
Penulis: Adany Ashshiddieqi, B.A., M.S.I. (Dosen STIQ Baitul Qur’an Depok)
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِك. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِك. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَه. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن
أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا، وقال أيضا : وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ
Jamaah kaum muslimin, sidang jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk selalu bersyukur kepada Allah dengan menjaga ketakwaan kita kepada-Nya, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang larangan-Nya.
Juga Khatib mengingatkan kepada seluruh jama’ah bahwa khutbah Jum’at adalah rukun, bukan seperti ceramah atau pun kajian agama yang bisa memilih mau mendengar atau tidak, sedangkan khutbah Jum’at tidak ada pilihan lain selain mendengarkannya dan bersabar sampai khutbah selesai demi keabsahan dan kesempurnaan shalat Jum’atnya.
Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah sama-sama sejenak kita merenung bahwa ketika bangun tidur, sebagian orang bukan lagi mencari air untuk berwudu, melainkan mencari telepon genggamnya. Belum sempat mengucapkan zikir pagi, jempol sudah sibuk membuka WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, atau berbagai media sosial lainnya. Inilah kehidupan modern yang membuat kita seolah-olah harus selalu tahu segala sesuatu, selalu mengikuti semua peristiwa, dan merasa tidak tenang apabila tertinggal satu berita pun.
Fenomena ini oleh para ahli psikologi disebut Fear of Missing Out, atau disingkat FoMO, yaitu perasaan cemas, gelisah, dan takut apabila merasa tertinggal informasi, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dialami orang lain.

Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia dan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Bahkan, lebih dari 91% pengguna internet Indonesia menggunakan WhatsApp, disusul Instagram, Facebook, dan TikTok sebagai media yang paling sering diakses. Angka-angka ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam tidak pernah melarang umatnya memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Yang menjadi persoalan adalah ketika hati kita mulai bergantung kepada arus informasi. Kita merasa gelisah jika tidak mengetahui berita terbaru, resah jika tidak membuka media sosial beberapa jam, bahkan terkadang lebih sibuk mengikuti kehidupan orang lain dari pada memperbaiki kehidupan diri sendiri.
Akibatnya, hati kehilangan ketenangan, waktu habis tanpa terasa, konsentrasi dalam ibadah berkurang, dan rasa syukur perlahan memudar.
Ma’asyiral muslimin wa zumrotul muttaqiin rahimakumullah,
Empat belas abad yang lalu, ketika media sosial belum dikenal dan telepon genggam belum pernah dibayangkan manusia, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah memberikan tuntunan yang sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini. Allah berfirman dalam Surah An-Nisā’ ayat 83:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal, sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka…” (QS. An-Nisā’: 83)
Ayat ini turun berkaitan dengan kebiasaan sebagian orang yang tergesa-gesa menyebarkan berita, terutama berita yang dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Tanpa memastikan kebenarannya, tanpa mempertimbangkan dampaknya, mereka langsung menyampaikannya kepada orang lain.
Yang paling berbahaya dari FoMO bukanlah banyaknya informasi yang kita lihat, tetapi ketika ia menguasai hati. Hati yang seharusnya tenang dengan mengingat Allah justru dipenuhi kegelisahan karena terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain, padahal apa yang tampak di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kenyataan hidup mereka.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
FoMO dapat mengikis rasa syukur dan membuat seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain hingga tidak pernah merasa cukup. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia, dan jangan melihat kepada yang berada di atas kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah. (HR. Muslim)
Jangan sampai takut tertinggal urusan dunia justru membuat kita tertinggal dalam urusan akhirat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Islam bukanlah agama yang hanya menunjukkan penyakit, tetapi juga menghadirkan obat. Demikian pula ketika Al-Qur’an mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa menyebarkan berita, Allah sekaligus mengajarkan jalan keluar agar hati tetap tenang di tengah derasnya arus informasi.
Dari QS. An-Nisā’ ayat 83, para ulama menjelaskan setidaknya ada empat sikap seorang mukmin dalam menghadapi banjir informasi.
Pertama, jangan tergesa-gesa menerima setiap berita. Allah mencela orang-orang yang langsung menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya. Bahkan dalam ayat yang lain Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Ḥujurāt: 6).
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak mudah percaya hanya karena sebuah berita terlihat meyakinkan atau telah dibagikan berkali-kali. Kebenaran tidak diukur dari seberapa cepat sebuah berita menyebar, tetapi dari seberapa kuat bukti yang mendukungnya.
Kedua, kembalikan urusan kepada ahlinya. Dalam QS. An-Nisā’ ayat 83 Allah memerintahkan agar berita itu diserahkan kepada Rasul dan ulil amri, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu, kebijaksanaan, dan kewenangan. Inilah adab yang mulai memudar pada zaman sekarang. Ketika muncul persoalan agama, kita lebih percaya kepada potongan video berdurasi satu menit dari pada bertanya kepada ulama.
Ketika muncul isu kesehatan, kita lebih yakin kepada pesan berantai dari pada penjelasan para ahli. Padahal seorang mukmin diajarkan untuk tidak berbicara di luar ilmunya. Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isrā’: 36).
Ketiga dan keempat, pikirkan manfaatnya sebelum menyebarkan, dan biasakan menjaga lisan serta jempol dengan memilih diam apabila tidak ada maslahatnya.
Tidak semua yang kita ketahui harus kita sampaikan, dan tidak semua yang kita terima harus kita sebarkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaum muslimin rahimakumullah, di zaman ini diam dari menyebarkan keburukan juga merupakan ibadah. Menahan jempol agar tidak ikut membagikan berita yang belum jelas adalah bentuk ketakwaan.
Sebab seorang mukmin tidak diukur dari banyaknya informasi yang ia sebarkan, melainkan dari besarnya manfaat yang ia hadirkan. Dan ketahuilah, hati yang selalu berhati-hati karena Allah akan lebih mudah merasakan ketenangan daripada hati yang setiap saat gelisah mengejar semua berita yang datang silih berganti.
Demikian khutbah Jum’at kali ini. Semoga kita semua dibimbing oleh Allah Ta’ala dalam kebaikan dan ketaatan, serta amal ibadah kita senantiasa diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin allaahumaa aamiin.
بارك اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَاِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ! اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Mengatasi FoMO dengan Cahaya Al-Qur’an