
Oleh: Fadhla Faya, Lc., MA.
Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertakwa dengan sebenar- benar takwa.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. Ali ‘Imran : 102)
Diantara hikmah ayat ini diawali dengan seruan orang yang beriman kemudian perintah untuk bertakwa, menunjukkan bahwa apa yang dimiliki oleh orang yang diseru ini merupakan perkara yang membantu untuk mewujudkan perkara berikutnya, yaitu bahwa keimanan menjadi motivasi seseorang untuk bertakwa, juga menunjukkan bahwa keimanan harus di buktikan dengan ketakwaan.
Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan dalam tafsirnya, perkataan Sahabat Ibnu Mas’ud Rahimahullahu Ta’ala terkait tafsiran “bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya” yaitu :
أنْ يُطاعَ فَلا يُعْصى، ويُذْكَرَ فَلا يُنْسى، ويُشْكَرَ فَلا يُكْفَرَ.
“ Allah Ta’ala ditaati tidak di durhakai, dan diingat tidak di lupakan, dan disyukuri tidak di kufuri”
Perkataan Ibnu Mas’ud rahimahullahu Ta’ala menunjukkan tiga makna dari takwa dengan sebenarnya takwa, yaitu :
Pertama, Allah Ta’ala ditaati dan tidak didurhakai
Taat yang berarti tunduk atas apa yang diperintahkan Allah Ta’ala, dan menjauhi larangan-Nya, juga berarti sesuai dengan syari’at yaitu menjadikan setiap aktifitas kehidupan sesuai dengan aturan syari’at yang berlaku.
Allah Ta’ala perintahkan,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَوَلَّوْا۟ عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ
“ Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (Qs. Al-Anfal : 20)
Di dalam ayat ini juga menjelaskan bahwa keta’atan kepada Allah Ta’ala mencakup keta’atan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan dalam ayat yang lain,
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ
”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (Qs. Al-Nisa’ : 80)
Ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mendatangkan jalan keselamatan di dunia dan akhirat sedangkan kemaksiatan mendatangkan kesesatan di dunia dan akhirat, Suatu ketika ada seorang laki-laki berkhutbah di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسولَهُ، فقَدْ رَشَدَ، وَمَن يَعْصِهِمَا، فقَدْ غَوَى
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang bermaksiat kepada keduanya, maka ia telah tersesat.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk Khathib adalah kamu. Maka katakanlah, ‘Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” Dalam Riwayat lain dikatakan; “Maka ia telah tersesat.” (HR. Muslim 870)
Taat terbagi menjadi dua macam,
1.Taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Yaitu dengan mentaati semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah Ta’ala mengesakannya, dan menjadikan setiap aktifitas ibadah hanya untuk-Nya, dan siapa yang memberikan ibadah kepada selainnya maka ia terjatuh dalam jurang kesyirikan,
Juga taat atas apa yang dibawa dan dilarang oleh Rasul-Nya.
2. Taat kepada selain Allah Ta’ala, terbagi menjadi dua macam,
a. Taat kepada selain Allah Ta’ala dibawah ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan ini merupakan ketaatan yang diperbolehkan, seperti ketaatan kepada para ulama dan orang-orang shalih, juga kepada para pemimpin kaum muslimin, selama pada perkara yang di ridhai oleh Allah Ta’ala
b.Taat kepada selain Allah Ta’ala dalam bermaksiat kepada-Nya, terbagi menjadi dua keadaan,
– Jika ketaatannya dalam rangka menghukumi suatu keharaman menjadi halal dan kehalalan menjadi haram, maka ini masuk kedalam kesyirikan yang besar dan mengeluarkan pelakunya dari islam.
– Jika ketaatannya dalam hukum kehalalan dan keharaman sebab mengikuti hawa nafsunya, maka jatuh dalam kesyirikan yang kecil.
Kedua, Agar Allah Ta’ala selalu diingat dan tidak dilupakan,
Mengingat Allah Ta’ala atau dzikrullah adalah sebuah ibadah yang agung, yang merupakan nafas dari penghambaan seseorang kepada Allah Ta’ala,
Dzikrullah itu sendiri memiliki dua definisi,
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dzikrullah adalah,
كل ما تكلَّم به اللسان، وتصوّره القلب مما يقرِّب إلى الله
“Setiap apa yang di ucapkan oleh lisan, dan di hadirkan dalam hati, dari apa yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.”
Karena taqarrub kepada Allah menjadikan seorang hamba dekat dan selalu ingat kepada-Nya.
Diantara sarana dzikrullah secara umum ini yang paling utama adalah dengan melaksanakan shalat, sebagaimana Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata,
و أما الصلاة فإنها عماد الدين و غرة الطاعات
“Adapun shalat maka sesungguhnya ia merupakan tiangnya agama, dan inti dari ketaatan.”
Namun dzikrullah tidak terwujud pada shalat tanpa kekhusyukan di dalamnya. Kekhusyukan yang mendatangkan ganjaran besar dari Allah Ta’ala, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada seluruh tahun’.” (HR. Muslim 335).
