
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I (Founder Ahla Institute)
Pernah kepikiran nggak, kenapa ribuan tahun lalu, sebelum sikat gigi dengan beragam modelnya dibuat seperti sekarang, peradaban Islam sudah sangat concern sama kebersihan mulut? Jawabannya ada pada sepotong dahan kayu yang disebut siwak.
Dalam kitab legendaris Matn al-Ghayah wa at-Taqrib, Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) memberikan porsi khusus untuk membahas siwak di awal bab thaharah (bersuci). Ini bukan cuma soal gosok gigi, tapi juga soal gaya hidup yang bernilai ibadah.
Hukum Asal Bersiwak: Kapanpun dan Di Manapun
Imam Abu Syuja’ membuka pembahasannya dengan redaksi:
وَالسِّوَاكُ مُسْتَحَبٌّ فِي كُلِّ حَالٍ
“Bersiwak itu disunnahkan (mustahab) dalam setiap keadaan.”
Dasar hukum syar’inya sangat kuat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Siwak itu pembersih mulut dan (sarana) meraih ridha Allah.” (HR. an-Nasa’i, no. 5).
Secara medis, penggunaan kayu dari pohon Salvadora persica ini mengandung fluorida alami, antiseptik, dan silika yang efektif merontokkan plak.
Pengecualian: Saat Puasa setelah Zawal
Namun, ada catatan penting bagi pejuang puasa. Abi Syuja’ menyebutkan:
إِلاَّ بَعْدَ الزَّوَالِ لِلصَّائِمِ
“…kecuali setelah tergelincirnya matahari (waktu Dzuhur) bagi orang yang berpuasa.”
Dalam madzhab Syafi’i, bersiwak setelah Dzuhur hukumnya menjadi makruh. Mengapa? Karena bau mulut orang berpuasa (Al-Khuluf) dianggap “harum” di sisi Allah. Ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ yang berbunyi:
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِن رِيحِ المِسْكِ
“Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi (misik)” (HR. Bukhari, no. 1904, Muslim, no. 1151)
Namun, jangan salah paham! Makruh di sini alasannya untuk menjaga tanda atau atsar ibadah puasa tersebut, bukan berarti berdosa. Imam asy-Syairazi (w. 476 H) dalam kitabnya al-Muhadzdzab menyebutkan sebagai berikut:
والسواك يقطع ذلك فوجب أن يكره. ولأنه أثر عبادة مشهود له بالطيب فكره إزالته كدم الشهداء
“Dan siwak itu dapat menghilangkan (bau mulut) tersebut, maka harus menjadi makruh. Dan karena bau mulut itu adalah ‘bekas’ dari ibadah yang telah dipersaksikan keharumannya (oleh Allah), maka makruh hukumnya untuk dihilangkan, sebagaimana darah orang-orang yang mati syahid”
Tiga Momen “Golden Time” Bersiwak
Meskipun disunnahkan setiap saat, ada tiga kondisi di mana bersiwak status hukumnya naik menjadi sangat dianjurkan (asyaddu istihbaban) atau sunnah muakkadah,
Pertama:
عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ
“Ketika terjadi perubahan bau mulut, baik karena (azm) diam terlalu lama atau karena faktor lain”
Secara medis, diam terlalu lama mengurangi produksi saliva, yang memicu bakteri anaerob berkembang biak. Siwak hadir sebagai penetral alami. Atau bau mulut karena faktor lain, seperti makan bawang putih, jengkol, petai, atau makanan yang memiliki bau yang sangat menyengat.
Kedua:
وَعِنْدَ الاسْتِيْقَاظِ مِنَ النَّوْمِ
Ketika bangun tidur
Dalam sebuah riwayat dari Hudzaifah bin al-Yaman radiyallahu ‘anhu disebutkan:
كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، يَشُوصُ فَاهُ بالسِّوَاكِ
“Adalah Nabi ﷺ apabila bangun di malam hari, beliau membersihkan (menggosok) mulutnya dengan siwak” (HR. Bukhari, no. 245, Muslim, no. 255)
Nabi ﷺ biasanya langsung mencari siwak begitu mata terbuka. Bangun tidur adalah momen di mana mulut terasa asam dan tidak segar.
Ketiga:
وَعِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلاةِ
Ketika hendak mendirikan shalat
Menghadap Tuhan idealnya dalam kondisi prima, termasuk nafas yang segar. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْلَا أنْ أشُقَّ علَى أُمَّتي أوْ علَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بالسِّوَاكِ مع كُلِّ صَلَاةٍ
“Seandainya tidak memberatkan umatku atau manusia, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali akan shalat.” (HR. Bukhari, no. 887, Muslim, no. 252)
Dalam hadis ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa seandainya tidak karena khawatir akan timbulnya kesulitan (masyaqqah) bagi orang-orang yang shalat dari kalangan umatnya, niscaya beliau akan memerintahkan atau mewajibkan mereka untuk menggunakan siwak setiap kali akan melaksanakan shalat, baik itu shalat fardhu maupun shalat sunnah.
Siwak adalah perpaduan sempurna antara ketaatan spiritual dan kesadaran akan kesehatan. Dengan sepotong kayu elastis ini, kita mendapatkan dua hal sekaligus, yakni mulut yang bersih dari bakteri dan ridha dari Sang Ilahi
Jadi, sudahkah kita bersiwak hari ini?
Referensi:
Ahmad ibn al-Husain ibn Ahmad al-Asfhahani, Abu Syuja’. Matn al-Ghayah wa at-Taqrib. tahqiq: Majid al-Himawi, cet. 2, (Beirut: Dar Ibn Hazm, 1415 H/1994 M), hal. 29.
Ibrahim ibn Ali al-Syairazi, Abu Ishaq. Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i. tahqiq: Muhammad al-Zuhaili, cet. 1, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1412 H/1992 M), hal. 67.
Niazi, F., Naseem, M., Khurshid, Z., Zafar, M. S., & Almas, K. (2016). Role of Salvadora persica chewing stick (miswak): A natural toothbrush for holistic oral health. European Journal of Dentistry, 10(2), 301–306. https://doi.org/10.4103/1305-7456.178297
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Hukum Bersiwak: Sunnah Senyum Sehat Ala Nabi ﷺ