KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Muhasabah » Awas! Azab Bukan Hanya Menimpa Orang Bermaksiat dan Jahat, Tapi Juga ke Orang Baik

    Awas! Azab Bukan Hanya Menimpa Orang Bermaksiat dan Jahat, Tapi Juga ke Orang Baik

    BY 21 Apr 2024 Dilihat: 132 kali

    Zaman ini kita menyaksikan perbuatan jahat dan maksiat menjamur. Tidak hanya dilakukan secara sembunyi- sembunyi, bahkan perbuatan- perbuatan dosa tersebut dilakukan secara terang- terangan. Atau istilahnya mujaaharah. Ada orang berbuat maksiat atau dosa dengan penuh percaya diri dan bangga.  Ketika ada orang yang menegur atau menasehati, lalu berkata, “apa urusanmu?”, “terserah gue, lah, hidup- hidup gue”. Mungkin kita tidak jarang menyaksikan situasi seperti itu. Mulai dari perbuatan zalim, kesewenang- wenangan, penindasan, korupsi, penipuan, atau maksiat seperti prostitusi, LGBT, judi dengan bentuk yang beragam, minum minuman keras, dan perbuatan dosa lainnya. Ada saja pelakunya yang membangkang dan menantang ketika dinasehati, bahkan ada ‘loyalis’ yang membela pelaku dan perilaku dosa- dosa tersebut.  Mulai dari yang kelas ‘teri’ sampai yang kelas ‘kakap’. Pertanyaannya, apakah benar kita harus ‘diam dan ridha’ saja ketika menyaksikan perbuatan maksiat dan dosa yang semakin merajalela? Persoalannya, perbuatan maksiat dan dosa tidak hanya membawa dampak negatif bagi pelakunya bahkan bisa memberikan dampak negatif bagi orang lain yang tidak ikut- ikutan melakukan perbuatan dosa atau maksiat. Meminjam statement almarhum KH. Zainuddin MZ, “iye, yang judi elu, yang zina elu, yang mabok elu, tapi judi, zina, mabuk, (itu) maksiat, mas, kalau ini negeri banyak maksiatnya, Allah marah, kalau Allah marah turun gempa, kalau turun gempa, yang mampus bukan elu doang, monyong.., bareng, rame- rame..”.

    Allah ﷻ ternyata sudah mengingatkan hamba-Nya sebagaimana termaktub dalam surat al- Anfal ayat 25:

    وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

    “Dan waspadalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

    Allah Ta’ala menegaskan peringatannya kepada orang-orang beriman agar tidak lalai dalam mengubah kemungkaran dan untuk berhati-hati dari azab yang akan menimpa orang-orang baik dan jahat sekaligus, jika telah tampak kezaliman (kejahatan/kemungkaran) tetapi tidak diubah (dicegah/dilarang). Maka hal tersebut akan menyebabkan azab itu turun merata, bagi pelaku dosa ataupun selainnya. (Tafsiir al-Madiinah al-Munawwarah, 474)

    Bahasa sederhananya, azab itu bisa turun secara kolektif atau bisa menimpa siapa saja, entah itu orang jahat maupun orang yang saleh. Kok gitu? Iya. Apakah berarti Tuhan tidak adil? Tentu tidak demikian dan tentu saja pertanyaan tersebut tidak tepat. Pertanyaan yang ideal; mengapa Allah timpakan azab itu secara merata kepada orang baik dan orang jahat sekaligus?

    Ternyata Rasulullah Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengingatkan, sekaligus ini juga menjadi penegasan jawaban dari pertanyaan tadi. Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

    ِإِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ، لَا يُغَيِّروهُ، أَوْشَكَ اللهُ أَنْ يَعُمَّهُم بِعِقَابِه

    Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran, kemudian mereka tidak mengubahnya niscaya Allah akan meratakan adzab-Nya kepada mereka.” (H.R. Ahmad, 16.)

    Dari hadits tersebut bisa dipahami bahwa amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran) termasuk bagian dari perintah di dalam Islam, dan meninggalkan keduanya adalah kelalaian yang menyebabkan datangnya azab. Dua unsur tadi (amar ma’ruf nahi munkar) juga termasuk ciri kebaikan dan keistimewaan umat Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana termaktub di dalam surat Ali Imran ayat 110:


    كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ


    Kalian (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah

    Amar Ma’ruf Nahi Munkar juga merupakan perintah Allah Ta’ala yang ditujukan bagi orang-orang beriman, sebagaimana terdapat di surat Ali Imran ayat 104:

    وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

    Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran ayat 104)

    Lantas, apa urgensi amar ma’ruf nahi munkar? Mengapa amar ma’ruf nahi munkar itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia? Pertanyaan semacam ini sebenarnya pernah juga dilontarkan oleh umat terdahulu juga, sebagaimana Allah kisahkan di dalam surat Al A’raf ayat 164, sekaligus ini menjadi jawaban untuk pertanyaan tadi;

    وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًاۙ  ٱللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًاۖ  قَالُوا۟ مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

    Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa. (Q.S. al- A’raf ayat 164)

    Ayat ini mengisahkan ada golongan orang saleh dari leluhur Bani Israil mengajukan pertanyaan kepada orang- orang saleh lainnya yang menasehati orang- orang yang berbuat jahat atau maksiat, “mengapa kamu bersusah payah menasehati orang- orang jahat yang akan dibinasakan dan diberikan adzab oleh Allah dengan adzab yang sangat pedih?”.

    Seketika mereka menjawab dengan dua alasan: pertama, sebagai tanggung jawab kepada Tuhanmu (Allah ﷻ), yaitu kewajiban amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh perbuatan baik dan melarang perbuatan munkar), kedua: supaya mereka berubah menjadi orang- orang yang bertakwa (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah) sehingga selamat dari siksaan dan berada di jalan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Tafsiir al-Madiinah al-Munawwarah, 442, 443)

    Dari ayat tersebut tadi, bisa diambil kesimpulan bahwa ada tiga tipikal kelompok, pertama: kelompok yang bermaksiat atau berbuat jahat, kedua: kelompok orang saleh yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, ketiga: kelompok orang saleh yang berdiam diri, tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, bahkan underestimate (mengolok-olok) orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. (Fii Dzilaalil Quraan, 3/ 1385),(Tafsiir Ibnu Katsiir, 3/ 494),(at-Tafsiir al-Kabiir, 15/ 392), (Tafsiir al-Madiinah al-Munawwarah, 442.)

    Jika dikontekstualisasikan ke zaman ini, kandungan ayat tersebut masih sangat relevan dengan tipologi masyarakat yang ada sekarang. Lalu, di manakah posisi kita? Yang jelas Rasulullah Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– berpesan:

    مَن رَأَى مِنكُم مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بيَدِهِ، فإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسانِهِ، فإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وذلكَ أضْعَفُ الإِيْمَانِ

    Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya. Jika tidak mampu, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman”. (H.R. Muslim, no. 49)

    Kira-kira, kita termasuk yang mana ya?

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Awas! Azab Bukan Hanya Menimpa Orang Bermaksiat dan Jahat, Tapi Juga ke Orang Baik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023