
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I. (Ketua Umum MTM Foundation Indonesia)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعَدْلَ قِوَامَ الْبِلَادِ، وَالْعِلْمَ أَسَاسَ عِمَارَةِ الْأَرْضِ وَالْعِبَادِ، وَخَصَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِسُبُلِ الرَّشَادِ وَالسَّدَادِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، ذُو الْفَضْلِ وَالْإِمْدَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِينُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَسَبَبًا لِلصَّلَاحِ وَالرَّشَادِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ الْإِيمَانَ لَيْسَ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنَّهُ مَا وَقَرَ فِي الْقُلُوبِ، وَصَدَّقَتْهُ الْأَعْمَالُ وَالْإِرْشَادُ
Ma’syiral Muslimin rahimakumullah,
Memasuki Jumat pertama di bulan Muharram 1448 Hijriyah, kita dipanggil untuk melakukan hijrah pemikiran dan tindakan, Rasulullah ﷺ bersabda:
والمُهاجِرُ مَن هَجَرَ ما نَهى اللهُ عنه
“Dan orang yang berhijrah (yang sebenarnya) adalah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah.” (H.R. Bukhari, no. 10, Muslim, no. 40)
Hadis ini sejatinya mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dan peralihan waktu, tetapi transformasi diri dan perubahan sosial.
Hijrah menuntut kita keluar dari ketidaktahuan menuju ilmu, dari sikap pasif dan pesimis menuju ikhtiar yang aktif dan optimis, dari kesalahan menuju tobat dan perbaikan yang nyata, dari kezaliman menuju keadilan yang proporsional, serta dari kemaksiatan menuju kesalehan yang menghadirkan manfaat bagi diri, masyarakat, dan umat.
Jamaah Kaum Muslimin hafidzakumullah,
Memang, jika kita jujur membaca realitas hari ini, masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi, sosial, dan ketidakpastian kondisi yang tidak ringan. Namun, di tengah keadaan itu, ada satu pelajaran penting yang perlu terus kita rawat, yakni jangan sampai kesulitan membuat kita kehilangan kejernihan berpikir.
Sering kali dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita terjebak pada siklus yang berulang. Ketika momentum menentukan pilihan publik datang, sebagian orang tergesa menentukan pilihan karena pertimbangan sesaat, sentimen kelompok, atau keuntungan jangka pendek, sementara kapasitas, integritas, dan kemaslahatan bersama kurang mendapat perhatian.

Ketika keputusan itu kemudian melahirkan keadaan yang dirasa berat, muncullah kekecewaan dan saling menyalahkan. Padahal Islam mendidik umat ini menjadi umat yang berpikir, mempertimbangkan akibat, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. Allah ﷻ berfirman:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 34)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini mengandung makna umum tentang seluruh bentuk amanah yang mengikat manusia; baik amanah pribadi maupun amanah yang berdampak kepada orang banyak.
Dalam konteks kehidupan publik, pilihan, dukungan, dan kepercayaan yang kita berikan juga memiliki dimensi amanah. Sebab keputusan yang tampak kecil hari ini, bisa menjadi sebab lahirnya kemaslahatan atau justru kesulitan bagi masyarakat di masa mendatang.
Karena itu, Islam tidak mengajarkan sikap apatis, tetapi juga tidak mendorong fanatisme yang menutup akal sehat.
Islam tidak melarang seseorang mempertimbangkan manfaat bagi dirinya dalam menentukan pilihan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar pertimbangan tersebut dibangun di atas ilmu, kejujuran membaca realitas, kemampuan memperkirakan akibat dan dampaknya, serta keberpihakan kepada kemaslahatan yang lebih luas.
Sebab masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang mudah digerakkan oleh slogan dan kesan sesaat, tetapi masyarakat yang mampu menilai secara jernih siapa yang lebih amanah, lebih kompeten, dan lebih besar menghadirkan keadilan serta manfaat bagi kehidupan bersama.
