
Penulis: Ahla Kembara, (Bachelor of Sharia, LIPIA-IMSIU/ Master in Islamic Studies, The Faculty of Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah)
Dalam hiruk-pikuk era digital, ada kecenderungan kolektif untuk memperlihatkan setiap progres hidup. Seolah-olah ada tekanan tak kasat mata yang memaksa kita untuk “lapor” ke publik tentang apa pun yang sedang kita lakukan. Baru memulai sebuah gagasan, kita sudah sibuk memoles postingan. Baru melangkah di tahap awal, kita sudah menuntut pengakuan. Apapun itu seolah orang lain harus tahu bahwa kita sedang menyusun rencana, mengerjakan sesuatu, sibuk, banyak kerjaan, padat, jadi orang penting, dan lain sebagainya. Kita sering lupa bahwa tidak semua telinga itu mendengar dengan keramahan, dan tidak semua mata melihat dengan ketulusan.
Ada sebuah kaidah kebijaksanaan yang sangat relevan untuk menjadi kompas kita dalam menjaga stabilitas dan integritas rencana, sebuah pesan dari Nabi ﷺ:
اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ
Artinya: “Bantulah kesuksesan hajat-hajatmu dengan merahasiakannya, karena setiap pemilik nikmat itu pasti dicemburui.” (H.R. at-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, juz 20, hal. 94)
Walaupun para pakar hadis memiliki diskusi panjang soal rantai sanadnya, secara isi atau matan, pesan ini diakui kesahihannya oleh banyak ulama. Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnnya Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (4/318) menjadikannya dalil perintah untuk menyembunyikan nikmat sampai ia diperoleh dan tampak. Melihat adanya berbagai jalur (turuq) yang saling menguatkan, pakar hadis di era modern Al Albani (w. 1420 H) menyebut secara lugas tentang hadis ini dalam kitabnya:
قُلْتُ: فَالْحَدِيثُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ جَيِّدٌ عِنْدِي
Aku (Al-Albani) ” Maka hadis dengan sanad ini, menurutku kedudukannya adalah Jayyid (baik/kuat)” (Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, 3/439)
Mengapa Harus Merahasiakan?
Dari sudut padang psikologi, menceritakan rencana besar kerap memancing pujian prematur. Saat pujian itu datang, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa puas seolah-olah tujuan tersebut sudah tercapai. Inilah yang disebut substitution effect (omongan menggantikan tindakan). Bisa jadi motivasi nyata untuk mengeksekusi rencana luntur di awal karena kita sudah merasa puas dan menang dalam pembicaraan.
Fenomena ini dibedah secara mendalam oleh Peter M. Gollwitzer dari New York University bersama dengan teman-temannya dari universitas lain dalam penelitian mereka yang bertajuk When Intentions Go Public: Does Social Reality Widen the Intention-Behavior Gap? (Psychological Science, Vol. 20 (2009), No. 5). Dalam abstrak jurnal tersebut, Gollwitzer secara eksplisit menyimpulkan:
“…when other people take notice of an individual’s identity-related behavioral intention, this gives the individual a premature sense of possessing the aspired-to identity.” (h. 612)
Artinya, saat orang lain menyadari niat kita, muncul perasaan prematur seolah-olah kita sudah memiliki identitas yang kita tuju. Hasil eksperimen Gollwitzer (Study 1-3) menunjukkan bahwa niat yang sudah diketahui publik justru diterjemahkan ke dalam tindakan secara jauh lebih lemah (less intensively) dibandingkan rencana yang tetap dirahasiakan atau diabaikan oleh orang lain.

Inilah di antara bukti ilmiah mengapa kitman atau menjaga kerahasiaan rencana menjadi sangat krusial agar motivasi kita tidak habis di kata-kata. Jika tidak disadari maka hal tersebut akan berubah menjadi ilusi pencapaian. Justru diam adalah cara menjaga bara motivasi agar tetap fokus pada proses, bukan pada validasi orang lain.
Di samping itu, yang perlu kita perhatikan juga adalah statement Nabi ﷺ di akhir hadis: فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ (karena setiap pemilik nikmat itu pasti dicemburui). Kalimat “fainna kulla dzi ni’matin mahsuud” adalah pengingat yang sangat jujur.
