KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Fikih » Penistaan Islam dan Konsekuensinya

    Penistaan Islam dan Konsekuensinya

    BY 18 Jul 2024 Dilihat: 115 kali

    Diantara kriteria orang yang bertakwa kepada Allah adalah memuliakan dan mengagungkan Allah ﷻ. Allah ﷻ  berfirman,

    ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

    “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj ayat 32)

    Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan syi’ar-syi’ar Allah adalah syi’ar-syi’ar agama (Islam) seperti penyembelihan hewan ternak, manasik haji, dan syi’ar-syi’ar dalam haji lainnya, dan termasuk syi’ar-syi’ar Allah adalah masjid, mushaf al-Qur’an, dzikir, dan ibadah- ibadah lainnya. Pengagungan syi’ar-syi’ar ini merupakan bentuk pengagungan kepada Allah (Zubdatu at Tafsīr min Fath al Qadīr, 336. -dengan alih bahasa-). Bahkan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa yang termasuk syi’ar- syi’ar adalah simbol- simbol agama (Islam) yang tampak oleh kasat mata. (Taisīr al Karīm ar Rahmān fī Tafsīr Kalām al Mannān, 538. -dengan alih bahasa-)

    Jika memuliakan, menghormati dan mengagungkan agama Allah dan aturannya adalah wujud dan pertanda takwa dan kejujuran iman kepada Allah, maka sebaliknya, sikap meremehkan, menghina, dan melecehkan seluruh atau bagian tertentu dari agama Islam adalah bentuk kemunafikan dan kekufuran. Orang yang melecehkan agama Allah, yang menjadikan agama Allah sebagai bahan tertawaan dan olok-olokan bisa tiga kemungkinan; Pertama, bisa jadi dia belum atau tidak paham dan mengerti bahwa hal tersebut adalah bagian dari syi’ar Allah yang harus diagungkan. Kedua, jika dia orang yang mengaku muslim, maka besar kemungkinan dia adalah seorang munafik atau zindiq. Orang yang berislam hanya sebatas pengakuan, atau sebatas status tulisan di KTP, akan tetapi kenyataannya dia menolak dan melecehkan ajaran Islam, sebagian atau seluruhnya. Kedua, jika dia adalah seorang kafir, maka itu adalah bentuk permusuhan dan kebenciannya kepada Islam dan kaum muslimin. Tentang golongan yang pertama Allah Ta’ala berfirman,

    ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ

    Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (Q.S. At-Taubah ayat 6)

    Orang-orang seperti itu harus diberikan peringatan dan penjelasan bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik dan benar, sekaligus diberikan pemahaman yang baik tentang Islam.

    Kemudian tentang golongan yang kedua, Allah Ta’ala berfirman:

    وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (Q.S. At-Taubah: 65-66)

    Ayat ini turun berkaitan dengan kejadian dalam sebuah perjalanan menuju perang Tabuk, ada diantara orang-orang yang ditengarai sebagai orang munafik berkata,

    انْظُرُوا، هَذَا يَفْتَحُ قُصُورَ الشَّامِ وَيَأْخُذُ حُصُونَ بَنِي الْأَصْفَرِ!

    Lihatlah, ini (Nabi dan para Shahabat) mau menakhlukkan istana Syam dan mengambi benteng Bani Ashfar!?

    Ucapan yang bernada melecehkan tersebut kemudian sampai dan terdengar oleh Nabi ﷺ.  Nabi ﷺ pun menyuruh rombongan berhenti lantas Nabi ﷺ mendatangi mereka (orang-orang munafik) seraya bertanya; “Kamu mengatakan demikian dan seperti itu?!” Orang-orang munafik tadi gelagapan dan takut saat ditanya Nabi ﷺ, kemudian mereka(orang-orang munafik) ini mengiba, meminta maaf kepada Nabi ﷺ. Namun Nabi tidak mempedulikan mereka, hingga ada di antara mereka yang bergelantungan pada tali onta Rasulullah ﷺ  hingga terseret sembari mengatakan, “Maafkanlah kami wahai Rasulullah, kami hanya bergurau dan bermain-main.” Lalu Allah menurunkan ayat ini sebagai peringatan keras,

    قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ (66)

