KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah 'Ied » Idul Adha 1447: Menjaga Ketahanan Sosial Kehidupan

    Idul Adha 1447: Menjaga Ketahanan Sosial Kehidupan

    BY 26 May 2026 Dilihat: 91 kali

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْقُرْبَانَ شِعَارًا لِلتَّقْوَى، وَأَوْضَحَ بِهِ لِلْعَالَمِينَ طَرِيقَ الْهُدَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْأَسْنَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الْقَدْرِ الْأَسْمَى، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي النُّهَى وَعَلَى مَنْ سَنَّ بِسُنَّتِهِ وَمَنِ اقْتَفَى، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

    Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan, tetapi momentum membangun ketahanan kehidupan umat, yakni ketahanan iman, pangan, keamanan, dan keadilan. Karena kehidupan manusia dalam Islam tidak boleh rapuh, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial.

    Kaitannya dengan ketahanan iman, Hari Raya Qurban ini menuntut kita semua untuk memurnikan tauhid kepada Allah ﷻ, sebagaimana kepatuhan mutlak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah ﷻ berfirman:

    لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimu yang mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

    Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya Al-Qur’anul ‘Adzim menjelaskan akar sejarah ayat ini (asbabun nuzul-nya) dengan sangat benderang. Dahulu, orang-orang Jahiliyah ketika berkurban untuk berhala, mereka sengaja meletakkan dagingnya di atas patung dan memercikkan darahnya ke dinding Ka’bah. Ketika para sahabat Nabi ﷺ berniat melakukan hal yang sama sebagai bentuk pengagungan, Allah langsung menegur dan meluruskan paradigma tersebut dengan turunnya ayat ini.

    Allah ﷻ tidak butuh pada daging atau darah hewan yang kita sembelih. Yang dihitung, diterima, dan diberi balasan kebaikan di sisi Allah hanyalah ketakwaan, ketulusan niat, serta keikhlasan murni di dalam hati saat melaksanakan ibadah qurban. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

    إِنَّ اللهَ تعالى لَا ينظرُ إلى صُوَرِكُمْ وَأمْوالِكُمْ، ولكنْ إِنَّما ينظرُ إلى قلوبِكم وأعمالِكم

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim, no. 2564)

    Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah,

    Jika ketahanan iman telah tertanam kuat di dalam hati, maka ia harus mewujud pada pilar berikutnya, yaitu ketahanan pangan dan ketahanan sosial di tengah dunia nyata. Allah ﷻ berfirman:

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

    “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah ayat 2)

    Perintah ini menjadi sangat mendesak saat kita menatap potret riil sebagian masyarakat hari ini. Data BPS dan Badan Pangan Nasional mencatat 7,89 persen masyarakat kita masih kekurangan konsumsi pangan harian. Artinya, masih ada jutaan orang yang tidak makan secara layak.

    Lebih memprihatinkan, data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka stunting nasional masih menyentuh 19,8 persen. Ini artinya, hampir 1 dari 5 balita di sekitar kita terancam masa depan fisik dan intelektualnya akibat rapuhnya asupan gizi.

    Di samping itu, secara hukum kausalitas sosiologis, himpitan urusan perut dan moralitas yang rapuh adalah salah satu sumbu utama runtuhnya keamanan. Hari ini, kita menyaksikan para pelaku kriminal bergerak semakin nekat tanpa kemanusiaan. Sebagian dari mereka tak lagi sekadar membawa sebilah belati, tetapi sudah berani menggenggam senjata api.

    Sementara itu, masyarakat terkadang dalam posisi dilematis, takut menolong korban karena khawatir tersandung masalah hukum atau ancaman keselamatan nyawa. Akibatnya, ruang publik kita kadang kala mencekam, dan empati sosial dipaksa lumpuh tak berdaya.

    Data Dirreskrimum Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa hanya dalam waktu 22 hari di bulan Mei ini saja, sudah ada 127 kasus kejahatan jalanan dengan 173 tersangka yang ditangkap di ibu kota.

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jamaah Shalat Idul Adha a’azzakumullah,

    Di tengah situasi yang mengkhawatirkan tadi, kita menyaksikan distorsi logika pada pilar hukum kita. Atas nama melindungi hak asasi manusia, para pelaku kejahatan keji kerap dinilai mendapat panggung dan perlindungan hukum yang lebih. Sebaliknya, hak rasa aman bagi masyarakat luas justru terabaikan.

    Kita lupa melayangkan pertanyaan kritis, ma’asyiral muslimin wal muslimat hafidzakumullah, bukankah masyarakat yang tidak bersalah atau menjadi korban kejahatan itulah yang justru memiliki Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling mendasar, yakni hak untuk hidup dengan aman? Bukankah mereka yang berusaha menjadi warga negara yang baik, keluar rumah mencari nafkah yang halal, memeras keringat siang-malam demi menghidupi anak dan istri, serta taat membayar pajak, yang justru lebih berhak dilindungi hak asasinya dan dijaga hak hidupnya?

    Dalam diktum hukum legal-formal ditegaskan: Salus populi suprema lex esto, yang berarti nyawa dan keselamatan masyarakat adalah hukum tertinggi yang tak boleh ditawar lagi. Menjaga jiwa warga negara harus menjadi prioritas utama bagi negara, aparat penegak hukum, dan para pemangku kebijakan. Jangan sampai kita menjadi bangsa dengan logika hukum yang dijungkirbalikkan!

