KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Fikih » Bolehkah Orang yang Sholat Fardhu (Wajib) Bermakmum kepada Orang yang Sholat Sunnah?

    Bolehkah Orang yang Sholat Fardhu (Wajib) Bermakmum kepada Orang yang Sholat Sunnah?

    BY 12 Nov 2024 Dilihat: 104 kali

    Pertanyaan:

    Ustadz, suatu ketika saya datang ke Masjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Waktu itu sholat jama’ah sudah selesai. Ketika saya masuk ruang sholat, saya melihat ada satu orang sedang melaksanakan sholat. Akhirnya saya menepuk pundak orang tersebut sebagai tanda bahwa saya ingin bermakmum kepada dia. Ternyata dia memberikan isyarat, dengan cara tangan kanannya digerakkan ke samping kanan bawah seperti seolah menghalangi. Saya berpikir bahwa orang ini memberikan isyarat bahwa dia sedang melaksanakan sholat sunnah ba’diyah, sehingga dia tidak bisa diikuti sebagai imam sholat. Sedangkan saya mau melaksanakan sholat wajib, yaitu sholat Dzuhur. Akhirnya saya sholat Dzuhur sendiri.

    Sebenarnya bagaimana hukumnya orang yang sholat wajib bermakmum kepada orang yang sholat sunnah? Boleh atau tidak? Apakah sikap dan tindakan saya sudah benar dengan melaksanakan sholat sendiri?

    Jawaban:

    بِسْمِ اللهِ وَالْحَمدُ لِلّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَبَعْدُ؛

    Saudara penanya yang kami hormati,

    Tidak diragukan lagi bahwa sholat fardhu berjama’ah memiliki keutamaan yang lebih dari pada sholat fardhu secara munfarid (sendiri). Nabi ﷺ bersabda:

    صَلَاةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الفَذِّ بسَبْعٍ وعِشْرِينَ دَرَجَةً

    “Sholat berjama’ah (pahalanya) melebihi (pahala) sholat sendirian dengan 27 (dua puluh tujuh) derajat” (H.R. Bukhari, no. 645., Muslim, no. 650)

    Untuk kasus yang tersebut di pertanyaan, apakah boleh orang yang sholat wajib bermakmum kepada orang yang sedang melaksanakan sholat sunnah? Maka jawabannya; “Boleh”.

    Dalilnya adalah sebuah hadits yang menceritakan bahwa sahabat Nabi ﷺ yang bernama Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu telah melaksanakan sholat Isya’ bersama Nabi ﷺ, kemudian dia (Mu’adz bin Jabal) kembali bersama kaumnya dan memimpin mereka dalam sholat Isya’[1], maka sholat yang dilakukan oleh Mu’adz kedua kalinya tersebut dihitung sebagai sholat sunnah, dan shalat wajib bagi mereka (kaumnya Mu’adz bin Jabal).

    عَنْ جَابِرٍ بنِ عَبْدِ اللهِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَنَّ مُعَاذَ بنِ جَبَلٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمُ الصَّلَاةَ، فَقَرَأَ بِهِمُ الْبَقَرَةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : «اِقْرَأْ (وَالشَّمسِ وَضُحَاهَا) وَ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)«

    Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu shalat bersama Nabi ﷺ, kemudian dia kembali kepada kaumnya, kemudian langsung memimpin (menjadi imam) sholat mereka, maka dia membacakan surat Al-Baqarah (dalam sholatnya). Maka Nabi ﷺ bersabda mengingatkan: “ Bacalah  (وَالشَّمسِ وَضُحَاهَا) dan  (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)” (H.R. Bukhari, no. 5755., Muslim, no. 465.)

