KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » Benarkah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

    Benarkah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

    BY 14 Aug 2024 Dilihat: 75 kali

    Oleh: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I.

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالاِسْتِقْلَالِ، وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ تَفَرَّدَ بِكُلِّ جَمَالٍ وَكَمَالٍ، وَتَفَضَّلَ عَلٰى عِبَادِهٖ بِجَزِيْلِ النَّوَالِ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الأُوْلٰى وَالآخِرَةِ وَالْحَالِ وَالْمَآلِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَقَدَّسَ عَنِ الأَشْبَاهِ وَالْأَمْثَالِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ كَرِيْمُ الشَّبَابِ وَشَرِيْفُ الْخِصَالِ، صَلّٰى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ خَيْرِ صَحْبٍ وَآلٍ، وَعَلٰى التَّابِعِيْنَ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الْجَزَاءِ عَلٰى الْأَعْمَالِ؛ فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ؛ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا؛ أَمَّا بَعْدُ؛

    Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,

    Tinggal menghitung hari dan jam, negeri kita akan menyelenggarakan acara seremonial kenegaraan dalam rangka memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, karena memang hal itu adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tiga perempat (¾) abad lebih atau tepatnya 79 tahun bangsa kita merdeka dari penjajahan, dan itu adalah hal yang harus kita syukuri, kita jaga, dan kita rawat dengan sebaik-baiknya, selaku anak bangsa yang mewarisi hasil perjuangan para pahlawan kita. Allah Ta’ala berfirman,

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat Ibrahim ayat 7)

     Ada sebuah ungkapan hikmah,

    وَاسْتَجْلِبْ زِيَادَةَ النِّعَمِ بِعَظِيمِ الشُّكْرِ وَاسْتَدِمْ عَظِيمَ الشُّكْرِ بِخَوْفِ زَوَالِ النِّعَمِ

    Dan raihlah tambahan nikmat dengan besarnya rasa syukur, dan pertahankan rasa syukur itu dengan rasa takut hilangnya nikmat-nikmat tersebut. (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqotul Ashfiya’, no. 15287)

    Di antara nikmat yang berharga adalah nikmat kemerdekaan.

    تَذَكَّرْ مَعَ كُلِّ نِعْمَةٍ زَوَالَهَا

    “Ingatlah setiap nikmat bersamaan dengan (bayangan) akan hilangnya”

    Kita bayangkan jika nikmat kemerdekaan ini dicabut dari bangsa kita, betapa sengsara dan melaratnya kita semua di bawah bayang-bayang penjajahan dan penindasan. Oleh karena itu, para Founding Fathers bangsa ini secara jelas mencantumkan kalimat bahwa kemerdekaan ini “Atas berkat Rahmat Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya” pada pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945.

    Jelas, kemerdekaan ini tidak bisa diraih kecuali atas izin dan taufik dari Allah Ta’ala, kemudian jasa para pahlawan pendahulu kita yang berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa lain, yang kemudian diikuti juga dengan dukungan dan pengakuan dari bangsa dan negara lain terhadap kemerdekaan Republik Indonesia, terutama dari negara-negara Arab dan negara- negara yang berbasis Islam. Di antaranya Palestina, pada tahun 1944 sudah menyatakan dukungan kemerdekaan Indonesia, kemudian pengakuan dari Mesir dan Arab Saudi pada tahun 1946, Lebanon, Suriah, dan Irak pada tahun 1947, Afghanistan pada tahun 1947, serta Yaman pada tahun 1948. Inilah di antara negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan negara Republik Indonesia.

    Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,

    Sebagai bentuk refleksi dan evaluasi, mari kita beranikan diri untuk menyerukan sebuah pertanyaan, apakah bangsa kita sudah menjadi potret ideal dari bangsa yang sudah merdeka? Apakah benar, kita sudah benar-benar merdeka secara menyeluruh? Bagaimana role model negara yang merdeka itu?

    Mari kita  simak dan perhatikan doa Nabi Ibrahim a.s. ketika bermunajat kepada Allah Ta’ala,

    وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Surat Ibrahim (14): 35)

    Ucapan dan doa Nabi Ibrahim ini bisa menjadi contoh dan bisa ditiru oleh umat manusia untuk berdoa kepada Allah, mengharapkan keamanan dalam negerinya. Keamanan yang bagaimana? Aman dari kezaliman, penindasan, kesewenang-wenangan, tidak ada darah yang ditumpahkan, tidak ada orang yang dizalimi, aman jiwa dan hartanya, sehingga penduduknya merasakan keamanan dan ketentraman dalam dirinya. Bukan hanya manusianya yang merasa aman, bahkan hewan buruan dan pepohonan  atau tumbuhannya pun mendapatkan keamanan. (Tafsīr al-Madīnah al-Munawwarah, hal. 674). Artinya, negara yang ideal keamanannya adalah negara yang penduduknya merasa aman, tenteram, dan sejahtera, begitu juga lingkungannya pun aman. Secara de facto dan de jure, Indonesia telah menjadi negara merdeka dan berdaulat. Tapi bukan berarti bangsa kita tidak memiliki persoalan dan PR (Pekerjaan Rumah) untuk ditangani. Persoalan akhlak atau moral, keamanan lingkungan, penegakan hukum, keadilan sosial, pemerataan ekonomi, bebas dari segala intervensi negara lain adalah problematika yang harus segera diatasi dan dituntaskan sampai ke akar-akarnya dalam rangka mewujudkan kemerdekaan yang sebenar-benarnya.  Hari ini sejauh mata kita memandang, kemiskinan masih menjerat bangsa ini, banyak orang yang hidupnya masih jauh dari kata layak secara finansial dan ekonomi, ketimpangan sosial juga masih terjadi, dan semakin terlihat. Angka kemiskinan yang dirilis terjadi penurunan sebesar 0,33 persen dari Maret 2023 sampai Maret 2024, sebenarnya masih jauh dari target yang akan dicapai. Artinya target penurunan kemiskinan tidak atau belum bisa tercapai. (https://www.kompas.id/baca/opini/2024/08/12/target-penurunan-kemiskinan-yang-tak-tercapai). Begitu juga terdapat paradoks, karena 11.000 pekerja terkena PHK (Putus Hubungan Kerja) sejak awal 2024, tingkat pengangguran di Indonesia menempati posisi pertama di ASEAN (Asia Tenggara), golongan ekonomi menengah juga semakin terjepit, dan kejahatan juga masih marak terjadi.

