Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I.
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا؛ وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا؛ نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا، وَنَشْكُرُهُ شُكْرًا وَفِيْرًا، وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا؛ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ وَالفَوْزَ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ العَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ رَبُّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَهَادِيًا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَهِيَ الزَّادُ لِيَوْمِ الْمِيعَادِ، وَهِيَ الْوَصِيَّةُ الَّتِي وَصَّى اللَّهُ بِهَا الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ، قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ (البقرة: 194)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Malam ini kita menyaksikan salah satu ayat Allah yang luar biasa, di antara sekian banyak kebesaran Allah ﷻ dan kekuasaan-Nya, yaitu gerhana bulan. Sebuah peristiwa alam yang menunjukkan betapa kecilnya manusia di hadapan Allah ﷻ, dan betapa besar dan sempurnanya kekuasaan Allah ﷻ di jagat semesta ini,
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, 986)
Dalam riwayat lain (Muslim, no. 1518) dikatakan;
فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
Jika kalian melihatnya maka bersegeralah berdzikir mengingat Allah, memanjatkan do’a pada-Nya, serta memohon ampunan-Nya
Hadis tersebut tadi menekankan dua perkara penting:
Jama’ah kaum muslimin- muslimat yang dirahmati Allah,
Manusia dengan segala kecanggihan teknologi yang dimilikinya memang mampu memprediksi dan menghitung dengan cermat kapan gerhana akan terjadi, wilayah mana saja yang dapat menyaksikannya, bahkan durasinya berapa lama dari awal hingga akhir.
Akan tetapi, manusia sama sekali tidak punya kuasa untuk menunda, mempercepat, memperlambat, atau mengubah proses terjadinya gerhana. Semua itu sepenuhnya berada di luar kendali manusia.
Sebagai contoh nyata pada malam ini, kita menyaksikan sebuah peristiwa langka yang disebut Blood Moon atau bulan merah darah. Fenomena ini terjadi ketika bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan bumi, sehingga cahaya matahari yang biasanya menerangi bulan terhalang. Hanya spektrum cahaya merah-oranye yang tersaring dan terbiaskan oleh atmosfer bumi lalu sampai ke bulan, sehingga bulan tampak berwarna merah seperti merahnya darah.
Peristiwa seperti ini hanya terjadi beberapa kali dalam setahun, dan tidak semua manusia di bumi berkesempatan menyaksikannya. Bahkan sebuah lokasi spesifik di bumi diprediksi hanya bisa menyaksikan Blood Moon sekitar sekali setiap 2,5 tahun. Ini karena gerhana total tidak selalu terlihat dari semua belahan dunia. Kalau misalnya di Indonesia ini ada keinginan agar Blood Moon terjadi dua atau tiga bulan sekali secara rutin lewat rekayasa teknologi manusia, maka sangat mustahil dan tidak akan pernah bisa terwujud.
Maka dari itu, siapa lagi yang mampu mengatur keteraturan gerak bumi, matahari, dan bulan sedemikian rupa kalau bukan Allah ﷻ? Dialah Dzat Yang Maha Kuasa, yang dengan hikmah dan kebesaran-Nya mengajarkan kita melalui ayat-ayat kauniyyah agar semakin tunduk dan taat kepada-Nya.
Allah ﷻ dengan tegas berfirman seraya mengingatkan umat manusia,
وَمِنْ آيَاتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari maupun bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya (Q.S. Fusshilat ayat 37)
Ma’asyiral muslimin – muslimat arsyadakumullah,
Manusia modern sering terjebak dalam kesombongan (takabbur). Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka merasa mampu menguasai alam, seakan-akan langit dan bumi tunduk kepada kepintaran mereka.
Atau bagi sebagian orang, alam ini adalah pusat segalanya, mereka menganggap alam berjalan teratur dengan sendirinya tanpa ada keterlibatan Allah ﷻ dalam pengaturannya.
Mereka berpikir bahwa sains adalah segalanya, satu-satunya perangkat yang bisa memecahkan segala persoalan dan kebingungan. Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan:
وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ (38) وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ (39) لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ (40)
Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (38) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan posisi-posisinya, sehingga (setelah dia sampai ke posisi yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Q.S. Yasin ayat 38-40)
Kita umat Islam tidak menolak sains, bahkan Islam adalah agama yang paling mendorong ilmu pengetahuan sejak wahyu pertama turun, diawali dengan kata Iqra’ (اقرأ).