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Jamaah shalat Idul Adha hafidzakumullah,

    Islam hadir membawa konsep keadilan hakiki yang rasional, realistis, dan menjunjung tinggi nilai manusiawi. Dalam Islam, hukum ditegakkan bukan untuk kosmetik politik semata, tetapi untuk melindungi esensi kemanusiaan itu sendiri. Para fukaha merumuskan tujuan utama syariat (Maqashid Syari’ah) bertumpu pada lima hal dasar. Salah satu pilar utamanya adalah Hifdzun Nafs atau Menjaga Nyawa.

    Inilah mengapa Islam menerapkan aturan hukum yang tegas dan setimpal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Dan dalam qishash (hukuman setimpal) itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 179).

    Ayat ini adalah fondasi keadilan hakiki yang rasional. Hukum yang tegas dan setimpal terhadap pelaku kejahatan —terlebih kejahatan kemanusiaan dan penghilangan nyawa—bukanlah bentuk kekejaman.

    Justru itu adalah jaminan keadilan agar tidak ada aksi main hakim sendiri, sekaligus jaminan keselamatan bagi jutaan manusia lainnya agar bisa hidup dengan aman, berjalan dengan tenang, tanpa dihantui ketakutan. Inilah nilai kemanusiaan yang sejati!

    Hal ini diperkuat oleh kaidah fikih yang utama:

    الضَّرَرُ يُزَالُ

    “Bahaya dan kemudaratan harus dihilangkan.”

    Maka segala bentuk kejahatan yang mengancam jiwa, kehormatan, dan ketenteraman masyarakat wajib dicegah, dihilangkan, dan ditindak secara adil tanpa pandang bulu.

    Di sinilah letak korelasi dan relevansi ibadah qurban yang kita tunaikan hari ini. Qurban yang didasari keikhlasan adalah syiar kepedulian sosial untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Melalui qurban, kita bersama-sama melakukan upaya untuk memadamkan sumbu pendek kriminalitas akibat himpitan ekonomi.

    Sebab syariat Islam ini dibangun di atas prinsip mulia, yaitu:

    الشَّرِيعَةُ مَبْنَاهَا عَلَى تَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ وَتَكْمِيلِهَا، وَتَعْطِيلِ الْمَفَاسِدِ وَتَقْلِيلِهَا

    Syariat Islam dibangun di atas upaya mewujudkan dan menyempurnakan berbagai kemaslahatan, serta menghilangkan dan meminimalkan berbagai kerusakan

    Qurban juga simbol penyembelihan hawa nafsu, kerakusan, egoisme, dan sifat -sifat liar dalam diri manusia yang dapat melahirkan kezaliman dan berbagai kejahatan sosial di tengah masyarakat.

    Di saat yang sama, momentum Idul Adha ini harus menjadi otokritik bagi kita semua. Para elit pemangku kebijakan dan aparat penegak hukum harus hadir memberikan jaminan keamanan total dan kehidupan yang layak bagi masyarakatnya. Sebab dalam prinsip fikih ketatanegaraan disebutkan:

    تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

    “Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus berorientasi pada kemaslahatan”

    Maka kekuasaan bukanlah sekadar takhta jabatan, tetapi amanah besar di hadapan Allah untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

    Dan kita sebagai warga masyarakat, harus menghidupkan kembali semangat gotong-royong dan kebersamaan untuk saling membantu, meringankan, dan menjaga keselamatan lingkungan sekitar kita.

    Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras mengenai rapuhnya iman seseorang yang acuh terhadap tetangganya:

    مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

    “Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR. al-Bazzar, no. 7429).

    Mari kita bawa pulang kesadaran kolektif dari medan shalat Idul Adha ini. Kita buang sikap apatis, kita tumbuhkan kembali empati, dan kita kuatkan komitmen kita untuk mendukung tegaknya keadilan yang hakiki di bumi pertiwi.

    Kita berdoa kepada Allah ﷻ agar menjaga negeri ini, melimpahkan rezeki yang halal dan berkah kepada kita semua, memberikan keamanan bagi keluarga dan lingkungan kita, serta memberikan taufik kepada para pemimpin untuk selalu istiqamah di atas jalan kebenaran dan keadilan.

    جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ، وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

    اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَقُرْبَانَنَا، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَاجْعَلْهَا سَبَبًا لِتَقْوَى الْقُلُوبِ وَصَلَاحِ الْمُجْتَمَعِ

    اللَّهُمَّ أَطْعِمْ جَائِعَنَا، وَآمِنْ خَائِفَنَا، وَاكْسُ عَارِيَنَا، وَارْفَعِ الْفَقْرَ وَالْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ عَنْ بِلَادِنَا وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ

    اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنَ الْمُخَدِّرَاتِ وَالْعُنْفِ وَالْفَوَاحِشِ وَالْجَرَائِمِ وَسُوءِ الْأَخْلَاقِ

    اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاحْفَظْ أَهْلَهُ مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَفِتْنَةٍ

    اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَحِفْظِ حُقُوقِ الرَّعِيَّةِ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِأَمْنِ النَّاسِ وَاسْتِقْرَارِ الْبِلَادِ

    اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ رَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

    اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِين وَفِي كُلِّ أَرْضٍ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُكَ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزُ

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Idul Adha 1447: Menjaga Ketahanan Sosial Kehidupan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023