
Setelah tiga macam air disebutkan pada pembahasan sebelumnya, maka macam air yang selanjutnya adalah air najis.
4. Air Najis
Air najis adalah air yang terkena najis, sehingga ia tidak suci lagi. Air dikatakan najis apa bila dalam dua kondisi1:
Pertama: air tersebut kurang dari dua qullah, maka air itu menjadi najis bila terkena najis, meskipun tidak berubah warna, rasa, atau baunya.
Kedua: air itu sebanyak dua qullah tetapi berubah salah satu sifatnya karena najis tersebut. Jika warna, rasa, bau, atau salah satu dari sifat air tersebut berubah karena terkena sesuatu yang najis maka sudah bisa disebut air najis.2
Diriwayatkan oleh lima perawi3 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ ditanya tentang air yang berada di padang pasir, dan apa yang biasanya mendatanginya dari binatang buas dan hewan ternak?” Maka beliau ﷺ bersabda:
إذا كَانَ المَاءُ قُلتَينِ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَثَ
“Jika air itu mencapai dua qullah, maka ia tidak membawa kotoran (najis).” (HR. Abu Dawud, 63., al-Tirmidzi, 67., al-Nasa’i, 52., Ibnu Majah, 517., Ahmad, 4961.)
Dan dalam riwayat Abu Dawud nomor 65 disebutkan (فإنه لا يَنْجُسُ):
“Sesungguhnya air itu tidak menjadi najis.”
Hadis tersebut bisa dipahami bahwa jika air kurang dari dua qullah, maka air itu menjadi najis meskipun tidak mengalami perubahan pada warna, bau, atau rasa. Dalil yang menunjukkan makna tersirat ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 278) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum mencucinya tiga kali, karena ia tidak tahu di mana tangannya bermalam (bergerak menyentuh sesuatu)
Dari hadis di atas diketahui bahwa Rasulullah ﷺ melarang orang yang baru bangun tidur mencelupkan tangannya ke dalam air bejana4, karena dikhawatirkan tangannya terkena najis yang tidak terlihat. Hadis ini juga menegaskan sikap pencegahan yang disampaikan oleh Nabi ﷺ untuk mengurangi potensi risiko najis yang tidak tampak, yang secara logika tidak mengubah sifat air, namun tetap bisa menajiskan jika air itu sedikit.
Sehingga dengan pendekatan dalil mantuq dan mafhum tersebut tadi, menurut madzhab Syafi’i air yang kurang dari dua qullah dan terkena najis, maka menjadi air najis walaupun tidak berubah rasa, warna, atau baunya.
Adapun dua qullah adalah sekitar lima ratus rithl Baghdad, menurut pendapat yang lebih sahih.5 Dua qullah diperkirakan seukuran kubus yang panjang setiap sisinya 60 sentimeter, dan itu setara dengan kira-kira volume air 216 liter6 sebagaimana masyhur disebutkan. Jika diukur dengan pendekatan geometris modern berbentuk kubus dengan panjang setiap sisi 60 cm, maka volumenya: 60 cm x 60 cm x 60 cm= 216.000 cm3 = 216 liter.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Empat Macam Air (Kajian Kitab Matan Abi Syuja’) #2 (Bagian Akhir)