
Oleh: Dr. Mustori Ahmad, Lc., M.S.I (*Dekan Fakultas Syariah IAI Al Ghurabaa Rawamangun-Jakarta)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ؛ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا؛ أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الهُدَىٰ هُدَىٰ مُحَمَّدٍ صَلَّىٰ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ إِلَى آخِرِ الْحَدِيْثِ
Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala,
Kita sekarang berada di bulan Agustus, bulan yang begitu istimewa dan penuh makna bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menjadi ajang untuk mensyukuri nikmat Allah ﷻ. Bagaimana tidak, di saat bangsa Palestina masih berjuang memerdekakan dari penjajahan Zionis Israel, kita sudah 80 tahun mendapatkan anugerah berupa kemerdekaan.
Terhitung sejak 17 Agustus 1945, maka nikmat mana lagi yang kita dustakan?
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Tugas kita sekarang ini adalah mengisi dan mewarnai kemerdekaan ini dengan amalan-amalan baik, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, sebagai seorang muslim, kita perlu merenungkan kembali: apa sebenarnya makna kemerdekaan bagi seorang Muslim? Apakah kemerdekaan hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik oleh bangsa lain?
Dalam pandangan Islam, kemerdekaan yang sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi ketika seseorang benar-benar lepas dari penghambaan kepada sesama makhluk, dan hanya tunduk serta taat kepada Allah Ta’ala semata.
Rasulullah ﷺ diutus ke dunia bukan hanya untuk membebaskan bangsa Arab dari kekuasaan Romawi atau Persia, tetapi yang jauh lebih penting: untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk, menuju penghambaan yang tulus hanya kepada Sang Pencipta, Allah Ta’ala. Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia; spiritual, intelektual, moral, dan sosial.
Kemerdekaan spiritual berarti hati yang hanya bergantung kepada Allah, bukan pada materi, jabatan, atau sesama manusia. Seorang muslim yang merdeka secara spiritual tidak mudah goyah oleh tekanan dunia, karena hatinya kokoh berpegang pada tauhid.
Kemerdekaan intelektual berarti berpikir merdeka, tidak dibelenggu oleh kebodohan atau tunduk buta pada arus pemikiran yang menyesatkan. Seorang muslim didorong untuk berpikir kritis, mencari ilmu, dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Kemerdekaan moral berarti memiliki integritas, bebas dari dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan pada kemaksiatan. Seorang muslim yang merdeka secara moral tidak hanya tahu mana yang benar, tapi juga berani menjalankannya meski di tengah tantangan.
Kemerdekaan sosial berarti terwujudnya keadilan, saling menghargai, serta terbebas dari penindasan dan kezaliman dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang saling menolong, membangun dengan nilai-nilai kebaikan, dan menjunjung tinggi hak serta martabat sesama.
Inilah kemerdekaan sejati menurut Islam, kemerdekaan yang membebaskan manusia, bukan hanya dari rantai penjajahan, tapi juga dari segala bentuk belenggu yang menghalangi manusia untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya.
Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala,
Di antara bentuk kemerdekaan paling mendasar adalah merdeka dari hawa nafsu. Sudahkah kita merdeka dari belenggu hawa nafsu?
Sebab, tidak sedikit orang yang secara lahiriah tampak merdeka, namun di balik itu mereka masih terjajah oleh nafsu mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Islam memandang bahwa tunduk pada hawa nafsu adalah salah satu bentuk perbudakan paling berbahaya. Ia tidak mengikat tubuh, tapi mengekang jiwa. Secara diam-diam hawa nafsu menggerogoti manusia dari dalam, membutakan nurani, melemahkan akal sehat, dan menjauhkan dari kebenaran.
Maka, merdeka sejati bukan sekadar soal kebebasan fisik. Namun yang sesungguhnya adalah kebebasan batin, ketika hati mampu berkata “tidak” pada godaan, dan jiwa kuat untuk memilih jalan yang diridhai Allah ﷻ.
Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa terhadap kesenangan duniawi yang sering kali bertentangan dengan akal sehat, tuntunan wahyu, dan bisikan hati nurani.
Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai bentuk penyimpangan. Nafsu bisa mendorong pada syahwat, kesenangan jasmani yang berlebihan, menumbuhkan ketamakan terhadap harta dan jabatan, menumbulkan rasa malas dalam beribadah, hingga menumbuhkan kecintaan pada dunia yang melalaikan akhirat.
Sedikit demi sedikit, hawa nafsu yang dibiarkan liar akan mengikis ketajaman iman dan menjauhkan seseorang dari jalan yang diridhai Allah. Karena itulah, Islam menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai bagian dari perjuangan menuju kemerdekaan sejati.
Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala,
Sudahkah kita merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia?
Merdeka yang sesungguhnya, yaitu ketika seorang muslim mampu melepaskan diri dari keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi seperti harta, jabatan, popularitas, atau kesenangan sesaat, yang sering kali membuat kita lupa pada tujuan hidup yang sejati: mendekat kepada Allah dan meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
Kemerdekaan sejati bukan ketika seseorang punya segalanya, tetapi saat ia tidak diperbudak oleh apa pun. Bukan terpesona oleh gemerlap dunia, melainkan tetap sadar bahwa semuanya hanyalah titipan sementara. Harta, jabatan, dan kemewahan bukanlah musuh, namun jika hati terlalu terpaut padanya, maka manusia mulai kehilangan arah. Hidup jadi sekadar perlombaan mengejar kepuasan lahiriah, bahkan sampai rela mengorbankan nilai, integritas, dan akhirat hanya demi dunia yang fana.
Allah ﷻ mengingatkan dengan firman-Nya,
ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ
Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan” (QS. Al-Hadid: 20)
Inilah bentuk perbudakan yang paling halus namun berbahaya: ketika manusia mengabdi pada dunia, bukan pada Tuhannya. Bebas dari perbudakan dunia bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Kesenangan dunia boleh dinikmati, selama tidak melalaikan kita dari akhirat. Inilah hakikat kemerdekaan batin: saat seseorang bisa menjalani kehidupan dunia dengan tenang.
Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala,
Sudahkah kita merdeka dari kemaksiatan dan dosa?
Merdeka sejati adalah terbebas dari belenggu maksiat dan dosa. Karena dosa adalah bentuk perbudakan spiritual, hati jadi gelap, jiwa sempit, dan hidup terasa jauh dari keberkahan. Orang yang terus-menerus terjebak dalam dosa akan kehilangan rasa peka terhadap kebenaran. Bahkan, hal yang salah bisa terasa biasa saja.
Setiap dosa adalah tembok penghalang antara kita dan Allah. Maka, saat kita berusaha menjauhi kemaksiatan, itu artinya kita sedang mengembalikan jiwa kita kepada fitrahnya, jiwa yang bersih, suci, dan rindu akan ketaatan. Bebas dari dosa merupakan awal dari hidup yang tenang dan hati yang lapang. Ketika kita mampu menahan diri, menjaga pandangan, lisan, dan perbuatan, saat itulah kita sedang memerdekakan diri dari jeratan syahwat yang menipu.
Tentu, bukan berarti kita tak pernah salah, tapi kita terus berusaha kembali kepada Allah dengan taubat, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Allah berfirman:
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍۢ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا . وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابًۭا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan-kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barang siapa bertaubat dan mengerjakan kebaikan, maka sungguh ia kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 70–71)
Inilah kemerdekaan ruhani yang paling mulia: saat hati bersih, amal diterima, dan hidup hanya ditujukan untuk mencari ridha-Nya. Karena, pada akhirnya, manusia yang paling merdeka adalah mereka yang paling taat kepada Allah. Kalau kita masih terjebak dalam maksiat dan jauh dari kebaikan, berarti kita sebenarnya masih “terjajah”.
Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum kemerdekaan ini bukan sekadar seremonial, tapi sebagai titik balik untuk membangun diri dan bangsa yang bertakwa, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَة؛ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا؛ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وأقيموا الصلاة

DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim