
Oleh: Muhammad Fajri, Lc., M.Ag
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ؛ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ؛ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً؛ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ؛
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada asalnya manusia dituntut untuk bersegera melakukan kebaikan-kebaikan sebagai bekal untuk menghadapi hari peradilan Allah ﷻ . Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah ﷻ :
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ( ١٣٣)
“Dan bersegeralah kamu menuju kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (Q.S. Ali Imran ayat 133)
Namun, yang perlu diwaspadai adalah sikap tergesa-gesa dalam melakukan segala tindakan yang sangat mungkin mendatangkan penyesalan di akhir. Tidak sedikit dari kaum Muslimin sulit membedakan antara bersegera dan tergesa-gesa dikarenakan keduanya hampir memiliki kemiripan, padahal secara makna keduanya memiliki perbedaan. Al-Mubadarah (bergegas atau bersegera( adalah sikap yang terpuji. Hal ini dikarenakan adanya sebuah kesungguhan, dan tekad yang kuat untuk mengerjakan sesuatu. Di dalam Al-Qur’an banyak dijelaskan pentingnya bersegera dalam menyelesaikan suatu aktivitas lalu beralih ke aktivitas berikutnya dan tercelanya melalaikannya. Di antaranya firman Allah ﷻ :
فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ (٧)
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain ” (Q.S. Al-Insyirah ayat 7)
Berbeda dengan dengan sikap al-‘Ajalah (tergesa-gesa) karena semua bentuk ketergesaaan itu datangnya dari setan. Berniat mengerjakan sesuatu dengan cepat namun tanpa perhitungan karena diiringi dengan ketergesaan sehingga bukan kebaikan yang didapat akan tetapi malah petaka yang dideritanya.
Memang benar bahwa ketergesaan adalah tabiat manusia sebagaimana firman Allah ﷻ :
خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ (٣٧)
Manusia telah diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa.)QS. Al Anbiya ayat 37)
Namun tabiat ini adalah sebuah keburukan karena adanya campur tangan setan di dalamnya. Melalui tabiat ini setan berusaha memaksimalkan gangguannya dalam keseharian kita. Meski demikian, ketika seorang hamba berusaha menjauhi sikap ini Allah mengilhamkan ketenangan dan kematangan dalam segala tindakannya.
عن أنس – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال : “التأنِّي من الله والعجلةُ من الشيطان“؛ رواه أبو يعلي (7/4256)
Dari Anas radhiyallahu ‘ahnu Rasulullah ﷺ bersabda : “Ketenangan bertindak dari Allah dan ketergesaan dari setan.” HR. Abu Ya’la (7/4256)
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwasannya sikap tergesa-gesa tanpa perhitungan yang matang sering manjadi petaka dan penyesalan di kemudian hari. Sungguh kisah Nabi Musa menarik untuk diambil pelajaran. Tatkala beliau tergesa-gesa mengingkari apa yang dilakukan oleh Nabi Khidhir, justru mereka harus berpisah.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Jika Musa bersabar, akan lebih banyak pelajaran yang didapat.” [HR al-Bukhari]
Ma’asyiral Muslimin rahimakumulah,
Sadar atau tidak, sikap ketergesa-gesaan seringkali menyertai kita. Ketergesaan tidak hanya terjadi dalam dalam urusan dunia bahkan dalam urusan akhiratpun kita sering terjebak dalam sikap ini.
Kita semua paham bahwa shalat berjama’ah memiliki keutamaan yang sangat besar sehingga kaum Muslimin berbondong-bondong mendatanginya. Akan tetapi terburu-buru dalam mendatanginya tidak disarankan oleh Nabi ﷺ . Beliau ﷺ mengajarkan kepada kita untuk tetap tenang dan rileks untuk mendatanginya,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلاَةِ فَلاَ تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلاَةِ فَهُوَ فِى صَلاَةٍ
“Apabila shalat didirikan, maka janganlah berangkat dengan berlari-lari, tetapi berjalanlah dengan tenang dan bersikap sopan, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang tertinggal sempurnakanlah, karena sesungguhnya seorang dari kalian apabila sudah berniat untuk pergi shalat maka ia berada di dalam shalat”. (H.R. Muslim).
