KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » Mengenal Sifat Mulia Nabi ﷺ dalam Surah At-Taubah 128

    Mengenal Sifat Mulia Nabi ﷺ dalam Surah At-Taubah 128

    BY 28 Aug 2026 Dilihat: 28 kali

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ تَعَالَى حَمْدَ الشَّاكِرِينَ، وَنَسْتَعِينُهُ مَعُونَةَ الْمُسْتَرْشِدِينَ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُذْنِبِينَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيمِ، وَصَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، وَخَابَ الْمُبْطِلُونَ

    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

    Kita semua mencintai Nabi Muhammad ﷺ. Kita bershalawat kepada beliau, menyebut nama beliau, dan berharap kelak dikumpulkan bersama beliau. Tetapi ada satu pertanyaan penting yang perlu kita jawab, kalau kita benar-benar mencintai Nabi ﷺ, apa yang sudah kita teladani dari kehidupan beliau?

    Sebab mencintai Nabi bukan hanya dengan banyak menyebut namanya atau sekadar memperingati hari lahirnya. Cinta kepada Nabi harus melahirkan sikap, akhlak, ibadah, dan cara hidup yang semakin dekat dengan tuntunan beliau.

    Allah ﷻ berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 21:

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

    “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”

    Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ bukan hanya seorang yang kita kagumi, tetapi beliau adalah teladan yang harus kita ikuti. Namun, dalam mengikuti Nabi ﷺ, kita juga perlu memahami satu hal. Tidak semua perbuatan Nabi berada dalam satu tingkat hukum yang sama.

    Para ulama menjelaskan bahwa ada perbuatan Nabi ﷺ yang beliau lakukan sebagai bagian dari tugas kerasulan dan penyampaian syariat (ranah tasyri’iyyah). Ada pula perbuatan yang beliau lakukan sebagai manusia biasa, sebagai kebiasaan hidup, atau sebagai bagian dari pengalaman manusiawi beliau (ranah ghairu tasyri’iyyah).

    Pertama, apa yang beliau lakukan sebagai Rasul dalam rangka menjelaskan syariat. Misalnya tata cara shalat, manasik haji, hukum zakat, puasa, muamalah, serta berbagai keputusan dan penjelasan hukum, baik itu perdata maupun pidana. Dalam hal-hal seperti ini, Nabi ﷺ adalah penjelas wahyu dan pembimbing umat yang harus kita ikuti.

    Karena itu beliau bersabda:

    صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat.”

    Demikian pula ketika beliau mengajarkan tata cara haji dan berbagai ibadah lainnya. Inilah keteladanan dalam perkara agama yang memang diperintahkan untuk kita ikuti.

    Kedua, ada perkara yang dilakukan Nabi ﷺ sebagai manusia. (Sifat Jibilliyyah).

    Beliau makan, minum, duduk, berjalan, tidur, menyukai makanan tertentu, memakai pakaian tertentu, dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia pada umumnya. Perkara-perkara seperti ini tidak otomatis menjadi kewajiban agama hanya karena pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ. Ada pula perkara yang berkaitan dengan kebiasaan masyarakat pada masa itu (‘Adah atau tradisi), seperti bentuk pakaian dan sebagian kebiasaan sosial yang berlaku di tengah masyarakat Arab.

    Kemudian ada pula perkara yang bersifat pengalaman duniawi (dunyawiyyah). Salah satu contoh yang paling dikenal adalah persoalan penyerbukan kurma. Nabi ﷺ pernah memberikan pandangan, kemudian beliau bersabda:

    «أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ»

    “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”

    Maka, mencintai Nabi ﷺ tidak berarti kita harus meniru setiap detail kehidupan beliau tanpa memahami konteksnya.

    Yang paling penting adalah mengikuti beliau dalam perkara yang memang menjadi petunjuk agama, hukum, dan mengambil keteladanan dari akhlak serta sifat-sifat mulia yang beliau ajarkan.

    Di antara sifat Nabi ﷺ yang mulia, digambarkan oleh Allah ﷻ dalam Surah At-Taubah ayat 128:

    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

    “Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami. Dia sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap orang-orang beriman, beliau sangat penyantun dan penyayang.”

    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

    Mari kita renungkan ayat ini. Allah tidak hanya memperkenalkan kepada kita siapa Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga memperlihatkan kepada kita bagaimana hati beliau terhadap umatnya.

    Allah berfirman:

    مِنْ أَنْفُسِكُمْ

    “Dia berasal dari kalangan kalian sendiri.”

    Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia. Beliau bukan malaikat. Beliau makan sebagaimana kita makan, beristirahat sebagaimana kita beristirahat, merasakan sakit, sedih, gembira, dan menghadapi berbagai ujian kehidupan. Allah mengutus seorang manusia kepada manusia agar manusia dapat melihat secara langsung bagaimana ajaran Allah dijalankan dalam kehidupan nyata.

