
Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., M.S.I.
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ؛ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ؛
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ عِيْدَ الْأَضْحٰى يَوْمَ التَّقَرُّبِ وَالسُّرُورِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي تَفَضَّلَ في هذِه الأيَّامِ العَشْرِ علَى كلِّ عبدٍ شَكُورٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِإِخْرَاجِ النَّاسِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلٰى نَهْجِهِ إِلٰى يَوْمِ البَعْثِ وَالنُّشُوْرِ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحُضُوْرُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْ السِّرِّ وَالظُّهُوْرِ ! حَيْثُ قَالَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَحَبْلِهِ الْمَتِيْنِ: {وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ} [البقرة: 194]؛ أَمَّا بَعْدُ؛
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Bersyukur kita kepada Allah Ta’ala atas rahmat dan taufik-Nya, pada pagi hari ini 10 Dzuhijjah 1445 H (berdasarkan matla’ hilal 1 Dzulhijjah di Indonesia), umat Islam di Indonesia merayakan Idul Adha secara serentak. Sejak tadi malam takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang, kemudian berlanjut pada pagi yang sejuk ini muslimin-muslimat berbondong-bondong ke tempat sholat Idul Adha untuk melaksanakan sholat Idul Adha, dan mendengarkan khutbah ‘Ied, dan selepas itu, kaum muslimin akan melanjutkan ibadah penyembelihan hewan kurban. Semua ibadah yang tersebut tadi, kita laksanakan sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Ta’ala dan bertauhid mengesakan Allah sekaligus memenuhi panggilan Allah untuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah Ta’ala sesuai dengan kemampuan kita saat ini, selaku hamba Allah Ta’ala yang belum mampu atau tidak melaksanakan ibadah haji.
Di belahan bumi yang lain, di Tanah Suci al Haram Makkah al Mukarramah, kaum Muslimin sedang melaksanakan ibadah haji. Mereka dengan pakaian ihram yang melekat di badannya, berasal dari berbagai belahan dunia, datang dengan latar belakang suku, bangsa, ras, warna kulit, budaya dan strata sosial yang berbeda-beda. Namun, mereka memiliki kedudukan yang sama, yaitu sebagai hamba Allah, dan memiliki tujuan yang sama, yakni memenuhi panggilan Allah Ta’ala untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan mentauhidkan Allah Ta’ala.
Deskripsi kehidupan kaum muslimin ini, memberikan gambaran interelasi yang kuat antara orang Islam yang menunaikan ibadah haji, dengan orang Islam yang tidak pergi ke Tanah Suci dan Baitullah. Karena pada hakekatnya, kita melaksanakan sholat Idul Adha dan ibadah qurban di sini sebagai bentuk ibadah untuk memenuhi perintah Allah Ta’ala.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Berbicara tentang peristiwa Idul Adha maka tidak bisa dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Nabi Ibrahim termasuk rasul Ulul ‘Azmi, yaitu rasul (utusan Allah) yang memiliki kekuatan, keteguhan, dan kesabaran yang luar biasa dalam urusan agama. (Tafsīr Ahmad Huṭaibah, 416/5)
Di antara sekian banyak ayat dan surat di dalam Al Quran yang berisi tentang sejarah kehidupan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalām, ada satu surat yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang berkisah tentang perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Dan di antara kisah-kisah tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan momen Idul Adha yang kita rayakan hari ini.
Perlu kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalām adalah rasul yang diuji oleh Allah dalam dua aspek, dari aspek kehidupan sosial, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalām diuji oleh Allah dengan kondisi kaumnya yang bebal, tidak mau diajak ke jalan yang benar untuk mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya. Dari aspek kehidupan internal keluarga, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām diuji oleh Allah dengan lamanya masa penantian untuk memiliki keturunan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sampai umur 86 tahun belum dikaruniai anak. Tetapi dengan kesabarannya yang tinggi dan doa tulusnya, Allah mengabulkan doa beliau dengan mengahadirkan Ismail ‘alaihissalām. (Da’wah ar-Rusul, Ahmad Ghalūsh, 174).
Disebutkan di dalam surat as-Shaffāt ayat yang ke-100, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām berdoa:
رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
Ketika Nabi Ibrahim a.s. sudah skeptis terhadap kaumnya karena beliau tidak melihat adanya iktikad baik pada mereka, maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalnya. (Taisīr al-Karīm ar-Rahmān, as-Sa’dī, 705). Maka Allah kabulkan doa tersebut sebagaimana Allah berfirman di ayat selanjutnya, 101:
فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat santun.
