
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَظْهَرَ ٱلْحَقَّ وَأَزْهَقَ ٱلْبَاطِلَ، وَأَعَزَّ أَوْلِيَاءَهُ بِنُورِ ٱلدَّلِيلِ، وَأَذَلَّ أَعْدَاءَهُ بِسَيْفِ ٱلتَّحْلِيلِ، خَلَقَ ٱلْخَلْقَ لِحِكْمَةٍ، وَجَعَلَ ٱلْحَقَّ لَهُمْ نِعْمَةً، وَأَعَدَّ لِلْبَاطِلِ نِقْمَةً؛ نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ ٱلْهُدَى، وَنَسْتَعِينُهُ عَلَى دَفْعِ ٱلرَّدَى، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ كُلِّ زَيْغٍ وَهَوًى، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، ٱلْحَقُّ ٱلْمُبِينُ، وَٱلْعَدْلُ ٱلْحَكِيمُ، لَا يُرَادُ وَجْهُهُ بِٱلْبَاطِلِ، وَلَا يُنَالُ رِضَاهُ بِٱلْحِيلِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، حَارَبَ ٱلْبَاطِلَ وَأَتْبَاعَهُ، وَجَاهَدَ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ ٱلْيَقِينُ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ ٱلطَّاهِرِينَ، وَصَحْبِهِ ٱلْغُرِّ ٱلْمَيَامِينَ، وَٱلتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ؛ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ ٱللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَٱلْآخِرِينَ، كما قَالَ جَلَّ فِي عُلَاهُ: وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ (البقرة: 194) وقال: وَقُلْ جَاءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَاطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ( الإسراء: 81)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dalam kehidupan di dunia ini, kebenaran pada prinsipnya memiliki kekuatan yang besar dan kedudukan yang mulia. Namun, kekuatan dan kedudukan itu tidak akan berdampak besar jika tidak diorganisir dengan baik, rapi, dan sistematis. Sebaliknya, kebatilan dan kejahatan yang pada dasarnya lemah dan rapuh bisa terlihat kuat jika diorganisir dengan rapi dan sistematis.
Ini bukan karena kebenaran itu lemah, tetapi karena kebenaran itu tidak disusun dalam sistem yang kuat, struktur yang kokoh, manajemen yang rapi, dan strategi yang tepat.
Hal tersebut pernah disinggung oleh seorang pemikir Islam dan Mufti Besar dari Kesultanan Turki Utsmani Syeikhul Islam Musthafa Shabri Afandi, lewat sebuah petuah yang dinisbatkan kepadanya,
ٱلْحَقُّ بِلا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ ٱلْبَاطِلُ بِنِظَامٍ
“Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”
Mari kita perhatikan juga sabda Nabi ﷺ:
ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى ٱللَّهِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِ ٱلضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun masing-masing tetap punya kebaikan” (HR. Muslim, 2664)
Kekuatan bukan hanya soal fisik, tapi juga kekuatan pikiran, kekuatan manajemen, kekuatan strategi, dan kekuatan organisasi. Coba kita lihat bagaimana Islam di masa Rasulullah ﷺ, dalam konteks bernegara, beliau membangun struktur masyarakat Madinah dengan Piagam Madinah yang dikenal dengan Ṣaḥīfah al-Madīnah atau Dustūr al-Madīnah, menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar dengan ikatan persaudaraan Islam, mengatur pasukan yang benar-benar menjaga kedaulatan, mengirim delegasi ke berbagai wilayah, dan menata ekonomi. Bahkan Piagam Madinah menjadi dokumen historis dan inspirasi penting untuk merumuskan konsep serta realisasi negara modern yang berlandaskan wahyu Ilahi dan nilai-nilai profetik.
Ma’asyiral Muslimin Arsyadakumullah,
Insyaallah, kita tidak kekurangan orang-orang baik, tidak pula kekurangan orang-orang benar. Tapi banyak kebenaran dan kebaikan hari ini tidak berdampak signifikan karena tidak diorganisir dengan solid dan rapi. Banyak aktivitas dakwah, pendidikan, dan sosial yang tercerai-berai karena tidak dikelola secara profesional, tanpa perencanaan yang matang, tanpa kalkulasi, tanpa koordinasi yang teratur, tanpa target, dan tanpa sistem yang rapi. Sementara kebatilan yang menyelisihi syariat Allah, seringkali memiliki kekuatan sistem, ekonomi, media, teknologi, dan jaringan yang solid. Allah menyebutkan tentang mereka,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (QS. Al-Baqarah: 11)
Padahal secara nyata kaum perusak membuat kerusakan dalam kehidupan manusia, tetapi disadari ataupun tidak, mereka tampil dalam bingkai organisasi yang rapi, sistemik, dan narasi yang menarik.