    Imam Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam kitab Syarah Shahih Muslim (Al-Minhāj Syarhu Shahīh Muslim ibn al- Hajjāj) menjelaskan sebagai berikut:

    فِي هَذَا الْحَدِيثِ جَوَازُ صَلَاةِ الْمُفْتَرِضِ خَلْفَ الْمُتَنَفِّلِ لِأَنَّ مُعَاذًا كَانَ يُصَلِّي الْفَرِيضَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَسْقُطُ فَرْضُهُ ثُمَّ يُصَلِّي مَرَّةً ثَانِيَةً بقومه هي له تطوع ولهم فَرِيضَةٌ وَقَدْ جَاءَ هَكَذَا مُصَرَّحًا بِهِ فِي غَيْرِ مُسْلِمٍ وَهَذَا جَائِزٌ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَآخَرِينَ”

    “Dalam hadits ini, bolehnya sholat fardhu dilakukan di belakang orang yang sholat nafilah (sholat sunnah), karena Mu’adz telah (menunaikan) sholat fardhu bersama Rasulullah ﷺ maka shalat fardhunya gugur kewajibannya. Kemudian ia (Mu’adz) sholat untuk kedua kalinya bersama kaumnya. Baginya (bagi Mu’adz) sunnah dan bagi mereka (kaumnya) wajib. Hal ini dinyatakan secara jelas pula di dalam riwayat selain dari (Shahih) Muslim, dan hal ini diperbolehkan menurut (Imam) Syafi’i rahimahullahu ta’ala dan yang lain”. (Syarah Shahih Muslim, 4/181)

    Kemudian, apa hukumnya jika seseorang yang sholat sunnah tersebut pada mulanya sholat sendirian, tetapi karena ada orang yang menepuk pundaknya atau memberikan isyarat ingin bergabung bersamanya dalam rangka sholat berjama’ah?

    Jawabannya, tidak masalah, boleh bagi seseorang yang memulai shalatnya seorang diri (sholat sunnah maupun wajib) kemudian menjadi imam setelah ada orang lain atau beberapa orang bergabung sholat berjama’ah dengannya.

    Ada riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

    بتُّ عندَ خالتي ميمونةَ فقامَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي منَ اللَّيلِ فقُمتُ عن يسارِهِ فأخذَ بيدي فأقامَني عن يمينِهِ

    “Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, dan Nabi  ﷺ telah berdiri melaksanakan shalat malam, kemudian aku (shalat bersamanya) berdiri di sebelah kirinya, kemudian beliau mengambil tanganku dan mengarahkanku berdiri di sebelah kanannya”. (H.R. Ibnu Majah, no. 973., Bukhari, no. 699., Muslim, no. 763., –dengan sedikit perbedaan redaksi-)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) berkata:

    وَالصَّحِيحُ جَوَازُ ذلِكَ فِي الفَرْضِ وَالنَّفْلِ

    “Yang shahih (benar) bolehnya perkara tersebut (bermakmum kepada orang yang sedang sholat sendiri) baik dalam sholat fardhu (wajib) dan nafilah (sunnah)” (Majmū’ al-Fatāwā, 22/ 258)

    Walaupun berbeda niat sholat antara yang menjadi imam dan makmum, misalkan; imamnya sholat sunnah, makmumnya sholat wajib, ataupun sebaliknya, maka hal ini hukumnya boleh.

    Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan:

    تَصِحُّ صَلَاةُ النَّفْلِ خَلْفَ الْفَرْضِ وَالْفَرْضِ خَلْفَ النَّفْلِ وَتَصِحُّ صَلَاةُ فَرِيضَةٍ خَلْفَ فَرِيضَةٍ أُخْرَى تُوَافِقُهَا فِي الْعَدَدِ كَظُهْرٍ خَلْفَ عَصْرٍ وَتَصِحُّ فَرِيضَةٌ خَلْفَ فَرِيضَةٍ أَقْصَرُ مِنْهَا وَكُلُّ هَذَا جَائِزٌ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا

    “Dan shalat sunnah (bermakmum) di belakang shalat fardhu itu sah, dan sah shalat fardhu (bermakmum) di belakang shalat sunnah, dan sah shalat fardhu (bermakmum) di belakang shalat fardhu lainnya yang sesuai jumlahnya, seperti shalat dzuhur (bermakmum) di belakang shalat ‘ashar, dan sah shalat fardhu (bermakmum) di belakang shalat fardhu lain yang lebih pendek, dan semua itu diperbolehkan tanpa perbedaan di antara kita (ulama Syafi’iyyah)” (Al- Majmū’ Syarh al-Muhaddzab, 4/ 269-270)

    Misalnya; jika makmum berniat sholat dzuhur, sedangkan imam berniat sholat sunnah ba’diyah dua reka’at, maka apabila imam melakukan salam di reka’at kedua (terakhir baginya), maka makmum tetap berdiri untuk menambah reka’at lagi atau melengkapi kekurangan reka’atnya, sehingga genap menjadi empat reka’at.