    “Katakan (hai Muhammad); “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At- Taubah, ayat 65- 66) (al-Jāmi’ li Ahkām al Qurān (Tafsīr al Qurthubī, 8/ 196-197 -dengan alih bahasa-)

    Adapun golongan yang ketiga, yaitu orang-orang kafir, sebagaimana kisah kebencian seorang tokoh intelektual dan pemimpin Yahudi yang bernama Ka’ab bin Al-Asyraf. Kebenciannya kepada Islam sudah tidak bisa ia tutupi, sehingga ia sering menebar opini negatif tentang Rasulullah ﷺ kepada penduduk Madinah, bahkan ia menghasut dan melakukan kampanye kepada orang-orang musyrik agar memerangi Rasulullah ﷺ. Apa yang dilakukan oleh orang kafir seperti Ka’ab dan orang-orang yang sejenis dengannya menunjukkan kepada kita bukti kebencian dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin, sebagaimana yang Allah terangkan di dalam Al-Qur’an,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu, mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Q.S. Ali Imran ayat 118)

    Ayat ini sudah lebih dari cukup menjadi dalil bagi kaum Muslimin agar tidak menjadikan orang-orang yang nyata kebencian, permusuhan, dan kebengisannya terhadap Islam dan Muslimin sebagai teman dekat atau kawan akrab. Maka akal sehat dan hati nurani mana yang bisa menerima ketika segelintir orang yang mengaku Islam berfoto ria memperlihatakan keakraban dengan orang-orang Yahudi, dari negara penjajah, dari negara Zionis Yahudi, yang mana telah nyata permusuhan mereka terhadap Islam dan Muslimin, apalagi di saat yang sama kaum Muslimin dijajah dan dibantai oleh tentara-tentara mereka.

    Sebenarnya, penistaan Islam yang terjadi pada zaman Rasulullah ﷺ, kalau kita tarik ke zaman kita sekarang ini, maka kita masih menjumpai kasus atau fenomena yang sama, hanya saja berbeda pelaku, waktu, dan caranya, tapi intinya sama, yaitu sama- sama melecehkan, mengolo- olok, dan menistakan simbol dan ajaran Islam. Tahun lalu sekitar Januari 2023 kita digemparkan dengan peristiwa pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan oleh salah seorang politikus Swedia sekaligus aktivis anti-Islam bernama Rasmus Paludan. Itu adalah peristiwa di luar negeri. Rasmus Paludan adalah jelas- jelas kafir, anti Islam. Di Indonesia, kasus penistaan Islam juga marak terjadi. Data Direktori Putusan Mahkamah Agung yang diolah oleh Kumparan menunjukkan bahwa agama yang paling banyak mengalami penistaan adalah Islam sepanjang tahun 2011 sampai dengan 2021, dengan persentase 83,6%. Ironisnya, mayoritas pelaku penistaan Islam adalah orang yang beragama Islam itu sendiri. 64,7 % pelaku yang beragama Islam terbukti menistakan agamanya sendiri, seperti penghinaan terhadap Allah, Nabi, dan berjoget saat Salat. Setidaknya ini menjadi gambaran, ternyata banyak orang munafik “musuh dalam selimut” yang berusaha merusak kehormatan Islam dari dalam. Begitu juga adanya oknum komika dan content creator, beberapa kali melakukan pelecehan terhadap simbol dan ajaran Islam serta umat Islam yang dipandang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Fenomena ini harus kita jadikan sebaga bahan perhatian, sekaligus sebagai bahan muhasabah bagi kita sebagai umat Islam. Ada apa sebenarnya? Fenomena apa yang sedang berlangsung ini? Bagaimana kita menyikapinya sesuai dengan tuntunan syari’at dan kemampuan kita.

