KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » Memberantas Kefasikan Publik dan Mengikis Fanatisme Sektarian

    Memberantas Kefasikan Publik dan Mengikis Fanatisme Sektarian

    BY 03 Sep 2026 Dilihat: 32 kali

    إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ بِلِسَانِ الصِّدْقِ وَالتَّبْجِيْل، وَنَسْتَعِيْنُهُ فِي دَفْعِ الْفِتَنِ وَأَنْوَاعِ الْأَبَاطِيْل، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ وَالضَّلَالِ وَالْإِضْلَال، وَنَسْأَلُهُ الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى عِنْدَ تَنَاحُرِ الْأَهْوَاءِ وَكَثْرَةِ الْأَقْوَال، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَلَا مُجِيْرَ لِمَنْ خَذَلَهُ وَأَهْمَلَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُخْلِصٍ يَبْتَغِيْ بِهَا عِزَّ الدِّيْنِ وَالصَّفَاء، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمُصْطَفَى فِي الْأَنَامِ بِالْخُلُقِ وَالْوَفَاء. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالنَّقَاء، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اللِّقَاءِ وَالْجَزَاءِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ الرَّحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَظِيْمِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الصَّادِقُونَ مِنَ الْجَحِيْمِ.

    Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Hari ini kita bukan saja diuji oleh tekanan ekonomi, tetapi juga ditantang oleh fenomena sosial yang memprihatinkan, yakni maraknya kefasikan yang dipertontonkan secara terang-terangan di ruang publik. Kemaksiatan tidak lagi disembunyikan di balik dinding-dinding tertutup, melainkan dipamerkan dengan rasa bangga, menantang nurani, dan mencederai hak-hak masyarakat umum lainnya.

    Fenomena ini nyata kita saksikan dalam bentuk hura-hura nir-adab seperti konvoi kendaraan yang memadati jalan sehingga menggangu pengendara lainnya, ada juga di beberapa daerah adanya hiburan jalanan ekstrem, yang populer dengan sebutan ‘sound horeg’ yang kemudian ada upaya penghalusan istilah dan diganti dengan nama sound karnaval, yang mana hampir semua dari kita tahu bahwa aktivitas merusak ini diiringi dengan dentuman bass menggelegar, penari jalanan yang berpenampilan vulgar, layaknya diskotik berjalan.

    Ironisnya, aktivitas ini sering kali memaksa warga sekitar, termasuk orang sakit, anak-anak, dan lansia yang tidak ikut serta, untuk menanggung kebisingan serta kerusakan fisik dan psikologis tersebut tanpa bisa melawan.

    Lebih parah lagi, ketika kegiatan batil ini diingatkan atau ketika ada upaya penegakan larangan demi ketertiban umum, para pelaku dan pendukungnya justru tidak terima. Mereka marah, protes, bahkan balik menantang. Mereka membungkus kebodohan dengan kebodohan ganda dengan melemparkan narasi pembelaan yang tidak apple-to-apple, seperti berdalih: “Kenapa cuma sound ini yang dilarang? Bukankah korupsi jauh lebih penting untuk diberantas?”

    Ini adalah bentuk sesat pikir yang berbahaya. Kerusakan tidak boleh dilegitimasi hanya karena ada kerusakan lain yang sama-sama berbahaya atau bahkan lebih berbahaya. Dua-duanya adalah kemungkaran, dan penegakan hukum atau nilai agama di satu sektor tidak menggugurkan kewajiban untuk mencegah kemungkaran di sektor lainnya.

    Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 33:

    قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ

    “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar…'” (QS. Al-A’raf: 33).

    Ayat ini secara tegas menggandengkan keharaman perbuatan keji yang nampak (terang-terangan) maupun tersembunyi. Menampakkan kefasikan dan mengganggu kenyamanan publik adalah bentuk al-baghy (melampaui batas) dan merugikan hak orang lain.

    Selain itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

    كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

    “Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang melakukan terang-terangan (dalam berbuat dosa).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan (Mujaharah bil Ma’siyah) menutup pintu ampunan Allah dan mendatangkan azab merata bagi masyarakat yang mendiamkannya, terlebih ketika mereka menentang saat diingatkan.

    Sidang Jumat a’azzakumullah,

    Penyakit masyarakat kedua yang tidak kalah merusak tatanan umat adalah fanatisme sektarian. Sebagian kelompok merasa diri atau golongannya paling suci, paling benar, dan paling sesuai dengan sunnah Nabi.

