
Oleh: H.M. Ghufron Harun, B.A., B.IRKH., M.A., M.LIS (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ؛ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا؛ أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الهُدَىٰ هُدَىٰ مُحَمَّدٍ صَلَّىٰ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ إِلَى آخِرِ الْحَدِيْثِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu dengan menjalankan segala apa yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan oleh Rasul-Nya ﷺ.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Pada hari ini Jum’at 22 Agustus 2025, bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1447 Hijriyah. Bulan ini adalah bulan yang istimewa dan bersejarah bagi bangsa Indonesia dan baru saja 4 hari yang lalu kita bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 80 tahun. Menilik peristiwa sejarah Indonesia 80 tahun yang lalu dalam kalender Miladiyah atau 83 tahun dalam kalender Hijriyah. Kita dapatkan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan pada hari Jumat 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia telah dibacakan di hadapan rakyat Indonesia.
Tentu ini adalah anugerah yang besar dari Allah ﷻ. Proklamasi kemerdekaan di hari yang paling mulia dan di bulan yang paling mulia. Ada baiknya kita mengenang kembali arti kemerdekaan dan kemerdekaan yang sebenarnya dalam pandangan Islam.
Kemerdekaan adalah cita-cita setiap warga negara di manapun berada. Sebagai seorang hamba Allah ﷻ kemerdekaan bukanlah semata terbebas dari penjajahan bangsa lain. Akan tetapi yang jauh lebih utama dari itu adalah manakala seorang hamba bisa terbebas dari segala hal yang menghalanginya dari beribadah kepada Allah ﷻ.
Terbebas dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari surga Allah ﷻ karena maksud dan tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Tentu setiap dari kita ingin menjadi manusia yang merdeka dengan seutuhnya. Hidup tanpa ketergantungan terhadap sesuatu. Hidup aman dan bebas dari penghambaan dan penjajahan. Setiap orang berani untuk membeli dengan harga mahal untuk kemerdekaan yang hakiki itu. Merdeka dalam Islam dimaknai dengan sikap ketundukan dan kepatuhan. Merdeka adalah penghambaan mutlak kepada Dzat yang berhak untuk disembah, yaitu Allah ﷻ. Merdeka adalah terbebas dari segala belenggu penjajahan sesama manusia dan keluar dari keterpurukan hidup di dunia. Ketika seorang muslim terbebas dari penghambaan kepada selain Allah ﷻ dan tunduk serta patuh kepada aturan dan hukum Allah ﷻ, di sanalah muncul kemerdekaan sejati dan hakiki.
Kemerdekaan inilah tujuan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ ke muka bumi. Juga tujuan dakwah para sahabat dan kaum mukminin yang mengikuti jalan Beliau. Ketika peristiwa pertempuran Al-Qadisiyyah terjadi, yaitu pertempuran antara kaum muslimin dengan bangsa Persia. Panglima kaum muslimin saat itu yaitu Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, mengutus salah satu prajuritnya Rib’i Bin ‘Amir untuk menghadap Panglima Persia yaitu Rustum. Dalam pertemuan tersebut, Rustum bertanya kepada Rib’i, Apa tujuan pasukan kaum muslimin datang menuju Persia? Mengapa mereka datang ke Persia? Maka dengan lantang Rib’i menjawab dengan kalimat yang dicatat dengan tinta emas oleh sejarah. Kalimat itu dinukil dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah dan kitab-kitab yang lainnya. Rib’i berkata,
اللهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ العِبَادِ اِلَى عِبَادَةِ اللهِ
“Allah ﷻ mengirim kami untuk memerdekakan siapa yang dikehendaki-Nya dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata.”
وَمِنْ ضِيْقِ الدُّنْيَا اِلَى سَعَتِهَا
“Untuk memerdekakan mereka dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas.”
وَمِنْ جَوْرِ الأَدْيَانِ اِلَى عَدْلِ الاِسْلَامِ
“Serta memerdekakan manusia dari kesewenang-wenangan agama lain menuju kepada keadilan Islam.”
Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Nabi kita Muhammad ﷺ dengan risalah yang beliau emban, memiliki misi untuk membawa manusia kepada kemerdekaan yang paling hakiki. Kemerdekaan dari kegelapan menuju kepada hidayah Allah ﷻ. Dari kebodohan menuju kepada ilmu pengetahuan, dari kekuatan iman menuju kepada keadilan. Kemerdekaan yang menjadi gerbang besar menuju kemenangan di dunia dan akhirat. Sebuah gerakan kemerdekaan yang dalam waktu singkat mengilhami seluruh penjuru bumi. Bahkan menginspirasi Eropa untuk beranjak dari masa kegelapan kepada masa kemajuan. Dengan kekuatan ini pula, dua Imperium besar Persia dan Romawi ditakhlukkan di awal sejarah Islam. Kemerdekaan tersebut adalah tauhid. Sehingga apabila tauhid itu dicampakkan, maka keterpurukan dan kehinaan lah yang akan dialami oleh umat dan bangsa ini.
Untuk mensyukuri kemerdekaan ini ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:
Pertama, kita isi kemerdekaan yang kita peroleh selama ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Menjalankan syariat agama kita secara tenang adalah anugerah besar yang kita peroleh di tengah sebagian saudara-saudara kita di belahan dunia lain masih berjuang mencari kedamaian. Umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan selalu berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan yang mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. al-Hujurat [49] ayat 13).
Kedua, mencintai negeri ini dengan memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kemudharatannya. Segala upaya yang memberikan manfaat bagi rakyat luas harus kita dukung, sementara yang merugikan masyarakat banyak kita tolak.
Dukungan terhadap kemaslahatan umat bisa dimulai dari diri sendiri yang ikut berperan serta dalam upaya-upaya kemajuan di masyarakat, bergotong royong, atau patuh terhadap peraturan yang berlaku. Sebaliknya, mencegah kemudharatan berarti menjauhkan bangsa ini dari berbagai marabahaya, seperti bencana, korupsi, kriminalitas, dan lain sebagainya. mInilah pelaksanaan dari sikap amar ma’ruf nahi munkar dalam pengertian yang luas. Ajakan kebaikan dan penolakan terhadap kemungkaran dipraktikkan dalam konteks pembangunan masyarakat. Tujuannya, menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, adil, makmur dan sejahtera.
Termasuk dalam praktik ini adalah mengapresiasi pemerintah bila kebijakan yang dijalankan bermanfaat serta berguna bagi masyarakat, dan mengkritiknya tanpa segan ketika kebijakan pemerintah melenceng dari kemaslahatan bersama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ؛
Sidang Jum’at yang kami hormati,
Ketika Nabi Musa ‘alaihis salām dengan izin Allah ﷻ sukses untuk memerdekakan kaumnya Bani Israil dari penjajahan dan penyembahan kepada Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Bani Israil akhirnya menghirup kemerdekaan hakiki. Kisah Nabi Musa ‘alaihis salām dengan Bani Israil ini diabadikan di dalam Alquran sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ . يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 20-21)
Sayangnya, kemerdekaan yang Bani Israil rasakan tidak mau mereka syukuri. Pembangkangan demi pembangkangan mereka lakukan terhadap Nabi Musa ‘alaihis salām. Ajaran terhadap tauhid, mereka khianati dengan menyembah patung anak sapi. Khianat adalah sikap yang kemudian membuat kemerdekaan yang mereka dapatkan menjadi sia-sia belaka. Mereka mengganti kemerdekaan yang hakiki dengan kesesatan dan keterpurukan lantaran kesombongan dan pembangkangan mereka.
Karena itulah Allah ﷻ melaknat dan memurkai mereka di dunia dan di akhirat. Inilah akibat yang akan menimpa apabila kita tidak mentauhidkan Allah ﷻ. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa kemerdekaan ini dan kisah umat-umat yang terdahulu dan marilah kita bersyukur dan menjaga nikmat terbesar, nikmat kemerdekaan ini. Kemudian ajaklah umat manusia untuk meraih kemerdekaan yang hakiki ini.
إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا؛ اللهم صل وسلم وزد وبارك وانعم على سيدنا ومولانا محمد اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، الاحياء منهم والاموات، انك سميع قريب مجيب الدعوات؛ اللهم منزل الكتاب مجري السحاب هازم الاحزاب اهزم اعداءك اعداء الدين يا رب العالمين؛ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ؛ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ؛سبحان ربك رب العزه عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وأقيموا الصلاة.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Kemerdekaan yang Sebenarnya