    Karena itu, kita tidak memiliki alasan untuk mengatakan bahwa keteladanan Nabi terlalu jauh untuk kita ikuti. Beliau adalah manusia seperti kita, tetapi beliau adalah manusia pilihan yang hidupnya dibimbing oleh wahyu.

    Kemudian Allah berfirman:

    عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

    “Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami.”

    Inilah hati seorang Nabi. Beliau ﷺ memiliki empati yang sangat tinggi. Ketika umatnya mengalami kesulitan, beliau tidak bersikap acuh. Ketika umatnya berada dalam kesesatan, beliau bersedih. Ketika umatnya melakukan dosa, beliau mengingatkan dan mendoakan mereka. Bahkan perhatian beliau kepada umatnya tidak berhenti pada kehidupan dunia.

    Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi ﷺ berdoa untuk umatnya dan mengatakan:

    «أُمَّتِي، أُمَّتِي»

    “Umatku, umatku.”

    Begitu besar perhatian beliau kepada umatnya.

    Lalu Allah berfirman:

    حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ

    “Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi kalian.”

    Nabi ﷺ tidak sekadar menyampaikan risalah, kemudian membiarkan manusia memilih jalan masing-masing tanpa kepedulian. Beliau ingin umatnya mendapatkan hidayah. Beliau ingin umatnya selamat. Beliau ingin umatnya terhindar dari keburukan dunia dan akhirat.

    Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan dirinya seperti seseorang yang berusaha menyelamatkan manusia dari api. Beliau berusaha menahan manusia agar tidak terjatuh ke dalamnya, sementara manusia justru berusaha masuk ke dalamnya.nBegitulah besarnya keinginan beliau agar umatnya selamat.

    Maka kalau kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, seharusnya ada upaya untuk meniru sifat mulia itu dalam diri kita. Kita belajar peduli kepada orang lain. Ketika melihat saudara kita sedang kesulitan, kita tidak menertawakan. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, kita tidak buru-buru merendahkan. Ketika ada orang yang jauh dari agama, kita tidak langsung membencinya, tetapi kita berusaha mengajaknya dengan cara yang baik. Sebab Nabi ﷺ mengajarkan agama bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan kasih sayang.

    Allah kemudian berfirman:

    بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

    “Terhadap orang-orang beriman, beliau sangat penyantun dan penyayang.”

    Mari kita perhatikan dua sifat yang Allah sebutkan: رَءُوفٌ رَحِيمٌ

    Ra’ûf menunjukkan kelembutan dan belas kasih yang sangat dalam. Sedangkan rahîm menunjukkan kasih sayang yang menghendaki kebaikan bagi orang yang disayangi.

    Maka, semakin seseorang mengikuti Nabi ﷺ, seharusnya semakin lembut akhlaknya. Bukan semakin kasar. Semakin dekat dengan sunnah, seharusnya semakin baik lisannya. Bukan semakin mudah mencaci. Semakin memahami agama, seharusnya semakin besar kasih sayangnya kepada sesama. Sebab Allah sendiri menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai seorang yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

    Allah juga berfirman:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    “Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

    Karena itu, kalau kita ingin membuktikan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, mari kita mulai dari hal-hal yang nyata. Kita tentu ingin mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Tetapi jangan sampai kita hanya sibuk dengan perkara-perkara yang tampak di luar, sementara akhlak yang menjadi inti keteladanan beliau justru kita tinggalkan.

    Nabi ﷺ adalah orang yang paling kuat ibadahnya, tetapi juga paling lembut kepada manusia. Beliau tegas dalam perkara prinsip, tetapi penuh kasih sayang dalam membimbing umat. Beliau membawa syariat, tetapi tidak menjadikan syariat sebagai alasan untuk berlaku zalim. Inilah keteladanan yang perlu kita hidupkan.

    Semoga Allah menjadikan kita benar-benar termasuk umat Nabi Muhammad ﷺ; umat yang mengikuti sunnahnya, mencintainya, meneladani akhlaknya, dan kelak mendapatkan syafaatnya.

    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    KHUTBAH KEDUA

    الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْبَشَرِ

    أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

    اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَحْيِنَا عَلَى سُنَّتِهِ، وَأَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ، تَحْتَ لِوَائِهِ يَوْمَ الدِّينِ

    اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالتَّأَسِّيَ بِأَخْلَاقِهِ، وَاجْمَعْنَا مَعَهُ فِي الْجَنَّةِ

    اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاجْعَلْنَا رَحْمَةً لِمَنْ حَوْلَنَا كَمَا كَانَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ ﷺ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Mengenal Sifat Mulia Nabi ﷺ dalam Surah At-Taubah 128

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023