
Setiap manusia pasti pernah menghadapi masa sulit, kegagalan, kehilangan, atau kekalahan. Ada kalanya hati terasa lemah, tubuh lesu, pundak berat, dan langkah seakan ingin berhenti. Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang larut dalam kesedihan dan frustasi, sementara yang lain mencoba bertahan dengan sisa tenaga dan energi.
Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk tidak hanya berisi hukum dan ajaran ibadah, tetapi juga asupan semangat yang menguatkan jiwa. Salah satu ayat yang begitu menyentuh dan relevan untuk semua zaman adalah firman Allah dalam Surat Āli ‘Imrān ayat 139,
وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman.“
Ayat ini bukan hanya sebagai kalimat penghibur. Lebih dari itu, ia adalah deklarasi iman, penegasan tauhid, motivasi kekuatan, sekaligus strategi hidup bagi setiap mukmin. Ayat tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan peristiwa perang Uhud. Allah menghibur para sahabat atas luka dan kematian yang mereka dapatkan di parang Uhud: “Janganlah kalian bersikap lemah dalam memerangi musuh kalian, dan merasa ragu terhadap janji Allah untuk menolong agama-Nya meski kalian dikalahkan, dan janganlah meratapi apa yang telah menimpa kalian, kalian akan mengalahkan mereka jika kalian beriman kepada Rasulullah atas janjinya kepada kalian.”[1]
Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) menerangkan,
فَهُمُ الْأَعْلَوْنَ إِذَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ وَلَوْ غُلِبُوا[2]
“Maka mereka tetaplah yang paling tinggi (derajatnya) apabila mereka beriman, sekalipun mereka dikalahkan (secara lahir)”
Tafsir Ibnu Katsir: Kemenangan Tetap bagi Orang Beriman
Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) menjelaskan sebagai berikut,
ثم قال تعالى مسليا للمؤمنين ﴿وَلا تَهِنُوا﴾ أي لا تضعفوا بسبب ما جرى ﴿وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ أي العاقبة والنصرة لكم أيها المؤمنون ﴿إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ﴾[3] أي إن كنتم قد أصابتكم جراح وقتل منكم طائفة، فقد أصاب أعداءكم قريب من ذلك من قتل وجراح ﴿وَتِلْكَ الْأَيّامُ نُداوِلُها بَيْنَ النّاسِ﴾[4] أي نديل عليكم الأعداء تارة، وإن كانت لكم العاقبة لما لنا في ذلك من الحكمة[5]
Kemudian Allah Ta‘ala berfirman untuk menghibur orang-orang beriman:
وَلا تَهِنُوا
Dan janganlah kamu merasa lemah, maksudnya, jangan lemah karena apa yang telah terjadi.
وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu beriman yakni, kesudahan (yang baik) dan kemenangan itu untuk kalian wahai orang-orang beriman.
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ
‘Jika kalian mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun telah mendapat luka yang serupa’, maksudnya, jika kalian ditimpa luka dan sebagian kalian terbunuh, maka musuh-musuh kalian juga mengalami hal yang hampir sama berupa terbunuh dan terluka.
وَتِلْكَ الْأَيّامُ نُداوِلُها بَيْنَ النّاسِ
‘Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia’, yakni, terkadang Kami menimpakan kemenangan kepada musuh kalian, namun kesudahan (kejayaan) tetap untuk kalian, karena pada semua itu terdapat hikmah yang telah Kami tetapkan.
Firman Allah “وَتِلْكَ الْأَيّامُ نُداوِلُها بَيْنَ النّاسِ” menjadi kunci pemahaman. Kehidupan di dunia selalu berputar, kadang seorang mukmin menang, kadang ia kalah, kadang bahagia, kadang berduka, kadang sukses, kadang gagal, kadang lapang, dan kadang sempit. Tetapi dalam semua perputaran itu ada hikmah Ilahi. Sesungguhnya, Allah sedang mendidik kaum mukmin agar semakin matang, sabar, dan siap menanggung amanah kemenangan yang sejati.
Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa kesedihan dan kegagalan bukanlah tanda kerugian mutlak, melainkan bagian dari perjalanan menuju kejayaan. Yang terpenting adalah keteguhan iman, karena dengan imanlah seorang mukmin akan selalu lebih tinggi, meskipun secara lahir tampak kalah.
