
Oleh: Fadhla Faya, Lc., M.Ag (*Pengasuh Ma’had Qurra’ Bilal bin Rabah Tapos-Depok)
إن الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأشهد أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّهم صَلِّ و سَلِّم على خَاتِمِ النَّبيِيِّن و عَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمعِيْنَ،﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا و أَنْنمْ مُسْلِمُونَ﴾ أمَّا بَعْدُ
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,
Dinamika kehidupan, tidak lepas dari kesuksesan dan kegagalan, keuntungan dan kerugian, sehingga setiap manusia berusaha menjauhkan dirinya dari kegagalan dan kerugian, juga terus berusaha meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidupnya di dunia, karena ia tahu bahwa kerugian begitu pahit rasanya, membuat sedih siapa saja yang merasakannya, Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلْعَصْرِ
“Demi masa.”
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,” (QS. Al-‘Ashr ayat 1- 2)
kecuali orang-orang yang beriman, dan merefleksikan keimanannya dengan amal shalih, dan menghiasi kehidupannya dengan kesabaran dan terus konsisten dan istiqamah di jalan yang lurus, maka mereka tidaklah termasuk golongan yang merugi, Allah Ta’ala berfirman,
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr ayat 1- 3)
Akan tetapi kerugian yang sesungguhnya bukanlah kerugian pada urusan dunia, merugi pada hartanya, pada usahanya, namun kerugian sesungguhnya adalah kerugian di akhirat, yang merupakan kerugian yang terus menerus, yang membuat sengsara orang yang mengalaminya, berbeda halnya dengan kerugian di dunia yang akan berakhir seiring berakhirnya kehidupan, yang terkadang seseorang bisa bersabar dengan kerugian di dunia, namun tidak dengan kerugian akhirat yang tidak sebanding dengan kerugian di dunia, Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ ٱلْخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ
Katakanlah : “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Zumar ayat 15)
Di dalam Tafsir Al-Mukhtashar di sebutkan, Katakanlah “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar merugi adalah orang-orang yang kehilangan dirinya dan kehilangan keluarganya, Mereka tidak akan saling bertemu selamanya, karena keluarganya meninggalkannya dengan masuk Surga atau keluarganya ikut dengannya masuk Neraka, mereka tidak akan bertemu selamanya. Ketahuilah bahwa hal itu adalah kerugian sejati yang nyata yang tidak ada kesamaran padanya”.
Di dalam ayat yang lain Allah Ta’ala sebutkan, bahwa orang yang merugikan dirinya di hari kiamat adalah mereka orang-orang yang kehilangan keimanan di dalam hatinya,
ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (QS. Al-An’am ayat 12)
Mereka ingkar kepada Allah Ta’ala, tidak tunduk kepada perintah Allah Ta’ala sehingga mereka tidak mampu menyelamatkan diri mereka dari kerugian di kehidupan akhirat.
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,
Kerugian di kehidupan akhirat diakibatkan karena melakukan perbuatan dosa dan kemungkaran, diantaranya adalah,
Pertama, melakukan dosa yang paling besar yaitu berbuat syirik, Allah Ta’ala berfirman,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar ayat 65)
Orang yang berbuat syirik meyakini sesuatu yang batil, mereka meyakini bahwa ada selain Allah Ta’ala yang dapat memberikan mereka rizki, kesembuhan dan kemanfaatan, juga mampu menolak segala keburukan, maka mereka di dunia merugi dengan dihapuskan pahala-pahala kebaikannya dan jika mereka membawa dosa syirik tersebut hingga akhirat, maka mereka mendapatkan kerugian dengan tidak diampuni dosanya oleh Allah Ta’ala,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS.Al-Nisaa’ ayat 48)
Syaikh Sulaiman Al-Asyqar menafsirkan,
yakni orang yang mati dalam kesyirikan dan belum bertaubat maka tidak ada kemungkinan ampunan atas dosa syiriknya.
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,
Kedua, mendustakan Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ يَتْلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُو۟لَٰٓئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِۦ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah ayat 121)
Mendustakan Al-Qur’an adalah dengan cara ia tidak mau menerima apa yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an, ia tidak mau mengembalikan setiap perkara kepada Al-Qur’an dan tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber solusi setiap persoalan, dan sumber kebaikan juga kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’ ayat 82)
Bahkan dikatakan oleh sebagian salaf bahwa dua kemungkinan orang yang selalu bercengkrama dengan al-Qur’an: menjadi seorang yang beruntung atau sebaliknya.