Ma’asyiral Muslimin wa Zumratal Mukminin a’azzakumullah,
Dalam menjelaskan bagaimana Allah menetapkan sunnatullah dalam kehidupan sosial, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله menyebutkan sebuah ungkapan yang mendalam dan progresif,
إِنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُسْلِمَةً
“Sesungguhnya Allah menegakkan negara yang adil meskipun ia kafir, dan Allah tidak menegakkan negara yang zalim meskipun ia Muslim.” (Majmu’ al-Fatawa, 28/146)
Perkataan ini bukan pembelaan terhadap kekafiran dari sisi akidah, jelas bukan demikian. Akan tetapi, yang sedang dijelaskan oleh para ulama adalah adanya hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan (sunnah kauniyyah) dalam kehidupan manusia.
Wajhul istidlal dari hikmah ini adalah bahwa Allah menjadikan keadilan sebagai sebab kokohnya kehidupan, dan menjadikan kezaliman sebagai sebab datangnya kerusakan.

Sebuah negeri, daerah, lembaga, organisasi, bahkan keluarga, siapa pun yang mengelolanya, jika dibangun di atas keadilan, amanah, profesionalitas, ilmu, dan tata kelola yang baik, maka peluang untuk lahirnya keamanan, kesejahteraan, dan keberlanjutan akan semakin besar.
Sebaliknya, jika suatu sistem dipenuhi kezaliman, korupsi, pengabaian terhadap ilmu, serta hilangnya empati kepada masyarakat, maka kerusakan itu cepat atau lambat akan muncul, meskipun dibungkus dengan simbol, slogan, dan citra yang tampak religius atau agamis atau merakyat.
Ma’asyiral Musimin a’azzakumullah,
Maka dari itu, Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan hakikat besar syariat:
فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسُهَا عَلَى الْحِكَمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا، وَرَحْمَةٌ كُلُّهَا، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا
“Sesungguhnya syariat dibangun di atas hikmah dan kemaslahatan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat; seluruhnya adalah keadilan, seluruhnya adalah rahmat, seluruhnya adalah maslahat, dan seluruhnya adalah hikmah.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/14-15)
Karena itu, agama tidak boleh berhenti pada simbol dan identitas semata. Ukuran keberhasilan bukan siapa yang paling keras mengklaim benar, bukan siapa yang paling besar gedungnya, bukan siapa yang paling indah slogannya, tetapi siapa yang paling mampu menghadirkan manfaat yang nyata.
Tidak cukup mengaku dekat dengan rakyat jika rakyat masih sulit hidup. Tidak cukup mengaku membawa kemajuan jika ilmu belum tersebar secara merata. Tidak cukup mengaku menjaga kemurnian agama jika kebutuhan dasar masyarakat masih diabaikan. Dan tidak cukup masyarakat hanya pandai mengkritik jika belum mau belajar dan memperbaiki serta meningkatkan kualitas diri dan pola pikirnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ؛ أَقُولُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّ اللهَ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِقْرَارًا وَشُكْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْبَشَرِ وَخَيْرُ مَنْ ذُكِرَ وَاشْتُهِرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاسْتَمَرَّ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَالْجَهْرِ، وَتَزَوَّدُوا لِمَا بَعْدَ الْعُمُرِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ أَرَادَ الْإِصْلَاحَ بَدَأَ بِالنَّظَرِ، وَمَنْ طَلَبَ التَّغْيِيرَ أَخَذَ بِالْأَسْبَابِ وَالصَّبْرِ، وَمَنْ صَدَقَ مَعَ اللَّهِ فَازَ بِالْخَيْرِ وَالظَّفَرِ
Ma’asyiral Muslimin hafidzakumullah,
Memasuki tahun baru Hijriyah ini, hendaknya kita tidak memaknainya sekadar sebagai perpindahan angka dan pergantian kalender, tetapi sebagai momentum muhasabah dan perbaikan arah hidup.
Islam tidak mendidik umat ini menjadi umat yang pasif, pesimis, atau hanya sibuk mengeluhkan keadaan, tetapi Islam membentuk umat yang memiliki harapan, optimisme, keberanian memperbaiki diri, serta kesungguhan membangun masa depan di atas fondasi iman, ilmu, dan amal yang nyata.

Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat yang agung ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan yang Allah janjikan tidak turun kepada masyarakat yang hanya menunggu, menyalahkan keadaan, atau menggantungkan seluruh harapan kepada figur dan kekuasaan semata.
