
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَأَمَرَهُ بِٱلسَّيْرِ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ؛ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، المَلِكُ الْحَقُّ المُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنُ؛ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ؛ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ٱللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ ٱلْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ ٱللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَٱلْآخِرِينَ؛ فَقَالَ: وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِینَ (البقرة: 194)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di tengah realitas yang memprihatinkan. Teknologi semakin maju, tapi akhlak semakin mundur. Informasi melimpah, tapi hikmah menghilang. Pembangunan fisik menjulang, tapi kerusakan moral semakin dalam. Infrastruktur dibangun megah, tetapi kejahatan semakin menjamur. Hampir setiap hari kita disuguhkan fenomena yang membuat hati merasa miris. Di antara fenomena memprihatinkan yang terjadi di tengah masyarakat kita adalah;
Dosa dianggap hiburan. Zina dianggap cinta. Musik yang diputar semakin keras dan mengganggu orang lain justru dibanggakan. Contoh realistisnya, akhir-akhir ini melalui jagad sosial media, kita dihebohkan oleh fenomena sound horeg, istilah yang merujuk pada sistem audio berdaya tinggi, yang sering digunakan dalam acara-acara informal seperti hajatan, pawai, karnaval, atau acara komunitas. Ciri khasnya adalah suara bass yang sangat keras, musik remix, dan sering dibawa keliling dengan kendaraan seperti pick-up atau truk. Istilah “horeg” berasal dari bahasa Jawa yang artinya bergetar atau bergerak, yang mengacu pada getaran suara yang sangat besar dan ekstrim, bahkan mampu merusak bangunan-bangunan yang dilewati, serta berdampak negatif terhadap kesehatan (seperti gangguan pendengaran, jantung) dan menimbulkan polusi suara. Tidak jarang sound horeg dijadikan ajang mabuk, joget vulgar, dan pergaulan bebas dengan dalih “hiburan masyarakat”, “kebebasan ekspresi”, “menghidupkan UMKM”, atau “budaya lokal” seolah-olah itu adalah perbuatan yang wajar dan normal, padahal dalih yang tersebut tadi sangat menyesatkan. Lebih ironis lagi, fenomena sound horeg oleh lembaga resmi negara yang memiliki otoritas dianggap layak mendapat hak kekayaan intelektual. Sekali lagi ma’asyiral musimin rahimakumullah, kebodohan dan kekacauan benar-benar dipertontonkan dan dilestarikan di tengah-tengah masyarakat yang mendambakan kehidupan yang aman dan nyaman, bahkan oleh lembaga resmi negara. Fenomena ini bukan sekadar soal volume suara. Ia mencerminkan krisis akhlak, ketidakpekaan sosial, dan kebebasan yang kebablasan. Masyarakat yang berada di Jakarta, ataupun di wilayah Jabodetabek tidak merasakan dampak negatifnya secara langsung. Tetapi saudara-saudara kita di wilayah Jawa Timur dan sebagian wilayah Jawa Tengah, mereka merasakan langsung dampak buruk ”sound horeg”. Oleh karenanya sebelum perilaku buruk dan kemaksiatan tersebut semakin menjamur dan mewabah ke berbagai wilayah, harus diantisipasi dan dicegah sejak dini. Nabi ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus benar-benar menyuruh kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari yang munkar (buruk), atau sangat mungkin Allah akan menurunkan kepada kalian azab dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun doa kalian tidak dikabulkan.” (H.R. At-Tirmidzi, 2169, Ahmad, 23301, Al Baihaqi, 20224)
Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,
Fenomena yang membuat miris selanjutnya adalah;
Kita hidup di zaman ketika banyak manusia terlihat aktif, tetapi hatinya pasif. Mereka sibuk dengan aktivitas dunia, tetapi kehilangan rasa iba. Mereka tahu bahwa manusia itu saudara, namun memalingkan wajah saat saudaranya mengalami kesusahan. Hati yang keras adalah tanda tanda kehancuran jiwa. Allah ﷻ berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ
“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…” (QS. Al-Baqarah: 74)
Hati yang keras adalah hati yang tidak bisa disentuh oleh nasihat, tidak tergugah oleh tangisan, tidak terdorong oleh penderitaan. Ia bisa melihat kezaliman, tapi diam. Ia bisa melihat saudara terinjak, tapi memilih acuh. Kemudian lunturnya empati adalah tanda lemahnya iman. Padahal Nabi ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari, 13, Muslim, 45, An Nasa’i, 5017)
Hari ini musibah, kejahatan, dan jeritan penderitaan dianggap biasa, bahkan hanya jadi tontonan, sekadar direkam lewat video, dan sebatas dijadikan konten. Mari kita ingat sabda Nabi ﷺ:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (H.R. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Bahkan dalam riwayat lain dikatakan,
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (H.R. At-Thabrani, 907)
Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kemudian fenomena yang memprihatinkan selanjutnya adalah,
Hari ini, kita hidup di tengah zaman yang penuh perubahan, namun salah satu perubahan yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya rasa malu dan lunturnya adab dalam masyarakat. Aurat diumbar, zina dipertontonkan, konten vulgar dijadikan candaan. Ulama dihina, syariat Islam ditertawakan, fatwa haram terhadap kemungkaran menjadi bahan olok-olokan.
Malu adalah mahkota iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
الحياءُ شُعبةٌ مِنَ الإيمان
“Malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari, 9., Muslim, 35)
Zaman ini, rasa malu dianggap kelemahan, sedangkan perilaku tidak tahu malu malah dipuji sebagai keberanian. Perempuan kehilangan rasa malu dalam berpakaian dan pergaulan. Para tokoh dan pejabat kehilangan adab dalam berbicara di depan umum. Media sosial menjadi ladang mempertontonkan aib dan kebodohan.
Ada satu warning dari Rasulullah ﷺ :
إِذَا لَمْ تَسْتَحْي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari, 6120)
Tentu ini bukan dimaknai anjuran, tapi peringatan. Maka maksud dari hadits tersebut adalah; “Jika tak punya malu, berbuatlah semaumu, karena kamu pasti akan menanggung konsekuensi dan hukumannya”. Jika rasa malu sudah hilang, tidak ada lagi rem moral dalam jiwa manusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di tengah realitas yang pelik dan memprihatinkan ini, kita tidak boleh putus asa. Justru di sinilah kita diuji: apakah kita akan menjadi bagian dari kerusakan, pembela kerusakan dan pengusungnya, atau menjadi bagian dari solusi perbaikan. Sudah seharusnya dan inilah saatnya, mari kita bangun kesadaran kolektif, keberanian bersama, dan kesatuan yang solid dalam kebenaran dan kebaikan. Sampai kapan kebenaran dan kebaikan terus mengalah?! Kita mulai perbaikan dari diri sendiri dan keluarga. Kita tegakkan amar ma’ruf nahi munkar mulai dari lingkungan kita sendiri dengan strategi. Kita perkuat kapasitas kita dengan adab dan ilmu, kita bangun hubungan yang baik dengan orang-orang saleh, orang-orang berintegritas, dan orang-orang yang punya kepekaan sosial dan kepedulian, serta bisa saling menguatkan.
بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم, ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ فاستغفروه إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ؛ أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Fenomena di Tengah Masyarakat Zaman Modern yang Semakin Memprihatinkan