KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » Mewaspadai Munculnya Jahiliyah Zaman Modern

    Mewaspadai Munculnya Jahiliyah Zaman Modern

    BY 13 Jun 2024 Dilihat: 65 kali

    Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA.

    اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ وَرَحْمَتِهِ, وَاَوْعَدَ مَنْ أَنْكَرَهُ  بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحمْدُ؛ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَيْدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَخَيْرِ خَلْقِهِ, وَعَلَى الِهِ وَأَصْجَابِهِ وَتَابِعِيْهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ. أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ؛

    Jama’ah kaum Muslimin rahimakumullah,

    Marilah senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat, kebaikan, dan taufik-Nya yang telah diberikan kepada kita semua.

    Tidak lupa khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jama’ah sekalian, untuk selalu meningkatkan ketakwaan dengan mempertebal rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, yang dibuktikan dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Allah itu Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,

    وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ

    Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba- Nya” (Q.S. Al Baqarah ayat 207)

    Tetapi perlu kita ingat, Allah itu juga sangat keras siksaan-Nya,

    وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

    “Dan takutlah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah itu sangat keras siksaan-Nya” (Q.S. Al Baqarah ayat 196)

    Oleh karena itu, agar terhindar dari siksaan Allah yang sangat keras lagi menyakitkan, kita diperintahkan untuk bertakwa,

    وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Dan bertakwalah (takutlah) kepada Allah supaya kamu sekalian beruntung (selamat)” (Q.S. Al Baqarah ayat 189)

    Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,

    Jika kita menengok kembali sejarah, Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan kesalehan akhlak (perilaku). Nabi ﷺ sendiri bersabda;

    بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ

    “Aku diutus untuk menyempurnakan kesalehan akhlak” (H.R. Ahmad, 8939., Bukhari, 273)

    Masyarakat di jazirah Arab dulu masih tersisa pada mereka beberapa akhlak yang baik melalui peninggalan dari syariat Nabi Ibrahim ‘alaihissalām, namun mereka telah tersesat karena mengingkari banyak dari syariat tersebut. Sehingga akidah mereka menjadi rusak, maka muncullah penyembahan berhala, perilaku mereka menjadi liar,maka merebaklah kerusakan moral, mulai dari pembunuhan, mereka suka mengubur bayi perempuan hidup-hidup, tidak hanya itu, perjudian, minuman keras, perzinaan, fanatisme suku, adalah perkara yang melekat pada diri mereka hingga menjadi life style atau gaya hidup keseharian. Oleh karenanya, masa itu disebut dengan zaman jahiliyah. Istilah jāhiliyyah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berakar kata jahl yang berarti kebodohan atau ketidaktahuan.

    Kebodohan sendiri mencakup tiga macam:

    Pertama, خُلُوُّ النَّفْسِ مِنَ الْعِلْمِ (kosongnya jiwa dari ilmu atau pengetahuan), inilah pangkal atau induk dari pada kebodohan.

    Kedua, اِعْتِقَادُ الشَّيْءِ بِخِلَافِ مَا هُوَ عَلَيْهِ (meyakini sesuatu yang menyelisihi kondisi yang sebenarnya), berkeyakinan yang salah terhadap sesuatu.

    Ketiga, فِعْلُ الشَّيْءِ بِخِلَافِ مَا حَقَّهُ أنْ يُفْعَلَ (mengerjakan sesuatu di luar kebenaran), artinya melakukan sesuatu yang tidak benar. (al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, 209)

    Maka dari penjelasan tersebut bisa dipahami bahwa jahiliyah  adalah kondisi kejiwaan individu, kelompok, atau masyarakat yang memiliki kecenderungan untuk menolak kebenaran. Sehingga  jahiliyah  tidak ditentukan dengan tingkat kecerdasan, status sosial, status kepemimpinan ataupun ketokohan, kaya ataupun miskin.

    Akan tetapi, seseseorang bisa saja berperilaku jahiliyah, entah itu seorang pemimpin, pejabat, tokoh, cendekiawan, imuwan, akademisi, kaya, miskin, atau masyarakat biasa, manakala ia menolak maupun menyimpang dari kebenaran. Oleh karenanya bisa dimengerti kenapa Abu Jahal masyhur dikenal dengan sebutan Abu Jahal (bapak jahiliyah atau bapak kebodohan), padahal dia seorang pemimpin, tokoh berpengaruh?!, karena ia menolak Islam, menolak kebenaran,  sehingga dijuluki demikian.

    Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,

    Kalau kita amati dan renungi, tampaknya perilaku jahiliyah di zaman klasik dahulu, beberapa dari perilaku jahiliyah itu kembali lahir, bahkan relatif bertambah di zaman modern ini, terlebih dengan semakin canggihnya teknologi sekarang.

    Setidaknya dalam tiga aspek yang  terdapat cerminan sikap dan perilaku jahiliyah di zaman modern ini yang mirip dengan kejahiliyahan di zaman dahulu:

    Pertama, aspek keyakinan. Di dalam Al Quran termaktub bagaimana rusaknya pemahaman jahiliyah,

    ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

    “Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah.” (Q.S. Ali Imran ayat 154)

    Ayat ini mengisahkan adanya golongan dari orang munafik yang hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan merasakan kegelisahan dan ketakutan serta berprasangka buruk kepada Allah, bahwa Allah tidak akan menolong utusan-Nya dan tidak akan membantu hamba-hamba-Nya. Sama seperti anggapan orang-orang jahiliyah yang tidak meyakini Allah dengan semestinya.

