinsip, tapi bukan berarti kemudian kita merasa satu-satunya yang benar, dan menganggap yang lain salah dan keluar dari “sunnah“. Bahkan melakukan polarisasi sosial dengan memvonis kelompoknya sunnah, dan yang lain bukan sunnah.
Hari ini kita menyaksikan orang-orang yang mengatasnamakan kemurnian manhaj, kemudian mendeklarasikan dan mengkalaim diri sebagai satu-satunya representasi Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan menginjak kehormatan Muslim lainnya. Sikap seperti inilah yang menjadi akar kegaduhan di tengah masyarakat dan umat.
Dan perlu kita tegaskan, ma’syiral muslimin, bahwa sikap-sikap klaim sepihak dan arogan seperti itu tadi justru bukan sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bukan termasuk manhaj keilmuan dan dakwah yang benar.
Maka, dalam menuntut ilmu, mengambil ilmu, menyaksikan video dakwah, ceramah, kajian oleh berbagai ustadz, kita juga harus waspada dan hat-hati. Ilmu yang benar, mengajarkan prinsip yang benar, sikap yang bijak, dan akhlak yang baik. Mari kita camkan perkataan masyhur dari seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in, yaitu Imam Muhammad bin Sirin (w. 110 H). Beliau berkata:
إنَّ هذا العِلمَ دِينٌ، فانظُروا عمَّن تأخُذون دينَكم
Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah (telitilah) dari siapa kalian mengambil agama kalian
Mari kita banyak berdoa kepada Allah agar diberikan taufik, bimbingan, dan ketenangan dalam mencari ilmu.
Ilmu yang benar melahirkan rasa takut kepada Allah dan rasa kasih sayang kepada sesama. Jika ilmu justru membuat kita sombong dan merasa paling benar sendiri, kemudian menyesatkan Muslim yang lain, yang sejatinya masih dalam koridor syariat dan mengikuti para imam mazhab yang ketakwaan dan keilmuannya diakui oleh umat sepanjang zaman, maka ada yang salah dengan cara belajar kita.
Ada sebuah pesan dari ulama besar dari generasi Tabi’ut Tabi’in, Abdullah bin Mubarak (w. 181 H):
نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم
Kita lebih butuh pada adab yang sedikit, dari pada ilmu yang banyak (tapi tanpa adab)
Maka, mari kita menjadi Muslim pembelajar yang profesional, yaitu cerdas secara akal, mantap secara tauhid, sah secara syariat, dan santun secara akhlak. Itulah potret Muslim moderat yang kehadirannya menjadi rahmat bagi semesta, dan pelita bagi lingkungan kantor, keluarga, dan seluruh alam.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله هو وحده لا شريك له، تعظيماً لشأنه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على سيدنا محمد و على آلهو أصحابه أجمعينَ؛
فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ فيما أمر وانتهوا عما نهى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فقال في مُحكَم التنزيل: ﴿ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا ﴾ (الأحزاب : 56)
اللهم صلِّ وسلِّم على سيدنا محمدٍ وعلى سيدنا محمد، وعلى أنبيائك ورسلك والملائكة المقربين، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين الذين قضَوا بالحق وبه كانوا يعدِلون: أبي بكرٍ، وعمر، وعثمان، وعليٍّ، وعن بقية الصحابةِ والتابعين، لهم بإحسان الى يوم الدين وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين
اللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَٱجْعَلِ ٱللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَٱتَّقَاكَ، وَٱتَّبَعَرِضَاكَ يَا رَبَّ ٱلْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ فِي فِلَسْطِين، وَفِي غَزَّةَ، وَفِي السُّودَانِ، وَفِي جَمِيعِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ. اللهم اجعل اندونيسيا بلدة آمنة مطمئنة وجميع بلاد المسلمين
عباد الله! إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبر
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Mengelola Hidup dengan Ilmu