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,
Ketiga, beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keraguan, tidak totalitas dalam keyakinan dan keteguhan kepada Allah Ta’ala, iman mereka lemah, Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj ayat 11)
Makna menyembah Allah Ta’ala عَلَى حَرْفٍ (“dengan berada di tepi”) adalah,
أي: على وجْهٍ واحدٍ، وهو أنْ يَعبُدَه على السَّرَّاءِ دُونَ اضَّرَّاءِ
Yaitu dalam satu keadaan, dia menyembah Allah Ta’ala saat dalam keadaan bahagia namun tidak saat dalam keadaan sulit.
Mereka beribadah karena faktor keduniaan, beribadah kepada Allah Ta’ala dalam satu keadaan saja, yaitu keadaan mendapatkan nikmat, namun tatkala mendapatkan ujian maka mereka meninggalkan ibadahnya, iman mereka mudah goyah laksana seorang yang berdiri di tepi jurang, ia akan gemetar dan mudah jatuh.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata; berkenaan dengan firman AllahTa’ala (yang artinya): Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. (QS. Al-Hajj ayat 11),
كانَ الرَّجُلُ يَقْدَمُ المَدِينَةَ، فإنْ ولَدَتِ امْرَأَتُهُ غُلامًا، ونُتِجَتْ خَيْلُهُ، قالَ: هذا دِينٌ صالِحٌ، وإنْ لَمْ تَلِدِ امْرَأَتُهُ، ولَمْ تُنْتَجْ خَيْلُهُ، قالَ: هذا دِينُ سُوءٍ
“Bahwa dulu ada seseorang yang datang ke Madinah, apabila istrinya melahirkan seorang bayi dan kudanya beranak maka dia mengatakan; ini agama yang baik. Dan jika istrinya tidak melahirkan demikian juga kudanya, maka dia mengatakan ini adalah agama yang buruk.” (HR. Bukhari)
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,
Keempat, Tidak mau meminta ampunan Allah Ta’ala atas dosa yang diperbuat, Allah Ta’ala sebutkan do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Adam ‘Alaihissalam dan istrinya Hawa,
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf ayat 23)
Syaikh Al-Sa’diy berkata :
Barangsiapa yang meniru Adam dengan mengakui dosa dan memohon ampunan, menyesal, dan meninggalkan kesalahan yang dilakukannya, maka Rabbnya akan memilihnya dan memberinya petunjuk. dan Barangsiapa yang meniru iblis ketiaka dia melakukan dosa namun dia semakin menambah kemaksiatannya, maka dia hanya menjauhkan dirinya dari Allah Ta’ala.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ الجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِّلهِ عَظِيمُ الْإِحْسَانِ ، وَاسِعُ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالاِمْتِنَان ، وَأَشْهَدُ أَن لا إلـٰه إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَه ، وَأشْهَدُ أَنَّ محمّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه ؛ صَلَّى اللهَ وَسَلَّمَ عَلَيه وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِه أَجْمَعِين؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا للهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وِأنتُمْ مُسْلِمُون
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,
Kerugian dan keberuntungan seorang hamba di akhirat tergantung dengan amal shalih dan ketaatan yang dilakukan di dunia, jika timbangan amal baiknya lebih berat maka ia termasuk orang yang beruntung, sedangkan jika timbangan amal keburukannya yang lebih berat maka ia adalah orang yang merugi, Allah Ta’ala berfirman,
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ
“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf ayat 8-9).
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari golongan orang yang merugi, dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, Allahumma Aamiin
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهم اكفنا بحلالك عن حرامك، وأغننا بفضلك عمن سواك اللهم آت نفوسنا تقواها، وزكها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها. اللهُمَّ إِنِّا نسْأَلُكَ الجَنَّة وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ ، وَنعُوذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.اللهم أصلح أحوال المسلمين، و أحوال ولاة المسلمين لتطبيق كتابك و سنة رسولك n رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أقيموا الصلاة,
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وأقيموا الصلاة.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Kerugian yang Sesungguhnya