
Oleh: Ust. Fithrah Dhaniadi, Lc., S.Pd.I.
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ؛ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى؛ فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Suatu ketika Nabi ﷺ bersabda:
اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ
“Lihatlah siapa yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, sebab yang demikian lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah atas kalian”. (H.R. at-Tirmidzi, 2513)
Dalam kitab Bulughul Maram, Ibnu Hajar rahimahullah mencantumkan hadis ini dalam bab Adab. Secara eksplisit beliau ingin menjelaskan terkait adab kepada sesama manusia, namun secara implisit hadis ini membahas terkait adab kepada dunia, oleh karena itu banyak di kalangan para ulama kita yang mencantumkan hadis ini di bab Zuhud. Bahkan jika ditelisik dengan seksama penggalan terakhir dari hadis ini, maka sejatinya hadis ini berisikan pula dengan adab kepada Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sabda Rasulullah ﷺ,
اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ
“Lihatlah siapa yang berada di bawah kalian.”
Secara eksplisit hadis ini mutlak, maksudnya instruksi yang dikandung hadis ini umum yaitu untuk melihat kepada manusia yang levelnya berada di bawah kita dalam segala hal, namun jika dikomparasikan dengan redaksi hadis pada riwayat yang lain, maka maksudnya sangat gamblang yaitu instruksi untuk melihat orang yang lebih rendah levelnya dari sisi kehidupan dunia, yang mencakup sisi harta, jabatan, kemulian nasab, kesempurnaan tubuh, kesehatan dan lain sebagainya. Simaklah redaksi lain dari hadis ini,
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
“Jika seorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan darinya dari sisi harta dan (kesempurnaan) tubuh, maka hendaknya dia melihat kepada orang yang berada di bawahnya (dari sisi harta dan kesempurnaan tubuh).”
Redaksi hadis ini mengandung solusi bagi orang yang “tergoda” hatinya dengan harta, jabatan, dan yang lainnya, dan mulai menyepelekan serta mengkufuri (mengingkari) kenikmatan dunia yang telah dianugerahkan kepadanya, sebagai akibat dari mengumbar pandangan kepada orang yang lebih tinggi levelnya dari sisi kehidupan dunia.
Maka hendaknya dia memalingkan pandangannya kepada orang yang fakir, pengangguran, dan orang yang cacat, maka niscaya hal tersebut dapat memangkas penyakit yang mulai menggerogoti hatinya tersebut, dan menjadikan dia lebih bersyukur atas kenikmatan yang Allah ﷻ anugerahkan.
Muhammad bin Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan,
“Hadis ini mencakup banyak sisi kebaikan, karena manusia jika melihat kepada orang yang lebih tinggi levelnya dari sisi dunia, maka jiwanya akan menuntut yang serupa dan mulai mengerdilkan kenikmatan yang Allah berikan kepadanya, kemudian bertekad untuk menambah hartanya agar dia dapat mengejar kekayaan orang tersebut atau minimal menyamainya.”
Inilah fenomena yang jamak terjadi pada mayoritas manusia. Adapun jika dia melihat kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari sisi dunia dan harta, akan terpampang di hadapannya kenikmatan Allah yang besar kepadanya, maka dia akan bersyukur atas kenikmatan itu, bersikap rendah hati, serta akan melakukan amalan-amalan kebaikan.
Ma’asyiral mukminin arsyadakumullah,
Kemudian sabda Rasulullah ﷺ selanjutnya adalah,
وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
“Dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian.”
Penggalan hadis ini menegaskan perintah yang dikandung oleh penggalan hadis pertama di atas berupa perintah untuk “ghaddul bashar” dalam perkara kenikmatan dunia, karena penggalan ini melarang seseorang untuk melihat ke “atas”, yaitu melihat kepada orang yang berada di level yang lebih tinggi dari sisi harta, jabatan, dan yang sejenisnya.
Pesan yang dikandung penggalan hadis ini sangat identik dengan firman Allah ﷻ,
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيه
“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu.” (Q.S. Thaha ayat 131)
Jika “melepaskan” pandangan kepada lawan jenis dapat membangkitkan syahwat yang terlarang, maka “melepaskan” pandangan kepada kemewahan dunia yang dimiliki orang lain, akan menumbuhkan benih-benih “syahwat” yang melampaui batas kepada kemewahan dunia, yang dapat membangkitkan penyakit hati berupa iri, dan dapat mewariskan panjang angan-angan yang tercela, sebab ia bercita-cita ingin memiliki kemewahan dunia yang Allah ﷻ anugerahkan kepada orang lain, sehingga berpotensi untuk membangkitkan penyakit hasad (dengki) yang akut, dan dapat melalaikan seseorang dari kewajibannya kepada Allah ﷻ
Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Dan orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.S. Al-Qashas ayat 79)
Jama’ah kaum muslimin hafidzakumullah,
Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda,
فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ
“Sebab yang demikian lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah atas kalian.”
Penggalan hadis ini berisi ‘illah (motif hukum) perintah dan larangan yang dikandung oleh penggalan hadis sebelumnya, yaitu agar seorang hamba bersyukur atas segala kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.
Di antara keunikannya, hadis yang pendek ini mengandung perintah, larangan, dan motif dari keduanya. Oleh karena itu, seyogyanya hadis ini dapat menjadi contoh yang sempurna bagi kaedah,
الأَمْرُ بِالشَّيْئِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ
“Instruksi untuk melaksanakan sesuatu, (berkonsekuensi) larangan untuk melakukan kebalikannya.”
‘Illah (motif hukum) ini pula yang mempertegas bahwa maksud dari instruksi dan larangan di atas adalah khusus dalam perkara dunia, berupa kekayaan, jabatan, dan lain-lain, dan bukan dari sisi ilmu, kesalihan, dan ketakwaan kepada Allah ﷻ.
Hadis di atas juga merupakan contoh komunikasi yang sempurna dari Rasulullah ﷺ, yang mana tiga kalimat, mengandung tiga unsur berbeda: instruksi, larangan, dan penjelasan terkait motifnya.
Sebagaimana disampaikan di awal, hadis ini mengandung tiga adab, yakni;
1. Adab kepada manusia
2. Adab kepada dunia
3. Adab kepada Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,
Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita semua kecukupan dan membimbing kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan menikmati semua pemberian yang telah Allah karuniakan kepada kita semua untuk kebaikan. Aamiin.
Khutbah Kedua
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه؛ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن؛ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَة؛ ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكىونن من الخاسرين؛ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ؛ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ؛ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا؛ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى؛ اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ؛ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَة؛ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار؛ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن؛ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Batasi Pandangan Mata, agar Syukur Tetap Terjaga!