
Seruan Nurani, Gugahan Iman, dan Tantangan Strategi Umat Islam
Gema dari Gaza terus mengetuk hati umat Islam. Setiap hari melalui layar media kita menyaksikan rumah-rumah yang hancur, keluarga yang tercerai-berai, dan anak-anak yang kehilangan masa depannya. Gaza adalah potret keteguhan, sebuah ujian bagi umat Islam di seluruh dunia tentang sejauh mana kita benar-benar menghayati persaudaraan iman dan membakar keberanian dalam membela saudara kita.
Data terbaru dari Anadolu Ajansi mencatat jumlah korban jiwa di Gaza telah menembus 64.600 jiwa sejak agresi Israel atas Gaza pada bulan Oktober 2023. Angka yang mencengangkan ini bukan sekadar statistik, ia adalah saksi tertulis betapa penderitaan saudara-saudara kita masih berlanjut di tengah blokade.
Sekilas gambaran yang terjadi di Gaza, bukan hanya bom yang mematikan. Yang lebih sunyi, tapi sama mengerikannya, adalah kelaparan, malnutrisi, penyakit, dan ketidakpastian kapan ini semua akan berakhir. Kelaparan sudah dikonfirmasi di wilayah Gaza. Ratusan orang meninggal karena kelaparan. Lebih dari setengah juta orang menghadapi kondisi yang disebut catastrophic, ini bukan istilah administratif belaka, tetapi juga menunjukkan orang-orang di sana benar-benar kehabisan makanan pokok, nyawa mulai melayang karena kekurangan zat gizi. Rumah sakit-rumah sakit yang masih bertahan sudah kelebihan kapasitas. Stok obat, peralatan medis, bahan bakar, bahkan tenaga medis sangat terbatas. Gelombang pengungsian terus terjadi. Warga yang tinggal di utara Gaza, dipaksa pindah ke selatan atau ke wilayah pesisir yang lebih aman (jika bisa dibilang aman). Namun tempat-tempat pengungsian ini padat, sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, dan banyak yang tinggal di tenda atau tempat darurat lainnya tanpa perlindungan yang layak. Jurnalis-jurnalis yang tampil berani melaporkan kondisi Gaza dan memperlihatkan kebiadaban penjajah kepada dunia juga tidak lepas dari hujaman serangan penjajah.
Meskipun begitu, di balik reruntuhan bangunan dan angka-angka statistik yang membisu, saudara-saudara kita di Gaza tetap tegar dalam sabar dan tawakal. Anak-anak kecil yang tetap tersenyum meski lapar, para ibu yang berdoa sambil mengusap kepala anak-anaknya, dan para ayah yang berjuang menjaga kehormatan keluarga mereka dengan sisa tenaga. Allāhu akbar. Mereka tetap menjaga shalat di reruntuhan masjid, tetap mengumandangkan takbir meski diincar serangan bom dan rudal, tetap mengokohkan kesabaran, dan melesatkan perlawanan dengan tenaga yang ada. Gaza adalah tempat di mana ayat-ayat Al-Qur’an tentang kesabaran, keteguhan, dan jihad seakan hidup di depan milyaran pasang mata manusia dunia. Bukankah Allah ﷻ telah berfirman,
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah (2) ayat 45)
(156) وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah (2) ayat 155–156)
فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَآ أَصَابَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا ٱسْتَكَانُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran (3) ayat 146)
Hari ini, sesungguhnya Gaza berdiri di garis depan pertahanan kehormatan umat Islam. Gaza lah yang menjadi tameng kedaulatan wilayah umat Islam yang lain. Gaza adalah sepotong bumi yang kelak menjadi saksi di akhirat bagi para pejuang dan syuhada yang dirindu syurga. Tapi memang realitas politik memperlihatkan bahwa dukungan yang hadir untuk Gaza dan Palestina secara umum sering kali masih bersifat seremonial di meja konferensi, bantuan kemanusiaan sesaat, pernyataan diplomasi, atau sekadar solidaritas di media. Allāhummaghfirlanā. Sungguh ayat Al Qur’an telah menyeru,
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
“jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan” (QS. Al Anfal (8) ayat 72)
Ayat ini menegaskan bahwa menolong Muslim yang dizalimi bukan sekadar tanggung jawab moral, tetapi kewajiban syar’i. Menolong Muslim yang dizalimi bukan sekadar dengan pertolongan simbolik, tetapi juga dengan pertolongan yang realistis, strategis, dan solutif. Terlebih dalam urusan Gaza, ini bukan urusan orang per orang, yayasan per yayasan atau lembaga filantropi, tetapi sesungguhya ia adalah urusan dan tanggung jawab besar negara-negara sekitar yang ada di kawasan Arab dan belahan bumi lainnya yang berbasis Muslim.
