KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » Khusyu’ dalam Sholat, Kunci Meraih Nikmat

    Khusyu’ dalam Sholat, Kunci Meraih Nikmat

    BY 08 Feb 2024 Dilihat: 119 kali

    Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., M.S.I.

    اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ هَدَانَا بِدِيْنِ الْاِسْلَامِ، وأَنْعَمَنَا في الحياة بِمتنوع النِّعَمِ، وأَنْسَأَ الأَثَرَ وبَسَطَ الرِّزْقَ لمن يواصل الْأَرْحَامِ، وَمَنَحَ النَّاسَ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ طُوْلَ الدُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نبينا وسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصحابه ومن تَبعهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ،أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ؛ فَيَا عِبَادَ الله، أُوْصِيْكم وإيَّايَ بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي القرآن الْكَرِيْم، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، أما بعد ؛

    Kaum Muslimin arsyadakumullah ..

    Sebagai manusia normal, tentu kita ingin menjadi manusia yang beruntung, tidak menjadi orang yang rugi atau bernasib sial dalam hidup ini. Terlebih orang beriman, bukan hanya berharap keuntungan di dunia, tapi juga keuntungan di akhirat. Lantas, di antara kriteria orang beriman yang beruntung itu apa? Mari kita simak bersama, di dalam al- Qur’an Allah ﷻ berfirman:

    قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ (1) ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ (2)

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang di dalam shalatnya mereka khusyu’” (Q.S. al- Mu’minun: 1- 2)

    Ayat tersebut secara tersurat mengabarkan kriteria mukmin yang beruntung di antaranya adalah mereka yang  khusyu’ di dalam shalatnya. Muncul pertanyaan, apa khusyu’ itu? Khusyu’ secara bahasa mengandung banyak arti, bisa berarti ‘tunduk, merendah, patuh, hormat, tenang, pasrah atau takut’. Kalau kita lihat adat istiadat dalam kehidupan keraton misalnya, seorang abdi dalem ketika dia menghadap raja kemudian berbicara kepadanya, abdi dalem  itu akan menundukkan kepala, badannya membungkuk, atau bahkan sebagian ada yang sembari berlutut, kemudian abdi dalem itu bertutur kata yang sopan dan penuh kehati- hatian, tinggi dan rendah nada bicaranya diatur. Tidak hanya itu, mereka wajib patuh terhadap semua peraturan yang berlaku di dalam keraton. Dan itu dilakukan dengan sikap pasrah dan suka rela. Kurang lebihnya, seperti itulah gambaran sikap tunduk dan merendah.

    Ma’asyiral muslimin, melihat ilustrasi kehidupan keraton yang tersebut tadi, kalau hubungan antara abdi dalem dan raja saja diatur kulturnya sedemikian rupa, yang sebenarnya status mereka sebagai manusia adalah sama di mata Allah ﷻ, maka sesungguhnya Allah ﷻ jauh lebih berhak dan pantas untuk kita patuhi perintah- Nya, tunduk kepada- Nya, merendahkan diri di hadapan- Nya, dan memasrahkan diri kepada- Nya. Karena Allah adalah Maha Raja yang mutlak kekuasaan- Nya. Ibarat keraton tadi, maka jagad raya ini adalah keraton- Nya. Kekuasaan makhluk di bawah kekuasaan Allah Sang Khaliq.

    فَاِنَّ الۡعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيۡعًا

    “Maka sesungguhnya semua kekuatan itu adalah kepunyaan Allah” (Q.S. an- Nisa’: 139)

    Ma’asyiral mukminin, kembali kepada pembahasan definisi khusyu’, dalam kitab al- Kifayah Syarh Bidayati al- Hidayah, Imam Abdul Qadir al- Fakihi al- Makki menjelaskan makna ungkapan khusyu’ dalam shalat yang ditulis oleh Hujjatul Islam Imam al- Ghazali, bahwa khusyu’ itu mencakup dua unsur, yang pertama, tenangnya seluruh anggota badan, yang kedua, hadirnya hati. Praktisnya, hati kita fokus mengingat Allah ﷻ, menghayati bacaan dalam shalat, dan melakukan gerakan shalat dengan tenang, tidak terburu- buru atau tidak tergesa- gesa. Pertanyaannya, sudah adakah unsur- unsur yang tersebut tadi dalam shalat kita? Shalat itu bagaikan  komunikasi kita dengan Allah ﷻ.

    إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

    “Sesungguhnya aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat- Ku” (Q.S. Thaha: 14)

    Maka dari itu, ada hal- hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhan. Khusyu’ dalam shalat bagaikan ruh dalam jasad. Hilang khusyu’, maka shalat tersebut seperti jasad tanpa ruh. Tak ada rasa, tak berkesan.

