
Dalam semangat beribadah, manusia kadang tergelincir tanpa sadar. Niatnya baik, ingin mendekat kepada Allah, tapi caranya justru membuat hidup timpang. Inilah potret yang terekam jelas dalam kisah persaudaraan antara Salman al-Farisi dan Abu Darda’, dua sahabat besar Rasulullah ﷺ.
Ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat sesuatu yang mengusik nuraninya. Ummu Darda’, istri sahabatnya, tampak tidak terurus. Pakaiannya sederhana, bahkan terkesan diabaikan. Saat ditanya alasannya, ia menjawab jujur: “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak punya kebutuhan terhadap dunia.” Kalimat ini terdengar saleh, tapi sekaligus menyimpan tanda bahaya.
Abu Darda’ dikenal sebagai ahli ibadah. Puasa, qiyamul lail, zikir, semuanya dijalani dengan penuh kesungguhan. Namun Salman melihat ada yang tidak seimbang. Ketika makanan dihidangkan, Abu Darda’ menolak karena sedang berpuasa. Salman bersikeras: “Aku tidak akan makan sampai engkau makan.” Maka Abu Darda’ pun berbuka.
Malampun tiba. Abu Darda’ bangkit untuk salat malam, tapi Salman menahannya: “Tidurlah.” Ia mencoba bangun lagi, dan lagi-lagi Salman berkata: “Tidurlah.” Hingga menjelang subuh, barulah Salman berkata: “Sekarang bangunlah.” Mereka salat bersama, lalu Salman menyampaikan kalimat yang kelak menjadi prinsip besar dalam kehidupan Muslim:
إنَّ لنَفْسِكَ عليكَ حقًّا، ولِرَبِّكَ عليكَ حقًّا، ولِضَيْفِكَ عليكَ حقًّا، وإنَّ لِأهلِكَ عليكَ حقًّا؛ فأَعْطِ كلَّ ذي حقٍّ حقَّهُ
“Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu, Rabb-mu memiliki hak atasmu, tamumu memiliki hak atasmu, dan keluargamu pun memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak akan haknya.”
Ketika mereka berdua datang kepada Nabi ﷺ untuk menceritakan hal tersebut Nabi ﷺbersabda secara tegas:
صَدَقَ سَلمانُ
“Salman benar” (H.R. Bukhari, no. 1968)
Di sinilah Islam menunjukkan wajahnya yang utuh. Ibadah bukanlah sekadar pelarian dari realita kehidupan, tapi cara mengelola kehidupan dengan benar. Ibadah adalah support system bagi realita kehidupan yang dihadapi oleh manusia. Bahkan semua aktivitas kehidupan yang dijalani manusia, jika diniatkan untuk ibadah, maka seluruh aktivitasnya bernilai ibadah. Produktivitas dalam Islam tidak diukur dari seberapa banyak aktivitas dilakukan, melainkan seberapa tepat kita menempatkan waktu dan energi sesuai haknya.
Tubuh perlu istirahat, karena tubuh adalah amanah. Keluarga perlu perhatian, karena mereka bukan penghalang ibadah, tapi bagian darinya. Tamu perlu dimuliakan, karena akhlak adalah cabang iman. Dan tentu saja, Allah Ta’ala memiliki hak terbesar yang tidak boleh dilalaikan.
Kisah Salman dan Abu Darda’ mengajarkan bahwa hidup yang diberkahi bukan hidup yang dipenuhi aktivitas tanpa henti, tetapi hidup yang seimbang. Di situlah ibadah menjadi manusiawi, dan produktivitas menjadi bernilai. Islam tidak mengajarkan kelelahan yang timpang, tapi keseimbangan yang diridhai.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Memberi Setiap Hak pada Waktunya: Pelajaran Keseimbangan dari Salman al-Farisi dan Abu Darda’