
Oleh: Ahla Kembara, B.Sh., MA.
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ؛ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ؛
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا الْيَوْمَ عِيْدَ الأَضْحَى، وَهُوَ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَنَهَانَا عَنْ طَاعَةِ الْهَوَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَّى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا الْمُجْتَبَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى وَعَلَى الِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانِ مِنْ أُولِي النُّهَى، فَيَا عِبَادَ اللهِ تَعَالَى، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى وَرَاقِبُوهُ فِيْ السِّرِّ وَالنَّجْوَى، بِنَاءً عَلَى قَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا؛ أَمَّا بَعْدُ؛
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Pagi yang berbahagia ini, sudah seharusnya kita bersyukur kepada Allah ﷻ atas nikmat agung yang telah Allah berikan kepada kita berupa kesempatan untuk hadir melaksanakan salat Idul Adha sekaligus merayakan Idul Adha yang semarak ini. Sebuah hari raya yang disarikan dari peristiwa monumental yang berulang dan faktual sepanjang sejarah peradaban manusia di muka bumi, dan sarat dengan value (nilai) ibrah (pelajaran) yang relevan sepanjang zaman. Disebut berulang, karena ada dua peristiwa besar yang disebut di dalam al- Quran sebelum datangnya kenabian Rasulullah Muhammad ﷺ. Pertama, peristiwa qurban yang dialami oleh dua putera Nabi Adam ‘alaihissalām, yaitu Qabil dan Habil. Kedua, peristiwa qurban yang dialami oleh Khalīlullah Nabi Ibrahim dan puteranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām. Di antara yang menarik, hari raya umat Islam yang satu ini memiliki beberapa nama, ‘Îdul Adhā, terdiri dari dua kata,’īd yang berarti hari raya, dan adhā dinisbatkan kepada dua makna sekaligus, pertama, adhā yang berarti binatang ternak yang disembelih, dan kedua, adhā yang berarti waktu dhuha. (Lisānul ‘Arab, Ibnu Mandzur, 14/ 477). Disebut ‘Îdul Adhā karena pada hari tersebut dirayakan dengan penyembelihan hewan ternak pada waktu dhuha setelah pelaksanaan salat ‘īd. Disebut juga dengan ‘Îdul Qurbān, ‘īd yang berarti hari raya, dan qurbān yang artinya pendekatan. Disebut demikian, karena penyembelihan hewan pada hari tersebut dilaksanakan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan mendekatkan diri kepada- Nya. Tentu ini sangat berbeda dengan ritual sesaji atau sesajen, Sesaji dipersembahkan kepada makhluk atau setan dari kalangan jin yang sarat dengan kesyirikan dan tidak ada dasarnya sama sekali dari syari’at bahkan bertentangan dengan syari’at. Sedangkan ibadah qurban jelas perintahnya, turun dari Allah ﷻ langsung dan tujuannya jelas sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah ﷻ, sarat dengan nilai- nilai tauhid, penyembelihannya harus didahului dengan menyebut nama Allah, kemudian dibagikan kepada orang banyak agar bisa dikonsumsi. Maka batallah qiyas atau analogi yang didengungkan oleh oknum tertentu yang membolehkan ritual sesaji berdasarkan analogi yang tidak cocok, atau bahasa ushul fiqihnya qiyās ma’al fāriq¸karena hal tersebut diawali dengan logical fallacy¸logika yang rusak. Disebut juga ‘īdul hajji, hari raya haji, karena pada waktu yang sama, ibadah haji dilaksanakan oleh kaum Muslimin di tanah suci.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral mukminin wal mukminat,
Konsep ibadah qurban sebenarnya sudah ada sejak dimulainya peradaban manusia di muka bumi, yaitu ketika Allah ﷻ memerintahkan Nabi Adam ‘alaihissalām agar kedua putranya memberikan persembahan yang ditujukan kepada Allah ﷻ. Mari kita perhatikan firman Allah ﷻ dalam surat al- Maidah ayat 27:
وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkatalah Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.
Ayat tersebut mengisahkan Qabil dan Habil yang merupakan putra Nabi Adam ‘alaihisalām mempersembahkan qurban mereka kepada Allah ﷻ, Qabil yang seorang petani mempersembahkan hasil tanamanya yang paling buruk, sedangkan Habil yang seorang peternak kambing, mempersembahkan kambing terbaik dari jenis kabsyun atau kibas atau domba (kambing Arab yang berbulu tebal, kalau sudah Panjang melingkar atau keriting, berekor lebar, lihat: KBBI). Maka di antara dua qurban tersebut, yang diterima oleh Allah ﷻ adalah qurban milik Habil, yang ditandai dengan adanya api yang turun dari langit menyambar qurban milik Habil. Mengetahui hal tersebut, Qabil yang sejak awal memendam kedengkian kepada Habil, semakin bertambahlah kebenciannya, maka berkatalah Qabil kepada Habil: “Sungguh aku akan membunuhmu”. Maka Habil menjawab: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ, sesungguhnya Allah hanya menerima persembahan tersebut dari orang- -orang bertakwa. (Shafwatu at- Tafāsīr, Muhammad ‘Aly as- Shābūnī, 1/ 312).
