KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Keindonesiaan » Mulia dengan Islam, Bukan dengan Klaim Manhaj (1)

    Mulia dengan Islam, Bukan dengan Klaim Manhaj (1)

    BY 30 Dec 2025 Dilihat: 296 kali

    Pada fase awal fenomena tren hijrah, hampir semua orang sepakat bahwa yang sedang terjadi adalah sesuatu yang baik. Masjid kembali hidup, kajian dipenuhi anak muda, istilah-istilah Islam kembali akrab di ruang publik, dan agama yang sebelumnya terasa jauh menjadi pembicaraan sehari-hari. Setidaknya ini yang terjadi hampir dua dekade terakhir. Namun sebagaimana setiap fenomena sosial yang tumbuh cepat, hijrah tidak bergerak dalam satu arah yang tunggal dan steril. Ia membawa potensi pencerahan yang sangat besar, tetapi di saat yang sama pada kutub yang lain juga terdapat risiko penyimpangan yang halus, pelan, dan sering kali tidak disadari oleh mereka yang sedang berada di dalamnya ataupun di luarnya.

    Dari Pola Dakwah Menjadi Doktrin Manhaj

    Di titik inilah muncul sebuah pola dakwah yang sekilas tampak sangat rapi, sangat tekstual, sangat patuh pada dalil, tetapi ketika diamati lebih lama, justru memperlihatkan gejala penyempitan Islam yang sistematis. Memang bukan melalui kekerasan fisik, tetapi melalui narasi yang dibangun berulang-ulang, tenang, dan seolah sangat aman. Dan pada konteks tertentu, cepat atau lambat biasanya terdapat ajakan frontal dan perlahan dakwah tersebut berubah menjadi kekerasan psikis, baik disadari ataupun tidak.

    Narasi itu biasanya dimulai dengan kalimat yang terdengar mulia: “Kita harus kembali kepada sunnah.” Lalu dilanjutkan dengan kalimat yang terdengar sangat normatif: “Keselamatan ada pada mengikuti salaf.” Namun perlahan, tanpa disadari, narasi tersebut bergeser menjadi: “Keselamatan hanya ada pada barisan ini.”

    Dalam realitas kontemporer, kelompok yang kerap disebut sebagai “Salafi” atau oleh sebagian kalangan tradisional disebut “Salafi-Wahabi”, sesungguhnya tidaklah berdiri sebagai satu entitas yang tunggal dan homogen. Ia terdiri dari spektrum yang beragam dan tidak bisa dibaca secara hitam-putih.

    Secara umum, dapat dibedakan antara kecenderungan yang bersifat wasathi (moderat) dan kecenderungan yang mutasyaddid (keras). Pada praktiknya, kecenderungan yang mutsyaddid (keras) inilah yang lebih sering menimbulkan ketegangan, baik dalam relasi antar dai dan aktivis dakwah maupun dalam dinamika internal umat Islam sendiri.

    Kita kembali ke soal peralihan narasi tersebut tadi. Dari “Kembali ke Qur’an dan Sunnah, Manhaj Salaf,” hingga kemudian pengakuan secara simbolik dan naratif bahwa seolah-olah “keselamatan ber-Islam hanya ada pada kelompok kami”. Peralihan narasi ini jarang disadari, karena tidak pernah diucapkan secara eksplisit dan terbuka di hadapan publik atau jama’ahnya. Pola ini bekerja seperti kabut. Kabut itu tidak menabrak, tetapi menutup pandangan dan cara kerjanya terkadang banyak tidak disadari.

    Al-Qur’an sejak awal telah menetapkan standar kemuliaan yang sangat sederhana, jujur, dan tidak bisa dimonopoli oleh siapa pun. Allah ﷻ tegaskan:

    إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

    Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa (Q.S. al Hujurat ayat 13)

    Ayat ini turun untuk menghancurkan logika keunggulan berbasis identitas. Dan anehnya, dalam sebagian praktik dakwah hari ini, logika itu justru dibangun kembali dalam bentuk yang baru, lebih religius, terkesan paling benar, islami, dan nyunnah. Bahkan orang-orang yang ada di lingkaran tersebut seakan suci dari salah dan kritik, karena narasi yang dibawa terkesan agamis, ilmiah, dan nyalaf.  

    Takwa tidak bisa dipahami sebagai sekadar ketepatan dalil atau kesesuaian simbol, tetapi sebagai kesatuan antara iman yang benar, amal yang lurus, dan akhlak yang baik terhadap manusia. Ini sejalan dengan hadis Nabi ﷺ:

     اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ، وأتبِعِ السَّيِّئةَ الحسَنةَ تَمْحُهَا، وخالِقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسنٍ

    ”Bertakwalah kepada Allah  di manapun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” (H.R. at-Tirmidzi, no. 1987, Ahmad, no. 21392)

    Karena itu, para salaf sangat berhati-hati dalam memvonis, sangat pelan dalam menghakimi, dan sangat takut menjadikan agama sebagai alat superioritas moral. Dan Allah ﷻ secara tegas mengingatkan:

    فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

    Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (Q.S. an-Najm ayat 32)

    Ini bukan ayat kosong. Allah ﷻ berfirman bukan tanpa hikmah. Allah ﷻ Maha Tahu dan pasti sudah tahu bahwa di setiap zaman, di dunia ini ada orang-orang yang menganggap dirinya paling bersih, suci, atau bertakwa, maka ayat ini menjadi surat peringatan bagi mereka yang bersikap seperti itu.

