
Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA.
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَعْيَادَ بِالْأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ، وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ الْأُجُوْرِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهُوَ أَحَقُّ مَحْمُوْدٍ وَأَجَلُّ مَشْكُوْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يَشْرَحُ اللهُ لَنَا بِهَا الصُّدُوْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَقَامَ مَنَارَ الإِسْلَامِ بَعْدَ الدُّثُوْرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْ مَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَّرَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡتَـنۡظُرۡ نَـفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ (الحشر: 18)
Ma’asyiral muslimin wal muslimat as’adakumullah,
Hari ini adalah hari kita bersuka cita dan berbahagia atas karunia Allah Ta’ala,
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (Q.S. Yunus ayat 58)
Setelah kita melaksanakan ibadah puasa berikut dengan berbagai ibadah lainnya di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh, Allah panjangkan umur kita untuk merasakan sejuknya udara pagi dan cerahnya hari Idul Fitri 1445 H secara serempak serta diliputi perasaan haru dan gembira. Terharu karena Ramadhan yang seakan baru kemarin datang, tak terasa cepat berlalu, yang kita sendiripun juga belum tahu apakah Ramadhan tahun depan kita masih diberi umur panjang untuk bisa merasakan suasana syahdu dan makmurnya bulan Ramadhan dengan semarak ibadah dan berbagai keberkahan yang ada di dalamnya, mulai dari pahala yang berlipat ganda, menu makanan dan minuman yang melimpah dan mudah dijumpai, serta kebaikan-kebaikan lainnya. Sekaligus kita juga bergembira pada hari Idul Fitri ini, karena inilah momentum di mana kaum Muslimin kembali berbuka dengan makanan dan minuman pada pagi harinya setelah menahan makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari selama satu bulan Ramadhan. Dalam konteks keindonesiaan, kita mengenal tradisi halal bi halal, berkunjung ke orang tua, sanak kerabat, tetangga, teman untuk bersilaturrahmi dan saling bermaafan. Idul Fitri juga sebagai momen kaum Muslimin untuk bersilaturrahmi dan berkumpul dengan sanak saudara dan keluarga besar di kampung halaman dalam suasana yang penuh suka cita. Hal itu dibuktikan dengan animo masyarakat yang tinggi untuk melakukan mudik ke kampung halaman walaupun harus berbaur dengan kemacetan di jalan. Diperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran Idul Fitri 1445 H (2024) ini mencapai 190 juta orang menurut Kementerian Perhubungan (rri.co.id). Inilah di antara sekian kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang usai berpuasa, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah hadits qudsī:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ ، وَفَرْحَةٌ حِيْنَ يَلْقَى رَبَّهُ
“Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya (Allah ﷻ)” (H.R. Bukhari, 7492., Muslim, 1151)
Kebahagiaan kita berbuka sudah kita rasakan sekarang di dunia, saat berbuka puasa ketika waktu maghrib tiba di bulan Ramadhan, dan saat kembali berbuka dengan datangnya Idul Fitri. Tinggal satu kebahagiaan yang masih kita tunggu dan kita harapkan, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala di akhirat kelak oleh sebab pahala puasa yang ia kerjakan dan diterimanya amal ibadah puasanya.
اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat yang berbahagia,
Kalau kita membaca dan menilik kembali sejarah tentang Idul Fitri, maka akan kita temukan bahwa perayaan Idul Fitri disyariatkan pertama kali bagi umat Islam pada tahun ke-2 hijriyah. (Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, at-Talkhīsh al-Habīr, 2/ 188)
Idul Fitri pada waktu itu juga diiringi dengan peristiwa yang bersejarah dan fenomenal, yaitu kemenangan kaum Muslimin di perang Badar setelah mereka berjihad melawan kaum kafir Quraisy di bulan Ramadhan. (Ibnu al- Atsīr, Asadul Ghābah, 1/ 28) (Al-Mubārakfūrī, ar-Rahīq al-Makhtūm, 205)
Maka boleh dikata, Idul Fitri pada waktu itu menjadi simbol kemenangan telak bagi kaum Muslimin. Kemenangan setelah mereka beribadah dan berjihad di bulan Ramadhan, kemenangan saat melawan makar kaum Kuffār.
