
Penulis: Ahla Kembara (Master in Islamic Studies, The Faculty of Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah)
Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa setiap kali hendak membaca Al-Qur’an atau memulai ibadah, kita diperintahkan mengucapkan ta’awwudz?
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk“
Mengapa kita tidak langsung saja masuk ke inti doa? Memulai sesuatu dengan ber-isti’adzah (membaca a’udzu billahi minasy syaithanir rajim) bukan sekadar rutinitas. Di balik kalimat tersebut, tersimpan makna filosofis dan teologis yang sangat dalam. Makna dari kalimat tersebut adalah,
أستجير بجناب الله من الشيطان الرجيم أن يضرني في ديني ودنياي، أو يصدني عن فعل ما أمرت به، أو يحثني على فعل ما نهيت عنه
“Aku memohon perlindungan kepada perlindungan Allah dari setan yang terkutuk, agar ia tidak membahayakan agamaku maupun duniaku, atau menghalangiku dari melakukan apa yang diperintahkan kepadaku, atau menghasutku untuk melakukan apa yang dilarang bagiku.” (‘Umdatu at-Tafsir ‘an al-Hafidz Ibn Katsir, 1/55)
Kalimat ini sebenarnya adalah intisari mengapa kita perlu membaca ta’awwudz. Ada tiga hal besar yang harus kita waspadai dari gangguan setan menurut penjelasan tersebut:
Pertama, gangguan dalam perkara din (agama) dan dunia. Kita memohon perlindungan Allah supaya setan tidak membikin kacau urusan ibadah kita, seperti riya’, malas ibadah, was-was, merasa paling bertakwa, dan tidak menghancurkan urusan dunia kita, seperti tabdzir atau boros, rusaknya keharmonisan rumah tangga atau keluarga, karir, takut miskin, dan kelalaian yang bisa menyebabkan celaka.
Kedua, penghalangan kebaikan. Setan itu hobi membuat kita berat, atau menunda-nunda perintah Allah, seperti shalat, sedekah, bayar hutang padahal sudah mampu, bertaubat, berzikir, membaca Al Qur’an, belajar, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.
Ketiga, hasutan keburukan. Setan aktif mendorong dan membujuk kita supaya merasa asyik melakukan hal-hal yang jelas-jelas dilarang.
Maka sangat logis jika membaca ta’awwudz itu sangat ditekankan kepada kita, karena setan menggoda dan mengganggu secara berlapis, Allah ﷻ berfirman:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(17)
“Iblis (setan) menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (Q.S. al-A’raf ayat 16-17)
Dan tidak ada yang bisa menghalangi gangguan setan kecuali hanya Allah ﷻ.
Benteng Gaib dari Musuh yang Tak Bisa Diajak Diplomasi
Dalam kitab ‘Umdatu at-Tafsir ‘an al-Hafidz Ibn Katsir dijelaskan bahwa musuh manusia atau setan itu ada dua jenis, yakni manusia dan jin. Sebagaimana Allah ﷻ katakan:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Q.S. al-An’am ayat 112)
Menghadapi setan dari golongan manusia mungkin masih bisa menggunakan diplomasi atau kebaikan. Oleh karena itu, dalam kondisi tertentu kita diperintahkan untuk bersikap lunak (mengambil hati) kepada setan manusia dan bersikap baik kepadanya dengan cara memberikan kebaikan, agar tabiatnya yang baik dapat meredam gangguan atau keburukan yang sedang ia lakukan
Adapun strategi diplomasi kebaikan tidak berlaku bagi setan jin. Ia adalah makhluk yang jahat secara tabiat (syarirun bit thab’i) dan tidak akan berhenti sampai kita tersesat. Ia tidak menerima suap, tidak mempan dengan rayuan kebaikan, dan tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai. Maka, satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah Sang Pencipta. Karena hanya Allah ﷻ yang tahu cara membendung gangguan makhluk yang Ia ciptakan sendiri itu. Allah ﷻ menegaskan perintahnya lewat firman-Nya:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf ayat 200)
Hakikat Setan: Bukan Sekadar Nama, Tapi Sifat
Secara etimologi, kata ‘setan’ dalam bahasa Arab menyimpan makna yang sangat dalam. Ada dua pendapat kuat yang dijelaskan dalam kitab ‘Umdatu at-Tafsir:
Pertama, Syathana (شَطَنَ) yang berarti jauh. Setan disebut demikian karena ia sangat jauh dari tabiat manusia yang normal dan jauh dari segala bentuk kebaikan.
Kedua, Syatha (شَاط) yang berarti terbakar. Hal ini merujuk pada asal muasalnya dari api.
Menariknya, istilah “setan” ternyata bukan sekadar nama spesies, tetapi juga sifat. Siapa pun yang melampaui batas, membangkang, dan menjauhkan orang lain dari kebenaran, baik itu dari kalangan jin, manusia, bahkan hewan, bisa disebut sebagai setan. (‘Umdatu at-Tafsir, 1/55)
Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu agar waspada terhadap fenomena ini lewat sabdanya:
يا أبا ذرٍّ، تَعَوَّذْ باللهِ مِن شرِّ شياطينِ الجنِّ والإنسِ
“Wahai Abu Dzarr, berlindunglah kepada Allah dari keburukan setan-setan manusia dan jin.” (H.R. an-Nasa’i, no. 5507)
Ar-Rajim: Sang Terusir yang Terus Terlempar
Predikat Ar-Rajim bermakna Marjum (yang dirajam atau dilempar). Setan adalah makhluk yang terusir dari segala kebaikan. Secara harfiah, Allah juga melempar mereka dengan kilatan api (syihab) saat mereka mencoba mencuri rahasia langit. Allah ﷻ berfirman:
وَحَفِظْنَاهَا مِن كُلِّ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ . إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُّبِينٌ
Dan Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk (rajim), kecuali (setan) yang mencuri-curi berita (langit) maka ia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS. Al-Hijr ayat 17-18)
Membaca ta’awwudz adalah bentuk penyerahan diri total. Kita mengakui bahwa ada kekuatan jahat yang tidak bisa kita lawan dengan logika atau kekuatan fisik semata, terlebih para setan dari kalangan jin, mereka adalah makhluk tak kasat mata. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ
Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka. (Q.S. Al A’raf ayat 27)
Maka dari itu kita butuh Allah untuk menjaga kita agar tidak goyah dan lengah baik dalam perkara agama ataupun dunia.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Membedah Makna Ta’awwudz: Rahasia di Balik Kalimat Perlindungan