
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA.
Membaca Surah al-Kahfi pada hari Jumat merupakan amalan yang disepakati oleh para ulama sebagai sunnah yang dianjurkan. Banyak riwayat sahih yang menjelaskan besarnya cahaya dan pertolongan yang diberikan Allah, baik di dunia maupun di akhirat kepada hamba yang membacanya.
Dalil-Dalil tentang Keutamaan Membaca Surah al-Kahfi
Hadis Abu Sa‘id al-Khudri – Membaca pada malam Jumat
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Barangsiapa membaca Surah al-Kahf pada malam Jumat, niscaya Allah menerangi dirinya dengan cahaya antara dia dan Baitul ‘Atiq (Ka‘bah)” (HR. ad-Darimi, no. 3407). Hadis ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani (w. 1420 H) rahimahullah dalam Shahīh al-Jāmi‘, 6471.
Hadis Abu Sa’id al-Khudri – Membaca pada hari Jumat
من قرأ سورةَ الكهفِ يومَ الجمعةِ أضاء له النُّورُ ما بينَه و بين البيتِ العتيقِ
“Barangsiapa membaca Surah al-Kahfi pada hari Jumat, niscaya Allah akan memberikan cahaya baginya antara dua Jumat” (HR. al-Baihaqi, no. 6209), Shahīh al-Jāmi‘, 6470.
Hadis Ibnu Umar– Keutamaan Berupa Cahaya pada Hari Kiamat
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءِ، يُضِيءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْن
“Barangsiapa membaca Surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan memancar cahaya dari bawah kakinya hingga mencapai langit, menerangi dirinya pada hari kiamat, dan diampuni dosa-dosanya antara dua Jumat.” (al-Mundziri (w. 656 H) rahimahullah berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan sanad yang tidak ada masalah” (at-Targhib wa at-Tarhib, 1/297)
Batasan Waktu Utama
Allah ﷻ telah memberikan keutamaan khusus kepada sebagian surah dan ayat dalam Al-Qur’an, terutama apabila dibaca pada waktu-waktu tertentu. Di antara surah yang mendapatkan tambahan keutamaan tersebut adalah surah al-Kahfi, khususnya ketika dibaca pada malam Jumat dan hari Jum’at, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ
“Barangsiapa membaca Surah al-Kahfi pada malam Jumat”
Dan di dalam hadis yang lain:
من قرأ سورةَ الكهفِ يومَ الجمعةِ
“Barangsiapa membaca Surah al-Kahfi pada hari Jumat“
Sehingga, surah al-Kahfi dapat dibaca pada malam Jumat (Kamis malam) atau pada hari Jum’at. Malam Jumat dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis, sedangkan hari Jumat berakhir ketika matahari terbenam.
Dengan demikian, waktu utama membaca Surah al-Kahfi berlangsung mulai dari terbenamnya matahari hari Kamis (maghrib hari Kamis) hingga terbenamnya matahari hari Jumat (maghrib hari Jum’at).
Imam Al-Munāwī (w. 1031 H) –radhiyallahu ‘anhu- menerangkan sebagai berikut:
فيندب قراءتها يوم الجمعة وكذا ليلتها كما نص عليه الشافعي رضي الله عنه
“Maka disunnahkan membaca Surah al-Kahfi pada hari Jumat, begitu pula pada malamnya, sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-Syāfi‘ī -raḥimahullāh-” (Fayḍ al-Qadīr, 6/198)
Al-Munāwī juga menukil perkataan al-Hāfizh Ibn Ḥajar (w. 852 H) rahimahullah dalam al-Amālī:
كذا وقع في روايات يوم الجمعة وفي روايات ليلة الجمعة ويجمع بأن المراد اليوم بليلته والليلة بيومها
“Dalam beberapa riwayat disebutkan hari Jumat, dan dalam riwayat lain disebutkan malam Jumat. Keduanya dapat digabungkan dengan memahami bahwa yang dimaksud adalah hari beserta malamnya, dan malam beserta harinya.” (Fayḍ al-Qadīr, 6/199)
Makna Cahaya dalam Hadis
Para ulama ketika menjelaskan hadis-hadis Nabi ﷺ tentang keutamaan membaca surah al-Kahfi memperhatikan satu kata kunci setiap hadis, yakni fadhilah (keutamaan) yang Allah berikan kepada pembacanya berupa “cahaya” (النور) dengan redaksi hadis yang berbeda-beda.
