
Oleh: Ahla Kembara
Di antara ungkapan yang umum digunakan di kalangan kaum Muslimin adalah “Bārakallāh” (بَارَكَ الله ) dan “Tabārakallāh” (تَبَارَكَ الله). Kedua kalimat ini sering diucapkan untuk mengungkapkan doa, pujian, dan rasa takjub atau kagum. Ungkapan “بارك الله” (Bārakallāh) dan “تبارك الله” (Tabārakallāh) oleh sebagian orang dianggap memiliki arti yang sama. Padahal, jika dikaji secara mendalam dari sisi bahasa dan syariat, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Jika tidak diperhatikan secara benar, hal ini berpotensi menimbulkan kerancuan makna secara bahasa dan ketidaktepatan dalam penggunaannya, terutama dalam konteks syariah yang menyangkut aspek akidah, fikih (amalan praktis), dan adab dalam interaksi sosial. Apalagi kedua ungkapan tersebut masing-masing memiliki dampak teologis. Tulisan sederhana dan berseri ini bertujuan mengulas perbedaan prinsipil antara kalimat “Bārakallāh” (بَارَكَ الله ) dan “Tabārakallāh” (تَبَارَكَ الله) serta konteks penggunaannya.
Kata بَارَكَ (Bāraka) dan تَبَارَكَ (Tabāraka) memiliki akar kata yang sama yakni بَرَكَ (baraka)
Dalam kitab Maqāyīs al-Lughah disebutkan bahwa “Bā’, rā’, kāf (ب ر ك) merupakan satu akar yang sama menunjukkan makna kokohnya sesuatu atau tetapnya sesuatu atau ثَبَاتُ الشَّيْءِ (ṯabāt asy-syaī’).1 Dari akar ini muncul kata البركة (al- barakah) yang berarti النماء (an-namā’) yang berarti pertumbuhan dan الزيادة (az-ziyādah) yang berarti penambahan.2 Juga bermakna السَّعَادَة (as-sa‘ādah) atau kebahagiaan3. Kata البركة (al-Barakah) juga berarti ثُبُوتُ الخَيْرِ الإلهِي فِيْ الشّيْءِ (ṯubūtu al-khayri al-ilāhiyyi fī as-syaī’i) yakni tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu.4
Maka, secara etimologi, akar kata بَرَكَ (baraka) memiliki arti kebaikan dan kebahagiaan yang kokoh, tetap, dan selalu bertambah.
“Bārakallāh” (بَارَكَ الله) adalah susunan kalimat yang terdiri dari fi’il māḍī (kata kerja lampau) dan fā‘il (subjek). Pada kalimat tersebut, بَارَكَ (bāraka) adalah fi’il māḍī atau kata kerja lampau, sedangkan lafẓ al-Jalālah (الله) adalah fā‘il atau subjek. Kata بَارَكَ (bāraka) mengikuti wazan (pola) فاعلَ (fā‘ala) yang bersifat muta‘addī (kata kerja yang membutuhkan objek). Kata بَارَكَ (bāraka) bermakna أَثْبَتَ (atsbata) yang artinya mengokohkan, menetapakan. Juga bermakna أَدَامَ (adāma) yang berarti melanggengkan, menjadikan terus-menerus. Misal dalam doa,
وبارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Kata بارِكْ (bārik) bermakna أَثْبِتْ (atsbit) yang artinya kokohkan, tetapkan. Juga bermakna أَدِمْ (adim) langgengkan, jadikanlah terus-menerus kebaikan dan kemuliaan.5
Sehingga kalimat بَارَكَ الله (bārakallāh) secara harfiah diartikan Allah telah memberkahi atau Allah telah mengokohkan dan melanggengkan kebaikan. Ungkapan tersebut dimaksudkan untuk mendoakan kebaikan yang kokoh dan langgeng untuk seseorang, sering diterjemahkan “Semoga Allah memberi keberkahan“, yang mengandung makna “semoga Allah mengokohkan dan melanggengkan kebaikan”. Namun, kalimat بَارَكَ الله (bārakallāh) akan lebih sempurna jika ditambahkan maf‘ūl (objek). Karena kata بَارَكَ (bāraka) termasuk fi’il muta‘addī (kata kerja yang membutuhkan objek). Maksudnya, keberkahan yang diminta dalam doa ini idealnya ditujukan kepada seseorang atau sesuatu secara jelas dan lugas. Misalnya, pada ungkapan بَارَكَ الله فِيْكَ (bārakallāhu fīk ), بَارَكَ اللهُ لَكُمْ ( bārakallāhu lakum), بَارَكَ اللهُ عًلَيْكُم (bārakallāhu ‘alaikum) yang artinya “semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu”.
Penggunaan فِيكَ, لَكُمْ, dan عَلَيْكُمْ setelah fi‘il bāraka tetap termasuk bentuk ta‘addī (transitivitas), karena makna keberkahan sampai pada objek melalui perantara huruf jarr (لِ، فِي، على) tersebut, atau disebut dengan فعل متعد بحرف جر ( fi’l muta’addin bi harfi jarr) yaitu kata kerja transitif dengan perantara huruf jarr.6 ٍSedangkan objeknya dalam istilah nahwu (gramatikal bahasa Arab) disebut dengan maf‘ūl bih ghayr ṣarīḥ (objek tidak langsung)7, maksudnya objek tidak langsung secara struktur (karena ada perantara huruf jarr), namun objek secara makna.
