
Keputusan yang Menimbulkan Konflik Keluarga
Keputusan Tjokroaminoto keluar dari pekerjaannya sebagai juru tulis Patih Ngawi ternyata tidak sepi dari konflik. Terutama pertentangan dari pihak keluarga istrinya, walaupun istrinya sendiri Raden Ajeng Soeharsikin mendukung keputusan Tjokroaminoto. Raden Mangoensoemo selaku mertua berkeinginan menantunya bisa meraih jabatan yang tinggi dalam pemerintahan, sehingga anak cucunya akan memiliki kedudukan terhormat. Tjokro terus dibujuk oleh mertuanya Raden Mangoensoemo agar tetap bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Tetapi Tjokroaminoto kokoh dengan pendiriannya. Hal itu menyebabkan hubungannya dengan mertua kurang harmonis. Karena tidak ingin terus menerus terlibat dalam konflik keluarga, ia lebih memilih pergi merantau untuk mencari pekerjaan lain.
Meninggalkan Keluarga, Hidup di Perantauan
Semarang menjadi tujuan pertama dalam perantauannya. Ia bekerja sebagai kuli pelabuhan. Walaupun dipandang rendah, ia tetap percaya diri asalkan bisa mencukupi kebutuhannya. Selang beberapa waktu ia berpikir perlu mencari pekerjaan lain, maka ia pergi ke Surabaya dengan pertimbangan lebih dekat dari Ponorogo tempat istrinya tinggal. Di samping Surabaya juga sebagai kota pusat kegiatan perdagangan. Tjokroaminoto tinggal di Jalan Paneleh Gang VII, untuk memudahkannya dalam beraktifitas.
Tjokroaminoto bekerja menjadi tenaga administrasi pada perusahaan dagang firma Kooy & Co di Surabaya. Pekerjaan ini dianggap sesuai dengan kemampuannya, karena lebih banyak menggunakan pikiran.
Seiring bertambahnya hari, kandungan Raden Ajeng Soeharsikin terus membesar, masa untuk melahirkan semakin dekat. Dukungan orang tua dan saudara sangat membantu dalam menghadapi proses kelahiran. Soeharsikin berhasil melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat. Keluarga memberi nama bayi perempuan itu Oetari.
Kabar kelahiran Oetari telah sampai juga ke telinga Tjokroaminoto. Gembira dan sedih menyatu, karena ia tak bisa menemani sang istri dan tak bisa menyaksikan langsung anak pertamanya lahir. Kerinduan Tjokro kepada keluarga kecilnya semakin menjadi. Akhirnya ia memutuskan pulang. Kelahiran Oetari juga meluluhkan kekesalan Raden Mangoensoemo kepada Tjokroaminoto. Saat Tjokroaminoto datang ke Ponorogo, pertemuan tersebut menjadi momen yang sangat mengharukan karena hubungan mertua dan menantu yang selama ini kurang harmonis bisa diperbaiki kembali.
Kepulangannya saat itu juga menjadi kesempatan Tjokroaminoto meminta izin kepada kedua mertuanya untuk memboyong keluarga ke Surabaya. Hal itu akan memudahkan dalam mengawasi dan membesarkan anak. Atas izin dan restu dari orang tua Raden Ajeng Soeharsikin, Tjokroaminoto membawa keluarganya untuk tinggal di Jalan Paneleh Gang VII, Surabaya.
Keluarga dan pekerjaan tidak menghambat Tjokroaminoto untuk terus menuntut ilmu dan menambah pengetahuan, karena itu pada tahun 1907 ia mengikuti pendidikan Burgerlijke Avond School, semacam kursus teknisi yang ditempuhnya selama tiga tahun. Di tahun yang sama, ia juga menekuni dunia tulis-menulis. Tulisan-tulisannya di berbagai media cetak dikenal sangat tajam. Pada 1910 Tjokroaminoto mengundurkan diri sebagai pegawai pada firma Kooy & Co.
Berbekal sertifikat dari Burgerlijke Avond School, Tjokroaminoto melamar pekerjaan sebagai teknisi pada pabrik gula Rogojampi yang berada di pinggir kota Surabaya. Berkat ketekunannya dalam bekerja, tidak dalam waktu lama jabatannya dinaikan menjadi ahli kimia. Perubahan jabatan tersebut diiringi pula dengan naiknya kesejahteraan.