Dalam sebuah tulisan di majalah Al-Manar, Syeikh Muhammad Rasyid Ridha menulis,
وَإِنَّمَا بَقَاءُ الْبَاطِلِ فِي غَفْلَةِ الْحَقِّ عَنْهُ
“Sesungguhnya bertahannya kebatilan hanyalah karena kelalaian kebenaran terhadapnya” (Al-Manar, Muharram-1324 H, “al-Ḥaqqu wa al-Bāṭilu wa al-Quwwah”, 9/52)
Ungkapan ini menunjukkan bahwa sesungguhnnya kebatilan bertahan bukan karena kuat, tetapi karena para pembawa kebenaran diam, pasif, dan tidak terorganisir. Maka kebenaran tidak cukup hanya diyakini, tapi harus diperjuangkan dengan sadar, keberanian bersama dan terorganisir secara rapi dan kokoh.
Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an,
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَٰنٌۭ مَّرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff ayat 4)
Ayat ini mengajarkan kita pentingnya keteraturan, formasi, dan sinergi dalam perjuangan. Dakwah kepada kebenaran bukan sekadar kerja individu, tapi kerja kolektif. Maka kebaikan harus dirancang dengan matang, disusun dengan rapi, dikelola secara profesional.
Ketika kebenaran dan kebaikan tidak didukung oleh sumber daya yang cukup, manajemen yang baik, ia bisa kalah dalam persepsi publik, tenggelam dari media, tersingkir dalam pengaruh. Padahal kita memiliki al-haq (kebenaran), sebagaimana firman Allah ﷻ,
بَلْ نَقْذِفُ بِٱلْحَقِّ عَلَى ٱلْبَـٰطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ۚ وَوَيْلٌۭ لَّكُم مِّمَّا تَصِفُونَ
“Sebenarnya Kami melontarkan yang benar kepada yang batil, lalu yang benar itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS. Al-Anbiya’ ayat 18)
Sekali lagi, kebenaran harus hadir diiringi oleh kekuatan dan formasi, sumber daya yang memadai, manajemen yang rapi, strategi yang tepat, kekompakan yang serempak, dan kesatuan yang solid.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى القُرآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ فاستغفروه إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْم
KHUTBAH KEDUA
الحمدُ للهِ العَلِيِّ القَهَّار، الْجَامِعِ للقلوبِ على نُورِ الإيمانِ والاستِبْصار، الذي جَعَلَ في الحَقِّ عِزًّا ونُصْرَةً، وفي الفُرْقَةِ ذُلًّا وحَسْرَةً، نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ، ونَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُذْنِبِينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شهادةً تَسْتَقِرُّ بها القُلُوب، وتَثْبُتُ بها الدُّرُوبُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، جَاءَ بِالْهُدَى، وَدَعَا إِلَى التُّقَى، وَنَهَى عَنِ العَمَى وَالشِّقَاقِ وَالرَّدَى؛ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِالْوَفَاءِ وَالصِّدْقِ، إِلَى يَوْمِ اللِّقَاءِ وَالْحَقِّ؛ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى سَبِيلُ النَّجَاةِ، وَعِمَادُ الْجَمَاعَةِ، وَ رَسْمُ الثَّبَاتِ الْمِلَّةِ؛
Ma’asyiral Muslimin A’azzakumullah,
Mari kita benar-benar menerapkan nasihat Baginda Rasulullah ﷺ,
إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ إذا عمِلَ أحدُكمْ عملًا أنْ يُتقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia mengerjakannya secara itqan (professional)” (HR. at- Thabrani, no. 897)
Islam tidak mengajarkan asal-asalan dalam amal dan pekerjaan. Dakwah, pendidikan, ekonomi, politik, pelayanan umat atau masyarakat, perjuangan sosial, dan aktivitas positif apapun harus diiringi perencanaan, tujuan yang jelas, manajemen yang teratur dan profesionalisme. Walaupun, secara individu maupun dalam ruang organisasi dan kelembagaan, kekurangan adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Namun, bukan berarti setiap kekurangan layak untuk dinormalisasi, apalagi jika berkaitan dengan hak yang harus ditunaikan atau kewajiban yang wajib dilaksanakan. Kekurangan justru harus menjadi cermin evaluasi. Maka, jalan terbaik adalah memperbaikinya melalui cara-cara yang solutif, rasional, beradab, dan bertanggung jawab, agar sistem kebaikan dan kebenaran terus tumbuh menuju kematangan, kemaslahatan, dan keberkahan.