Perubahan dimulai ketika masyarakat membangun kualitas dirinya: memperbaiki cara berpikir, memperkuat amanah, meningkatkan ilmu, menegakkan integritas, serta membiasakan kerja yang bertanggung jawab.
Mengapa? Karena pemimpin yang baik membutuhkan masyarakat yang matang, sebagaimana masyarakat yang baik juga memerlukan kepemimpinan yang sehat dan adil.
Memang tidak ada pilihan yang sempurna dalam urusan manusia, tetapi syariat mengajarkan agar setiap keputusan dibangun di atas pertimbangan maslahat objektif yang lebih besar dan mudarat yang lebih ringan ataupun lebih kecil.
Karena itu, ada beberapa ikhtiar yang layak kita mulai dan kita hidupkan bersama.
Pertama, membangun budaya ilmu dan nalar yang sehat. Kemajuan sering kali tidak lahir dari kebisingan, tetapi dari pengetahuan; tidak dibangun oleh fanatisme dan emosi sesaat, tetapi oleh kemampuan membaca kenyataan secara jujur dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Jadikan membaca, belajar, berdiskusi, memperluas wawasan, serta meningkatkan keterampilan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial kita kepada keluarga, masyarakat, dan umat.
Kedua, memperkuat amanah dan integritas dalam seluruh ruang kehidupan. Jika kita diberi tanggung jawab memimpin, maka pimpin dengan adil dan profesional; jika kita bekerja, maka bekerjalah dengan penuh kualitas; jika kita mendidik, maka didiklah dengan ilmu dan keteladanan.
Dan jika suatu saat kita diberi hak untuk menentukan pilihan dalam urusan publik, maka pilihlah dengan pertimbangan yang matang, karena setiap keputusan memiliki dampak yang tidak berhenti pada diri kita sendiri, tetapi juga bisa berdampak kepada orang banyak.
Ketiga, memperluas manfaat dan memperkuat solidaritas sosial. Jangan jadikan keberhasilan hanya diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi ukur pula dari siapa yang menjadi lebih baik dan memperoleh dampak positif karena keberadaan kita.
Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang seluruh anggotanya hebat secara individu, tetapi juga masyarakat yang mampu saling menopang, saling menguatkan, dan saling menghadirkan manfaat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita, keluarga, masyarakat, dan para pemimpin kita menuju jalan yang lurus, menjadi insan yang lebih baik, lebih adil, lebih bijak, lebih amanah, serta lebih besar manfaatnya bagi umat dan negeri.
نَسْأَلُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ هَذَا الْعَامَ عَامًا مُبَارَكًا، عَامَ خَيْرٍ وَإِصْلَاحٍ وَبَرَكَةٍ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا فِيهِ صِدْقَ الْإِيمَانِ، وَنُورَ الْعِلْمِ، وَإِخْلَاصَ الْعَمَلِ، وَأَنْ يُصْلِحَ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَيُصْلِحَ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَيُصْلِحَ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَأَنْ يَجْعَلَ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْزُقْهُمْ الْأَمْنَ وَالْإِيمَانَ وَالْعَدْلَ وَالِاسْتِقَامَةَ، وَهَيِّئْ لِأُمَّتِنَا مِنْ أَمْرِهَا رَشَدًا، وَارْزُقْهَا قِيَادَةً رَاشِدَةً عَادِلَةً، وَعُلَمَاءَ صَادِقِينَ، وَشَبَابًا نَافِعِينَ، وَمُجْتَمَعًا وَاعِيًا مُتَرَاحِمًا مُتَمَاسِكًا، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا رَغَدًا سَخَاءً
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْمُصْلِحِينَ
اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَارْفَعِ الظُّلْمَ وَالْفِتَنَ وَالْبَلَاءَ عَنْ عِبَادِكَ أَجْمَعِينَ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
*Naskah khutbah ini disampaikan di mimbar khutbah Jumat Masjid Al-Hidayah Villa Pejaten Mas, Pasar Minggu dan dicetak menjadi Buletin Jumat Al-Hidayah serta dibagikan kepada jamaah setelah usai sholat Jumat. (e-buletin bisa diunduh di halaman Pustaka Digital Ahla Institute)
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Menata Arah, Memperbaiki Tindakan: Membangun Nalar Kolektif Menuju Kemaslahatan