Diantara kiat khusyu’ dalam shalat adalah,
2. Al-Tafahhum lima’na al-kalam, Memahami makna bacaan shalat baik do’a maupun ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca, karena memahaminya sekaligus dapat menjadi perisai saat seseorang pikirannya mulai berpaling dari shalat.
3. Al-Ta’dzhim lillah, yaitu pengagungan terhadap Allah Ta’ala, sikap ini lahir dari mengenal Allah Ta’ala di atas ilmu,
2. Adapun makna dzikrullah secara khusus adalah mengingat Allah Ta’ala dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, atau do’a dan dzikir yang diajarkan oleh Nabi Shallallau ‘alaihi wasallam, Para ulama bersepakat bahwa dzikir di lisan yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, sebagaimana di sebutkan oleh Sufyan Al-Tsauri Rahimahullah Ta’ala,
سمعنا أنّ قراءة القرآن أفضلُ الذِّكر إذا عمل به
“ kami mendengar bahwa membaca Al-Qur’an adalah dzikir yang utama jika diamalkan”
Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas memerintahkan kepada sahabat Abdullah bin ‘Amr yang artinya,
“Bacalah (Khatamkanlah) Al Quran sekali pada setiap bulannya.” Aku berkata, “aku masih kuat dari itu.” beliau bersabda: “Kalau begitu, pada setiap dua puluh hari sekali.” Aku berkata lagi, “aku masih kuat kurang dari itu.” beliau bersabda: “Kalau begitu, bacalah (khatamkanlah) pada setiap tujuh hari sekali, dan jangan kamu menguranginya lagi.” (HR. Muslim 1964)
Adapun dzikir selain ayat Al-Qur’an yang sering dibaca oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah sebagaimana dalam sabdanya,
لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh perkataanku, Subhanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar (maha suci Allah, segala pujian hanya milik Allah, tiada Ilah melainkan Allah dan Allah Maha Besar), itu lebih aku sukai dari terbitnya matahari.” (HR. Tirmidzi 3521)
Maka hendaknya lisan seorang hamba tidak kering dari dzikrullah secara khusus ini, sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41)
Ketiga, Agar nikmat Allah Ta’ala disyukuri dan tidak dikufuri
Bersyukur merupakan ibadah agung yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, karena bersyukur merupakan separuh iman.
Sehingga sebagai konsekuensi orang yang beriman, bersyukur atas semua nikmat hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firmanNya,
وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
“dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Qs. Al-Baqarah : 152)
Syukur secara etimologi adalah mengakui kebaikan, dan memberikan pujian kepada yang memberikan kebaikan Adapun Secara terminology adalah menampakkan bekas nikmat yang diberikan Allah Ta’ala pada lisan seorang hamba, dengani bentuk pujian dan pengakuan, dan pada hati dengan persaksian dan kecintaan, juga pada anggota tubuh dengan tunduk dan ketaatan.
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata,
الشكر يكون : بالقلب : خضوعاً واستكانةً ، وباللسان : ثناءً واعترافاً ، وبالجوارح : طاعةً وانقياداً
“Bersyukur terwujud dengan, hati yang tunduk, lisan yang memuji dan mengakui, dan tubuh yang taat dan patuh.”
Bersyukur dengan hati maksudnya adalah dengan mengakui kemuliaan nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, dan mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang maha agung dan tidak ada sekutu baginya.
Hatinya selalu mengingat firman Allah Ta’ala,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”.(Qs. Al-Nahl : 53)
Hati seorang yang beriman akan selalu mengakui harta yang di miliki bukanlah semata hasil usahanya, Kesehatan yang dimiliki bukan karena obatnya, jabatan yang di duduki bukan sebab prestasinya, namun semuanya nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala, karena mengingkarinya adalah diantara sikap orang-orang yang kufur kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Nahl : 83)
Kemudian bersyukur dengan lisan, yaitu mengakui dengan lisan, bahwa Sang Pemberi nikmat ini adalah Allah Ta’ala, dan membasahi lisannya dengan menyebut Nama Allah Ta’ala
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah benar-benar akan meridhai seorang hamba yang apabila makan atau minum lalu ia memuji-Nya.” (HR. Tirmidzi 1738)
Dan bersyukur dengan anggota tubuh adalah dengan menggunakan seluruh anggota tubuhnya dalam keta’atan kepada Allah Ta’ala, dan menjauhi apa yang di larang oleh Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا
“Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah)” (Qs. Saba’ : 13)
Syaikh Sulaiman Al-Asyqar menafsirkan :
Yakni dan Kami firmankan kepadanya: ‘lakukanlah amal ketaatan wahai keluarga Daud, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepada kalian.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kemudahan dalam mewujudkan ketakwaaan dengan sebenarnya takwa kepada-Nya, dan mewafatkan kita dalam keteguhan diatas iman dan ketakwaaan. Allahumma Amiin
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Tiga Makna Bertakwa dengan Sebenarnya Takwa