
Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughawi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah IAI Al Ghurabaa Rawamangun Jakarta)
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبفضله تتنزل الخيرات والبركات وبتوفيقه تتحقق المقاصد والغايات؛ وأشهد أن لا إله إلا الله ذو العرش رفيع الدرجات وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله المعصوم من كل الشهوات. اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على أكمل المخلوقات. عدد ما في الكون من معلومات، ومداد ما خطه القلم من كلمات؛ أما بعد، فيا عباد الله! اتقوا الله ما استطعتم؛ فقَالَ تَعَالَى فِيْ القرآن الكريم: يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Dalam suatu survei yang dilakukan oleh GoBankingRates (sebuah lembaga keuangan global yang berkedudukan di Amerika Serikat), menunjukkan bahwa 82% milenial, memiliki gaya hidup yang boros dengan menghamburkan uang untuk hal- hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika kita mengamati kondisi sekarang ini, baik melalui media sosial maupun pengamatan langsung secara faktual dan aktual, kita menemukan fenomena life style (gaya hidup) yang cenderung individualis, konsumtif, dan materialistis. Fenomena tersebut secara global membuktikan bahwa virus hedonisme mulai mewabah di kalangan masyarakat. Apa itu hedonisme? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Fenomena ini semakin parah dengan hadirnya berbagai konten yang ada di media sosial yang memperlihatkan dan memamerkan kemewahan, keglamoran, dan berfoya- foya. Istilah kekiniannya adalah flexing (pamer kekayaan dan keglamoran). Padahal Allahﷻ telah menyatakan secara tegas dan lugas, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan mengandung unsur kesenangan yang menipu,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. al- Hadīd ayat 20)
Ma’asyiral mukminin, Allahﷻ telah memberikan peringatan, sebagaimana tersurat di dalam al- Qur’an, surat Hud ayat 116:
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu, orang- orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami (Allah) selamatkan di antara mereka. Dan orang- orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa” (Q.S. Hud: 116)
Ada korelasi antara kezaliman, sikap yang hanya mementingkan hidup glamor (bermewah- mewahan), dan dosa. Ayat tersebut seakan memberikan peringatan bahwa hidup yang hanya mementingkan keglamoran, bermewah- mewahan, berfoya- foya, itu bisa membawa kerusakan dan mengantarkan kepada perbuatan zalim, dan perbuatan zalim itu menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa. Singkatnya, hedonisme membawa dampak buruk bagi tatanan kehidupan.
Apa saja dampak buruk dari budaya hedonis?
Pertama, Individualistik. Yaitu sikap semau gue, menganggap dirinya berhak melakukan apapun dengan sebebas- bebasnya, dan tidak memiliki kepekaan sosial. Sebagai contoh; di era digital ini, ada orang yang beranggapan ia berhak membuat, memposting dan menayangkan konten apapun, termasuk konten- konten yang mengarah kepada tindakan asusila. Padahal, konten negatif tersebut bisa saja memengaruhi masyarakat, termasuk anak kecil dan remaja untuk melakukan perbuatan yang melanggar norma agama maupun norma sosial. Rasulullah ﷺ memberikan warning tentang fenomena tersebut:
ما ظهرَ في قومٍ الزِّنا والرِّبا؛ إلَّا أحلُّوا بأنفسِهِم عقَاب اللهِ
“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu telah tampak secara terang-terangan di suatu kaum, kecuali mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka sendiri.” (H.R. Abu Ya’la, No. 6581., Majma’ az- Zawāid wa Manba’ al- Fawāid)
Kedua, Konsumtif atau boros. Perilaku hedonis cenderung kepada pemborosan, karena menghamburkan uang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan dan didorong oleh rasa gengsi dan ingin pamer, ada yang menghamburkan uang untuk bermaksiat. Allah ﷻ melarang perilaku boros, bahkan Allah menyebutkan orang yang boros termasuk saudara setan, karena perilaku boros adalah bagian dari godaan setan, sebagaimana termaktub dalan surat Al- Isra’ ayat 26 dan 27:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ﴿26﴾ إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا (27)
“Dan janganlah kamu menghambur- hamburkan hartamu secara boros (26) Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara- saudara setan. Dan setan itu ingkar kepada Tuhannya”
Ketiga, Rentan terjadi kejahatan. Zaman ini kita menyaksikan sebagian orang yang ingin mencapai kesenangan dan kemewahan duniawi secara instan dengan berbagai cara, tidak peduli apakah itu halal atau haram, merugikan orang lain ataukah tidak. Di dalam al- Qur’an, surat al- Baqarah ayat 188, Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.