Al-Munawi menukil penjelasan Imam ath-Thibi (w. 743 H) rahimahullah:
وقوله أضاء له يجوز كونه لازما وقوله ما بين الجمعتين ظرف فيكون إشراق ضوء النهار فيما بين الجمعتين بمنزلة إشراق النور نفسه مبالغة ويجوز كونه متعديا والظرف مفعول به وعليهما فسر (فلما أضاءت ما حوله)
Ungkapan “أضاء له” (menerangi baginya) bisa dipahami sebagai fi‘il lāzim (kata kerja yang bermakna tetap/menempel pada subjek), sedangkan ungkapan “ما بين الجمعتين” berfungsi sebagai zharaf (keterangan waktu). Dengan demikian, maknanya adalah: “pancaran cahaya sepanjang waktu antara dua Jumat itu seperti pancaran cahaya itu sendiri”, dan ini merupakan bentuk mubālaghah (penegasan yang kuat).
Bisa juga dipahami bahwa “أضاء له” adalah fi‘il muta‘addī (kata kerja transitif), sedangkan keterangan “antara dua Jumat” berfungsi sebagai maf‘ūl bih (objek). Kedua makna ini sejalan dengan penafsiran terhadap firman Allah:
فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ
“Ketika cahaya itu menerangi sekelilingnya…” (QS. Al-Baqarah ayat 17) (Fayḍ al-Qadīr, 6/198)
Penjelasan at-Thibi rahimahullah bisa disederhanakan dengan kesimpulan bahwa frasa “أضاء له” bisa berarti cahaya itu melekat pada diri pembacanya dan menyinarinya sepanjang waktu antara dua Jumat sebagai bentuk mubālaghah (melebihkan). Bisa juga bermakna cahaya itu memancar dan menerangi rentang waktu tersebut sebagai objeknya. Kedua makna ini selaras dengan penggunaan kata أضاءت ما حوله (Q.S. al-Baqarah ayat 17) dalam Al-Qur’an, yaitu cahaya yang menyinari sekitarnya.
Kemudian apa maksud cahaya di sini? Para ulama menjelaskan berbagai kemungkinan makna نور (cahaya) dalam hadis tersebut;
Al Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) rahimahullah menjelaskan:
أَيْ فِي قَلْبِهِ أَوْ قَبْرِهِ أَوْ يَوْمَ حَشْرِهِ فِي الْجَمْعِ الْأَكْبَرِ (مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ)، أَيْ مِقْدَارُ الْجُمُعَةِ الَّتِي بَعْدَهَا مِنَ الزَّمَانِ وَهَكَذَا كُلُّ جُمْعَةٍ تَلَا فِيهَا هَذِهِ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Yakni cahaya itu berada di dalam hatinya, atau di dalam kuburnya, atau kelak pada hari ia dikumpulkan di Mahsyar pada hari perhimpunan yang agung. Adapun makna ‘antara dua Jumat’ ialah rentang waktu hingga Jumat berikutnya, dan demikianlah seterusnya pada setiap Jumat di mana ia membaca surah ini dari Al-Qur’an” (Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ, 4/1489)
Dari penjelasan tersebut di atas dapat dipahami bahwa makna cahaya dalam hadis-hadis surah al-Kahfi sangat luas, mencakup cahaya duniawi, spiritual, amal, dan ukhrawi, bisa juga diartikan cahaya hakiki ataupun maknawi, yang semuanya Allah anugerahkan kepada hamba yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat.
Baca Juga: Urgensi dan Keutamaan Surat Al Fatihah
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Catat, Kapan Waktu Utama Membaca Surah al Kahfi dan Keutamaannya?