
Kita hidup di dunia ini mengalami berbagai dinamika dan siklus. Manusia terkadang merasakan semangat yang berkobar-kobar dalam dirinya dalam menjalani aktivitas, tetapi terkadang juga mengalami rasa jenuh, bosan, atau bahkan malas. Inilah siklus, yang bisa saja berulang-ulang dan bergantian menghiasi dinamika kehidupan masing-masing manusia. Dalam Islam fase kejenuhan, kemalasan, disebut dengan istilah futūr yakni rasa malas, menunda-nunda, lambat setelah bersemangat, tidak bergairah dalam kebaikan.
Kondisi tersebut tadi adalah hal yang manusiawi, karena memang iman manusia itu terkadang bertambah dan berkurang. Akan tetapi masa jenuh yang mengakibatkan kemalasan tersebut harus segera diatasi dan tidak boleh dibiarkan begitu saja, apalagi dalam waktu yang lama. Mengapa? Karena malas termasuk pangkal keburukan. Pertama, malas mengakibatkan waktu seseorang terbuang sia-sia. Kedua, malas menjadikan seseorang menunda-nunda kebaikan. Ketiga, malas bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kubangan maksiat, karena jika seseorang tidak menyibukkan diri dalam kebaikan, ia akan disibukkan oleh keburukan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan:
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ
“Dan dirimu jika tidak menyibukkan dalam hal-hal yang baik, maka akan disibukkan dalam hal yang buruk” (ad-Dā’u wa ad-Dawā’u, 156)
Pasalnya, keadaan futūr atau malas bukan hanya soal gairah untuk berbuat kebaikan yang menurun, tetapi juga dorongan untuk melakukan maksiat juga semakin kuat.
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan pengajaran kepada umatnya untuk berlindung kepada Allah dari rasa malas. Sebagaimana dikisahkan oleh sahabat Anas bin Malik r.a.:
كان رسول الله ﷺ يتعوّذ من ثمان، الهم، والحزن، والعجز، والكسل، والبخل، والجبن، وغلبة الدين، وغلبة العدُوّ
“Rasulullah ﷺ berlindung dari delapan hal: gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, takut, lilitan hutang, dan ancaman musuh.”
Sebagaimana pula sahabat Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memperbanyak doa:
اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بكَ مِنَ الهَمِّ والحَزَنِ، والعَجْزِ والكَسَلِ، والبُخْلِ والجُبْنِ، وضَلَعِ الدَّيْنِ، وغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, kikir dan takut, jeratan hutang, dan tekanan seseorang” (H.R. Bukhari, 2893).
Kemalasan memiliki resiko yang sangat merugikan bagi kehidupan manusia, baik kehidupan dunia maupun akhirat. Oleh karenanya, sifat malas berulang kali disandingkan dengan keburukan dan memang hanya pantas disandingkan dengan hal-hal yang buruk. Malas belajar adalah pangkal kejahilan (kebodohan). Malas dan suka menunda- nunda salat adalah ciri kemunafikan. Allah berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 142:
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ
Apabila orang- orang munafik itu hendak menjalankan shalat maka mereka akan merasa berat dan berlambat-lambat, tidak ada semangat, bahkan tidak senang, karena mereka tidak merasakan nikmatnya. Contohnya lagi, menunda pembayaran hutang saat mampu termasuk kezaliman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Menunda-nunda pembayaran hutang saat mampu termasuk kezaliman” (H.R. Bukhari, 2288)
Begitu pula menunda-nunda sedekah atau infak saat mampu akan menjadi penyesalan, sama halnya menunda-nunda amal saleh dan bertobat. Allah abadikan kisah tentang permohonan orang yang menyesal karena tidak memaksimalkan waktu hidupnya untuk kebaikan, sebagaimana dalam surat al-Munafiqun ayat 10:
وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
“Dan berinfaklah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang baik (saleh)?”
Tidak hanya berhenti di situ penderitaan orang-orang yang bermalas-malasan dan suka menunda amal saleh akan bertambah. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Rasulullah ﷺ tentang seseorang yang disiksa di alam kubur, karena bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan. Kelak ia akan ditemani oleh amal buruknya yang menampakkan diri dalam bentuk makhluk buruk rupa, busuk baunya dan lusuh bajunya, ketika penghuni kubur itu bertanya: “siapa engkau ini?”, Ia menjawab,
أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ كُنْتَ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللّهِ سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللّهِ فَجَزَاكَ اللّهُ شَرّا
“Aku adalah amalan burukmu, kamu dahulu berlambat-lambat dalam mentaati Allah dan bersegera dalam bermaksiat kepada Allah, maka Allah membalasmu dengan keburukan.”
Selanjutnya didatangkan padanya sesosok orang yang buta, bisu, dan tuli, di tangannya ada palu besi. Seandainya gunung dipukul dengan palu itu, niscaya gunung itu akan menjadi debu. Maka dipukullah orang tersebut dengan palu besi itu hingga ia menjadi debu kemudian dikembalikan lagi menjadi semula oleh Allah ﷻ, kemudian dipukul lagi sehingga ia berteriak dengan satu teriakan yang didengar oleh semua makhluk di muka bumi kecuali oleh jin dan manusia. (H.R. Abu Dawud, 4753. Ahmad, 18558.)
