KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah 'Ied » Mengasah Fitrah Sepanjang Nyawa Masih dikandung Badan

    Mengasah Fitrah Sepanjang Nyawa Masih dikandung Badan

    BY 12 Oct 2023 Dilihat: 161 kali

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِلْعِبَادِ يَوْمَ عِيْدٍ يَعُوْدُ عَلَيْهِمْ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ وَ يَتَكَرَّرُ. وَجَعَلَ لَهُمْ صَوْمَ رَمَضَانَ وَأَفْطَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْأَكْبَرُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الشَّافِعِ فِي الْمَحْشَرِ, وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَطْهَارِ. اَللهُ أَكْبَرُ. اَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْ مَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَّرَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ (الحديد: 28)

    Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

    Bersyukur kita kepada Allah atas berbagai nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita semua, baik itu nikmat iman, islam, dan kesempatan, terlebih pagi hari yang cerah dan berkah ini, kita masih diberikan umur panjang untuk merasakan kebahagiaan untuk merayakan Idul Fitri 1444 Hijriyah. Inilah hari di mana kita bergembira ria dan berbahagia atas karunia dan rahmat Allah Ta’ala,

    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

    Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira (Q.S. Yunus ayat 58)

    Hari-hari ‘Ied adalah hari bergembira dan bersenang-senang dengan karunia yang luar bisa ini; kita berbahagia dengan turunnya rahmat yang begitu banyak, sesungguhnya ia adalah kegembiraan yang pantas disyukuri,

    وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya (hitungan puasa Ramadhan selama sebulan penuh)  dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah ayat 185)

    Yang perlu diingat dan diperhatikan dengan seksama, bahwa kegembiraan di hari raya Idul Fitri bukan kegembiraan meninggalkan ibadah puasa Ramadhan dengan berbuat maksiat dan sombong; karena sikap seperti itu tidak menggambarkan sikap seseorang dalam mengagungkan Allah atas karunia dan kemudahan yang diberikan oleh-Nya pada saat dan setelah menjalankan kewajiban ibadah shiyam (puasa) Ramadhan. Satu sisi kita bergembira dengan datangnya Idul Fitri, tapi di sisi lain kita juga bersedih dengan berlalunya Ramadhan, karena belum tentu kita bisa bersua dengan bulan istimewa tersebut, kita berdoa, memohon kepada Allah ﷻ agar diberikan keberkahan panjang umur sehingga kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan.

    اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

    Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

    Diskursus makna Idul Fitri lazimnya berkutat pada dua hal;

    Yang pertama, Kembali berbuka setelah sebulan penuh melaksanakan kewajiban ibadah puasa Ramadhan, menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar, siang hari, dan sampai matahari terbenam (maghrib), maka pada perayaan Idul Fitri ini kita berbuka dengan ditandai dibolehkan kembali untuk makan dan minum tanpa batasan waktu tertentu, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

    لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

    “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya,” (H.R. Muslim, 1151)

    Yang kedua, Kembali kepada fithrah atau kesucian, seperti halnya bayi yang baru lahir, yang belum memiliki dosa. Karena selama sebulan penuh, keimanan dan ketakwaan ditempa dengan diiringi ibadah batin dan fi’liyah (dzahir). Tentu saja makna kembali kepada fithrah atau kesucian harus disertai syarat dan ketentuan yang berlaku, yaitu berlaku bagi orang- orang yang menjalankan ibadah- ibadah di bulan Ramadhan dengan semaksimal mungkin, menjalankan puasa sesuai ketentuan,  meninggalkan perkara- perkara yang membatalkan pahala puasa dan keabsahan puasa, dilandasi dengan iman, dan mengharap pahala, ridha, serta ampunan dari Allah ﷻ. Maka jika demikian halnya, akan sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Sesiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan, dan pengharapan ridha Allah, niscaya diampuni dosa- dosanya yang telah berlalu” (H.R. Bukhari, 38., Muslim, 760)

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barang siapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih) atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa- dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Muslim no. 759).

    اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

    Jama’ah salat Idul Fitri yang berbahagia,

    Tema kita pada kesempatan ini adalah tentang mengasah fithrah.

    Pertanyaannya, apa itu fithrah?

    Fithrah secara harfiyah memiliki makna Khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah. Fithrah juga bisa diartikan keadaan asal ketika manusia lahir sebelum masuknya pengaruh-pengaruh dari luar.  (Mukhtar as-Shahhah, 241., islamweb.com). Makna yang lebih spesifik dari fithrah adalah Islam (Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, 8/ 367). Makna tersebut  merujuk kepada Firman Allah Ta’ala:

    فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. Ar-Rum ayat 30)

    Juga mengacu kepada sabda Nabi ﷺ:

    كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

    “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang mebuatnya menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari, 1319, Muslim, 2658)

    Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:

    وَأَشْهَرُ الْأَقْوَال أَنَّ الْمُرَاد بِالْفِطْرَةِ الْإِسْلَام ، قَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ : وَهُوَ الْمَعْرُوف عِنْد عَامَّة السَّلَف . وَأَجْمَعَ أَهْل الْعِلْم بِالتَّأْوِيلِ عَلَى أَنَّ الْمُرَاد بِقَوْلِهِ تَعَالَى ( فِطْرَة اللَّه الَّتِي فَطَرَ النَّاس عَلَيْهَا ) الْإِسْلَامُ

    “Pendapat yang paling masyhur bahwasanya maksud dari fithrah adalah Islam. Berkata Ibnu Abdil Bar: ‘Itu sudah dikenal oleh umumnya kaum salaf.’ Para ulama telah sampai ijma’ (sepakat) dengan ta’wil maksud ayat: فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ adalah Islam.” (Fathul Bari, 3/248.)

    اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

    Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

    Kita harus bersyukur kepada Allah ﷻ atas nikmat Islam yang telah melekat pada diri kita. Terkadang kita tidak sadar bahwa memeluk Islam adalah nikmat yang terbesar dalam kehidupan kita. Sedangkan di saat yang sama masih banyak orang yang merasa kebingungan dalam mencari agama. Bahkan yang lebih memprihatinkan, adanya sebagian orang yang masih ragu-ragu tentang adanya Tuhan dan bahkan sama sekali tidak percaya terhadap adanya Tuhan, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang agnostik dan atheis, yang saat ini sedang menjadi tren yang dianut oleh sebagian kecil kawula muda milenial. Sikap sombong, arogan, minim literasi  yang valid dan sahih, tidak memiliki standar dan referensi baku yang terpercaya, serta tidak dilandasi nalar sehat dalam menggunakan akal justru menjadikan akalnya rusak,  sehingga tidak bisa melihat kebenaran dan hatinya tertutup dari cahaya iman.

    اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

    Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

    Maka bentuk syukur kita atas nikmat Islam ini adalah dengan menjaganya sepanjang nyawa kita masih dikandung badan, sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran ayat 102)

    Lantas, bagaimana caranya?

    Selalu memperbaharui iman. Iman seorang muslim terkadang bertambah dan berkurang. Maka sesuatu jika ingin tetap terjaga harus dirawat. Begitu juga dengan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:

    جَدِّدُوا إيمانَكم ، قيل : يارسولَ اللهِ وكيف نُجَدِّدُ إيمانَنا ؟ قال : أكثِروا مِنْ قولِ لا إله إلا اللهُ

    “Perbaruilah iman kalian! Beliau ditanya, wahai Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami? Beliau menjawab: “Perbanyaklah membaca Laa ilaaha illallaah” (H.R. Ahmad, 2/ 359., Al-Hakim, 4/ 285., Hadits Shahih menurut Al-Hakim dan Hasan menurut Al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib, 2/ 342)

    Membaca لَا إِلهَ إِلَّا الله adala الَإِقْرَارُ بِاللِّسَانِ  yakni pengakuan melalui ucapan lisan. Ucapan lidah ini akan terhubung ke hati, maka hati akan semakin yakin percaya sepenuhnya apa yang diucapkan dalam kalimat itu. Selain diucapkan di mulut dan diyakini dalam hati, perlu dibuktikan melalui sikap dan perilaku.

    Inilah rumusan iman yang benar:

    تَصْدِيقٌ بِالْجَنَانِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ

    “Meyakini dengan hati, ikrar ucapan dengan lisan, membuktikan dengan amal perbuatan”

    Dan maksud amal perbuatan di sini mencakup amalan hati, lisan, dan anggota badan. Amalan hati adalah menghadirkan amalan- amalan keimanan dalam hati, seperti rasa malu, tawakal, berharap, takut, menyesali dosa, dan lain sebagainya. Adapun amalan lisan adalah tasbih, takbir, bacaan Al-Qur`ān, menggunakan lisan untuk menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan lain sebagainya. Sedangkan amalan anggota badan adalah amalan- amalan yang dikerjakan oleh seorang hamba seperti salat, puasa, zakat, haji, berjuang di jalan Allah, menuntut ilmu dan ibadah-ibadah semacamnya.

    اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

    Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

    Penulis Naskah: Ust. Ahla Kembara, S.Pd. B.Sh., MA. Desain Layout: MUSVIN.com Terbit atas Kerjasama: AHLA Institute & DKM Jami’ Al-Hidayah, VPM Diperbanyak oleh: DKM Jami’ Al- Hidayah, Villa Pejaten Mas, Jl. Pejaten Mas Raya, No. 11., RT. 10/ 02, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12520

    Begitu sistematis ajaran Islam dalam memberikan arahan dan bersumber dari referensi yang valid yaitu dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ, karena Islam adalah agama yang ilmiah. Tinggal kita bagaimana kita sekarang menjalankannya. Satu pesan Rasulullah ﷺ sebagai pesan penghujung khutbah ini, yang berbunyi:

    بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

    “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah, kekacauan, kerancuan, syahwat, dan syubhat) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (H.R. Muslim, 118)

    جَعَلَنَا اللهُ وَإِيّاكُم مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْ مَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ؛ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.؛ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَة؛ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا؛ .رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Mengasah Fitrah Sepanjang Nyawa Masih dikandung Badan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023