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ.
Hadhirin wal hadhirat rahimakumullah,
Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut? Setidaknya ada dua pelajaran: Pertama, perintah untuk mempersembahkan amalan terbaik bagi Allah ﷻ. Jika kita korelasikan dengan konteks ibadah qurban, maka kita tidak bisa dan tidak boleh sembarangan dalam mempersembahkan hewan qurban. Ada kriteria tertentu berkaitan dengan jenis hewan dan keadaannya. Jenis hewan yang boleh dijadikan hewan qurban terbatas pada jenis unta minimal umur 5 tahun memasuki tahun keenam, sapi atau kerbau minimal umur 2 tahun memasuki tahun ketiga, kambing biasa/ kambing jawa/ kambing kacang minimal usia 2 tahun, dan domba/ biri- biri minimal usia 6 bulan atau lebih. (Kifāyatul Akhyār, Taqiyyuddin al- Hishnī asy- Syāfi’ī, 528- 529). Dari segi kesehatan dan fisik, hewan yang akan dijadikan hewan qurban bukan hewan yang rusak dan buta matanya, yang secara fisik tampak terlihat sakit dan berpenyakit, kakinya tampak terlihat pincang, dan badannya kurus tidak berlemak dan tak berdaging. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi ﷺ:
أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى
“Empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan Qurban, yaitu: yang (matanya) jelas-jelas buta, yang (fisiknya) jelas-jelas dalam keadaan sakit, yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan yang (badannya) kurus lagi tak berdaging.” (HR. At-Tirmidzi no. 1417 dan Abu Dawud no. 2420. Status hadits: Hasan Shahih)
Kedua, pelajaran yang bisa diambil dari kisah Qabil dan Habil tersebut tadi adalah perintah beribadah dan berbuat kebaikan haruslah dilandasi dengan takwa. Termasuk yang mencakup nilai- nilai ketakwaan adalah ikhlash dan menjauhi sifat riya’ (pamer). (Tafsīr al- Munīr, Wahbah az-Zuhailī, 6/ 153- 154). Jika pelajaran yang pertama tadi, yaitu mempersembahkan amalan terbaik berkaitan dengan nilai- nilai lahiriah, maka pelajaran yang kedua, yaitu beribadah dilandasi dengan takwa atau ikhlash, maka ini berkaitan dengan nilai- nilai batiniah. Inilah di antara bukti kesempurnaan Islam, bahwa dalam ajarannya mencakup aspek- aspek yang material maupun spiritual. Adanya kriteria tertentu untuk jenis dan keadaan fisik hewan qurban, agar dagingnya bisa dikonsumsi secara layak oleh orang banyak, termasuk bagi orang yang berqurban itu sendiri, sehingga ibadah qurban mencakup aspek individual dan sosial. Tidak hanya itu, ibadah qurban yang dilakukan harus dilandasi dengan takwa dan ikhlash. Bukan dilandasi adu gengsi siapa hewan qurbannya yang paling besar, bukan dilandasi kesombongan dan riya’, iri dengki atau hasad, tapi murni karena takwa, ingin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan mendapatkan keridhoan- Nya. Karena pada hakekatnya, bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tapi ketakwaanlah yang sampai kepada- Nya. Takwa dalam bentuk mengerjakan ibadah qurban dengan ikhlash, mengagungkan Allah dengan mengerjakan perintah- Nya dan menyebut nama- Nya, melawan rasa cinta terhadap harta, melawan sifat kikir dengan berqurban, menumbuhkan sikap peka dan peduli terhadap sesama. Allah tegaskan hal tersebut di dalam surat al- Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Daging- daging hewan qurban dan darahnya itu sekali- kali tidak bisa sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang bisa sampai kepada- Nya. Demikianlah Allah telah menundukkan hewan qurban tersebut untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah- Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ.
Jama’ah salat idul adha yang berbahagia,
Demikianlah pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa qurban yang dikisahkan di dalam Al- Qurān. Pada konteks yang lebih luas, kita harus berani melakukan refleksi diri, apakah selama ini kita berusaha melakukan yang terbaik dalam kehidupan kita? Atau hanya sekadar asal- asalan dan sembarangan, baik itu dalam beribadah maupun dalam bekerja. Marilah kita ingat sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal atau pekerjaan secara sempurna (yang terbaik)”. (H.R. at- Thabrānī, Mu’jam al- Ausath, no. 897, dan al- Baihaqī, Syu’abul Îmān, no. 5312. Hadits Shahīh)
Seorang mukmin sepantasnya melakukan yang terbaik dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berhubungan dengan Allah ﷻ maupun dengan sesama manusia, baik secara lahir dan batin, sehingga amalan atau pekerjaannya tersebut selalu bernilai ibadah, bermanfaat untuk khalayak luas, dan tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ والمسلمات إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمِ؛
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلِّ اْلكُفْرَ وَاْلكَافِرِيْنَ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؛ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Meraih Pahala Terbaik dengan Amalan yang Terbaik