
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I.
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ لِكُلِّ حَقِيقَةٍ دَلِيلًا، وَأَنْزَلَ مِنَ الْهُدَى نُورًا جَلِيلًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تَبْلُغُ بِهَا النَّفْسُ نَيْلًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي لَمْ يَبْغِ غَيْرَ الْحَقِّ بَدِيلًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّـمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بَيَانًا وَتَفْصِيلًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الَّذِي جَعَلَ الْقِيَامَ بِأَمْرِهِ لِلْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jum’at rahimakumullah,
Tidak terasa hari ini adalah Jum’at terakhir di bulan Dzulhijjah tahun 1447 H. Kita berada di penghujung salah satu bulan haram (mulia) yang sebentar lagi akan meninggalkan kita. Belum lama berselang, jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul di sebuah hamparan padang pasir yang sakral demi menunaikan puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arafah, sebuah tempat yang berada di sekitar 22 kilometer sebelah tenggara Kota Makkah menuju arah pegunungan Kota Thaif, Arab Saudi.
Secara syariat, wukuf berarti berdiam diri, merenung, dan berdoa di Padang Arafah pada waktu tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) hingga fajar tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahr/Penyembelihan), yang merupakan rukun penentu sahnya ibadah haji dan tidak bisa digantikan dengan amalan lain.
Meskipun momentum emas Hari Arafah tahun ini telah berlalu, dan para jamaah haji sebagian besar kini tengah kembali ke tanah air, bagi kita yang belum atau tidak menunaikan ibadah haji, saripati dan pelajaran spiritual dari Arafah tidak boleh ikut memudar. Kita harus merawat spirit itu dalam kehidupan sehari-hari kita.
Agar evaluasi diri kita setelah bulan haji ini berbasis pada sanad keilmuan yang valid, mari kita simak kembali syarah yang ditulis oleh Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya, An-Nukat wa al-’Uyun. Beliau mencantumkan bahwa setidaknya ada empat alasan kenapa tempat lapang tersebut dinamakan Arafah,
أَحَدُهَا: أَنَّ آدَمَ عَرَفَ فِيهِ حَوَّاءَ بَعْدَ أَنْ أُهْبِطَا مِنَ الْجَنَّةِ
Pertama: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam mengenali kembali istrinya, Sayyidah Hawa di tempat tersebut, setelah keduanya diturunkan secara terpisah dari surga ke bumi.
وَالثَّانِي: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَرَفَ الْمَكَانَ عِنْدَ الرُّؤْيَا، لِمَا تَقَدَّمَ لَهُ فِي الصِّفَةِ
Kedua: Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengenali karakteristik tempat tersebut saat melihatnya secara langsung, karena ciri-ciri padang itu sudah digambarkan sebelumnya melalui wahyu di mimpinya.
وَالثَّالِثُ: أَنَّ جِبْرِيلَ عَرَّفَ فِيهِ الْأَنْبِيَاءَ مَنَاسِكَهُمْ
Ketiga: Bahwa Malaikat Jibril mengajarkan dan mengenalkan tata cara ibadah (manasik) kepada para Nabi di hamparan tanah tersebut.
وَالرَّابِعُ: أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِعُلُوِّ النَّاسِ فِيهِ، وَالْعَرَبُ تُسَمِّي مَا عَلَا (عَرَفَةَ) وَ(عَرَفَاتٍ)، وَمِنْهُ سُمِّيَ عُرْفُ الدِّيكِ لِعُلُوهِ
Keempat: Dinamakan Arafah karena posisi manusia yang berada di tempat tinggi atau tempat mulia tersebut. Orang Arab terbiasa menyebut segala sesuatu yang tinggi dengan istilah ‘Arafah’ atau ‘Arafat’, seperti istilah ‘Urfud Diik’ (jengger ayam), dinamakan demikian karena posisinya yang berada di paling atas atau tinggi.
Dari syarah yang presisi ini, kita bisa menarik satu benang merah ilahi, bahwa sesungguhnya Arafah adalah monumen bertemunya pengenalan yang tulus, ilmu yang dipahami, serta derajat martabat yang tinggi di hadapan Allah ﷻ.
Ma’asyiral Muslimin wa Zumratal Mukminin hafidzakumullah,
Apa sebetulnya keutamaan inti dari Hari Arafah yang wajib kita ketahui dan kita rawat maknanya?
Dalam Al-Qur’an Allah ﷻ sampai bersumpah demi hari Arafah di dalam Kitab Suci-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Buruj ayat 3:
وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ
“Dan demi yang menyaksikan (Syahid) dan yang disaksikan (Masyhud).”
Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan terkait makna ayat ini:
واليومُ المشهودُ يومُ عرفةَ، والشاهدُ يومُ الجُمُعةِ
“Yang dimaksud Masyhud (Hari yang disaksikan adalah hari Arafah), dan yang dimaksud dengan Syahid (Hari yang menyaksikan) adalah hari Jumat.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3339)
Dalam kaidah ushul tafsir, instrumen qasam (sumpah) yang digunakan Allah dengan menyebut waktu menandakan kemuliaan waktu tersebut. Dijadikannya hari Arafah sebagai “Masyhud”, karena hari itu disaksikan langsung oleh para malaikat yang turun membawa rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala –sebagaimana penjelasan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya-.
Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ menerangkan keutamaan spesifiknya:
ما مِن يَومٍ أكثَرَ مِن أن يُعتِقَ اللهُ فيه عَبدًا مِنَ النَّارِ مِن يَومِ عَرَفةَ، وإنَّه لَيَدنو ثُمَّ يُباهي بهِمُ المَلائِكةَ، فيَقولُ: ما أرادَ هؤلاء؛؟
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka dari pada Hari Arafah. Dan sungguh, Allah mendekat kemudian membanggakan mereka (para jamaah yang wukuf) di hadapan para malaikat, lalu Allah berfirman: ‘Apa yang diinginkan oleh mereka itu?’” (HR. Muslim, no. 1348)
Intisari dari Hari Arafah adalah kejujuran dan keterbukaan. Allah membukan pintu ampunan seluas-luasnya kepada manusia karena di hari itu manusia datang dengan jujur mengakui (i’tiraf) dosanya tanpa topeng kesombongan duniawi.
Ma’asyiral Mukminin a’azzaniyallaahu wa iyyakum,
Di sinilah letak korelasi nyata bagi kita semua selaku makhuk individu sekaligus makhluk sosial. Jika kita tadabburi, keempat makna dari Arafah dan keutamaannya tadi adalah satu kesatuan konsep integritas iman.
Makna Arafah itu bermuara pada satu kesimpulan besar: Arafah adalah simbol runtuhnya kepura-puraan dan hilangnya kemunafikan.
Sejarah saling mengenal (ta’aruf), kesesuaian antara ilmu dan fakta lapangan, hingga momen di mana Allah membanggakan hamba-Nya yang berkumpul di Arafah dengan baju yang sama, tak ada sekat status sosial, serta memohon-mohon ampunan dan ridha Allah ﷻ, semuanya menunjukkan bahwa kedudukan yang tinggi (‘Uluww) di sisi Allah hanya bisa diraih ketika batin dan lahiriah kita sudah selaras jujur tanpa topeng pencitraan. Itulah hakikat dari integritas iman.
Maka, sangat bertentangan dengan spirit kesucian Arafah, jika kita masih memelihara tabiat “bermuka dua, munafik, hipokrit”. Menampilkan wajah manis dan ucapan peduli di depan publik, tapi di belakang layar menampilkan watak dan sikap semaunya sendiri, mencari-cari pembenaran atas kesalahan, dan cenderung berbuat zalim kepada orang lain di sekitarnya, terlebih kepada orang-orang yang dianggap tidak loyal kepadanya meski nasehat, saran, dan kritik yang disampaikan itu benar.
Ma’asyiral Muslimin, perlu diingat, loyalitas tertinggi kita sebagai Muslim adalah kepada kebenaran dan keadilan. Bukan kepada figur manusia, bukan pula kepada syahwat kekuasaan yang semu. Betapa banyak hari ini, manusia yang suka mencela ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh struktur dan elit birokrasi besar, tetapi mereka sendiri tidak menyadari atau bahkan mungkin tidak tahu diri bahwa apa yang mereka lakukan dalam skala yang lebih kecil sama saja dengan pihak yang mereka kecam, atau bahkan lebih buruk lagi dari pihak yang mereka kritik.
Ketidaksinkronan antara lahir dan batin, antara topeng luar dengan kezaliman di balik layar inilah yang dikecam keras oleh Allah ﷻ dalam Surat Ash-Shaff ayat 2–3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Jika keselarasan lahir dan batin ini runtuh, manusia akan terjangkit penyakit kemunafikan kronis. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam hadits shahih:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika bicaranya berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari, no. 33, dan Muslim, no. 59)
Oleh karena itu, mari kita bawa pulang spirit totalitas Arafah ini ke dalam kehidupan harian kita, di rumah, kantor, birokrasi, sekolah, kampus, tempat kerja, dan di manapun kita berada.
Mari kita miliki keberanian moral untuk jujur mengakui kekurangan diri, terbuka dengan kebenaran, dan berani untuk meluruskan yang bengkok sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing, karena menjaga keselarasan iman jauh lebih mulia dari pada bertahan dalam kenyamanan yang semu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ؛ أَقُولُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّ اللهَ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ التَّقْوَى لِلْعِبَادِ سَبِيلًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَكَفَى بِهِ وَكِيلًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي أَوْضَحَ الْحَقَّ تَنْزِيلًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّـمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِينَ لَمْ يَبْغُوا عَنِ الْهُدَى تَحْوِيلًا
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ ظَاهِرَنَا وَبَاطِنَنَا سَوَاءً فِي الصِّدْقِ، وَلَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ عَلَى قُلُوبِنَا سَبِيلًا.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Sejarah, Keutamaan Arafah, dan Hikmahnya