Sungguh memilukan akibat dari bermalas-malasan dan menunda-nunda amal saleh.
Maka selagi belum terlambat, marilah kita bersama-sama mengingat dan mengamalkan perintah Allah Ta’ala untuk bergegas dalam ketaatan dan kebaikan,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (Q.S. al-Insyirah:8)
Ada beberapa kiat yang harus kita terapkan untuk mengatasi rasa malas.
Pertama, Berusaha semaksimal mungkin melazimkan diri sendiri untuk tetap dalam kebaikan, meskipun kebaikan itu terlihat sepele. Rasulullah ﷺ bersabda,
لِكُلّ عَمَلٍ شِرّةٌ وَلِكُلّ شِرّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Setiap amalan itu memiliki waktu semangat, dan setiap waktu semangat ada waktu jenuhnya. Barangsiapa yang waktu jenuhnya berada di atas sunnahku, maka ia telah beruntung. Dan barangsiapa yang waktu jenuhnya kepada selain sunnahku, maka ia telah binasa.” (HR. Ahmad, 6958)
Hadits di atas menunjukkan cara bagaimana kita mengatasi sifat jemu yang datang. Yaitu dengan mengamalkan sunnah yang ringan dan tidak memberatkan diri, seperti tetap menuntut ilmu dan menambah pengetahuan dengan mendengarkan atau menonton video ceramah, mendengarkan al- Qur’an, bersilaturrahmi ke tempat teman atau saudara, atau bahkan mengadakan tamasya (jalan-jalan) sembari merenungi dan menikmati ayat-ayat semesta yang merupakan kekuasaan Allah Ta’ala. Hal ini lebih baik dibandingkan dengan melampiaskan hawa nafsu, bermaksiat, dan membuang waktu dalam hal yang sia-sia. Tentunya, amalan yang hukumnya wajib, harus tetap kita laksanakan.
Kedua, Mengharap pahala dari Allah. Terkadang rasa bosan beramal itu muncul ketika kita lupa akan pahala amalan tersebut, maka mari kita mencoba untuk benar-benar merenungi keutamaan dan pahalanya. Dengan demikian segala penat akan hilang, demikian pula rasa berat yang mengganjal akan menjadi ringan bahkan kelak, ia tidak merasakan berat sama sekali.
Ketiga, Menentukan skala prioritas dalam beraktivitas ataupun beramal, bahkan kalau perlu kita tulis. Dengan menentukan prioritas dalam beramal, maka seseorang bisa mengetahui aktivitas atau amalan manakah yang harus lebih didahulukan, sehingga ia akan memiliki langkah yang jelas dalam hidupnya. Misalnya dengan menerapkan kaidah:
تَقْدِبْمُ الأَهَمِّ عَلَى الْمُهِمِّ
“Mendahulukan yang lebih penting dari pada yang penting” (Qowā’id Muhimmah fī al-Amri bi al-Ma’rūf wa an-Nahyī ‘an al-Munkar, Hamūd ar-Ruhailī, 42)
Mengerjakan yang lebih penting dulu, jika sudah selesai, mengerjakan yang penting. Begitu juga mengerjakan yang penting dulu dari pada melakukan hal yang tak bermanfaat atau membuang waktu di dalam hal yang tidak produktif. Rasulullah ﷺ bersabda:
من حُسنِ إسلامِ المرءِ تركُه ما لا يَعنيهِ
“Di antara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat baginya” (H.R. at- Tirmidzi, 2317).
Keempat, Berani mengingat kematian. Mari kita ingat benar-benar sabda Nabi ﷺ Ketika ditanya siapa orang mukmin yang paling cerdas, Nabi ﷺ menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ
“Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, no. 4259)
Kelima, Mohon bimbingan Allah agar istiqamah. Selain ikhtiar manusiawi dengan perbuatan, maka kita harus berikhtiar pula dengan doa. Ketika ada seseorang bertanya kepada Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ) tentang doa yang sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ, Ummu Salamah menjawab bahwa doa yang sering dibaca oleh beliau ﷺ adalah:
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu” (H.R. at-Tirmidzi, 3522)
Di antara faedah dari hadits tersebut, Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memohon bimbingan Allah agar ditetapkan dalam agama Islam dan ketaatan kepada Allah ﷻ.
Apapun keadaannya, maka marilah kita tetap berusaha untuk senantiasa beramal saleh, menetapi kebenaran dan kebaikan. Karena Nabi ﷺ bersabda:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِما خُلِقَ لَهُ
“Tetaplah beramal, karena setiap orang dimudahkan terhadap apa yang telah diciptakan baginya” (H.R. Bukhari, 7551)
Orang yang memang memiliki niat untuk tetap berbuat baik dan senantiasa berusaha menetapi kebenaran dan kebaikan, niscaya Allah mudahkan baginya untuk beramal saleh dan tetap dalam ketaatan.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Waspadai Malas dan Dampak Buruknya! Ini Solusinya….