Ayat tersebut di atas mengandung larangan memakan harta di antara sesama umat manusia dengan jalan yang batil seperti dengan cara korupsi, menipu, ataupun merampok, dan larangan menyuap dengan harta itu kepada para hakim (pihak penguasa atau pihak berwenang) untuk bisa melegalkan perbuatan jahat dengan maksud agar dapat memakan, menggunakan, memiliki, dan menguasai sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa karena melanggar ketentuan Allah, padahal pelakunya sendiri mengetahui bahwa perbuatan itu diharamkan Allah. (Lihat: Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan sedikit perubahan redaksi)
Keempat, Kesombongan. Perilaku hedonis bisa menjerumuskan seseorang kepada sikap sombong, merasa berada dalam strata sosial yang tinggi dan merasa bisa melakukan apapun dengan harta, materi, uang yang ia miliki. Sikap superior seperti ini menyerupai cara pandang dan sikap iblis. Perasaan superior Iblis ini dikisahkan oleh Allah dalam surat Shād ayat 75- 76:
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿75﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ ﴿76
Allah berfirman, “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Apabila hedonisme diibaratkan virus yang mewabah, maka sebagai orang beriman kita harus memiliki imunitas agar tidak terpengaruh. Di antara langkah- langkah yang harus dilakukan agar terhindar dan atau sembuh dari perilaku hedonisme adalah sebagai berikut:
Pertama, Banyak mengingat kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ: الْمَوْتَ
”Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (H.R. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, No. 2993., 7/ 260.)
Mengingat kematian dalam hal ini bukan bertujuan untuk melemahkan semangat dalam bekerja atau berusaha, tetapi menjadi peringatan agar seseorang bisa lebih berhati- hati dalam bertindak dan berperilaku. Sehingga tidak terjerumus ke dalam hal- hal yang tidak pantas dan diharamkan oleh agama.
Kedua, Banyak bersyukur dengan sesuatu yang kita miliki saat ini, dan jangan mudah tergiur dengan materi atau kekayaan yang dimiliki oleh orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan jangan melihat orang yang berada di atasmu (dalam masalah harta dan dunia), karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu,” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dalam hadits ini; memandang orang yang keadaan ekonominya lebih rendah, bukan bertujuan untuk menyombongkan diri dan meremehkan orang lain, tetapi membina pribadi seseorang untuk pandai bersyukur dan merasa cukup (qona’ah) dengan nikmat yang diberikan Allah atau materi yang ia miliki. Mengingat, masih banyak orang yang bisa jadi lebih susah.
Ketiga, Menjauhi komunitas yang bergaya hidup hedonis. Menjauhi di sini bisa dengan dua bentuk: (1) Tidak berteman akrab dan menjaga jarak dari orang yang bergaya hedonis. (2) Menghindari tayangan- tayangan di media sosial yang memperlihatkan dan memamerkan arogansi kemewahan dan keglamoran. Rasulullah ﷺ bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya. Maka, kalian hendaknya memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat.”(H.R. Abu Dawud, 4833)
Semoga Allah ﷻ menjauhkan kita dari perilaku hedonis
بارك الله لي ولكم واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين فإن الله هو الغفور الرحيم
Khutbah II
الحمد لله و كفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، فيا عباد الله! اتقوا الله ما استطعتم في السر والعلن، واعلموا أن الله وملائكته يصلون على النبي، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Waspada Perilaku Hedonis !