Apa pelajaran yang harus kita ambil dan perhatikan? Pertama,pentingnya kemampuan untuk bersabar. Kedua,pentingnya keturunan yang saleh, yang membawa kebaikan di dunia dan akherat. Maka semestinya sebagai orang tua, orientasi memiliki keturunan bukan sekadar berharap anaknya kelak sukses dan kaya secara duniawi, tapi juga bisa menjadi penolong bagi orang tuanya kelak saat hidup di dunia maupun ketika sudah meninggal.
Nabi Ibrahim adalah seorang visioner. Ia memiliki harapan tinggi memiliki keturunan yang bisa menolong perjuangan dakwahnya, menyeru manusia kepada tauhid, menyeru manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan menebar kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Karena apabila orientasi yang dimiliki orang tua sudah salah dan keliru dalam cara mendidik, maka bukan kebaikan dan kebermanfaatan yang didapatkan, justru bisa berubah menjadi musibah.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah
Berlanjut ke ayat 102 surat as Shaffat, dan inilah ayat yang memiliki aspek historis dan relevansi kuat dengan momen tahunan umat Islam yang bernilai ibadah dan merupakan syi’ar, yakni Idul Adha. Di dalam ayat tersebut Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Ketika Ibrahim a.s. merasakan kebahagiaan atas hadirnya sang putera Ismail a.s., sampai sang putera tumbuh berkembang menjadi pemuda, telah nampak kebaikan dan manfaatnya, tiba- tiba Allah memberikan ujian lagi bagi Nabi Ibrahim a.s. lewat mimpi untuk menyembelih putera tercintanya, Ismail a.s.
Tapi Ibrahim a.s. bukanlah hamba Allah yang terlena dalam euforia kebahagiaan. Ketika datang perintah dari Allah, maka beliau sigap, mengambil sikap sami’nā wa aṭa’nā, kami mendengar dan kami taat, walaupun itu sesuatu yang berat. Mimpi bagi seorang Nabi adalah wahyu. Tetapi ada yang unik jama’ah sekalian, Ibrahim a.s. tidak lantas secara sepihak langsung menyembelih Ismail a.s. Namun, ia menceritakan kronologi perintah penyembelihan terlebih dulu kepada anaknya dan meminta pendapat sang anak,
قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”
Apa pelajaran yang bisa diambil? Pentingnya membangun pola komunikasi yang baik antar orang tua dan anak. Sehingga apa yang saling disampaikan oleh antar anggota keluarga, bisa diterima dan dipahami dengan baik.
Setelah Nabi Ibrahim menceritakan kronologi perintah penyembelihan dan meminta pendapat Ismail ‘alaihissalām, apa jawaban Ismail?
قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Mari kita lihat ketaatan dan kepatuhan paripurna kepada Allah yang dipraktikkan oleh keluarga Ibrahim ‘alaihissalām . Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalām. mereka rela dan ridha menyanggupi perintah penyembelihan tersebut. Ibrahim adalah sosok ayah yang taat kepada Allah dan bijaksana terhadap anaknya, sedangkan Ismail adalah sosok anak yang taat kepada Allah dan orang tuanya.
Sebagaimana pula sayyidah Hajar a.s. (istri Nabi Ibrahim a.s.) ketika ditinggal oleh Ibrahim ‘alaihissalām, sendirian bersama Ismail yang masih kecil di sebuah lembah kering, tandus, tak ada mata air dan tanaman. Dikisahkan dalam sebuah riwayat:
آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ : نَعَمْ قَالَتْ : إِذًا لاَ يُضَيِّعَنَا
“Apakah Allah yang menyuruhmu untuk ini (meninggalkan istri dan anak)?” Ibrahim menjawab, “Iya.” Istrinya berkata, “Kalau begitu, Allah tidak mungkin menelantarkan kami di lembah ini.” (HR. Al-Baihaqi, 5/ 98)
Ini menjadi pelajaran pula bagi para laki-laki untuk mempertimbangkan aspek kesalehan wanita ketika mencari istri, bukan sekadar karena kecantikan, nasab dan status sosialnya, dan menjadi pelajaran bagi perempauan agar mereka berusaha dan belajar menjadi wanita salehah.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah
Ayat selanjutnnya yaitu, ayat 103- 107 pada surat as Shaffat, Allah melanjutkan kronologi penyembelihan tersebut tadi:
فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ (103) وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah).(103) Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! (104) Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106) Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar (107)
Walaupun pada awalnya, perintahnya adalah menyembelih Ismail, tapi saat Ibrahim sudah membaringkan Ismail dalam kondisi siap disembelih, tiba- tiba Allah bebaskan dan selamatkan Ismail dari penyembelihan dan Allah ganti dengan seekor Kambing yang besar sebagai tebusannya. (Tafsīr al-Madīnah al-Munawwarah, 2/382). Maka dari peristiwa itulah, diperingatilah sebagai hari Idul Adha, dengan menyembelih binatang kurban sebagai syiar ibadah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala, dan mengingat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalām.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah
Sebagai pesan penutup, apa hikmah perintah awal untuk menyembelih Ismail a.s? Kemudian apa pelajaran dari pada pergantian dan penebusan Ismail a.s. dengan seekor binatang sembelihan yang berupa Kambing tadi?