Idul Fitri secara umum juga menjadi simbol kekhasan kaum Muslimin dan simbol pembeda antara umat Islam dengan umat terdahulu dan umat agama lain yang juga memiliki hari raya. Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik r.a.:
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Kaum Jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain. Ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: Kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (H.R. an-Nasai, 1556)
اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah,
Lantas, bagaimana dengan Idul Fitri kita? Kita sering mendengar ucapan selamat merayakan hari kemenangan ketika momen Idul Fitri. Kemenangan yang seperti apa? Siapa orang yang pantas disebut merayakan kemenangan? Apakah orang yang ibadahnya main-main di bulan Ramadhan pantas disebut ia merayakan kemenangan?! Apakah orang yang tetap bermaksiat saat Ramadhan ia pantas mendapat predikat orang yang menang? Apakah orang yang tidak ada gairah ibadah, tidak ada peningkatan kualitas iman dan akhlak tetap layak disebut orang yang merayakan kemenangan? Apa kemenangan yang sesungguhnya bagi orang beriman setelah mereka melalui bulan Ramadhan?
اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Marilah kita simak dan pahami, sekaligus usai khutbah ‘Ied ini kita berupaya untuk mengaplikasikan atau mengamalkan pesan Allah ﷻ yang terdapat di dalam surat Al Baqarah ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Dari ayat tersebut bisa kita pahami bahwa di antara tujuan besar disyariatkannya puasa adalah untuk mewujudkan ketakwaan. Sehingga bisa disimpulkan, orang-orang yang meraih kemenangan di bulan Ramadhan dan pasca (setelah) Ramadhan adalah orang-orang yang berhasil mencapai derajat takwa. Pertanyannya, Apa kriteria orang yang bertakwa? Kalau kita ingin mengetahui kriteria orang bertakwa, maka cukup kita pahami pengertian sekaligus substansi dari takwa itu sendiri, yakni;
اَلْعَمَلُ بِأَوَامِرِ اللهِ رجاءَ رحمة الله، وَتَرْكُ الْمَنْهِيَّاتِ مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
Mengerjakan perintah-perintah Allah karena mengharap rahmat Allah, dan meninggalkan larangan-larangan karena takut azab Allah
Orang yang bertakwa adalah orang yang melaksanakan semua perintah Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya, serta meninggalkan seluruh larangan Allah karena takut kepada-Nya, sebisa mungkin. Hal ini sejalan dengan perintah Allah ﷻ yang terdapat di dalam surat Al Baqarah ayat 208:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk memegang teguh seluruh nilai- nilai Islam dan syariat-syariatnya, melaksanakan seluruh perintah Allah, dan meninggalkan segala larangan-Nya, semampu mungkin (Tafsir Ibu Katsir, 1/ 566). Sehingga ajaran agama bisa kita laksanakan secara kaffah atau menyeluruh (utuh) dan tidak setengah-setengah. Karena Islam mengatur urusan yang terbesar sampai urusan yang terkecil sekalipun.