    Pertama, fenomena pelecehan dan penistaan terhadap ajaran islam semestinya menjadi bahan muhasabah, bahan introspeksi bagi diri sendiri, mari kita bertanya kepada diri kita  sendiri, sudahkan kita sebagai umat Islam menghormati dan mengagungkan ajaran agama kita sendiri dengan semestinya? Dan sejauh manakah kita sudah memuliakan dan mengagungkan ajaran agama ini? Ataukah justru jangan- jangan kita sendiri tidak menghargai, tidak memuliakan dan mengagungkan ajaran agama kita sendiri? Sudahkah kita mentauhidkan Allah dengan benar? Sudahkah kita mengagungkan perintah shalat? Sudahkah kita memuliakan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam hidup kita? Sebab jika kita sebagai umat Islam tidak menghargai, memuliakan dan mengagungkan ajaran agama kita sendiri apalagi orang yang jelas berbeda keyakinan dan agama dengan kita. Oleh itu marilah kita muliakan agama kita dengan menunaikan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi larangan- Nya.

    Kedua, terhadap tindakan pelecehan dan penistaan kepada syi’ar- syi’ar agama Islam. Syari’at  mengajarkan kepada kita agar kita menunjukkan  kecemburuan kita. Itulah yang disebut ghirah. Sebab bagi seorang muslim kehormatan agama Allah lebih dari pada kehormatan dirinya dan kehormatan siapapun. Seorang muslim bisa bersabar dan memaafkan jika pribadinya dihina, akan tetapi jika agama Allah yang dilecehkan, maka bukan tempatnya kita bersabar dan memaafkan. Jika kita marah dan tersinggung apabila pribadi, anak, istri atau keluarga kita dihinakan, maka seharusnya kita lebih tersinggung lagi ketika yang dihina adalah Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, Islam,  agama kita. Ghirah dan marah dalam perkara yang demikian adalah ghirah dan marah yang terpuji, bahkan merupakan ikatan iman. Rasulullah ﷺ bersabda,



    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

    “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ketiga, penegakan hukum. Pelecehan, penistaan dan penghinaan terhadap ajaran Islam memiliki konsekuensi hukum yang sangat berat. Jika pelaku adalah orang yang mengaku muslim, lalu dengan kesadarannya ia menghina dan melecehkan syari’at atau ajaran Islam,  maka dengan tegas Allah menyatakan bahwa orang yang demikian telah kafir setelah beriman (Q.S. At-Taubah ayat 65).

    Dalam peraturan perundang- undangan Islam,  orang yang berbuat demikian diminta untuk istitābah (bertobat kepada Allah), jika ia tidak mau bertobat, maka hukuman matilah yang berlaku untuk dirinya (Nūr ‘alā ad darb, ‘Abdul Azīz bin ‘Abdullāh bin Bāz). Siapa yang berhak melakukan eksekusi tersebut? Tentu pihak yang memiliki otoritas atau wewenang, dalam konteks ini adalah pemerintah dengan perangkat yang ia miliki. Demikian pula jika pelakunya adalah adalah orang kafir, maka hukum yang sama berlaku kepadanya yaitu hukuman mati.

    Dahulu pada zaman Rasulullah ketika Ka’ab bin Al-Asyraf sudah semakin berani menghina, melecehkan Allah dan Rasul- Nya, serta menyulut api permusuhan Rasulullah ﷺ  memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Ka’ab. Beliau bersabda, “Siapakah yang bisa membereskan Ka’ab bin Al-Asyraf. Sungguh ia telah menyakti Allah dan Rasul- Nya.” Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah lalu menyanggup diri untuk mengeskusi Ka’ab bin Al-Asyraf, hingga Ka’ab pun mati terbunuh. (Muttafaqun ‘alaih)

    Maka wajib bagi lembaga peradilan dan para penegak hukum untuk bersikap tegas dan adil tidak pandang bulu, menyeret para penghina Islam ke pengadilan, dan menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Dalam kaedah fiqih dikatakan, “Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku julluhu. “Sesuatu yang tidak bisa diraih semuanya maka tidak boleh ditinggalkan seluruhnya.” Jika belum bisa memberlakukan hukum Islam secara utuh, maka setidaknya menjatuhkan hukuman yang memberikan efek jera bagi para pelaku dan ketakutan bagi orang yang ingin menistakan Islam, atau mengulangi penistaan Islam. Sebab jika hal ini dibiarkan maka akan terus menimbulkan kegaduhan sosial, kerukunan menjadi terganggu, bahkan pada puncaknya bisa memicu terjadinya konflik sosial yang tentu tidak diinginkan oleh siapapun.

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Penistaan Islam dan Konsekuensinya

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023