
Penulis Naskah: H. Muhammad Ghufron Harun, B.IRKH., M.A., M.LIS. (Atase Agama dan Pendidikan Kedubes Arab Saudi di Indonesia)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala, kita masih diberi kesempatan memasuki Jumat kedua di bulan Agustus 2026 ini. Bulan yang oleh bangsa kita diperingati sebagai Bulan Kemerdekaan. Bulan yang penuh dengan makna dan sejarah perjuangan yang panjang. Bulannya para syuhada, pahlawan kemerdekaan dan segenap tumpah darah bangsa Indonesia.
Melalui mimbar khutbah ini, marilah kita kembali merenungi, apa makna kemerdekaan dan bagaimana cara terbaik untuk mensyukurinya.
kata “kemerdekaan” merupakan istilah yang digunakan oleh bangsa Indonesia ketika memproklamasikan kebebasan dirinya dari penjajahan. Ia digunakan sebagai ekspresi dan simbol bahwa Indonesia telah mampu melepaskan dirinya dari belenggu penindasan para penjajah setelah berpuluh dekade berupaya memperjuangkan kemandiriannya sebagai bangsa dan negara. Pada konteks ini, hakikat kemerdekaan dalam bernegara ialah terbebas dari penjajahan fisik dan segala bentuk penindasan yang menghilangkan hak dan menghancurkan nilai-nilai kehidupan.
Islam memandang kemerdekaan sebagai bagian integral dari tujuan syariat (maqāshid as-syarī’ah), sebab kemerdekaan diri manusia dari segala bentuk penghambaan kepada sesama makhluk adalah salah satu misi utama risalah Islam. Bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan dan ketundukan kepada sesama makhluk. Islam menghapus segala bentuk kekuasaan manusia atas manusia yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada ayat kelima Surat Al-Fatihah yang kita selau baca dalam setiap rakaat shalat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Ayat ini adalah proklamasi kemerdekaan yang paling hakiki. Ia menegaskan bahwa tidak ada tuan bagi manusia kecuali Allah semata. Manusia tidak boleh tunduk pada hawa nafsunya, tidak boleh menghambakan diri pada sesama, tidak boleh diperbudak oleh kekuasaan, harta, atau ideologi apa pun selain penghambaan kepada Allah.
Maka ketika bangsa kita merdeka dari penjajahan, sesungguhnya kita hanya menegakkan kembali fitrah yang telah Allah tanamkan: bahwa manusia diciptakan untuk merdeka dari sesamanya, dan tunduk hanya kepada Rabb-nya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Para pendiri bangsa kita pun memahami betul bahwa kemerdekaan ini bukan semata hasil perjuangan fisik, melainkan anugerah dari Allah. Perhatikan bagaimana bunyi alinea ketiga Pembukaan UUD 1945:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang mendalam dari para pendiri Republik ini. Bahwa kemerdekaan bukan sekadar produk diplomasi atau perlawanan senjata, melainkan rahmat yang diturunkan Allah kepada bangsa yang berjuang dengan tulus. Maka, sebagaimana nikmat lainnya, kemerdekaan wajib disyukuri, Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya akan Kutambahkan nikmat-Ku kepadamu. Namun jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.”
Syukur yang dikehendaki Allah bukanlah sekadar ucapan lisan “Alhamdulillah” yang dilontarkan tanpa mengirinya dengan amal. Syukur sejati ialah pengakuan terhadap nikmat Allah yang diwujudkan dalam ketaatan dan karya nyata. Allah memberikan teladan keluarga Nabi Dawud yang diperintahkan untuk bersyukur dengan cara bekerja dan berkarya:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur. Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”
Maka mensyukuri kemerdekaan tidak boleh berhenti dengan cukup mengibarkan bendera dan menggelar lomba semata. Syukur yang sejati adalah dengan mengisi kemerdekaan ini dengan amal dan karya nyata, yang bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan dan bangsa.
Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebagai sebuah sunnatullah, perubahan besar selalu dimulai dari yang kecil. Demikian pula kemakmuran dan kesalehan bangsa harus juga dimulai dari perbaikan individu, lalu keluarga, kemudian masyarakat luas. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”
Ayat ini memberikan inspirasi bahwa cara mensyukuri kemerdekaan adalah dengan menjadikan diri kita, keluarga kita, dan lingkungan kita menuju kehidupan sumber daya yang unggul, adil dan sejahtera, mendapat ridha Allah Ta’ala.
Bangsa yang merdeka secara politik namun lemah sumber dayanya, hanya akan berpindah dari satu bentuk penjajahan ke bentuk penjajahan yang lain. Penjajahan kebodohan, penjajahan ketergantungan, penjajahan mentalitas, dan yang lainnya.
Karena itu Allah mengingatkan kita dalam Surat An-Nisa ayat 9, agar jangan sampai kita mencetak generasi penerus yang lemah:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya.”
Kita tidak boleh menjadi bangsa yang lemah, sebagaimana kita juga tidak boleh menjadi bangsa yang tertinggal. Kita dituntut untuk maju dan berdaya guna. Kita jadikan setiap peringatan hari Kemerdekaan ini sebagai momentum untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan, kebebasan dari penjajahan, dengan terus mengupayakan perbaikan kualitas diri, keluarga, dan generasi penerus sehingga mampu menjadi manusia yang unggul. Unggul jiwanya, unggul akalnya, dan unggul raganya supaya kita mampu mensyukuri anugrah sumber daya alam bumi pertiwi yang melimpah, demi tegaknya negeri yang adil dan makmur, Baldatun Thoyibatun wa Rabbun Ghofur.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَدِمْ عِزَّةَ هٰذِهِ الْبِلَادِ، وَاجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُسْتَقِرَّةً، يَتَمَتَّعُ أَهْلُهَا بِنِعَمِ الاِسْتِقْلَالِ وَالسَّلَامِ
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا سُبُلَ الشُّكْرِ عَلَى نِعْمَةِ الاِسْتِقْلَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ وَ يَشْكُرُونَ. رَبَّنَا وَفِّقْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتَنَا لِيَكُونُوا أَجْيَالًا مُتَفَوِّقَةً عَقْلًا وَرُوحًا وَجَسَدًا
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ كَمَا سَأَلَكَ نَبِيُّكَ مُوسَى: وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Mensyukuri Karunia Nikmat Kemerdekaan