    Secara umum, ayat tersebut mengilustrasikan kondisi sebagian manusia, mereka mengaku Islam, berbaju Islam, tetapi batinnya jauh dari Islam, maka ketika dihadapkan pada kesedihan, malah merasa cemas dan ragu-ragu terhadap janji dan keberadaan Allah. Mereka menunjukkan sikap yang mencerminkan keraguan dalam keyakinan, sebagaimana persangkaan orang-orang jahiliyah.  Sehingga kita temukan atau kita dengar berita di zaman sekarang ini, ketika ada sesorang terhimpit masalah, datang ke dukun, wali setan, atau yang semacamnya. Begitu juga ketika orang cemas dengan masalah ekonomi, ia tidak peduli dengan halal dan haram dalam bekerja dan mendapatakan uang atau harta benda. Yang penting bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Maka merebaklah korupsi, pencurian, pembegalan, perampokan, dan aksi keji lainnya untuk mendapatkan uang atau materi. Bahkan sampai ada kalimat; “yang haram saja susah apalagi yang halal”. Inilah rusaknya keyakinan dan pemahaman manusia abad modern. Tidak yakin dengan yang halal, yang dijamin oleh Allah keberkahan dan keuntungannya. Tetapi lebih percaya dengan hal-hal yang haram, yang jelas-jelas akan membinasakannya di dunia dan akherat, cepat atau lambat.

    Kedua, aspek perilaku. Al Quran melarang berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang jahiliyah,

    وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ

    “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” (Q.S. Al Ahzab ayat 33)

    Realitas kehidupan di abad modern ini, banyak masyarakat yang menjauh dari nilai-nilai Islam, meskipun merasa sebagai orang-orang modern yang penuh dengan kemajuan, tetapi hakekatnya semakin mundur, dan mirip dengan perilaku jahiliyah. Bagaimana di luaran sana betapa banyak dijumpai wanita keluar rumah mengenakan pakaian yang tidak utuh, pakaian yang ketat, auratnya terbuka, memakai pakaian tapi seolah-olah ia telanjang, bukan hanya yang belum bersuami, yang sudah bersuami pun juga melakukan hal yang sama. Dalam konteks yang lebih luas, perilaku pamer, flexing, gaya hidup hedonis, sering diperlihatkan, baik oleh laki-laki, ataupun perempuan. Bahkan tidak sedikit yang mejadikan itu sebagai konten di media sosial untuk mendapatkan uang melalui monetisasi, dan anehnya banyak yang menjadi penonton dan pengikut. Padahal yang menonton dan subscribernya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Begitu juga perilaku gaya hidup seperti minum-minuman keras, berjudi, berzina, dan sederet perbuatan buruk lainnya seperti fanatisme kelompok, golongan, organisasi, klub, dan yang semacamnya, yang tidak hanya menimpa masyarakat awam, bahkan sebagian orang yang sudah ikut kajian, paham agama pun, tidak luput dari sikap fanatisme kelompok.

    Ketiga, aspek hukum. Sistem hukum jahiliyah adalah sistem hukum yang bertentangan dengan nilai-nilai ilahiyah (ketuhanan) dan keadilan.  Di dalam surat Al Maidah ayat 50, Allah Ta’ala berfirman dan mengingatkan;

    اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

    “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”

    Saat ini kita sering kali menyaksikan bagaimana hukum sering kali diterapkan tidak adil. Begitu juga hukum Allah seperti hukum pidana yang sudah jelas tertulis di dalam kitab suci tidak mau dipakai. Ajaran Rasulullah ﷺ yang sudah jelas-jelas dituntunkan tak mau diikuti, sedangkan mereka lebih suka membuat hukum dan kebijakan sesuai dengan hawa nafsunya. Tidak mau menerapkan hukum Allah karena alasan yang tidak masuk akal, tetapi di saat yang sama rela memakai hukum warisan penjajah dan buatan manusia yang sangat tinggi subyektivitasnya dan potensi kesalahannya.

    Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,

    Oleh karena itu, zaman modern ini, yang fitnahnya (huru hara, kericuhan, kekacauan) malah semakin banyak, sudah seharusnya kita benar-benar meningkatkan kesadaran kita dalam berislam, lahir dan batin. Mari kita perbanyak doa untuk memohon petunjuk dan pertolongan Allah, hadirilah majelis ilmu yang mengajarkan ilmu yang benar, kritis dan solid dalam menghadapi kemungkaran yang terjadi, berkasih sayang dan tasamuh (toleransi) kepada sesama Muslim, sehingga terhindar dari fanatisme kelompok, beribadah sesuai dengan apa yang diwajibkan dan disunnahkan, berikhtiar semaksimal mungkin dalam bekerja dengan cara yang halal, berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi dan meninggalkan perkara yang haram, dan istiqomah di atas kebenaran dalam kondisi apapun.

    Mudah-mudahan dengan seperti itu, Allah menjaga kita dari fitnah dan marabahaya dunia yang semakin tua, Allah lindungi kita dari makar para perusak, orang-orang kafir, munafik, zindiq dan kaum durjana, semoga Allah hancurkan mereka dan semoga Allah berikan kemudahan dan perlindungan bagi siapa saja yang menegakkan kebenaran, Allah berikan kebaikan, dan keberkahan kepada kita semua dalam kehidupan ini.

    اَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ, اِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

    Khutbah ke-2

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ اَمَّا بَعْدُ: فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ ! اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ؛ إن اللهَ وملائكتَهُ يصلونَ على النبيِ يَا أيهَا الذينَ ءامَنوا صَلوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا؛ اللّـهُم صَلّ على سيّدِنا محمدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم إنّكَ حميدٌ مجيدٌ؛ الَلهُم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعوات؛ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ؛ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى؛ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؛ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن؛ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وَأقيموا الصلاة!

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Mewaspadai Munculnya Jahiliyah Zaman Modern

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023