
Penulis: Ahla Kembara (Dosen Fakultas Ushuluddin Prodi IAT INDAFA (Institut Agama Islam Darul Fattah) Lampung)
Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum dan petunjuk ibadah, tapi juga kitab tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala (آيات), baik yang terhampar di bumi maupun yang di langit. Surat Yasin ayat 38-40 adalah salah satu fragmen menakjubkan dari tanda-tanda itu. Ia mengajak manusia merenungi keteraturan kosmos seperti peredaran matahari, bulan, dan silih bergantinya siang dan malam, bukan untuk sekadar dikagumi, tetapi juga untuk direnungi. Allah Ta’ala berfirman:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (٣٨)
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (٣٩)
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٤٠)
Artinya:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti tandan tua (yang melengkung).
Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin ayat 38-40)
Ayat ini turun bukan sekadar untuk menjelaskan hukum alam, tapi untuk menepuk kesadaran manusia agar melihat kebesaran Sang Khalik melalui keteraturan ciptaan-Nya. Di tengah kekacauan manusia yang sering kehilangan arah, Allah menampilkan langit dan peredaran benda-benda di atasnya seperti matahari sebagai cermin kedisiplinan dan ketaatan mutlak terhadap ketentuan-Nya.
Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya1 menyebutkan dua makna kata مُسْتَقَرٍّ (mustaqarr) di ayat 38 dari kedua pendapat yang berbeda sebagai berikut:
Pertama, yang dimaksud dengan “mustaqarr” adalah tempat menetap matahari, yaitu di bawah ‘Arsy pada sisi yang menghadap bumi. Di mana pun matahari berada, ia tetap berada di bawah ‘Arsy bersama seluruh makhluk, karena ‘Arsy adalah atap seluruh ciptaan. ‘Arsy bukanlah bola seperti dikatakan sebagian ahli astronomi, melainkan kubah besar yang ditopang oleh para malaikat, terletak di atas alam pada arah kepala manusia.
Ketika matahari berada di tengah langit (waktu zuhur), ia dalam posisi paling dekat dengan ‘Arsy. Jika ia berputar hingga mencapai posisi berlawanan (tengah malam), maka ia menjadi paling jauh dari ‘Arsy. Saat itulah ia bersujud dan meminta izin untuk terbit kembali, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis sahih, di antaranya:
Imam al-Bukhari (w. 256 H) menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari (w. 32 H) , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
يا أبا ذر أتدري أين تغرب الشمس؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال ﷺ: فإنها تذهب حتى تسجد تحت العرش، فذلك قوله تعالى: وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَها ذلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
“Wahai Abu Dzar, tahukah engkau ke mana matahari pergi ketika terbenam?” Aku (Abu Dzar) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau ﷺ bersabda: “Sesungguhnya matahari pergi hingga bersujud di bawah ‘Arsy. Itulah makna firman Allah: ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya; itulah ketetapan (taqdir) Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui’.” (HR. al-Bukhari, no. 4802)
Kedua, yang dimaksud dengan firman Allah “لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا” (bagi tempat peredarannya) ialah batas akhir perjalanannya, yaitu pada hari Kiamat, ketika peredarannya terhenti, gerakannya berhenti, dan matahari digulung. Saat itu, dunia ini berakhir pada batas akhirnya, dan itulah yang disebut “tempat peredarannya” dalam konteks waktu (zamani), bukan tempat (makani). Imam Qatadah rahimahullah (w. 117 H) berkata: “لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا” berarti untuk waktu tertentu dan batas yang tidak akan ia lampaui.
Kedua makna ini sebenarnya tidak saling menafikan, justru saling melengkapi. Makna pertama berbicara tentang posisi kosmik matahari dalam struktur alam, sementara makna kedua berbicara tentang batas temporal peredarannya dalam kehendak Allah.
Ini juga merupakan penegasan atas kekuasaan Allah Ta’ala, dan pengaturan-Nya terhadap alam semesta serta seluruh makhluk. Hadis ini juga mengandung bantahan bagi orang-orang yang menyembah matahari, agar mereka mengetahui bahwa penyembahan mereka terhadapnya adalah batil (tidak benar), karena matahari tidak lebih dari sebuah makhluk ciptaan Allah Ta’ala yang diatur pergerakannya dan ditetapkan eksistensinya sampai waktu yang Allah tentukan.
Pergerakan Bumi dan Matahari
Sebagian orang mengira ayat tersebut tadi menegaskan bahwa matahari mengelilingi bumi, namun sebenarnya Al-Qur’an tidak menyebut secara lugas (sharih) bahwa bumi sebagai pusat peredaran atau model geosentris. Ia hanya menyatakan bahwa matahari bergerak (tajrī). Kata تَجْرِي (tajrī) sendiri dalam bahasa Arab artinya bukan sekadar berjalan normal pelan, tetapi dimaknai “berlari”, pergerakan yang cepat. Di sinilah letak keindahan dan kebijaksanaan Al-Qur’an, ia berbicara dengan bahasa universal yang tidak terikat oleh paradigma sains tertentu. Ia tidak menafikan fakta-fakta astronomi yang baru ditemukan berabad-abad kemudian. Sains modern bahkan membenarkan bahwa matahari memang bergerak, tetapi bukan mengitari bumi, melainkan mengorbit pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan ±220- 240 km/detik. Kajian modern mutakhir menunjukkan bahwa matahari bergerak mengorbit pusat galaksi dengan kecepatan sekitar 240 km/detik.2 Maka ayat تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا “tajrī limustaqarrin lahā” sesuai dengan realitas ilmiah.
Meskipun, jika disebut matahari bergerak mengitari bumi, itu juga tidak bisa dikatakan salah. Karena dalam konteks observasi harian, matahari memang terlihat bergerak dan berpindah tempat. Inilah yang disebut dengan gerak relatif atau gerak semu matahari saat dipandang oleh manusia dari permukaan bumi. Dalam ilmu falak modern gerak matahari ini disebut gerak nisbi. Meskipun sejatinya bumilah yang sedang berputar atau melakukan rotasi pada porosnya setiap ±23 jam 56 menit (24 jam) dan berevolusi mengelilingi matahari dalam waktu ±365,25 hari.3 Dengan demikian, wahyu dan sains modern menunjukkan adanya keselarasan (tawāfuq) dan tidak saling menafikan satu sama lain.
Melalui ayat-ayat tadi, Al-Qur’an sebenarnya bukan sekadar menjelaskan model kosmologi tertentu, melainkan mengarahkan manusia untuk menatap keteraturan kosmos sebagai cermin ketaatan makhluk kepada Rabb-nya. Matahari, bulan, bumi, dan seluruh benda langit bergerak dalam orbit yang sangat presisi, tidak pernah bergeser dari garis yang Allah tetapkan, sebagaimana firman-Nya:
وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin ayat 40)
Dan firman-Nya:
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ
Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan (QS. Yasin ayat 39)
Benda-benda langit itu akan terus beredar hingga batas waktu yang ditentukan oleh Allah pada hari Kiamat. Persis dengan apa yang Allah katakan:
تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا
hingga waktu tertentu dan batas yang tidak akan ia lampaui (QS. Yasin ayat 38)
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Ayat Kauniyah dan Tatanan Kosmik