Ayat 208 surat Al Baqarah tadi harus menjadi alarm atau pengingat bagi kita semuanya sebagai muslim. Karena realita yang terjadi di masyarakat kita, adanya fenomena menjalankan perintah agama tidak utuh dan pilih-pilih berdasarkan selera dan hawa nafsu, dan masih suka menerjang larangan-larangan Allah ﷻ. Jika ada syariat Islam yang menguntungkan dirinya, atau sesuai dengan hawa nafsunya, itu yang diterima dan diamalkan. Namun jika tidak menguntungkan, tidak sesuai dengan hawa nafsunya, akan ditolaknya, atau ditinggalkan, atau tidak dilaksanakan, bahkan yang lebih fatal jika hukum atau syariat tersebut diingkari. Maka muncul fenomena orang yang mengaku beragama Islam tapi enggan melaksanakan sholat dan puasa Ramadhan, mengaku beragama Islam tapi enggan berpakaian yang menutup aurat secara sempurna, khususnya di kalangan wanita yang beragama Islam, mengaku penguasa dan pejabat yang beragama Islam, tetapi dalam membuat peraturan perundang-undangan dan keputusan, tidak mau menerapkan hukum Allah secara utuh, yang jelas-jelas telah Allah firmankan di dalam Al Quran dan Nabi sabdakan di dalam haditsnya, mengaku Islam tapi tidak percaya diri dengan prinsip dan ajaran Islam itu sendiri, maka muncul kalangan intelektual dan akademisi yang mengaku beragama Islam tetapi pemahaman Islamnya mengikuti cara pandang orientalis yang berusaha menyesatkan orang lain dari ajaran Islam yang sebenarnya dengan dalih kebebasan berpikir, inilah di antara pemicu munculnya generasi muda, baik dari kalangan mahasiswa atau pelajar yang abai terhadap aturan Islam, dan menjadi generasi yang menuhankan hawa nafsunya.
Orang-orang yang enggan untuk taat terhadap aturan yang Allah tetapkan dan aturan yang disampaikan oleh Rasul-Nya bahkan menolaknya, pada dasarnya mereka adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya semata, Allah ﷻ secara tegas katakan;
فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا۟ لَكَ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Maka jika mereka tidak menjawab (ajakanmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”(Q.S. al-Qashash ayat 50)
Di dalam ayat ini mengandung pelajaran bahwa tidak ada yang lebih sesat dari orang yang mengikuti hawa nafsunya. Kenapa dikatakan paling sesat? karena ketika ditawarkan kepadanya petunjuk dan jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah dan Jannah (syurga), dia tidak menghiraukannya dan tidak pula mendatanginya, sedangkan ketika dibujuk oleh hawa nafsunya untuk menelurusi jalan-jalan yang dapat menjerumuskan kepada kebinasaan dan kesengsaraan, maka dia pun mengikutinya dan meninggalkan petunjuk yang benar. Maka apakah ada seseorang yang lebih sesat daripada orang yang seperti itu karakternya? (Tafsir as-Sa’di, surat Al Qashash ayat 50, hal. 725.)
اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، اَللهُ أكبر، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah,
Pada dasarnya, kita adalah manusia yang memiliki potensi berbuat salah dan dosa, sedangkan tidak ada solusi lain bagi orang yang berbuat dosa kecuali dengan bertaubat, memperbaiki diri, serta memantaskan diri agar termasuk kategori orang-orang yang bertakwa. Itulah perintah Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Q.S. An Nur ayat 31)
Rasulullah ﷺ juga berpesan:
كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ ، وخيرُ الخطَّائينَ التَّوَّابونَ
“Setiap anak Adam (manusia) pasti berbuat salah (dosa), dan sebaik-baiknya orang yang bersalah (berdosa) adalah orang yang bertaubat” (H.R. at-Tirmidzi, 2499)
Maka kemenangan yang sesungguhnya adalah, ketika kita berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pribadi sekaligus masyarakat yang bertakwa, dengan melaksanakan seluruh perintah Allah baik demi mengharap ridho dan rahmat Allah dan menjauhi segala larangan-Nya karena takut akan azab-Nya yang pedih.
Allah Ta’ala tegaskan melalui firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S. Al-A’raf ayat 96)
Maka segarang apapun negara, sekeren apapun visinya, sekaya apapun sumber daya alamnya, jika sumber daya manusianya tidak dibentuk dan diberdayakan di atas landasan iman dan takwa, mustahil negara dan bangsa tersebut bisa makmur dan sejahtera secara menyeluruh.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيّاكُم مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ…
وَاعْلَمُوْا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ! إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.؛ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَة؛ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا؛ .رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Meraih Kemenangan yang Sesungguhnya