
Penulis Naskah: Fadhla Faya Sedjati, Lc. (Pengasuh Ma’had Bilal bin Rabah Tapos-Depok)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى خَاتِمِ النَّبيِيِّن وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمعِيْنَ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا و أَنْنمْ مُسْلِمُونَ، أمَّا بَعْدُ
Ikhwatal Iman Rahimakumullah,
Tujuan utama diciptakannya manusia di dunia adalah agar mereka beribadah kepada Allah Ta’ala, berdasarkan Firman-Nya yang artinya,
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat : 56)
Bahkan karena tujuan inilah kemudian Allah Ta’ala mengutus para Rasul kepada setiap ummat, Sebagaimana Firmannya,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…”. (QS. Al-Nahl: 36)
Kemudian, tidak semua manusia Allah Ta’ala jadikan beribadah kepadanya, hanya orang-orang yang terpilih diantara hamba-hambanya yang menyembah Allah Ta’ala, ketika mereka mengikrarkan diri mereka menjadi seorang muslim, mereka beribadah kepadaNya dengan berbagai rangkaian ibadah baik dzhahir maupun bathin.
Namun demikian, Allah Ta’ala menguji setiap hamba yang menjalankan berbagai ibadah tersebut, dengan ujian keikhlasan hati, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah : 5)
Sebuah ujian yang begitu berat, yang tidak nampak oleh mata dan tersembunyi dalam hati.
Ibnu Hazm Rahimahullah berkata :
النية سِر العبودية وهي من الأعمال بمنزلة الروح من الجسد
“Niat merupakan sesuatu yang tersembunyi di dalam ibadah, kedudukannya dalam amalan, seperti ruh dari jasad..”
Sehingga apabila amalan didasari dengan niat yang ikhlas maka ia akan hidup, namun jika tidak didasari niat yang ikhlas di dalam hati, ia ibarat seonggok jasad yang telah ditinggalkan ruhnya, tidak ada kehidupan dalam amalannya, ia hanya melakukan aktifitas ibadah yang sia-sia.
Allah Ta’ala memberikan ujian keikhlasan hati dalam ibadah, untuk menguji siapa yang paling baik amalannya, Allah Ta’ala berfirman,
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (Qs. Al-Mulk : 2)
Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata yang paling baik amalannya ialah,
أَخلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ
“ Yang paling ikhlas dan benar amalanya”.
Ikhwatal Iman Rahimakumullah,
Ciri seorang yang ikhlas dalam amal ibadahnya adalah :
Pertama, senantiasa menjadikan hatinya hanya dipenuhi dengan pengharapan ridha dan ganjaran dari Allah Ta’ala, dia tidak memberikan sedikitpun ruang di dalam hatinya kepada selain Allah Ta’ala, bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga diperintahkan untuk memenuhi hatinya dengan keikhlasan kepada Allah Ta’ala, dalam Al-Qur’an disebutkan,
قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (Qs. Al-Zumar : 11)
Abu Muhammad Al-Tusturi Rahimahullah berkata tentang ikhlas,
أن تكون حركاته و سكناته في سره و علانيته لله تعالى وحده، لا يمازجه شيء لا هوى ولا نفس، ولا دنيا
“ menjadikan setiap gerakan tubuhnya baik yang nampak maupun yang tersembunyi hanya untuk Allah Ta’ala semata, tidak mencampurnya dengan hawa nafsu maupun dunia sedikitpun”.
Tatkala ia shalat, puasa, shadaqah dan membaca Al-Qur’an maka di dalam hatinya hanya dipenuhi dengan harapan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, ia tidak menginginkan imbalan dunia dari amalannya, bahkan tatkala membantu orang lain pun, ia hanya mengharapkan balasan pertolongan Allah Ta’ala sekalipun orang yang ia bantu tidak berbuat baik kepadanya, karena yang ia harapkan hanyalah pertolongan Allah Ta’ala.
Kedua, baginya pujian dan celaan adalah sama, yaitu sesuatu yang lewat begitu saja, ia tidak menganggapnya sedikitpun karena yang ia tuju hanyalah ganjaran Allah Ta’ala, Karena dia memiliki sikap yang disebutkan sebagian ulama,
نسيان رؤية الخلق بدوام النظر إلى الخالق
“Melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Al-khaliq”
Allah Ta’ala kabarkan ucapan para penghuni syurga yang dahulu bersedekah di dunia,
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan : 9)
Mereka tunduk kepada Allah Ta’ala dan tidak menjadikan respons manusia sebagai indikator amal ibadah mereka.