Maka, siapa pun di antara kita yang berkata: “Untuk apa repot memikirkan Palestina? Negara kita sendiri masih banyak masalah, rakyat masih ada yang lapar, miskin, dan pengangguran”, maka sungguh ia terperosok ke dalam gorong-gorong logika yang sempit dan kotor. Menolong Palestina tidak pernah berarti melupakan bangsa sendiri. Justru sebaliknya, kepedulian terhadap Gaza dan Palestina seluruhnya mengajarkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan tanggung jawab lintas batas yang memperkuat karakter bangsa sekaligus menunaikan amanat konstitusi negara. Lagi pula, bukankah Rasulullah ﷺ bersabda,
مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم، وتَرَاحُمِهِم، وتعاطُفِهِمْ، مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, saling mencintai, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan gelisah (tidak bisa tidur) dan demam.” (HR. Bukhari, no. 6011, Muslim, no. 2586)
Penderitaan seorang mukmin di suatu tempat yang berbeda seharusnya dirasakan oleh seluruh umat Islam, sebagaimana sakit di satu anggota tubuh membuat seluruh tubuh ikut merasakan penderitaannya. Kalau tubuh kita sakit di satu bagian, apakah logis kita berkata: “Biarkan saja, toh bagian lain masih sehat”? Tentu saja logika yang normal dan sehat akan mengatakan “Tidak“. Begitu juga dengan Palestina. Solidaritas terhadap Gaza adalah bagian dari kesehatan iman kita sebagai umat. Penderitaan umat Islam di satu tempat adalah penderitaan bersama.
Kelemahan utama umat Islam hari ini bukan pada kuantitas atau jumlah, tapi pada kualitas kepemimpinan dan keberanian politik. Sekitar 53 negara Muslim, dengan populasi lebih dari 2 miliar jiwa, namun Gaza ibarat satu benteng menghadapi serbuan penjajah yang bertubi-tubi. Kenyataannya; negara-negara Muslim kaya minyak bisa menutup keran energi ke Barat, tapi tidak berani. Negara-negara yang dikenal kuat dan dianggap bisa menekan penjajah, tapi memilih pasif. Organisasi internasional Islam lebih sibuk dengan konferensi seremonial. Organisasi keamanan internasional sekadar menjadi penonton resmi tragedi kemanusiaan. Bahkan, Gaza kadang kala hanya menjadi alat tawar menawar politik sesaat dan kepentingan domestik bagi sebagian negara.
Perlu diingat, bahwa sejarah Islam telah mencatat kemenangan datang dari doa yang disertai ikhtiar. Badar dimenangkan dengan pengorbanan, Fathu Makkah diraih dengan strategi, dan Hittin tercapai dengan persatuan.
Demikian pula Gaza, ia butuh doa, solidaritas, dan juga strategi umat yang lebih besar dari pada sekadar aksi sporadis. Maka dari itu, sesungguhnya dunia Islam bisa mulai menyalakan keberanian bersama dan melakukan tindakan nyata dengan berbagai langkah strategis, di antaranya; (1) Memperkuat diplomasi kolektif, bukan sekadar simbolis, tetapi menjadi tekanan nyata terhadap kekuatan penjajahan. (2) Mendorong kemandirian umat Islam di bidang ekonomi, energi, dan teknologi, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan blok penjajah sekaligus agar tidak mudah ditekan oleh blok mereka. (3) Menyatukan narasi umat, dari yang terpecah-pecah menjadi satu tujuan besar; menjaga kehormatan Masjid Suci Al-Aqsha selaku kiblat pertama kaum Muslimin. (4) Menguatkan kesadaran publik, agar dukungan terhadap Palestina tidak berhenti sebagai tren sesaat, tetapi menjadi bagian dari agenda peradaban Islam dan kewibawaan umat Islam di seluruh penjuru dunia, bukan terbatas bagi umat Islam di Gaza atau Palestina.
Bantuan kemanusiaan sangat penting, tapi Gaza tidak akan pernah merdeka dengan hanya menunggu bantuan roti gandum dan mie instan. Gaza butuh kekuatan nyata, sebagaimana Al-Qur’an menyeru,
وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka” (QS. Al Anfal (8) ayat 60)
Ayat ini memberikan penegasan bahwa menolong saudara tertindas tidak cukup dengan doa atau diplomasi, tapi juga persiapan kekuatan nyata (quwwah). Sejarah membuktikan, umat Islam selalu menang jika doa bertemu dengan senjata, dan sabar bertemu dengan strategi.
Sesungguhnya Gaza adalah amanah kaum Muslimin seluruh dunia. Gaza bukan hanya Palestina. Gaza adalah wajah umat Islam yang diuji di hadapan sejarah. Urusannya bukan terbatas di dunia, tetapi juga di akhirat. Tidakkah kita khawatir akan ditanya: “Di mana kalian saat Al-Aqsha diinjak-injak kesuciannya? Saat anak-anak di Gaza disiksa dengan kelaparan? Saat orang tua mengais puing-puing bangunan mencari sisa-sisa remahan roti untuk dimakan keluarganya? Saat Gaza dihujani rudal oleh penjajah zionis? Saat Palestina direbut tanahnya dengan cara paksa?”
Sejarah akan mencatat, dan Allah akan bertanya. Maka jangan pernah lupakan Gaza. Jangan pernah abaikan Palestina. Jadikan doa kita bukan sekadar bisikan, tetapi pendorong aksi nyata, strategi kolektif, dan persatuan umat, meskipun dimulai dari sesuatu yang kecil. Sekali lagi, Gaza bukan sekadar tragedi kemanusiaan, ia adalah amanat keimanan.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Jangan Lupakan Saudara Kita di Gaza!