    Yang terakhir, sikap dan tindakan saudara sudah benar, dengan melaksanakan sholat dzuhur seorang diri setelah orang tersebut tadi memberikan isyarat bahwa dia tidak bisa diajak untuk bergabung jama’ah. Dari pada menimbulkan kesalahpahaman dan mengganggu kekhusyukan orang tersebut, menjadikan pikiran bagi dirinya, maka lebih baik kita sholat seorang diri. Oleh karenanya kita juga tidak perlu memaksakan diri. Sholat Dzuhur yang saudara laksanakan seorang diri tetap sah dan berpahala insyaallah.

    Demikian jawaban dari kami, semoga memperjelas dan bermanfaat.

    وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


    [1]Boleh bagi seseorang yang sudah melaksanakan sholat wajib (fardhu) secara berjama’ah ataupun sendiri, kemudian dia melaksanakan sholat tersebut untuk kedua kalinya bersama jama’ah yang lain. Terlebih jika dia memang dibutuhkan untuk menjadi imam, atau memang ada orang yang sholat sendiri, kemudian orang yang sudah sholat tadi, melaksanakan sholat untuk kedua kalinya untuk menemani orang yang hendak sholat fardhu secara munfarid (sendirian). Akan tetapi bagi orang yang sudah melaksanakan sholat fardhu tadi, sholat yang ia lakukan untuk kedua kalinya harus diniatkan sebagai sholat nafilah (sunnah) sehingga terhitung sebagai sholat nafilah (sunnah), walaupun jumlah reka’atnya sama dengan sholat fardhu yang ia lakukan sebelumnya. Sehingga tidak dikatakan bahwa dia melaksanakan sholat fardhu yang sama sebanyak dua kali. Karena yang kedua dihitung sebagai sholat nafilah. Karena Nabi ﷺ bersabda: لا تُعادُ الصَّلاةُ في اليومِ مرَّتَيْن (Sholat (fardhu) tidak diulang dua kali dalam satu hari) (H.R. Abu Daud, no. 579., an-Nasa’i, no. 860., Ahmad, no. 4689). Maksud hadits tersebut adalah sholat fardhu (wajib) yang sama, tidak boleh diulang sebanyak dua kali dalam satu hari dengan niat fardhu semua. Misal, Fulan sudah sholat fardhu dzuhur dengan jama’ah pertama. Kemudian datang laki-laki seorang diri hendak sholat dzuhur sendiri. Apabila Fulan ingin sholat untuk kedua kalinya secara berjama’ah dengan laki-laki tersebut, maka sholat Fulan yang kedua harus diniatkan sebagai sholat nafilah, bukan sholat fardhu sama seperti yang pertama. Sedangkan bagi orang yang belum melaksanakan sholat fardhu tersebut, atau baru akan melaksanakan, sholat fardhunya tetap dihukumi wajib, atau terhitung sholat wajib. Sebagaimana kisah sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu. Begitu pula ada sebuah hadits yang mengisahkan seseorang datang saat Rasûlullâh ﷺ sudah selesai melaksanakan shalat, lalu beliau ﷺ bertanya: أَيُّكُمْ يتَّجرُ عَلَى هَذَا ؟   (Siapa di antara kalian yang mau bersedekah kepada orang ini?’), maka berdirilah salah seorang (di antara mereka) kemudian sholat bersamanya. (H.R. Abu Daud, no. 574., At-Tirmidzi, no. 220., Ahmad, no. 11631)

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Bolehkah Orang yang Sholat Fardhu (Wajib) Bermakmum kepada Orang yang Sholat Sunnah?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023