Kedudukan sebagai ahli kimia tidak membuat Tjokroaminoto betah bekerja di pabrik gula. Budaya di lingkungan perusahaan yang sangat feodal yang mengutamakan kepentingan pegawai Belanda sangat tidak disukainya, karena itu pada akhir tahun 1911 Tjokroaminoto memilih keluar dari pekerjaan. Sikap diskriminasi terhadap pegawai pribumi dan Eropa menjadi penyebabnya, karena Tjokroaminoto meyakini semua manusia dilahirkan dengan hak dan kewajiban yang sama.
Pengalaman Tjokroaminoto bekerja pada pabrik gula memudahkan dirinya untuk diterima bekerja pada biro teknik di Surabaya. Awal tahun 1912 Tjokroaminoto mulai bekerja sebagai teknisi mesin dan alat-alat elektronik. Penghasilan sebagai teknisi tidak terlalu tinggi, sehingga keadaan tersebut memaksa Raden Ajeng Soeharsikin untuk cermat dan hemat dalam membelanjakan uang, agar kebutuhan hidup sehari-hari keluarga bisa terpenuhi.
Persentuhannya dengan SDI (Sarekat Dagang Islam)
Semangat perjuangan dan pergerakan Tjokroaminoto sudah tumbuh sejak lama. Ia mewujudkan semangatnya tersebut dengan ikut terjun ke kancah politik dan sosial kemasyarakatan, dan mulai mengorganisir para pemuda pribumi dengan segala potensi yang mereka miliki untuk lebih aktif meningkatkan kesadaran dan kemampuan di segala bidang.
Tjokroaminoto lebih senang dikenal dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tanpa awalan Raden Mas yang identik dengan gelar keningratan. Dari sinilah ia lebih popular disebut H.O.S. Tjokroaminoto.
Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdiri organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI). Organisasi ini didirikan oleh seorang kiai sekaligus pedagang bernama Haji Samanhudi di kota Solo (Surakarta). Kota Solo memang sejak dari dulu dikenal sebagai Kota Pergerakan sampai saat ini. Pergulatan berbagai ideologi dan komunitas, baik dari kalangan Islamis dan Abangan sampai sekarang masih ada, walaupun saat ini pergulatannya cenderung lebih lunak.
Mulanya, Sarekat Dagang Islam (SDI) merupakan organisasi pergerakan nasional yang menghimpun para pengusaha batik di Solo, yang didirikan sebagai respon terhadap kebijakan pemerintahan penjajah Hindia Belanda yang sangat diskriminatif terhadap penduduk pribumi yang beragama Islam, dan menempatkan warga kelas putih yang beragama Kristen sebagai warga negara kelas satu. Di samping SDI didirikan untuk menandingi monopoli pedagang Tionghoa pada masa itu.
Pernyataan Ratu Belanda yang disampaikan dalam pidatonya cukup menggambarkan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda di Nusantara, “Sebagai negara Kristen, Pemerintahan Belanda berkewajiban mengatur dengan lebih baik kedudukan hukum rakyat Kristen yang berada di Kepulauan Hindia Belanda…”
Perlakuan tidak adil tersebut telah melecut semangat bagi Sarekat Dagang Islam (SDI) untuk memberikan kesadaran politik terhadap para pedagang Muslim pribumi tentang hak-hak mereka yang dirampas oleh penjajah Belanda sekaligus momentum untuk mempersatukan kekuatan umat Islam secara umum. Dalam waktu yang tidak lama, organisasi wadah para pedagang Muslim ini menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Sambutan yang hangat dan terbuka datang dari seantero tanah air. Dengan cepat SDI (Sarekat Dagang Islam) memiliki cabang-cabang di berbagai daerah. Di Surabaya, Oemar Said Tjokroaminoto menyambut SDI dengan semangat dan tampil menjadi pemimpin muda yang sangat potensial. Ia menjadi ketua cabang SDI Jawa Timur.
Perjuangan Tjokroaminoto dengan SI (Sarekat Islam) dan Tampuk Kepemimpinan
Tjkroaminoto telah dikenal dengan sikap dan pemikirannya yang radikal, dengan menentang kebiasaan-kebiasaan feodalisme dan kebiasaan orang Belanda yang merendahkan orang pribumi. Ia sering menggaungkan pandangannya bahwa ia dan orang Belanda serta pejabat pemerintah memiliki derajat yang sama. Pandangan inilah yang ia harapkan bisa ditanam juga kepada rakyat pribumi secara keseluruhan.
