
اَلْحَمْدُ للهِ أَمَرَ عِبَادَه بِطَاعَتِه, وَنَهَاهُم عَنْ مَعْصِيَتِه, ورتَّب على ذلك الجزاء يوم القيامة, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين إلى يوم القيامة؛ أما بعد: فاتقوا الله أيها المؤمنون, وأطيعوا ربكم تفلحوا وتفوزوا بجنةٍ عرضها السماوات والأرض, قال تعالى: (وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ) [آل عمران: 133]؛
Ma’asyiral muslimin rahimakumulah,
Iman seorang mukmin bertambah dengan beramal shaleh dan meninggalkan dosa, sebagaimana keimanannya melemah karena tidak beramal shaleh dan terjerumus pada hal-hal yang haram. Manusia bertingkat-tingkat keimanannya, di antara mereka ada yang imannya kuat, dan ada pula yang imannya lemah. Dan seorang mukmin yang kuat imannya lebih dicintai oleh Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik, dan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing dari mereka ada kebaikannya” (H.R. Muslim, 2664)
Imam Nawawi -rahimahullah- menjelaskan hadits tersebut di atas:
الْمُرَادُ بِالْقُوَّةِ هُنَا عَزِيمَةُ النَّفْسِ وَالْقَرِيحَةُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ، فَيَكُونُ صَاحِبُ هَذَا الْوَصْفِ أَكْثَرَ إِقْدَامًا عَلَى الْعَدُوِّ فِي الْجِهَادِ وَأَسْرَعَ خُرُوجًا إِلَيْهِ وَذَهَابًا فِي طَلَبِهِ وَأَشَدَّ عَزِيمَةً فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالصَّبْرِ عَلَى الْأَذَى فِي كُلِّ ذَلِكَ وَاحْتِمَالِ الْمَشَاقِّ فِي ذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَرْغَبَ فِي الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْأَذْكَارِ وَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ وَأَنْشَطَ طَلَبًا لَهَا وَمُحَافَظَةً عَلَيْهَا وَنَحْوَ ذَلِكَ
“Yang dimaksud dengan kuat di sini adalah keteguhan jiwa dan keteguhan hati dalam urusan akhirat, sehingga orang yang mempunyai sifat tersebut akan lebih berani dari musuhnya dalam rangka jihad, dan dia bergegas keluar dan mencarinya, dan keberaniannya lebih kuat dalam amar ma’ruf (menyuruh yang baik) dan nahi munkar (melarang yang munkar), dan bersabar dalam menghadapi musibah, dan menanggung kesulitan demi Allah Ta’ala, dan lebih semangat (suka) akan shalat, puasa, zikir, dan segala ibadah lainnya. Ia lebih aktif melakukannya dan menjaga (rutinitasnya)” (Syarh Shahih Muslim, 16/ 215)
Ma’syiral muslimin rahimakumullah,
Penyebab lemahnya iman antara lain adalah dosa dan kemaksiatan, malas dalam melakukan ketaatan, dan mengerjakan hal-hal yang haram. Dan setiap manusia di antara kita mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, dan jika dia tidak mengetahuinya maka sudah seharusnya dia mengevaluasi dirinya, untuk mengetahui dan menyadari, apakah dia lalai atau melakukan sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah ﷻ, sehingga (dengan muhasabah/ introspeksi diri), ia dapat memperbaiki kekurangannya dan menghilangkan sebab-sebab yang melemahkan imannya.
Masing- masing dari kita, hamba-hamba Allah, berharap dan berkeinginan agar imannya lebih kuat, namun keinginan tersebut tidak ada gunanya kecuali kita berkomitmen dan menuntunnya pada hal-hal yang memperkuat imannya.