    Namun, mereka terjebak pada simbolisme, mengira bahwa sunnah hanyalah masalah potongan celana di atas mata kaki, jenggot yang dipanjangkan, atau kain jilbab yang menjuntai sampai ke pinggang, atau doktrin manhaj pemahaman agama yang sesuai dengan pemahaman mereka, yang kemudian diklaim atau diaku-aku bahwa manhaj mereka yang paling sesuai dengan manhaj nabi, shahabat, atau para salaf.

    Sementara itu, substansi akhlaknya hancur lebur saat berinteraksi dengan sesama Muslim, baik di dunia maya (digital) maupun di dunia nyata. Na’udzubillahi min dzalik.

    Tidak ada artinya klaim “mengikuti manhaj salaf” atau “paling sesuai dengan Nabi” jika lisannya mudah mencaci, hatinya penuh kebencian, dan akhlaknya buruk kepada saudaranya sendiri. Bahkan tidak jarang mereka memahami agama sesuai selera kelompoknya sendiri.

    Lebih ironis lagi, kelompok-kelompok seperti ini sangat gemar bermain standar ganda. Ketika ulama atau figur panutan mereka dikritik, atau diingatkan atas kekeliruannya, atau dipandang berbeda dengan pandangan kelompoknya, mereka teriak paling keras bahwa itu adalah penghinaan, pelecehan terhadap ulama, bahkan bermain playing victim, seolah-olah mereka adalah korban yang teraniaya.

    Namun, di saat yang sama, mereka sendiri sangat gemar menebar label-label buruk, menghina, dan merendahkan dai, ustadz, atau ulama lain yang tidak sekelompok dengan mereka, mulai dicap sebagai ahli bid’ah, hizby, atau ta’asshhub (fanatik kelompok), atau menebarkan flyer -flyer propaganda yang merendahkan kaum muslimin yang lain. Sikap ini ibarat pepatah lama: menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

    Sikap dan perilaku mereka justru tidak jauh-jauh dari perilaku ahli bid’ah itu sendiri, hizby (suka berpecah belah), dan ta’asshub (fanatik). Kita bisa bayangkan kalau kelompok seperti ini mendominasi kultur sosial-keagamaan di tengah-tengah masyarakat Islam kita yang majemuk di negara kita, betapa tambah tidak harmonisnya kehidupan bermasyarakat dan kehidupan beragama.

    Allah ﷻ menegur sikap merasa suci diri dalam Surah An-Najm ayat 32:

    فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

    “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Allah-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

    Ayat ini melarang umat Islam mengklaim kesucian atau ketakwaan diri di atas kelompok lain, karena standar kemuliaan di sisi Allah murni ditentukan oleh takwa yang dibuktikan dengan akhlak nyata, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, bukan klaim kelompok.

    Rasulullah ﷺ juga memperingatkan perihal buruknya akhlak bermasyarakat dalam sabdanya:

    سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

    “Mencaci maki seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Menghina saudara seiman, melabelinya dengan sebutan buruk karena perbedaan pandangan, pafahal masih sama-sama dalam bingkai ilmu dan syariat, adalah bentuk kefasikan nyata yang bertentangan dengan esensi risalah Nabi ﷺ.

    Mari kita renungkan kembali arah langkah kita. Pertama, mari kita jaga keluarga dan lingkungan kita dari polusi kefasikan publik yang mengganggu ketentraman. Lawan normalisasi kemaksiatan terang-terangan dengan konsistensi warga melaporkan dan mendesak aparatur yang berwenang untuk menindak, menolak setiap kemungkaran dengan tegas dan terukur, serta tidak memberi panggung kepada pelaku kebatilan.

    Kedua, mari kita jaga masjid kita, lingkungan tinggal kita, wilayah negeri kita dari fanatisme sektarian kelompok. Karena itu semua adalah akar kerusakan yang nyata. Ingatkan diri dan jamaah bahwa kesalehan sejati diukur dari keluhuran budi pekerti saat berinteraksi sosial, bukan sekadar atribut fisik atau klaim golongan paling benar.

    Kita tumbuhkan sikap objektif dalam menilai kebenaran dari mana pun datangnya dengan ilmu, serta memperbanyak belajar, wawasan, dan sudut pandang.

    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    KHUTBAH KEDUA

    الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيراً كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَفِيُّ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا. اللَّهُمَّ طَهِّرْ مُجْتَمَعَاتِنَا مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى التَّقْوَى وَالْمَحَبَّةِ وَالْأُخُوَّةِ الصَّادِقَةِ، وَابْعِدْنَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالْعَصَبِيَّةِ الْمَذْمُومَةِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Memberantas Kefasikan Publik dan Mengikis Fanatisme Sektarian

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023