Namun, yang kita tolak adalah sikap mengkultuskan atau menuhankan sains itu sendiri, seolah-olah bisa menggantikan Allah ﷻ dalam mengatur alam semesta.
Sains harus dipahami, dikembangkan, dan dikuasai oleh umat Islam dengan basis tauhid dan ajaran Islam, agar lebih bermaslahat dan tidak merusak.
Sebab sains sejatinya adalah ayat kauniyyah, tanda-tanda kebesaran Allah di jagat raya, yang seharusnya semakin menambah iman ketika dipelajari, bukan justru menjauhkan dari Allah Sang Pencipta.
Sejarah dan fakta membuktikan bahwa sains yang lepas dari iman dan akhlak justru berubah menjadi alat perusak; teknologi senjata pemusnah massal, eksperimen bioteknologi yang merusak fitrah, hingga kemajuan digital yang bisa menjerumuskan moral manusia.
Karena itu, hanya dengan landasan tauhid, adab, dan ilmu, maka sains dan teknologi bisa benar-benar menjadi sarana kemaslahatan, bukan kehancuran.
Ma’asyiral muslimin-muslimat rahimakumullah,
Allah ﷻ secara tegas menyatakan,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (Q.S. An Nahl ayat 23)
Gerhana malam ini adalah peringatan nyata atas kesombongan manusia. Ilmuwan dan teknokrat bisa saja menghitung kapan gerhana akan terjadi, tapi mereka tidak mampu mencegahnya, tidak bisa menghentikannya, memodifikasi warnanya, apalagi mengubah jalannya.
Semua terjadi dan teratur hanya dengan izin dan kuasa Allah ﷻ semata. Dialah yang menundukkan matahari, bulan, dan bintang, agar manusia menyadari betapa kecil dan terbatasnya dirinya
Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya kesombongan Iblis menjadikannya terusir dari surga, kesombongan Fir’aun menenggelamkannya di laut, kesombongan Qarun membenamkannya ke dalam bumi bersamaan dengan harta yang ia banggakan, kesombongan kaum ‘Ad dan Tsamud menghancurkan peradaban mereka yang megah.
Semua itu menjadi pelajaran bahwa kesombongan akan membawa kepada kehinaan. Rasulullah ﷺ bersabda,
لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَن كانَ في قَلْبِهِ مِثْقالُ ذَرَّةٍ مِن كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim, no. 91)
Hadis ini mengabarkan bahwa Allah ﷻ tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga bila di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat Dzarrah yaitu debu halus yang tampak dalam cahaya. Sangat kecil dan halus sekali.
Ini menunjukkan bahwa sekecil apapun kesombongan, bila ada dalam hati, bisa menjadi sebab tidak masuknya seseorang ke surga.
Dan maksud tidak masuk surga di sini -jika orang tersebut adalah seorang Muslim- adalah ia tidak akan masuk surga di awal (langsung), sampai ia diberi balasan (dihukum) terlebih dahulu atas kesombongannya itu.
Maka, ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullāh, marilah kita menjadikan gerhana ini bukan hanya peristiwa tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan sekaligus peringatan dari Allah agar kita tidak sombong, agar kita sadar bahwa kita hanyalah hamba yang lemah.
Kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Orang sombong sulit menerima kebenaran dan meremehkan manusia lain. Kesombonganlah yang menjauhkan kita dari rahmat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (HR. Muslim, no. 91)
Maka, siapa pun itu, yang merasa lebih hebat dengan ilmunya, lebih mulia dengan hartanya, atau lebih digdaya dengan kedudukannya, ingatlah bahwa semua itu hanyalah titipan dan amanah dari Allah. Kapan saja bisa diambil kembali, dan bukan itu saja, semuanya juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Sekali lagi, gerhana ini adalah pesan agar kita merendahkan hati, memperbanyak istighfar, bertaubat, memohon bimbingan Allah, terus belajar lebih baik, dan kembali tunduk dan takut kepada Allah ﷻ.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً؛
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَة؛ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا؛
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ؛ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Gerhana Bulan: Tanda Kekuasaan Allah ﷻ dan Peringatan atas Kesombongan Manusia