    Di lapangan dakwah di era modern ini, kita mulai melihat sesuatu itu. Manhaj, yang sejatinya adalah metode ilmiah untuk memahami nash, pelan-pelan berubah menjadi identitas sosial yang tertutup. Ia tidak lagi berfungsi sebagai alat berpikir, tetapi sebagai penanda “siapa kita” dan “siapa mereka”. Dari sinilah lahir pola yang konsisten. Apa itu? Kebenaran tidak lagi diuji dari dalil dan cara mengambil serta memahami dalil sebagaimana yang para salaf ajarkan, tetapi dari kesesuaian dengan garis kelompok kontemporer ini.

    Pada tahap ini, perbedaan ijtihad tidak lagi dipahami sebagai kelapangan tradisi keilmuan Islam, tetapi sebagai indikasi penyimpangan. Ustadz yang berbeda pendekatan mulai dicurigai. Aktivis dakwah yang berusaha memahami kondisi lapangan dan realitas dianggap “kurang sunnah” atau melenceng dari “sunnah”, atau dianggap bermasalah dalam “manhaj”. Tentu saja sunnah dan manhaj versi pandangan kelompok ini. Bahkan muslim awam yang tidak sepenuhnya mengikuti standar simbolik tertentu mulai diperlakukan sebagai masalah.

    Keras ke Bawah dan Sesama, Tumpul ke Atas

    Pola yang menarik dan konsisten, serta ini penting dicatat secara jujur, yaitu arah kekerasan simbolik dan psikis dalam narasi ini. Ia hampir selalu diarahkan ke bawah dan ke samping, yaitu kepada sesama muslim di luar kelompoknya, kepada dai dan aktivis dakwah lain, serta kepada jamaah sendiri yang dianggap mulai bergeser dari “manhaj” versi mereka. Jarang sekali narasi kritis diarahkan ke atas, kepada struktur kekuasaan yang zalim atau kebijakan yang jelas-jelas merugikan umat.

    Di sinilah muncul pola halus berikutnya, yang sering kali dibungkus dengan dalil-dalil yang terdengar sangat aman, yaitu narasi ketaatan kepada ulil amri.

    Tidak ada muslim yang mengingkari kewajiban taat kepada ulil amri dalam perkara yang ma’ruf atau sesuai syariat. Ini prinsip Ahlus Sunnah yang jelas dan mapan. Namun masalah muncul ketika konsep ini dipersempit maknanya, diperluas objeknya, dan dimatikan fungsi kritisnya.

    Ayat dan hadis tentang taat kepada penguasa dibacakan tanpa konteks, tanpa sejarah, dan tanpa penjelasan batasannya. Ketaatan diulang-ulang, sementara syarat “selama tidak dalam kemaksiatan” dikecilkan, bahkan nyaris dihilangkan dari wacana publik. Kritik didelegitimasi atau dianggap pemberontakan, dituduh Khawarij, amar ma’ruf nahi munkar dipersempit menjadi urusan pribadi, dan sikap diam dipromosikan sebagai bentuk hikmah tertinggi. Tetapi yang unik, kelompok ini pun dianggap kalangan lain sebagai kelompok Khawarij juga sebenarnya.

    Para ulama salaf sebenarnya memahami ketaatan dengan sangat dewasa. Imam Ahmad, ketika disiksa oleh penguasa dalam peristiwa Mihnah saat doktrin mu’tazilah jadi sikap resmi pemerintahan beliau tidak memerintahkan pemberontakan, tetapi juga tidak loyal dan mendiamkan kebatilan penguasa. Imam Malik dipukul karena fatwa yang bertentangan dengan kepentingan politik, namun beliau tidak mencabut kebenaran demi stabilitas palsu. Ibnu Taimiyah berkali-kali menegur penguasa dengan risiko penjara, karena bagi mereka, ketaatan tidak pernah berarti membungkam nurani dan mengkhianati ilmu.

    Ironisnya, tokoh-tokoh besar tersebut tadi, yang aqwāl dan nama-namanya kerap dikutip oleh sebagian kelompok pendaku “salafi”, justru sering dipisahkan dari sikap kritis dan keberanian moral mereka. Yang diambil adalah potongan teks, sementara konteks, keberanian, dan integritas para Ulama tadi seakan dikeluarkan dari narasi dakwah. Atau bahkan kelompok ini seolah bersikap denial akan fakta sejarah tersebut.

    Maka ketika hari ini kita melihat dakwah yang sangat keras kepada dai dan aktivis, tetapi sangat lunak bahkan cenderung loyal kepada kekuasaan yang zalim, patuh dan diam kepada penguasa yang membuat kebijakan yang nyata-nyata bertentangan dengan keadilan dan kemaslahatan umat, kita tidak sedang menyaksikan kelanjutan manhaj salaf, melainkan pembalikan warisan sejarahnya.