Di dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ pun mengabarkan :
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ،يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa setiap kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: ‘Saya sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” (HR. Bukhari, no. 5981)
Riwayat- riwayat di atas mengajarkan kepada kita untuk menjauhi sikap ketergesa-gesaan. Dan yang dimaksud dengan tergesa dalam berdoa adalah seseorang yang berdoa dengan berburuk sangka kepada Allah bahwa doa yang dipanjatkannya itu tidak akan dikabulkan oleh Allah atau orang yang tergesa dalam berdoa itu adalah mereka yang berdoa kepada Allah tetapi terus dan terus mengomentari serta mempertanyakan kenapa doa-doa yang dipanjatkannya tidak pernah dikabulkan oleh Allah ﷻ.
Oleh karena itu setiap dari kita perlu waspada akan tabiat ini karena jika dilakukan secara terus menerus akan mendatangkan malapetaka yang besar, bahkan betapa banyak dosa-dosa yang dilakukan kaum Muslimin pada hakikatnya bersumber dari sikap ketergesa-gesaan. Menjadi kaya adalah impian banyak orang, akan tetapi jatuh dalam perkara riba begitu pula korupsi yang sedang merajalela adalah bentuk dari ketergesaan untuk mengeruk harta sebanyak mungkin, dengan cara semudah mungkin.
Zina dan pergaulan bebas antar lawan jenis adalah ketergesaan syahwat sebelum tiba momen yang halal. Demikian seterusnya dalam maksiat-maksiat lain. Semua adalah ketergesaan demi menuruti kepuasan hawa nafsu sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi kelak.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumulah,
Memang benar bahwa ada beberapa riwayat mengabarkan kepada kita untuk tidak menunda-menunda beberapa perbuatan sebagaimana Al-Ghazali meriwayatkan dari Hatim al-Asham yang berkata :
العجلة من الشيطان إلا في خمسة فإنها من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم: إطعام الطعام، وتجهيز الميت، وتزويج البكر، وقضاء الدين، والتوبة من الذنب. أخرجه الترمذي
Tergesa-gesa itu dari setan kecuali pada lima perkara merupakan sunnah Rasulullah ﷺ yaitu: memberi makan orang yang miskin, mengurus jenazah, mengawinkan anak gadis, melunasi utang dan bertaubat dari dosa. (Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi).
Ali bin Abi Thalib juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah berpesan kepadanya dengan tiga hal yang harus disegerakan :
يا عليُّ، ثلاثٌ لا تؤخِّرْها: الصَّلاةُ إذا آنَت والجِنازةُ إذا حضَرَت والأيِّمُ إذا وجدَت لها كُفُؤًا (وراه الترمذي)
“Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda-tunda yaitu shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila sudah hadir dan wanita apabila telah mendapatkan jodoh yang cocok” (HR. Tirmidzi).
Akan tetapi jika kita kompromikan dengan riwayat-riwayat sebelumnya akan didapati bahwa disana ada perbedaan yang cukup mencolok antara tergesa-gesa (Al-‘Ajalah) dengan bersegera (Al-Mubadarah).
Di dalam kitab ar-Ruh Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: bersegera adalah berusaha memanfaatkan peluang di waktu yang tepat dan tidak meninggalkannya meskipun sudah terlambat untuk mengejarnya. Dan mubadarah juga bermakna tidak mengejar sesuatu sebelum tiba waktunya, akan tetapi ketika waktu itu tiba ia bergegas menghampirinya. Adapun al-‘Ajalah (tergesa-gesa) adalah keinginan untuk mengambil sesuatu sebelum waktunya. Hal ini dikarenakan hasratnya yang kuat seperti orang yang mengambil buah sebelum waktunya matang.
Dari perbedaan di atas dapat disimpulkan bahwa bersegera adalah jalan tengah antara dua sifat tercela, pertama adalah kelalaian dan yang kedua adalah terburu-buru sebelum waktunya (tergesa-gesa).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ؛ أَقُولُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّ اللهَ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Bersegera Tanpa Tergesa-gesa