Maka berkaitan dengan hak dan kewajiban, baik secara individu ataupun kelembagaan juga harus dikelola secara profesional, adil, dan layak. Jangan sampai juga terjebak dalam hubungan yang saling merugikan atau hanya menguntungkan satu pihak ataupun pihak tertentu saja dan mengeksploitasi pihak lainnya. Tentu pola seperti ini dilarang keras oleh syariat. Kerja-kerja yang melibatkan orang banyak juga harus memperhatikan hak dan kewajiban personal yang terlibat di dalamnya. Karena dalam kondisi seperti itu sangat rawan terjadi eksploitasi sumber daya manusia dengan kamuflase keikhlasan. Inilah yang dinamakan;
كَلِمَةُ الْحَقِّ يُرَادُ بِهَا الْبَاطِلُ
Ucapan yang benar, tetapi yang dimaksud dengannya adalah kebatilan
Ada orang yang menyerukan keikhlasan sebagai alasan untuk menormalisasi pengabaian terhadap hak dan kewajiban orang lain, padahal Islam menekankan keikhlasan tanpa mengorbankan hak, keadilan, dan amanah. Ketika hak-hak personal dikaburkan dengan narasi spiritual seperti ikhlas dan ridha padahal kenyataannya ada penindasan struktural dan pengabaian hak, maka itu sejatinya “kalimatul haq (perkataan yang benar) tapi dimaksudkan untuk kebatilan”.
Kita tidak menafikan pentingnya keikhlasan dalam dakwah, pendidikan, dan kontribusi keumatan, tapi bukan berarti melalaikan kebutuhan asasi personal dan kewajiban fardhu ‘ain terhadap diri sendiri dan keluarga.
Islam adalah agama tawazun (keseimbangan), antara ruh pengabdian dan tanggung jawab kemanusiaan. Baginda Rasulullah ﷺ bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari, no. 2409., Muslim, no. 1829)
Bahkan Nabi ﷺ sampai memberikan perintah secara tegas,
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Berikan upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya (HR. Ibnu Majah, no. 2443)
Hadits ini bukan sekadar instruksi etika sosial, tapi juga prinsip syariat dalam memperhatikan dan memberikan hak orang lain sesegera mungkin dan tepat waktu. Menunaikan hak dan menerima hak adalah bagian dari keikhlasan syar’i, bukan lawannya. Bahkan itu termasuk bagian dari tanfīżul amānah dan taqwā fīl ‘amal, menjalankan amanah dengan takwa dan bertanggung jawab.
Umat Islam jangan kalah dengan orang kafir dalam hal profesionalisme dan penunaian hak-hak orang lain. Sesama orang kafir mereka solid, profesional, dan saling menjaga hak dan kewajiban satu sama lain.
Maka ini menjadi warning bagi umat Islam, kerja-kerja kolektif yang melibatkan banyak orang harus dibangun di atas asas keadilan, transparansi dan kejelasan akad, serta spirit saling menghormati. Keadilan untuk memastikan bahwa setiap orang memperoleh haknya sesuai porsi, transparansi untuk menumbuhkan kepercayaan dan akuntabilitas, sementara kejelasan akad untuk menjaga agar tidak terjadi eksploitasi dan manipulasi relasi kekuasaan.
Oleh karena itu, jika umat ini ingin kembali berdaya dalam kebenaran dan kebaikan, maka harus:
Allah ﷻ berfirman:
وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal ayat 60)
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ؛ أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Kebenaran yang Tidak diorganisir dengan Baik akan dikalahkan oleh Kebatilan yang diorganisir dengan Baik