Tafsir Sayyid Quthb: Orang Beriman Tetap Lebih Unggul
Sayyid Quthb rahimahullah (w. 1385 H) dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menekankan dimensi ruhiyah dan harakah saat menjelaskan ayat 139 surat Ali Imran sebagaimana berikut,
لا تَهِنُوا – من الوهن والضعف – وَلا تَحْزَنُوا – لما أصابكم ولما فاتكم – وأنتم الأعلون .. عقيدتكم أعلى فأنتم تسجدون لله وحده، وهم يسجدون لشيء من خلقه أو لبعض من خلقه! ومنهجكم أعلى. فأنتم تسيرون على منهج من صنع الله، وهم يسيرون على منهج من صنع خلق الله! ودوركم أعلى. فأنتم الأوصياء على هذه البشرية كلها، الهداة لهذه البشرية كلها، وهم شاردون عن النهج، ضالون عن الطريق. ومكانكم في الأرض أعلى، فلكم وراثة الأرض التي وعدكم الله بها، وهم إلى الفناء والنسيان صائرون.. فإن كنتم مؤمنين حقا فأنتم الأعلون. وإن كنتم مؤمنين حقا فلا تهنوا ولا تحزنوا. فإنما هي سنة الله أن تصابوا وتصيبوا، على أن تكون لكم العقبى بعد الجهاد والابتلاء والتمحيص[6]
“Janganlah kalian merasa lemah dari kelemahan dan kerapuhan, dan jangan pula bersedih karena apa yang menimpa kalian atau apa yang luput dari kalian, padahal kalian adalah orang-orang yang paling tinggi.
Akidah kalian lebih tinggi, sebab kalian bersujud hanya kepada Allah semata, sedangkan mereka bersujud kepada sesuatu dari makhluk-Nya atau kepada sebagian makhluk ciptaan-Nya!
Manhaj kalian lebih tinggi, sebab kalian berjalan di atas manhaj (aturan hidup) yang berasal dari Allah, sementara mereka berjalan di atas manhaj yang dibuat oleh sesama makhluk Allah!
Peran kalian lebih tinggi, sebab kalian adalah para pemelihara seluruh umat manusia, para penunjuk jalan bagi seluruh umat manusia, sedangkan mereka justru menyimpang dari manhaj itu, tersesat dari jalan yang benar.
Kedudukan kalian di muka bumi lebih tinggi, sebab bagi kalianlah warisan bumi yang telah Allah janjikan, sedangkan mereka menuju kehancuran dan akan lenyap dilupakan.
Maka jika kalian benar-benar beriman, kalianlah yang paling tinggi. Jika kalian benar-benar beriman, janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati. Karena itu adalah sunnatullah: terkadang kalian terkena musibah dan terkadang kalian menimpakan (kemenangan) kepada musuh. Namun pada akhirnya, kesudahan adalah milik kalian, setelah jihad, ujian, dan penyucian (diri).”
Lewat penjelasan Sayyid Quthb, kita tidak hanya mengerti makna teks ayat tersebut, tetapi juga menyadari bahwa ayat 139 surat Ali Imran ini sejatinya meniupkan semangat hidup, membangkitkan keberanian, dan menyalakan kembali optimisme iman di tengah kondisi umat yang jatuh bangun.
Akhir Kalam
Quran Surat Ali Imran ayat 139 yang telah kita baca di atas bukan sekadar nash tertulis di dalam mushaf Al Qur’an. Lebih dari itu, ia mengajak orang beriman untuk menyadari kedudukan dan posisinya yang unggul dan strategis. Orang-orang mukmin (beriman) tetap yang paling tinggi, sekalipun kalah secara lahir. Karena kekalahan itu hanya sementara, kesedihan tidak abadi, dan kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda, dan pada akhirnya, kemenangan dan keberuntungan tetap mereka jualah yang meraihnya. Ayat ini adalah energi spiritual yang menegakkan kepala kaum mukmin, menolak kelemahan, dan memutus akar kesedihan.
Referensi:
[1] Tafsir al-Madīnah al-Munawwarah, hlm. 177.
[2] Jāmi‘ al-Rasā’il, 2/361.
[3] QS. Ali Imran ayat 140
[4] QS. Ali Imran ayat 140
[5] Tafsir al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 2/110.
[6] Fī Ẓilāl al-Qur’ān, 1/481.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Jangan Lemah dan Bersedih: Pesan Abadi Surat Āli ‘Imrān ayat 139