    Ma’asyiral muslimin, lalu bagaimana usaha kita agar bisa khusyu’ dalam shalat? Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

    “Jika engkau mendirikan shalat, maka shalatlah seakan- akan itu shalat perpisahan (shalat yang terakhir dalam hidup)” (H.R. Ahmad, 23498., dan Ibnu Majah, 4171.)

    Kiat yang pertama, anggaplah shalat yang akan dilaksanakan adalah shalat terakhir kita. Kapan lagi kita bisa melaksanakan shalat dengan sebaik- baiknya,  kalau tidak sekarang. Sedangkan setelah kematian tidak ada lagi kesempatan beramal shalih, dan di akhirat kelak, shalat adalah amal yang pertama kali akan dipertanyakan dan dihisab di hadapan Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

    “Sesungguhnya amal yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat, jika shalatnya jelek, sungguh dia akan celaka dan rugi” (H.R. at- Tirmidzi, 413)

    Yang kedua, niatkan ikhlash karena Allah . Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin mengartikan ikhlash adalah melaksanakan ibadah bertujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ﷻ dan mengharapkan ridho- Nya. Allah ﷻ berfirman:

    وَمَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَـهُ الدِّيۡنَ

    “Dan mereka tidak diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlash” (Q.S. al- Bayyinah: 5)

    Yang ketiga, memahami dan menghayati bacaan dalam shalat, mulai dari takbiratul ihram sampai salam. Bacaan dalam shalat mengandung makna yang mendalam, dan mengandung doa. Misal saja, bacaan takbiratul ihram Allahu akbar, menunjukkan pengakuan kita kepada Allah ﷻ bahwa Dia Tuhan yang Maha Besar, sekaligus menunjukkan pengakuan bahwa kita sangat kecil di hadapan Allah ﷻ. Belum lagi bacaan yang lain, misalkan ketika kita membaca surat al- Fatihah dalam shalat, setiap ayat yang kita baca langsung dijawab oleh Allah ﷻ, sebagaimana dikisahkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat Abu Hurairah r.a.. Ibarat kata, di dalam shalat kita langsung berdialog dengan Allah ﷻ, maka seharusnya kita malu kepada Allah ﷻ jika tidak benar- benar memperbagus shalat di hadapan Allah ﷻ dengan menghayati setiap bacaan di dalam shalat.

    Yang keempat, bersikap tuma’ninah. Tuma’ninah adalah sikap tenang dalam melakukan gerakan shalat. Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

    “Jika kamu hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tuma’ninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tuma’ninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma’ninah, kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu” (H.R. Bukhari, 757., H.R. Muslim, 397.)

    Yang kelima, tundukkan pandangan ke tempat sujud saat shalat. Dengan menundukkan pandangan ke tempat sujud, menunjukkan kerendahan diri kita di hadapan Allah ﷻ, hal itu juga bisa membantu kita untuk konsentrasi dalam shalat, dan tidak tersibukkan dengan hal- hal di luar shalat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

    كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى طَأْطَأَ رَأْسَهُ وَرَمَى بِبَصَرِه نَحْوَ الأَرْضِ

    “Rasulullah jika beliau shalat, menundukkan kepala beliau dan mengarahkan pandangannya ke tanah” (H.R. al- Hakim, 2/ 393)

    Ma’asyiral mukminin, Tentu kita tidak ingin shalat yang kita laksanakan bertahun- tahun, sepanjang usia kita di dunia, hanya bernilai gerakan tubuh tanpa ada ruh. Apalagi ada ancaman dari Allah ﷻ bagi orang yang shalat tapi dia lalai dalam shalatnya.

    فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ  (4) ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

    “Maka celakalah bagi orang yang shalat, yaitu orang- orang yang lalai dalam shalatnya” (Q.S. al- Ma’un: 4- 5)

    Di antara sikap lalai dalam shalat adalah tidak ada kesungguhan untuk khusyu’ dalam shalatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تِسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

    “Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya, tidak ditetapkan pahala shalat baginya kecuali sepersepuluh dari shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengah dari shalatnya” (H.R. Abu Daud, 796)

    Pahala shalat seseorang sesuai dengan tingkat khusyu’nyasaat dia mendirikan shalat. Akhirnya, sebagai manusia biasa, kita dituntut berusaha sungguh- sungguh untuk meraih khusyu’, setelah itu kita bertawakkal, kita pasrahkan kepada Allah.

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah ke-2

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ اَمَّا بَعْدُ: فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ ! اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ؛ إن اللهَ وملائكتَهُ يصلونَ على النبيِ يَا أيهَا الذينَ ءامَنوا صَلوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا؛ اللّـهُم صَلّ على سيّدِنا محمدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم إنّكَ حميدٌ مجيدٌ؛ الَلهُم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعوات؛ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ؛ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى؛ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؛ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن؛ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وَأقيموا الصلاة

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Khusyu’ dalam Sholat, Kunci Meraih Nikmat

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023