    Ma’asyiral  mukminin a’azzakmullah,

    Kembali kepada kisah tentang doa Nabi Ibrahim –‘alaihissalam-, di samping doa dan harapan dijadikan aman negerinya, Nabi Ibrahim a.s. juga berdoa kepada Allah agar ia, anak dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala-berhala.

    وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

    Inilah penegasan tauhid, agar manusia benar-benar hanya menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Sehingga, jika kemerdekaan yang hakiki itu benar-benar ingin diraih, maka membebaskan diri dan masyarakat dari penyembahan berhala, penghambaan diri kepada sesama makhluk, dan intimidasi (ancaman) dan penistaan dalam menerapkan prinsip dan nilai-nilai Islam, adalah bagian yang tak terpisahkan untuk diperjuangkan bersama. Karena tauhid juga harus direalisasikan dalam bentuk pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun muamalah. Tentu ini sejalan dengan dasar negara kita Pancasila, pada sila pertama ditegaskan; “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Bagi umat Islam sila tersebut bermakna pengakuan bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan, dan hanya Dia yang berhak disembah. Selain itu juga bermakna mewujudkan sikap taat dalam menjalankan ajaran Islam dan kebebasan memeluk Islam sebagai ajaran yang ia yakini beserta kebebasan untuk mengamalkan ajaran Islam tanpa intimidasi. Dan sungguh ironis, saat ini umat Islam dihebohkan dengan berita tentang paksaan lepas jilbab bagi anggota perempuan Paskibraka, dengan alibi bahwa hal tersebut demi keseragaman dan diklaim sudah disetujui oleh anggota yang bersangkutan lewat penandatangan surat ketersediaan bermaterai. Tampaknya masyarakat ingin dibodohi oleh oknum dari badan yang menjadi penanggung jawab Paskibraka tersebut lewat alibinya. (https://www.antaranews.com/berita/4260055/bpip-lepas-hijab-paskibraka-demi-keseragaman). Sebenarnya dengan kata lain, anggota Paskibraka 2024 dilarang mengenakan jilbab saat mereka dikukuhkan dan saat bertugas. (https://www.beritasatu.com/network/kaltimtoday/268653/mui-kecam-larangan-hijab-di-paskibraka-2024-sebut-pelanggaran-konstitusi-dan-hak-asasi)

    Lebih ironis lagi, aturan tersebut datang dari badan yang membina ideologi Pancasila, yang justru aturan paksa tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, karena melarang orang mengamalkan ajaran agama yang ia yakini. Jelas, hal itu bertentangan dengan makna sila pertama.

    Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,

    Sudah saatnya kita sebagai masyarakat harus membangun kesadaran jiwa dan raga, kesadaran lahir dan batin, membangun pola pikir kritis, dan berpikir secara cerdas dan rasional agar kita tidak mudah dibodohi oleh para penjahat dengan segala kamuflasenya yang akan merusak moral dan ajaran agama, begitu juga agar tidak mudah diperalat oleh para mafia politik dan mafia kapitalis.

    Peringatan hari kemerdekaan ini oleh masyarakat jangan hanya sekadar diisi dengan acara dan peringatan seremonial, goyang bersama, berdendang ria, menghambur-hamburkan uang untuk acara yang tidak berguna, tapi harus benar-benar menjadi refleksi dan titik kebangkitan dalam memperbaiki kehidupan dan menghadapi segala bentuk kezaliman dan penindasan, dengan cara yang terarah dan sistematis agar kita benar-benar menjadi masyarakat dan bangsa yang berwibawa, terbebas dari pembodohan dan kebijakan yang sewenang-wenang.

    Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,

    Semoga Allah memberikan kekuatan, keteguhan, dan bimbingan kepada kita semua dalam menjalani kehidupan ini, Allah lindungi kita dari segala bentuk pembodohan, kebodohan, dan kezaliman.

    رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ (85) وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ (86)

    “Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim (85) Dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir” (Q.S. Yunus (10): 85-86)

    اَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ, اِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

    Khutbah II

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ اَمَّا بَعْدُ: فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ ! اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ؛ فَقَالَ تَعَالىَ: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعوات؛ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ؛ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى؛ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؛ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن؛ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وَأقيموا الصلاة!

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Benarkah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023