
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I. (Pengelola Ma’had Dar El-Baraim Jakarta/ Dosen (INDAFA) Institut Darul Fattah Bandar Lampung)
Lembaran sejarah Islam sering kali mendominasi ingatan kita dengan nama-nama besar di garis depan pertempuran. Kita sangat akrab dengan deretan para khalifah, panglima militer, atau ulama besar dari kalangan sahabat laki-laki.
Namun, jika kita mau sedikit lebih jeli membuka sekat-sekat narasi sejarah, terdapat sosok-sosok perempuan agung yang perannya mungkin sunyi dari riuh publik, namun pengaruh dan keteladanannya menghunjam sangat dalam. Salah satunya adalah Arwa binti Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anha, bibi kandung dari Rasulullah ﷺ.
Sebagai perempuan yang tumbuh besar di rahim inti keluarga Quraisy, Arwa menyaksikan langsung bagaimana pergolakan sosial dan spiritual terjadi ketika Islam pertama kali mendobrak Makkah.
Kisah Arwa bukanlah epik heroik tentang denting pedang di medan laga atau panggung kekuasaan politik. Ini adalah sebuah catatan tentang kejernihan nalar, pergulatan batin yang jujur, dan keberanian mengambil sikap di saat kebenaran telah benderang di depan mata.
Pergulatan Batin yang Manusiawi Sebelum Memeluk Islam
Menerima sebuah kebenaran baru di tengah sistem sosial yang kolot dan mengakar kuat tentu bukan perkara mudah. Menariknya, literatur sejarah tidak menggambarkan proses keislaman Arwa binti Abdul Muthalib sebagai sebuah keputusan yang emosional atau sekadar ikut-ikutan. Ada fase pertimbangan keluarga dan kalkulasi sosial yang sangat manusiawi di sana.
Sebelum Arwa menyatakan keislamannya, putranya yang bernama Kulaib bin Umair telah lebih dahulu memeluk Islam. Kulaib kemudian mendatangi ibunya dan membuka sebuah dialog yang terekam dalam riwayat sejarah.
Kulaib membuka percakapan dengan bertanya kepada ibunya:
فَمَا يَمْنَعُكِ يَا أُمِّي أَنْ تُسْلِمِي وَتَتَّبِعِي أَخَاكِ؟ فَقَدْ أَسْلَمَ أَخُوكِ حَمْزَةُ
“Wahai ibuku, apa yang menghalangimu untuk masuk Islam dan mengikuti saudaramu? Bukankah saudaramu, Hamzah, telah lebih dahulu masuk Islam?”
Pertanyaan sang anak ini sejatinya sangat berat. Pada fase awal dakwah Makkah, berpindah keyakinan menjadi Muslim berarti siap menanggung konsekuensi logis: dikucilkan dari pergaulan, menghadapi boikot ekonomi, hingga potensi gesekan horizontal dengan keluarga besar.
Menanggapi pertanyaan Kulaib, Arwa memberikan jawaban yang sangat realistis:
أَنْظُرُ مَا يَصْنَعُ إِخْوَتِي، ثُمَّ أَكُونُ إِحْدَاهُنَّ
“Aku ingin melihat terlebih dahulu apa yang dilakukan oleh saudara-saudaraku, lalu aku akan menjadi seperti salah satu dari mereka.”
Jawaban ini bukanlah sebuah bentuk penolakan teologis, tetapi sebuah potret psikologis yang wajar. Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk mengonsolidasikan keberanian dan menimbang momentum sebelum melangkah keluar dari zona nyaman.
Namun, Kulaib tidak menyerah begitu saja. Ia kembali meyakinkan ibunya dengan mendesak lewat sentuhan emosional yang mendalam:
فَإِنِّي أَسْأَلُكِ بِاللَّهِ إِلَّا أَتَيْتِهِ فَسَلَّمْتِ عَلَيْهِ وَصَدَّقْتِهِ وَشَهِدْتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Maka sesungguhnya aku memohon kepadamu atas nama Allah, datanglah kepada beliau, ucapkanlah salam, benarkanlah tindakannya, dan bersaksilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”
Ajakan yang lahir dari ketulusan seorang anak ini akhirnya berhasil meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hati Arwa. Pada titik itulah, ia mengambil keputusan besar yang mengubah arah hidupnya. Arwa mendatangi Nabi ﷺ dan mengikrarkan keimanannya dengan bersyahadat dan masuk Islam.