Ma’syiral muslimin rahimakumullah,
Kemudian, di antara tanda- tanda lemahnya iman adalah:
Pertama, mudah terjerumus ke dalam dosa dan meremehkannya. Jika ada seseorang berbicara tentang beratnya suatu dosa, maka ia berkata: “Ada dosa yang lebih berat dan lebih besar dari dosa yang anda bicarakan”. Padahal para salaf dulu berkata:
لا تنظر إلى صِغَرِ الذنب, ولكن انظر إلى عظمة من عصيت
“Jangan melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah besarnya (agungnya) Dzat yang kamu durhakai,”
Sebagaimana ada juga nasehat dari salah seorang Tabi’in, Anas bin Malik r.a., beliau berkata:
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ المُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian melakukan berbagai perbuatan yang kalian anggap lebih ringan dari pada rambut, namun kami dulu di masa Nabi ﷺ menganggapnya sebagai sesuatu yang membinasakan.” (H.R. Bukhari, 6492)
Nabi ﷺ juga bersabda:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Jauhilah sikap meremehkan dosa!, karena sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa yang dianggap remeh itu ibarat suatu kafilah safar yang bermalam di sebuah lembah keemudian setiap orang dari mereka mengumpulkan kayu bakar satu demi satu hingga mereka bisa memasak roti mereka sampai matang. Dan sesungguhnya dosa- dosa yang dianggap remeh itu dapat membinasakan pelakunya jika ia dihisab” (H.R. Ahmad, 22808)
Kedua, terus- menerus untuk melakukan dosa, meskipun itu dosa kecil, dan orang yang konsisten berbuat dosa adalah orang yang punya kemauan dan bertekad untuk melakukan hal yang sama. Padahal Nabi ﷺ bersabda:
ويلٌ للمُصِرِّينَ الذين يُصِرُّون على ما فَعلوا و هم يعلَمون
“Celakalah orang-orang yang terus menerus berbuat dosa, yaitu mereka yang berbuat dosa secara kontinyu sedangkan mereka mengetahui” (H.R. Ahmad, 6541)
Dan ada orang yang menganggap Allah membiarkannya berbuat dosa dan menutupi dosanya kemudian ia berbuat dosa secara terus-menerus, tanpa menyadari bahwa bisa jadi pembiaran Allah atas perbuatannya justru bisa menambah beban dosa baginya. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا نُمْلِى لَهُمْ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِثْمًا
“Sesungguhnya Kami (Allah) memberi tangguhan kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka” (Q.S. Ali Imran ayat 178)
Dan terus-menerus berbuat dosa bisa menjadi salah satu sebab su’ul khatimah (mati dalam keadaan buruk). Wal’iyaadzu billaah.
Ketiga, malas dalam menjalankan perintah Allah, seperti malas mendirikan shalat, shalat berjamaah, berat untuk berbakti kepada orang tua, lalai dalam menghormati mereka, lalai dalam menjaga tali silaturahmi, dan malas menjalanakan amalan-amalan shaleh lainnya.
Keempat, melakukan hal-hal terlarang atau haram ketika dia dalam keadaan sendirian atau dalam keadaan sepi. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا، فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا” قَالَ ثَوْبَانُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ، وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ، قَالَ: “أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika kembali (menyepi) kepada apa yang diharamkan oleh Allah, maka mereka terus mengerjakannya.” (H.R. Ibnu Majah, 4235)
Maka waspadalah terhadap dosa-dosa yang dilakukan saat keadaan menyendiri atau sepi; itu pertanda lemahnya iman, pertanda buruk bagi pelakunya, dan jalan menuju kerugian.
Tidak ada solusi lain untuk menguatkan iman dan menyudahi kemaksiatan, kecuali dengan meningkatkan rasa takut kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, selalu merasa diawasi oleh Allah di manapun dan kapanpun, memperbanyak amalan shalih, dan meninggalkan maksiat itu sendiri, serta memperbanyak tobat dan memperbaiki diri.
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (Q.S. Ali Imran ayat 133)
Andaikan seseorang sudah bertobat, kemudian terjerumus ke dalam dosa lagi, maka ia harus bertobat lagi, bertobat tanpa henti, memperbaiki diri tanpa kenal bosan dan letih. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az-Zumar ayat 53)
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ والمسلمات إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْم
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، الداعي إلى سبيله ورضوانه؛ فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ فيما أمر وانتهوا عما نهى؛ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فقال في مُحكَم التنزيل: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَة؛ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا؛ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؛ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وأقيموا الصلاة
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Sebab dan Tanda Lemahnya Iman