Ikhwatal Iman Rahimakumullah,
Ikhlas tidak hanya menjadikan amalan seseorang diterima di sisi Allah Ta’ala, namun ikhlas juga menjadikan orang-orang yang memilikinya mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala sebagaimana Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’d bin abi waqqas Radhiyallahu ‘anhu tatkala ia sedang sakit,
إنَّكَ لَن تُخَلَّفَ فتَعمَلَ عَمَلًا تَبتَغي بها وجهَ اللهِ إلَّا ازدَدتَ به دَرَجةً ورِفعةً
“…Sesungguhnya engkau belum berpisah. engkau masih akan menambah amal yang engkau niati demi mencari keridhaan Allah, sehingga akan menambah tinggi derajat dan keluhuranmu…” (HR. Bukhari & Muslim)
Ikhwatal Iman Rahimakumullah,
Diantara buah ikhlas kepada Allah Ta’ala adalah,
a. Menjadikan seorang hamba bersegera dalam beramal shalih.
Ia akan menjadi orang yang terdepan dalam menyambut perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam,
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ
“…Segeralah beramal…” (HR. Tirmidzi 2228)
b. Memberikan kesempatan yang luas bagi seorang hamba untuk mendapatkan kebaikan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; seorang hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik”,
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ
“selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama…” (HR. Tirmidzi 2247)
Dengan ketulusan dan keikhlasan hatinya ia mendapatkan pahala seperti orang yang pertama.
c. Dalam lindungan dari godaan syaithan, Allah Ta’ala tegaskan,
إِنَّ عِبَادِی لَیۡسَ لَكَ عَلَیۡهِمۡ سُلۡطَـٰنٌ
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka,” (Qs. Al-Hijr : 42), maka kemudian Iblis mengatakan,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,”
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ
“Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” ( QS. Shad : 82-83)
Diriwayatkan bahwa salah seorang salafussahalih Ketika mendengar ayat ini ia berkata,
يا نفس أخلصى تتخلصى
“Wahai jiwa, ikhlashlah maka engaku akan terbebas (dari godaan syaithan)”
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم الجليل لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

اَلْحَمْدُ لِّلهِ عَظِيمُ الْإِحْسَانِ ، وَاسِعُ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالاِمْتِنَان ، وَأَشْهَدُ أَن لا إلـٰه إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَه ، وَأشْهَدُ أَنَّ محمّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه ؛ صَلَّى اللهَ وَسَلَّمَ عَلَيه وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِه أَجْمَعِين، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وِأنتُمْ مُسْلِمُون
Ikhwatal Iman Rahimakumullah,
Sebagian salafusshalih mengatakan,
المخلص هو من يكتم حسناته كما يكتم سيئاته
Seorang Mukhlis ialah siapa yang menyembunyikan amal kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya.
Karena manusia begitu lemah, lemah fisiknya juga hatinya, ia akan mudah terjatuh dalam perbutan Riya’ dan Sum’ah, sehingga menyembunyikan amal lebih selamat baginya,
Seorang Tabi’in Bernama Sulaiman bin Mihran Rahimahullah , mengisahkan,
Dahulu aku sedang Bersama Ibrahim Al-Nakha’iy, dan pada saat itu ia sedang membaca Al-Qur’an, maka datanglah seorang laki-laki meminta izin menemuinya, maka ia pun menyembunyikan Al-Qur’annya,
maka aku bertanya kepadanya, “ mengapa demikian ?” ia pun berkata
لأنَّ هذا دَخَلَ عليَّ مِراراً وأنا أقرأ، فلا أريدُهُ أن يقولَ في نفسهِ: هذا يَختِمُ كُلَّ يوم
“ karena laki-laki ini sering datang menemuiku pada saat aku sedang membaca Al-Qur’an, maka aku tidak ingin jika ia berkata dalam dirinya, “ Ibrahim Al-Nakha’iy mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari”
Maka, berhati-hatilah jika kita suka menampakkan amal yang kita perbuat, dikhawatirkan kita terjatuh dalam golongan orang-orang yang riya’ dalam amal perbuatannya, sehingga di hari kiamat nanti ia termasuk dari orang-orang yang melihat amal kebaikan menjadi sebuah keburukan, Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104).
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَحْوَالَ وُلَاةِ الْمُسْلِمِينَ لِتَطْبِيقِ كِتَابِكَ وَسُنَّةِ رَسُولِكَ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Ikhlas sebagai Fondasi Ibadah