Lebih dari Sekadar Penonton: Dukungan Nyata dari Rumah
Bagi Arwa, iman itu bukan hanya urusan batin yang dipendam sendiri di dalam rumah. Setelah memeluk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah, beliau tidak mau hanya jadi penonton pasif yang cari aman di tengah perjuangan dakwah. Beliau betul-betul memberikan dukungan mental dan pembelaan yang nyata untuk Rasulullah ﷺ.
Suatu hari, ada kabar bahwa putranya, Kulaib bin Umair, pasang badan membela Rasulullah ﷺ yang sedang diganggu secara fisik oleh beberapa pemuda Quraisy. Mendengar berita itu, Arwa sama sekali tidak panik, menangis, atau memarahi anaknya karena takut kena masalah, meskipun itu hal yang sangat wajar dirasakan oleh seorang ibu jika anaknya terlibat pertikaian.
Tapi sebaliknya, Arwa justru menguatkan mental anaknya dengan berkata:
إِنَّ أَحَقَّ مَنْ وَازَرْتَ وَعَضَدْتَ ابْنُ خَالِكَ، وَاللَّهِ لَوْ كُنَّا نَقْدِرُ عَلَى مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ الرِّجَالُ لَمَنَعْنَاهُ وَدَافَعْنَا عَنْهُ
“Orang yang paling berhak engkau bantu dan engkau bela adalah anak pamanmu. Demi Allah, seandainya kami mampu melakukan sebagaimana yang dilakukan kaum laki-laki, niscaya kami akan melindunginya dan membelanya.”
Kalau kita lihat dari sisi kekeluargaan, sikap Arwa ini luar biasa. Beliau bukan sekadar membela keponakan karena urusan ikatan darah atau bela keluarga buta.
Beliau tahu betul bahwa apa yang sedang dibawa oleh Rasulullah ﷺ adalah kebenaran universal yang membawa kebaikan, sehingga sudah sewajarnya didukung dan dilindungi, meskipun risikonya besar bagi keselamatan keluarga mereka sendiri.
Menghadapi Abu Lahab: Ketika Tradisi Menghalangi Kebenaran
Sikap tegas Arwa dan anaknya ini tentu saja bikin gerah internal keluarga besar Quraisy, terutama Abu Lahab yang menjadi tokoh utama penentang dakwah Nabi.
Mendengar saudarinya sendiri ikut membela Rasulullah ﷺ, Abu Lahab langsung mendatangi Arwa dengan nada heran dan bertanya mengingkari:
عَجَبًا لَكِ وَلِاتِّبَاعِكِ مُحَمَّدًا وَتَرْكِكِ دِينَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Sungguh mengherankan dirimu! Bagaimana bisa engkau mengikuti Muhammad dan meninggalkan begitu saja agama yang dianut oleh Abdul Muthalib?!”
Sindiran Abu Lahab ini sebenarnya mewakili cara berpikir yang masih sering kita temui sampai sekarang: menganggap sesuatu pasti benar cuma karena sudah jadi tradisi turun-temurun, atau karena sudah dilakukan oleh orang tua terdahulu tanpa mau menimbangnya lagi dengan akal sehat. Abu Lahab mencoba membawa-bawa nama besar sang ayah (Abdul Muthalib) untuk menekan mental Arwa.