    Paradoks Hizbiyyah

    Pola tersebut tadi bekerja sangat efektif karena ia tidak memerintah secara kasar, tetapi menanamkan rasa takut secara psikis, misalnya; takut dianggap pembangkang, takut dicap Khawarij, takut dituduh tidak sunnah, takut dituduh ahli bid’ah, takut dicibir sebagai hizby atau haroki, atau paling ringan biasanya dianggap bermudah-mudahan (tasahul) dalam bermuamalah dan duduk bersama dengan ahli bid’ah, hizbiyyin, dan harokiyyin.  

    Dalam lingkaran internalnya, pola ini secara perlahan membentuk karakter pengikut yang kaku dan keras terhadap sesama Muslim dan para aktivis dakwah. Mereka belajar untuk diam, bukan karena telah mencapai pemahaman yang matang, tetapi karena kelelahan psikis dan kecemasan sosial, seperti khawatir dicap bermasalah dalam manhaj atau tersingkir dari komunitas yang mereka anggap sebagai representasi atau wajah kebenaran.

    Harus diakui bahwa fenomena ini hingga kini masih terbatas pada lingkup tertentu dan belum menjadi standar keberislaman masyarakat Indonesia secara umum. Dalam praktiknya, pola-pola seperti tahdzir, pengucilan dalam interaksi sosial, hingga tekanan dan perundungan di ruang digital lebih banyak beroperasi di dalam lingkaran internal kelompok tersebut, dan belum mewakili wajah Islam masyarakat Indonesia secara luas.

    Namun justru karena sifatnya yang bekerja secara halus, sistematis, dan berjalan melalui konstruksi narasi yang berulang, pola dakwah semacam ini patut diwaspadai dampaknya terhadap kesehatan kehidupan keagamaan umat serta stabilitas sosial masyarakat.

    Dampak di Tengah Masyarakat

    Memang dampaknya untuk saat ini tidak bisa dikatakan “kecil”. Bagi individu yang baru hijrah, agama berubah dari sumber ketenangan menjadi ruang penuh ketegangan. Bagi masyarakat muslim, ukhuwah melemah, kepercayaan terkikis, dan energi umat habis untuk konflik internal. Dan bagi bangsa secara umum, Islam tampil bukan sebagai kekuatan moral yang membela keadilan, tetapi sebagai suara yang terfragmentasi, terpecah, saling menegasikan atau saling menafikan, dan mudah dipinggirkan dari ruang kebijakan publik.

    Dalam kerangka maqashid syari’ah, ini adalah kegagalan serius dalam praksis keberagamaan. Agama yang seharusnya menjaga akal, jiwa, dan tatanan sosial justru tanpa disadari ikut merusaknya. Bukan agama Islam-nya yang salah, tetapi caranya dalam beragama yang salah, cara memahami dalil yang tidak tepat, dan cara bersikap yang sangat arogan.

    Islam yang diwariskan oleh Nabi ﷺ dan dipraktikkan oleh generasi salaf bukanlah Islam yang sempit dalam cara pandang, penakut dalam bersikap, atau terjebak pada perlombaan label dan pengelompokan. Islam yang autentik adalah Islam yang tegas dalam prinsip-prinsip akidah dan nilai, namun lapang dalam menyikapi perbedaan yang memang memiliki ruang ijtihad. Ia adalah Islam yang berani secara moral, berani menyuarakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak sejalan dengan kepentingan kekuasaan, kenyamanan kelompok, atau ilusi kebenaran yang dibangun oleh suatu komunitas atas nama manhaj, jamaah, atau loyalitas tertentu.

    Dunia dakwah jika ingin tetap aman dan mencerahkan, harus dijaga dari penyempitan semacam ini. Ia harus membawa umat dari ketergantungan pada kelompok menuju ketergantungan kepada Allah, dari fanatisme kelompok tertentu menuju keadilan, dan dari simbol menuju substansi, bukan sekadar kulit.

    Karena pada akhirnya, Islam terlalu mulia untuk direduksi menjadi sekadar alat legitimasi kelompok tertentu, maupun legitimasi kekuasaan yang membodohi. Dan ketika Islam dipersempit oleh oknum-oknum yang mengklaim diri sebagai “pengikut salaf”, sejatinya bukan Islam yang menjadi sempit. Yang menyempit adalah cara berpikir mereka sendiri, takut pada keluasan rahmat Allah dan lapangnya kebenaran, gentar pada perbedaan yang sah, serta resah menghadapi kebenaran yang tidak bisa dikontrol dan dimonopoli oleh otoritas kelompok maupun kekuasaan.

    (Bersambung ke Seri 2)

    Baca Juga:

    Mulia dengan Islam, Bukan dengan Klaim Manhaj (2)

    Mulia dengan Islam, Bukan dengan Klaim Manhaj (3)

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Mulia dengan Islam, Bukan dengan Klaim Manhaj (1)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023