
Oleh: Syafri Muhammad Noor, Lc., M.H.
اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ، وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ؛ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَخَيْرِ خَلْقِهِ؛ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ؛أَمَّا بَعْدُ : فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المتَقُونَ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah ﷻ agar Allah selalu menjaga kita dari seluruh keterpurukan dan kesempitan hidup, dan semoga Allah ﷻ akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kita dari semua permasalahan yang kita hadapi.
Shalawat beserta salam kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad ﷻ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dahulu di zaman Nabi Muhammad ﷺ, pernah ada kejadian beberapa sahabat yang terlalu berani untuk berfatwa tanpa di dasari oleh kapasitas ilmu yang memadai. Ada beberapa sahabat yang terlalu berani untuk menetapkan suatu hukum, namun tidak sesuai dengan keahlian dibidangnya, sehingga hal tersebut membuat Rasulullah ﷺ marah dan tidak ridho.
Kisahnya bisa kita dapatkan dalam Sunan Abu Dawud, di mana riwayatnya diambil dari sahabat Jabir bin Abdillah. Jabir bin Abdillah ini di satu sisi adalah perawi dari hadits yang akan kita bahas, disisi lain Jabir bin Abdillah adalah saksi sejarah dari kejadian tersebut.
Disebutkan kisahnya dalam sebuah riwayat:
خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ
Suatu hari ada sekelompok sahabat bersama-sama sedang melakukan safar keluar daerah.
فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ
Di tengah perjalanannya, salah satu orang di antaranya terkena hantaman batu, sehingga menyebabkan kepalanya terluka parah, keluar darah cukup serius. Maka para sahabatpun memutuskan untuk beristirahat sejenak.
ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ
Di sela-sela istirahat, sahabat yang terluka tadi tertidur kemudian mengalami ihtilam (mimpi basah). Setelah bangun ia bertanya kepada teman-temannya mengenai kondisinya tersebut.
فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ
Apakah ada keringanan untukku supaya bertayammum saja?
Sebagian dari mereka pun menjawab:
فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ
Tidak ada keringanan tayammum untukmu sementara kamu mampu untuk menggunakan air
فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ
Mendengar jawaban tersebut, maka sahabat yang terluka itu mandi besar dan langsung meninggal.
فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِذَلِكَ
Ketika sekelompok sahabat itu sudah selesai safar, mereka menemui Nabiﷺ, memberitahukan tentang kejadian tersebut,
فَقَالَ قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ
Beliau ﷺ bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membalas mereka dengan balasan yang setimpal!”
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui, karena obat dari kebodohan adalah bertanya!
Lalu Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh sahabat tersebut:
إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ أَوْ يَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
“Sesungguhnya cukuplah baginya untuk bertayammum dan meneteskan air pada lukanya atau mengikat lukanya kemudian mengusapnya saja dan mandi untuk selain itu pada seluruh tubuhnya yang lain”.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dari kisah tersebut, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik bersama, di antaranya adalah:
Pertama, Bertanyalah ketika tidak mengetahui suatu perkara
Bertanya terhadap sesuatu yang tidak diketahui bukanlah hal yang memalukan. Bertanya terhadap sesuatu yang tidak diketahui bukanlah hal yang menghinakan dan merendahkan diri, namun justru dengan bertanya terhadap sesuatu yang tidak diketahui, pada hakikatnya sedang melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah ﷻ. Bukankah Allah telah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (Q.S. An-Nahl: 43)
Maka, berbicara tentang otomotif, tentu orang ahli otomotif, orang bengkel adalah rujukannya. Belajar tentang kesehatan, tentu dokter dan ahli kesehatan adalah gurunya. Begitu halnya ketika berbicara tentang agama, maka juga harus ada orang-orang tertentu yang dijadikan sebagai rujukan, sehingga tidak semua orang bebas untuk berbicara tentang permasalahan agama ketika tidak diimbangi oleh kapasitas ilmu yang memadai.
Kita bisa membayangkan ketika ada orang yang tidak pernah belajar tafsir Al-Quran, tidak mengetahui kaidah-kaidah baku dalam menafsirkan Al-Quran, dan ilmu syar’i lainnya, lalu tiba-tiba orang tersebut berbicara ilmu agama dengan bermodal pada pemahamannya yang begitu dangkal, apa yang akan terjadi? Kerusakan, kesalahan, kesesatan itulah jawabannya.
Oleh karenanya, akan sangat berbahaya ketika suatu perkara diserahkan kepada orang yang tidak ahli di bidangnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya” (H.R. Bukhari).
Maka jadikan para ulama sebagai rujukan dalam memahami ilmu agama. Dengan begitu, maka sejatinya kita telah mengikuti tradisi para ulama dalam menimba ilmu dari zaman ke zaman yakni dengan menyambung rantai sanad keilmuan kepada guru, lalu nyambung lagi ke gurunya guru, dan terus begitu hingga tersambung kepada Rasulullah ﷺ.
Kemudian yang kedua, Pentingnya menyadari kapasitas diri kita masing-masing.
Jika kita masih awam, jangan pernah berani untuk menggali hukum lewat pemahaman kita sendiri, berbicara Al-Qur’an dan hadits lewat pemahaman kita sendiri.
Jika kita merasa bukan mufti, jangan pernah berani untuk berfatwa terhadap hal apapun itu. Serahkan semuanya kepada para ulama, karena merekalah yang telah menerima warisan ilmu dari para anbiya alaihimus shalatu wassalam.
Ada satu ungkapan indah yang ingin khatib sampaikan sebagai penutup dari khutbah pertama ini, ungkapan yang disampaikan oleh Khalil ibn Ahmad rahimahullah:
الرجال أربعة: رجل يدري أنه يدري، فذلك العالم فاسألوه؛ ورجل يدري ولا يدري أنه يدري، فذلك الناسي فذكروه؛ ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري، فذلك الجاهل فعلموه؛ ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري، فذلك الأحمق فاجتنبوه.
“Manusia itu ada empat jenis; (1) Seseorang yang tahu dan ia sadar bahwa dirinya orang yang tahu. Ialah orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya). Oleh karena itu, ikutilah ia dan bertanyalah kepadanya. (2) Seseorang yang tidak tahu dan ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang tidak tahu. Ia adalah orang yang awam. Karena itu ajarilah ia. (3) Seseorang yang tahu, tetapi ia tidak sadar bahwa dirinya adalah orang yang tahu (orang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya). Ia sebenarnya orang yang berakal (tetapi lalai). Oleh karena itu, ingatkanlah ia. (4) Seseorang yang tidak tahu, tetapi tidak sadar bahwa ia adalah orang yang tidak tahu. Ia adalah orang yang sok tahu. Berhati-hatilah terhadap dirinya.”
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَ لَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ…
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. . اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Bertanyalah Ketika Tidak Mengetahui