Pada zaman ketika orang pribumi harus menunduk dan duduk bersila saat berhadapan dengan pejabat pemerintah kolonial Belanda, Tjokroaminoto dengan gagah berani melanggar kebiasaan tersebut. Ia berani duduk di kursi ketika menemui seorang pejabat pemerintah. Ia bicara dengan tenang tanpa menundukkan kepala, bahkan sorot pandangan matanya tajam ke depan. Ia duduk dengan santai sambil meletakkan sebelah kakinya pada kakinya yang lain. Ia kemudian dikenal sebagai Gatotkaca Sarekat Dagang Islam.
Pada tahun 1912, lewat Kongres SDI di Surabaya, nama SDI (Sarekat Dagang Islam) diubah menjadi SI atau Sarekat Islam. Pergantian nama bertujuan untuk memperluas ruang pergerakan Sarekat Islam, mencakup berbagai aspek sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan keislaman. Lewat kongres ini pula Haji Samanhudi menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Oemar Said Tjokroaminoto. Gemuruh sorak peserta kongres menyambut tampilnya sang pemimpin muda kharismatik dan visioner, Oemar Said Tjokroaminoto.
Di bawah kendali H.O.S. Tjokroaminoto, Sarekat Islam tampil menjadi gerakan nasional yang sangat diperhitungkan. Ia mampu mengembangkan misi gerakan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Gerakan SI menyebar ke segenap penjuru tanah air. Jika di awal-awal kelahirannya, organisasi ini menggunakan istilah “kongres” dalam musyawarah kerjanya, maka pada periode-periode berikutnya menggunakan istilah “kongres nasional”. Baik SDI ataupun SI (setelah perubahan nama), pada dasarnya organisasi ini adalah organisasi pergerakan nasional, dan harus dikatakan bahwa ia adalah organisasi pergerakan nasional yang pertama kali berdiri di tanah air. Karena pada tahun 1905 Sarekat Dagang Islam (SDI) sudah berdiri dan langsung berekspansi ke berbagai wilayah Nusantara, dibanding Budi Oetomo yang baru berdiri pada tahun 1908 dan bersifat kedaerahan, khususnya kejawaan.
Bagi Tjokroaminoto istilah “nasionalisme” merupakan usaha untuk meningkatkan seseorang pada tingkat natie (bangsa) untuk berjuang menentukan pemerintahannya sendiri, atau setidaknya agar rakyat Indonesia diberikan hak untuk mengeluarkan pendapatanya dalam masalah-masalah politik.
Dalam Kongres Nasional SI (Sarekat Islam) di Bandung pada tahun 1916, Tjokroaminoto berpidato sebagai berikut:
“Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri …Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita”
Tjokroaminoto bersikap jelas dalam mengadapi perkembangan masyarakat yang semakin terbuka. Dalam aspek kebudayaan, Tjokroaminoto masih menjaga kelestarian adat-istiadat yang ada sebagai milik bangsa Indonesia, bersamaan dengan itu ia pun selektif dalam memilah dan memilih adat istiadat yang ada. Termasuk ia juga selektif terhadap kultur Barat yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Dengan bangga Tjokroaminoto memperlihatkan bentuk kesenian dan kebudayaan Jawa dan tradisi lainnya. Akan tetapi, ia menentang simbol-simbol pemujaan yang masih dilakukan oleh sebagian besar rakyat Indonesia, seperti gelar keningratan, sembah sujud, sesejen-sesajen dan budaya yang menjurus kepada kesyirikan. Dalam berorganisasi, Tjokroaminoto mengadopsi sebagian metode dan sistem Barat yang perlu ia terapkan dalam menjalankan roda organisasi, tetapi saat bersamaan ia menentang sikap dan gaya hidup kebarat-baratan yang menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
Di antara pesan penting dan inspiratif dari Tjokroaminoto atau dikenal dengan Trilogi H.O.S. Tjokroaminoto adalah;
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”
(Berlanjut)
Referensi:
HOS. Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, (Bandung: Sega Arsy, 2010), Cet. II
Nuim Hidayat, Tokoh-tokoh Islam yang Melukis Indonesia, (Bantul: Mata Kata Inspirasi, 2022), Cet. II
Tim Museum Kebangkitan Nasional, Djoko Marihandono, dkk, H.O.S. Tjokroaminoto Penyemai Pergerakan Kebangsaan & Kemerdekaan, (Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional, 2015)
Amelz, H.O.S. Tjokroaminoto Hidup dan Perdjuangannja, (Djakarta: Bulan Bintang, tanpa tahun)
Gambar: bogoronline.com
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk H.O.S. Tjokroaminoto: Raja Jawa tanpa Mahkota (2)