Namun, di sinilah letak cerdas dan beraninya Arwa binti Abdul Muthalib. Beliau menjawab Abu Lahab dengan lugas dan rasional:
قَدْ كَانَ ذَلِكَ، فَقُمْ دُونَ ابْنِ أَخِيكَ وَاعْضُدْهُ وَامْنَعْهُ، فَإِنْ يَظْهَرْ أَمْرُهُ فَأَنْتَ بِالْخِيَارِ: أَنْ تَدْخُلَ مَعَهُ أَوْ تَكُونَ عَلَى دِينِكَ، فَإِنْ يَصِبْ كُنْتَ قَدْ أَعْذَرْتَ فِي ابْنِ أَخِيكَ
“Memang begitulah kenyataannya (aku telah mengikuti Muhammad). Maka sekarang, berdirilah membela anak saudaramu (Muhammad), dukunglah dia, dan lindungilah dia! Kalau nanti ajarannya ini jelas berhasil, kamu tinggal pilih: mau ikut masuk bersamanya atau tetap bertahan pada agamamu saat ini. Dan kalaupun sampai terjadi hal buruk menimpanya, setidaknya kamu sudah punya uzur (alasan yang terhormat) karena telah berusaha melindungi anak saudaramu sendiri.”
Jawaban Arwa ini sangat bisa dipahami oleh semua orang. Beliau tidak balik menyerang dengan dalih teologis yang rumit di depan Abu Lahab yang sedang emosi.
Beliau justru memakai logika kemanusiaan dan ikatan keluarga yang paling mendasar, Seolah Arwa berkata: “kalau pun engkau belum mau beriman sekarang terhadap ajaran Muhammad, minimal jangan jadi orang pertama yang menjatuhkan keponakanmu sendiri.”
Beliau melihat dengan jernih bahwa kalau apa yang dibawa oleh Muhammad nyata-nyata logis, benar, dan adil, maka sebagai manusia yang berakal kita harus mengikutinya secara sadar. Beliau menolak ikut arus taklid buta hanya demi menyenangkan lingkungan sosial atau menjaga gengsi keluarga.
Pelajaran untuk Kita: Berani Jujur pada Diri Sendiri
Salah satu pelajaran terbesar dari kisah Arwa binti Abdul Muthalib adalah bagaimana Islam mengajarkan kita untuk menempatkan hubungan keluarga secara proporsional.
Islam sama sekali tidak menyuruh kita memutus tali silaturahmi dengan keluarga, tapi Islam menegaskan bahwa urusan prinsip hidup dan kebenaran tidak bisa ditukar dengan apa pun. Arwa tetaplah saudari kandung Abu Lahab, namun ketika bicara soal kebenaran, beliau memilih berdiri kokoh di belakang garis perjuangan Rasulullah ﷺ.
Kalau kita bawa ke realitas kehidupan sehari-hari, tantangan yang dihadapi Arwa ini sangat dekat dengan kita. Sering kali kita tahu ada sesuatu yang benar, tapi kita memilih diam karena takut dibilang aneh oleh lingkungan kerja. Atau kita tahu ada sebuah kebiasaan di sekitar kita yang salah, tapi kita enggan bersuara karena takut dikucilkan atau dianggap tidak kompak oleh kelompok kita sendiri.
Arwa binti Abdul Muthalib mengingatkan kita sebuah prinsip sederhana bahwa tidak semua hal yang ramai diikuti orang itu pasti benar, dan tidak semua hal yang sudah lama dilakukan di lingkungan kita harus langsung kita telan mentah-mentah.
Menjadi orang yang merdeka berarti berani mengambil keputusan di atas kebenaran, bahkan sebelum hal itu dianggap populer oleh orang banyak.
Sebab pada akhirnya, nilai seorang manusia tidak dilihat dari seberapa setia ia ikut-ikutan kelompoknya, melainkan dari seberapa berani ia berpijak pada nilai-nilai kebenaran secara jujur dan apa adanya.
Referensi:
Muḥammad Ibrāhīm Salīm, Nisā’ Ḥawla al-Rasūl ﷺ (diolah dan disunting).
Untuk pendalaman biografi, lihat juga:
Ibnu Sa‘d, Al-Ṭabaqāt al-Kubrā;
Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī, Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah;
Adz-Dzahabī, Siyar A‘lām al-Nubalā’.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Para Perempuan Teladan di Sekitar Nabi (3): Arwa binti Abdul Muthalib, Bibi Rasul yang Membela Kebenaran