Secara realitas-sosial, kita harus berani mengakui bahwa teman, circle, dan lingkungan belum tentu mereka semua suka dan mendukung, bahkan sampai orang yang kita anggap akrab sekalipun. Ini bukan ajakan untuk ber-su’udzan kepada orang lain, dan ini bukan berarti menjadi legitimasi untuk menuduh secara liar bahwa setiap orang pasti hasad kepada diri kita. Tetapi hadis ini mengingatkan kita untuk menjaga diri, karena tidak semua orang suka dengan rencana baik atau nikmat yang dimiliki oleh sesama.
Sebagai seorang mukmin kita harus mengerti bahwa energi negatif bernama hasad (dengki) itu berpotensi datang dari siapapun. Bahkan dalam sebuah hadis Nabi ﷺ disebutkan:
المؤمنُ بين خمسِ شدائدَ : مؤمنٌ يحسدُه, ومنافقٌ يبغضُه, وكافرٌ يُقاتلُه, وشيطانٌ يُضلُّهُ, ونفسٌ تُنازعُه
“Seorang mukmin itu selalu berada di antara lima ujian yang berat: Mukmin (lain) yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, setan yang menyesatkannya, dan hawa nafsu yang selalu merongrongnya (bergejolak dalam dirinya)“ (Takhrij al-Ihya, 3/80), Al-Firdaus, no. 6560, dengan sedikit perbedaan redaksi)
Saat rencana masih berupa embrio namun sudah dipamerkan, kita sebenarnya sedang membuka pintu bagi intervensi, kritik atau ejekan yang melemahkan mental, hingga yang level “ngeri” seperti upaya sabotase dari pihak-pihak yang tidak nyaman melihat orang lain tumbuh.
Al-Munawi (w. 1031 H) dalam keterangannya menyebutkan sebagai berikut:
يعني إن أظهرتم حوائجكم للناس حسدوكم فعارضوكم في مرامكم وموضع الخبر الوارد في التحدث بالنعمة ما بعد وقوعها وأمن الحسد وأخذ منه أن على العقلاء إذا أرادوا التشاور في أمر إخفاء التحاور فيه ويجتهدوا في طي سرهم قال بعض الحكماء من كتم سره كان الخيار إليه ومن أفشاه كان الخيارعليه وكم من إظهار سر أراق دم صاحبه ومنع من بلوغ مأربه ولو كتمه كان من سطوته آمنا ومن عواقبه سالما وبنجاح حوئجه فائزا
Maksudnya adalah jika kalian menampakkan hajat-hajat (rencana) kalian kepada orang lain, mereka akan dengki kepada kalian, lalu mereka akan menghalangi apa yang kalian cita-citakan. Adapun konteks hadis yang memerintahkan untuk menceritakan nikmat (tahadduts bin ni’mah) adalah setelah nikmat itu benar-benar terjadi dan dalam kondisi aman dari kedengkian.
Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa bagi orang yang berakal, apabila mereka ingin bermusyawarah dalam suatu urusan, hendaknya mereka menyembunyikan percakapan tersebut dan bersungguh-sungguh dalam menutup rapat rahasia (terbatas) mereka.
Sebagian orang bijak berkata: “Barangsiapa yang menyembunyikan rahasianya, maka pilihan (kendali) tetap ada di tangannya. Namun, barangsiapa yang membocorkannya, maka pilihan (kendali) itu berbalik melawannya.”
Betapa banyak pembocoran rahasia yang justru menumpahkan darah pemiliknya dan menghalangi tercapainya tujuan. Seandainya ia menyembunyikannya, niscaya ia akan aman dari serangan (gangguan), selamat dari dampak buruknya, dan sukses meraih hajat-hajatnya. (Faidh al-Qadir, 1/493)
Closing Statement
Dari hadis dan penjelasan para ulama, maka bisa kita simpulkan bahwa tidak semua perencanaan, pergerakan badan, dan aktivitas harus diposting dan diceritakan kepada orang lain. Ada kalanya kita harus bekerja dan beraktivitas dengan tenang dan senyap dari pandangan banyak orang. Biarkan keberhasilan yang memberikan suaranya sendiri. Karena hajat yang besar, butuh ketenangan untuk tumbuh, bukan keramaian yang mengundang riuh.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Seni Senyap: Mengapa “Low Profile” adalah ‘Koentji’ Kesuksesan