Pertama, betapapun cinta dan sayangnya seorang ayah kepada anaknya, maka cinta yang paling tinggi dan mutlak hanya layak dipersembahkan untuk Allah semata. Rasa cinta dan ridha kepada Allah harus lebih besar dari segalanya, entah itu anak, istri, keluarga, harta, materi, atau yang lainnya. Cinta kepada Allah juga harus dibuktikan lewat pengorbanan dan perbuatan yang konkrit, bukan sekadar lisan, walaupun ia harus mengorbankan sesuatu yang ia cintai dan sukai. Sebagaimana Ibrahim harus rela mengorbankan Ismail demi melaksanakan perintah Allah untuk menggapai ridha-Nya.
Kedua, digantinya Ismail dengan hewan tebusan sebenarnya menjadi pesan betapa berharga dan terhormatnya nyawa dan kehidupan manusia. Maka haram hukumnya menumpahkan darah orang lain (membunuh) tanpa alasan yang dibenarkan syari’at. Haram pula melakukan kesewenang- wenangan sehingga mengorbankan orang lain. Dari peristiwa penebusan Ismail a.s. tadi, kita tahu bahwa berkurban hanyalah dengan cara menyembelih hewan sembelihan, yang dikenal dengan sebutan bahīmatul an’ām, yakni berkurban dengan unta, sapi, dan kambing atau domba, bukan manusia, dan penyembelihan itu dilakukan karena Allah, serta manfaatnya kembali kepada manusia itu sendiri, sebagai contoh daging hewan kurban bisa dikonsumsi oleh orang yang berkurban dan sebagian dagingnya dibagikan kepada orang lain sehingga bermanfaat. (alukah.net, Dr. Shailān Muhammad ‘Alī al-Qardāghī, dengan perubahan redaksi)
Ketiga, penyembelihan binatang kurban pada perayaan Idul Adha hendaknya juga menjadi momentum bagi kita saat ini dan yang akan datang untuk menyembelih nafsu kebinatangan yang ada pada diri kita selaku manusia. Karena antara manusia dan binatang memiliki irisan kesamaan sekaligus perbedaan yang tipis. Maka tidak heran jika dalam ilmu Mantiq dikenal dengan ungkapan:
اَلْإِنْسَانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ
“Manusia adalah hewan yang berbicara”
Kata حَيَوَانٌ sebenarnya berasal dari kata حَيَاةٌ yang berarti hidup (kehidupan). Manusia dan hewan adalah makhluk hidup, sama -sama memiliki nafsu. Tetapi keduanya memiliki perbedaan, manusia memiliki akal, sedangkan hewan tidak. Manusia memiliki kemampuan untuk berbicara dengan jelas, sedangkan hewan tidak memilikinya. Tetapi manusia derajatnya bisa rendah seperti hewan atau bahkan lebih hina dari hewan, ketika manusia tidak bisa menggunakan akalnya dengan benar, kehilangan hati nurani, dan dikuasai oleh hawa nafsunya. Benarlah jika Allah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.S. Al A’raf ayat 179)
Mereka mempunyai hati tetapi tidak mau menggunakannya untuk memahami apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya bagi mereka. Mereka mempunyai mata tetapi mereka tidak mau menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di di dalam diri mereka dan yang ada di alam semesta untuk dijadikan sebagai pelajaran. Dan mereka mempunyai telinga tetapi mereka tidak mau menggunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah kemudian merenungkan apa yang terkandung di dalamnya. Mereka itu seperti binatang ternak yang tidak mempunyai akal, bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak (Al Mukhtashar fī Tafsīr, hal. 200)
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral mukminin wal mukminat rahimakumullah,
Demikian ‘ibrah dari perayaan Idul Adha yang bisa kita petik, untuk kita tanamkan dan terapkan pada diri, keluarga, dan masyarakat. Semoga usaha dan ibadah kita semuanya diberikan taufik dan diterima oleh Allah Ta’ala. Aamiin.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيّاكُم مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلِّ اْلكُفْرَ وَاْلكَافِرِيْنَ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؛ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Idul Qurban: Hari Raya yang Penuh dengan Pelajaran