Tetapi ulama bahasa Arab sendiri juga memasukkan بَارَكَ (bāraka) ke dalam kategori fi’l (kata kerja) muta‘addī bi nafsih (transitif dengan sendirinya) karena dapat melampaui (mengenai objek) tanpa perantara huruf jarr. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Muḫtār aṣ-Ṣiḥāḥ:
8وَيُقَالُ (بَارَكَ) اللَّهُ لَكَ وَفِيكَ وَعَلَيْكَ، وَبَارَكَكَ
Kalimat بَارَكَكَ (bārakaka) secara harfiah berarti “Dia (Allah) telah memberkahimu” atau “telah memberikan keberkahan kepadamu”, dalam struktur kalimat tersebut maf‘ūl bih (objek) كَ (ka) yang berupa ḍamīr muttaṣil (kata ganti tersambung) disebutkan secara langsung tanpa perantara huruf jarr, atau bisa juga disebut maf‘ūl bih ṣarīḥ (objek langsung dan jelas) secara struktur dari fi‘il بَارَكَ (bāraka).
Penggunaan dalam Naṣṣ Syarʻiyy
Di antara hadis Nabi ﷺ menunjukkan penggunaan lafal بَارَكَ الله (bārakallāh), di antaranya sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. bahwasanya Nabi ﷺ apabila memberi ucapan selamat kepada seseorang beliau mengucapkan:
بارَكَ اللَّهُ لَكَ، وبارَكَ عَلَيْكَ، وجَمَعَ بَيْنَكُمَا في خَيْرٍ
Semoga Allah memberkahimu, dan memberkahi atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan (HR. at-Tirmidzi, no.1091)
Orang-orang Jahiliyyah dulu biasanya mengucapkan selamat atas pernikahan dengan ucapan: ‘Bir-rafā’i wal-banīn’ (semoga dikaruniai kehidupan yang harmonis dan banyak anak laki-laki). Kemudian Islam datang dengan mengajarkan ucapan yang lebih baik dari itu, yaitu doa keberkahan dan kebaikan bagi kedua mempelai.9
Nabi mendoakan “bārakallāhu laka” agar Allah menjadikan pernikahan itu penuh berkah dan kebaikan bagi orang yang didoakan. Doa “bāraka ‘alaika” mengandung harapan agar kebaikan senantiasa turun dan berlanjut terus-menerus atas dirinya dalam pernikahan tersebut, dan kalimat “wa jama‘a bainakumā fī khair” menunjukkan doa agar Allah mempersatukan suami dan istri dalam ketaatan, kesehatan, keselamatan, dan segala bentuk kebaikan.
Nabi ﷺ biasa mendoakan para sahabatnya dengan kebaikan yang melimpah dan keberkahan dalam seluruh urusan mereka. Diriwayatkan dari ‘Urwah al-Bariqi radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ memberikan kepadanya satu dinar untuk membeli seekor kambing dari jenis kambing ternak. ‘Urwah membawa uang tersebut ke pasar, lalu membeli dua ekor kambing. Setelah itu ia menjual salah satunya seharga satu dinar, sehingga ia pulang kepada Nabi ﷺ dengan membawa seekor kambing dan satu dinar. Artinya, Nabi ﷺ mendapatkan keuntungan satu dinar. Maka Nabi ﷺ pun mendoakannya,
بارَكَ اللَّهُ لَكَ في صَفْقَةِ يمينِكَ
“Semoga Allah memberkahimu dalam transaksi tangan kananmu.” (H.R. at-Tirmidzi, no. 1258)
Maksudnya: semoga Allah memberkahimu dalam perjanjian atau jual-beli yang kamu lakukan.
Sebenarnya masih banyak lagi doa Nabi ﷺ untuk keberkahan keluarga, sahabat, bahkan umatnya, walaupun tidak mesti dengan kalimat بَارَكَ الله (bārakallāh). Nabi ﷺ juga biasa berdoa kepada Allah dengan diawali redaksi اللَّهُمَّ بَارِكْ (Allāhumma bārik). Kata بَارِكْ (bārik) merupakan ṣīghah fi’l amr du‘ā’ī (kata kerja permohonan). Dalam suatu riwayat Nabi ﷺ berdoa,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya (H.R. Abu Dawud, no. 2606)
Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi umatnya yang memulai aktivitas lebih awal pada pagi hari atau awal siang. Doa ini secara tersirat juga mendorong umat Islam agar mengisi waktu pagi dengan aktivitas yang produktif. Dan tentu saja keberkahan yang dimaksud mencakup materi dan non-materi seperti ketenangan hati, kesehatan, relasi yang baik, dan kelapangan waktu.
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa apabila Nabi ﷺ mengirimkan satu pasukan kecil (sāriyah)10 atau pasukan besar (jaisy) untuk berperang, maka beliau ﷺ mengirim mereka di awal siang. Beliau ﷺ melakukan itu untuk meraih keberkahan yang terdapat pada awal siang tersebut.
Pada intinya, doa keberkahan bisa kita gunakan dan panjatkan dalam berbagai kondisi seperti saat mendapat hadiah, keberhasilan, kelahiran anak, pernikahan, menuntut ilmu dan mengajarkannya, berjihad, berjuang dalam kebaikan dan lainnya.
Melafadzkan doa untuk keberkahan seperti بَارَكَ الله (bārakallāh), اللَّهُمَّ بَارِكْ (Allāhumma bārik), اللَّهُ يُبَارِكُ (Allāhu yubārik) adalah perkara yang mashrū‘ (disyariatkan), hukumnya sunnah dan dianjurkan, karena ia merupakan bentuk doa dan kebaikan.
*(bersambung)
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Makna Ungkapan بَارَكَ الله [Bārakallāh] dan تَبَارَكَ الله [Tabārakallāh] serta Perbedaannya (1)